Allena And Friend'S

Allena And Friend'S
PART 121 ~ Allena and Friend's


__ADS_3

Sedang saat ini Allena terlihat berjalan ingin menuju UKS. Allena ingin beristirahat disana.


Sebenarnya sejak jam pelajaran pertama tadi, Allena sudah merasa tidak enak badan. Akhirnya Allena memutuskan untuk beristirahat sebentar di UKS, karena Allena juga tidak ingin pulang.


Setibanya di UKS, Allena langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang yang ada di ruangan itu.


Sempat Allena melirik ke arah tirai yang menjadi pembatas antara ranjang yang satu dengan ranjang lainnya. Tirai itu terlihat menutupi antara ranjang yang ditempati Allena saat ini dengan ranjang di sebelahnya. Mungkin ada murid lain yang menempati ranjang itu. Namun Allena tidak mempedulikannya. Allena mulai berbaring telentang, lalu memakai selimut yang juga tersedia disana. Kemudian memejamkan matanya, berbaring dengan tenang.


Mungkin baru dua menit, Allena mulai membuka matanya perlahan.


"AAAAHH....!!". Allena langsung berteriak histeris terkejut ketika mendapati wajah Aziel yang begitu dekat dengan wajahnya. Reflek Allena menabok wajah Aziel menjauh.


"Aishh gila lu! Gua kaget sialan!". Umpat Allena yang sudah mengambil posisi duduk. Allena tak menyangka, ternyata orang yang di ranjang sebelah tadi adalah Aziel. Dia benar-benar terkejut setengah mati tadi.


"Astaga Len, lu mukulnya kekencangan muka gua". Ringis Aziel menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Siapa suruh lu kaya tadi! Gua kan kaget". Sentak Allena.


Cewek itu mulai terlihat menghembuskan nafasnya tak karuan karena kaget.


"Duhh...". Allena tiba-tiba meringis dengan tangan yang meremas selimut, "Hah..hah..hah...duhh...ssakithh". Desis Allena. Tangan kanannya mulai terangkat meremas dada kirinya yang sakit.


Mendapati Allena yang seperti itu, segera Aziel mendekat pada Allena dengan ekspresi khawatir, "Lu kenapa Allen?". Aziel duduk di atas ranjang lalu memegang kedua bahu Allena menghadapkan gadis itu padanya.


"Awwh!". Desis Allena. Kemudian menepis kedua lengan Aziel di bahunya, "Nggak, gua nggak kenapa-napa". Allena menggeleng terlihat seberusaha mungkin untuk tetap bisa menetralkan rasa sakit yang dirasakannya.


"Nggak kenapa-napa gimana? Ini lu kaya kesakitan gini". Kembali Aziel meraih kedua lengan Allena, "Lu kenapa Allen? Bilang ama gua! Lu jangan bikin gua khawatir kaya gini dong Allena. Lu kenapa?". Aziel benar-benar sangat khawatir melihat Allena saat ini. Dia ingin menolong, namun Allena sedari tadi mendorongnya menjauh dan terus mengatakan bahwa dia tidak kenapa-napa. Sementara apa yang dilihat Aziel itu berbeda. Allena terus saja menghembuskan nafasnya tak karuan dan terus terlihat meremas dadanya seperti menahan sesuatu.


"Gua minta maaf oke! Gua minta maaf karena udah ngagetin lu tadi. Gua nggak tau kejadiannya bisa kaya gini". Aziel merasa bersalah karena sudah mengagetkan Allena tadi. Kalau tau akan terjadi seperti sekarang ini pada Allena, Aziel tidak akan melakukan hal yang membuat Allena terlihat kesakitan saat ini.


"Gua bilang gua nggak kenapa-napa!". Sentak Allena di hadapan Aziel, lalu kembali mencoba menghirup udara sebanyak mungkin, "Minggir!". Kemudian Allena beranjak dari atas ranjang sambil terus meremas dada sebelah kirinya.


Allena membelakangi Aziel dengan terus menarik-menghembuskan nafasnya, "Awwhh..shh..sakithh banget ya Tuhan". Ringis Allena. Air matanya mulai keluar. Rasa sakit yang melandanya benar-benar menyakitkan. Dan semakin meremas kuat dada kirinya.


Aziel segera beranjak mendekati Allena, "Allen, lu kenapa sih? Bilang ama gua!Gua khawatir tau nggak kalau lu kaya gini". Aziel sudah berdiri di hadapan Allena yang menunduk.


Terlihat perlahan Allena mulai mengangkat kepalanya.


Mendapati wajah Allena yang sudah basah karena menangis, langsung Aziel menangkup pipi putih kemerahan itu, "Allen!". Desis Aziel lembut memandang wajah itu, "Lu kenapa?". Sambungnya lagi. Aziel tak sanggup melihat gadis yang dicintainya menangis seperti itu. Hatinya sakit melihat Allena menangis.


Allena memejamkan matanya. Terdengar suara sesenggukan yang keluar dari mulut gadis itu, "Hiks..hiks..hiks! Sakit EL hiks..hiks!". Adu Allena yang sudah menangis. Tangannya terus saja meremas dada kirinya. Dan Aziel tentu saja melihat itu, "Saakkhhiitthh banget". Sambung Allena dengan air mata yang terus keluar.


Aziel menggeleng pelan, dan langsung memeluk Allena mendekap gadis itu dengan penuh kasih sayang.


"Jangan nangis! Gua nggak bisa lihat lu kaya gini Allen". Desis Aziel sembari mengelus lembut belakang kepala Allena. Pria itu benar-benar tak bisa melihat Allena menangis. Selama ini tak pernah sekalipun Aziel melihat Allena menangis separah ini, selain waktu dulu pas Alexa tidak sengaja menumpahkan bakso panas di belakang punggung Allena.


Dan kali ini Aziel melihat Allena menangis seperti ini. Aziel benar-benar merasa bersalah karena dia yang membuat keadaan Allena seperti sekarang ini.


"Gua minta maaf. Gua bener-bener minta maaf". Ucap Aziel lagi dengan terus mendekap Allena.


Sedang Allena terus menangis di dekapan Aziel, "Hiks..hiks..ini bukan salah lu. Lu nggak usah nyalahin diri lu sendiri". Desis Allena seketika yang mulai bisa menenangkan diri. Gadis itu langsung menyembunyikan wajahnya di dada bidang Aziel mencari kenyamanan di dekapan pria tinggi berjakun itu.


"Gua bakalan tetap minta maaf Allen. Gua merasa bersalah banget ama lu". Aziel semakin mengeratkan pelukannya.


"Hmm". Hanya itu yang keluar dari mulut Allena.


Keduanya kemudian saling diam dengan terus berpelukan menyalurkan rasa kenyamanan satu sama lain. Meskipun sesekali Allena masih sedikit sesenggukan disana.


Aziel kemudian melepaskan pelukannya, "Yaudah sekarang lu tiduran aja dulu". Aziel meraih lengan Allena lalu membawa cewek itu ke atas ranjang, membaringkan Allena disana. Dan Allena hanya menurutinya saja.


"Lu mau apa? Bilang ama gua!". Ucap Aziel duduk di samping Allena yang berbaring. Tangan kanannya membelai lembut puncak kepala cewek itu.


"Ambilin minum aja! Gua haus". Jawab Allena membalas tatapan Aziel yang memandanginya.


"Bentar!". Aziel kemudian beranjak mengambilkan Allena segelas air yang ada di atas nakas samping ranjang. Lalu memberikannya pada Allena yang langsung dihabiskan oleh Allena hingga tandas.


"Gua pesenin lu makanan. Lu pasti laparkan? Gua tau itu.


"Terserah!". Balas Allena.


Segera Aziel beranjak untuk mengambil ponselnya di atas ranjang yang ditempati olehnya tadi. Lalu kembali mendekati ranjang yang ditempati Allena sembari terlihat Aziel seperti tengah menghubungi seseorang.


Setelah selesai, Aziel kembali beralih ke arah Allena menatap intens gadis itu.


"Kenapa?". Tanya Allena mendapati Aziel yang menatapnya.


"Tadi lu kenapa Len? Kenapa lu bisa kaya gitu? Lu sakit? Kalau iya lu sakit, lu kasih tau ke gua, lu sakit apa!?". Terlihat keseriusan di wajah Aziel. Dia ingin tau apa penyebab yang membuat Allena bereaksi seperti tadi.


"Bisakan kita nggak bahas itu?". Allena juga terlihat serius. Allena tak ingin membahasnya.


"Tapi Len, gua...


"Bisakan Aziel?!!". Dengan cepat Allena memotong perkataan Aziel.


Aziel seketika hanya bisa menghebuskan nafasnya.


"Yaudah kalau gitu". Aziel mengalah. Jangan sampai dia membuat Allena marah atau mood Allena menjadi jelek.

__ADS_1


"Tapi lu harus makan entar". Ucap Aziel lagi.


Allena memutar bola matanya, "Iyaaaa gua makan". Desis Allena malas.


Aziel hanya berdengus lucu sembari membuka sepatunya. Tiba-tiba saja Aziel beranjak dan langsung berbaring di samping Allena membuat Allena berjengit.


"Eh lu ngapain tiduran disini?". Desis Allena membulatkan matanya memandangi Aziel, "Disini sempit Aziel, lu di sebelah aja sana! Jangan disini". Allena berusaha mendorong tubuh Aziel, namun tak bisa.


"Gua mau tiduran bareng lu Allena". Aziel langsung membawa Allena ke arahnya, memeluk gadis itu menahan pergerakannya.


"Isshh nanti ada orang yang datang terus ngelihat kita geblek". Allena berusaha melepaskan diri dari Aziel.


"Tenang aja udah. Nggak bakal ada yang lihat". Aziel semakin menarik Allena ke arahnya.


"Ck, nyebelin banget sih lu". Akhirnya Allena berhenti meronta dan membiarkan Aziel memeluknya posesif.


"Bentar gua lepasin, setelah yang bawa makanannya dateng". Desis Aziel yang sudah memejamkan matanya sambil terus memeluk Allena.


Allena kemudian hanya menghembuskan nafasnya.


Sementara itu, Setya yang sedang memperhatikan penjelasan guru di depan kelas tiba-tiba teralihkan karena ponselnya bergetar.


Segera Setya mengambil ponselnya yang dia letakan didalam laci mejanya, lalu membuka pesan notifikasi yang masuk. Membacanya.


"Hedehh nyusahin nih orang satu. Dia yang sakit, gue yang direpotin". Desis Setya setelah membaca pesan masuk yang ternyata dikirim oleh Aziel sepupunya.


Setya kemudian mengangkat tangan kanannya ke atas, "Bu Guru!". Seru Setya, membuat guru itu berbalik padanya, "Saya mau izin ke toilet sebentar". Serunya lagi.


Guru itu mengangguk, "Yasudah silahkan! Tapi jangan lama-lama ya kamu". Ucap guru itu mengizinkan.


"Iya Bu. Makasih!". Dengan segera Setya beranjak dari kursinya lalu berjalan keluar kelas.


Setya berhenti sejenak saat dirinya hampir sampai di depan kelas 11 IPA 1. Entah mengapa dirinya memlilih untuk berjalan memutar, sementara dia bisa saja mengambil jalan turun tangga yang biasa dia lewati dan itu tidak jauh dari kelasnya.


Setya kemudian kembali melanjutkan langkahnya. Saat dirinya hampir dekat dengan pintu kelas itu, tiba-tiba ada Alvian muncul berlari keluar dari kelas itu, dan langsung disusul oleh Zee yang juga berlari keluar. Sontak Setya yang memang sudah tiba di depan pintu bertabrakan dengan Zee.


"Aduhh!". Desis Zee, kemudian mendongak ke arah Setya, "Duhh sorry sorry gue nggak sengaja. Maaf!". Setelah meminta maaf Zee kembali berbalik ke arah Alvian yang berdiri tak jauh di belakang sana.


"Woyy Alvian, awas lo ya! Siniin handphone gue!". Zee langsung kembali mengejar Alvian, melewati Setya begitu saja, "Balikin Alvian! Gue hajar lo ya". Teriak Zee lagi sambil mengejar Alvian yang juga kembali berlari dari Zee yang mengejarnya.


Sedang Setya hanya memandangi kedua orang yang saling kejar-kejaran itu.


Ternyata kelas 11 IPA 1 memang sedang dalam jam kosong, gurunya tidak masuk karena sedang ada urusan di luar kota.


Setya berdecih, "Cih!". Setelah itu langsung berjalan pergi dari sana.


...******...


TOK


TOK


Pintu UKS di ketuk dari luar.


"EL..". Allena menggoyang-goyangkan lengan Aziel yang memeluk pinggangnya, "EL..! Aziel, bangun!". Allena terus menggoyangkan lengan Aziel, "EL...


"Hmm". Gumam Aziel yang masih memejamkan matanya.


"Bangun! Di luar ada orang!


"Hmm". Gumam Aziel lagi. Pria itu malah semakin memeluk erat Allena.


"Isshh ck, bangun Aziel! Di luar udah ada orang. Lepasin dong! Meluk gua terus dari tadi". Desis Allena jengkel.


"Yaudah biarin aja! Kenapa sih?". Pokoknya Aziel tak ingin melepaskan Allena.


Sedang di luar sana sudah mulai menggedor-gedor pintu UKS dengan keras.


"Tunggu aja lu". Desis Allena.


Dengan sekuat tenaga Allena mendorong kuat tubuh Aziel, sampai membuat Aziel terguling jatuh ke bawah, sehingga terdengar seperti barang jatuh saja.


"Aduh Allena! Lu tega banget sih ama gua Allen". Aziel meringis sambil mengusap bokongnya yang sakit akibat menghantam lantai tadi.


"Makanya. Dibilangin juga". Cibir Allena, "Sana, bukain pintunya!". Perintah Allena kemudian.


"Kok gua sih Allen. Kan gua lagi sakit karena jatoh barusan". Ringis Aziel dengan nada sedih yang dibuat-buat.


"Dihh! Terus lu mau nyuruh gua gitu!?". Semprot Allena melototkan matanya pada Aziel.


"Tapikan Allen..


"Yaudah lu diem disitu aja. Gua juga bakalan tetep diem disini juga". Allena langsung memotong perkataan Aziel dengan galak.


"Emang paling tega lu ama gua Allen". Ucap Aziel sambil berusaha bangun kemudian berjalan perlahan ke arah pintu.


Sedang Allena di belakang sana terlihat tersenyum menahan tawanya melihat Aziel yang berjalan seperti orang pincang, patah tulang. Tubuh pria itu condong ke samping.

__ADS_1


Aziel membuka pintu UKS, dan tampaklah Setya dengan dua murid lainnya di belakang Setya dan terlihat membawa nampan berisi makanan.


"Lama amat sih lo EL ketimbang bukain pintu doang. Dikira nggak capek apa nungguin disini dari tadi". Omel Setya di hadapan Aziel.


"Gaya lu. Kaya kerja rodi aja! Nggak ngapa-ngapain juga kan". Cibir Aziel, "Udah, bawa masuk sana!". Kemudian kembali berbalik menghampiri Allena.


Sedang Setya dan kedua murid tadi bergegas berjalan masuk ke dalam UKS sambil membawa makanan yang mereka pesan di kantin sekolah tadi.


...******...


Bel istirahat telah berbunyi sedari tadi. Saat ini kelima bersahabat Airin, Tessa, Zee, Alvian, dan Gamma(tanpa Allena. Allenanya lagi sibuk sama Aziel soalnya🤭😅)


Mereka berjalan bersama untuk menuju kantin sekolah.


Di perjalanan tak sengaja mereka berpapasan dengan Chika yang bersama dua siswa lainnya. Salah satu siswa itu Gamma mengenalinya. Dia Jerry, siswa yang pernah dia dapati sedang bersama Chika, saat ingin merokok di gudang sekolah waktu itu.


Sempat Chika dan Gamma saling bertemu pandang, sebelum Chika dan kedua siswa itu benar-benar melanjutkan langkah mereka.


Gamma berhenti lalu berbalik memandangi Chika yang berjalan bersama dengan kedua siswa itu.


"Wishh Gam, ngapain berhenti? Lanjut sana! Kantin bukan disini". Alvian menepuk pundak Gamma dari samping ketika melihatnya berhenti.


Gamma menoleh ke arah Alvian sebentar, lalu dengan cepat Gamma berlari meninggalkan keempat sahabatnya.


"Oyy Gam, mau kemana lo?". Seru Tessa.


Gamma berbalik tanpa menghentikan langkahnya, "Bentar, gue ada urusan! Kalian duluan aja!". Balas Gamma berteriak. Kemudian kembali berbalik berlari pergi dari sana.


"Eleh, itu Gamma napa sih main pergi gitu aja?


"Kejar gadis pujaannya kali. Kalian kan tau sendiri Gamma lagi deket sama Chika. Nggak ikhlas tuh die lihat Chika sama dua cowok tadi". Timpal Zee cekikikan.


"Ada-ada aja tuh bocah". Tessa geleng-geleng lihat kelakuan sepupunya itu, "Udah ah, lanjut. Gua udah laper nih dari tadi". Sambungnya lagi, kemudian berjalan terlebih dahulu.


Mereka kemudian kembali melanjutkan langkah untuk menuju kantin.


Sementara itu..


"Woyy bagi duit!". Jerry dengan wajah galaknya memalak dua adik kelas yang sedang berkumpul di depan kelas mereka.


"Lo nggak denger? Bagi duit bego, budek lo!". Satu teman Jerry ikut menimpali dengan wajah tak kalah galaknya.


"M-ma-maaf Kak, kami nggak punya uang". Ucap salah satu adik kelas itu dengan takut-takut.


"Nggak punya duit!?". Jerry sontak melototkan matanya. Ditariknya kera baju adik kelas tadi, "Terus ini apa? Daun? Gua hajar juga lo". Jerry mengambil uang di saku seragam adik kelas itu sambil mengancam dengan kepalan tangan di hadapan adik kelas itu.


"J-j-jangan Kak". Ucap murid itu terbata.


"Diem lo!". Sentak Jerry. Kemudian beralih ke arah temannya yang menangani adik kelas yang satu lagi". Gimana Dan?". Tanya Jerry.


"Yang ini ngelunjak. Minta gue hajar beneran kayanya". Ucap siswa yang bernama Dani itu.


"Biar gue...


"Nggak usah. Gue aja yang urus". Chika dengan cepat memotong perkataan Jerry dan langsung mengambil alih siswa yang sedari tadi memberontak seakan tak takut.


"Sekarang lo kasi gue duit, atau lo lebih milih gue hajar". Ancam Chika yang sudah menarik kera baju siswa itu.


"Nggak akan. Emangnya kalian nggak dikasih duit sama orang tua kalian. Orang tua kalian kan kerja untuk kalian. Masa duit aja harus minta-minta sama orang. Malak lagi". Cibir siswa itu.


"Banyak bacot nih bocah!". Langsung saja Chika memberikan bokeman mentah di pipi sebelah kiri siswa itu hingga membuatnya jatuh tersungkur.


"Bagi duit gue bilang. Mau gue hajar sampai mampus lo". Chika kembali menarik kerah baju siswa yang terduduk itu. Menatapnya garang.


"Woyy kasih cepetan! Mau dihajar lagi, mau lo!?". Dani menendang-nendang kaki siswa itu.


"Nggak akan". Ucap siswa itu kekeh.


"Dibilangin batu lo ya! Sini lo sini! Bangun lo". Chika menarik kuat kerah baju siswa itu sampai membuatnya kembali berdiri.


"Gue tanya sekali lagi. Lo mau kasih apa nggak?". Semprot Chika dengan garang.


Tidak berapa lama Gamma datang dan langsung melepas cengkraman Chika di kerah baju siswa tadi. Menarik lengan Chika, membawa gadis itu pergi bersamanya.


"Eh eh apaan-apaan sih lo". Chika berusaha memberontak.


"Ikut gue!". Gamma terus menarik lengan Chika.


Chika berdengus dengan kesal, kemudian menoleh ke belakang ke arah dua temannya yang terlihat kebingungan.


"Urusin tuh dua bocah! Sampai duitnya ada". Teriak Chika ke arah Jerry dan Dani teman satu kelasnya.


Kedua cowok itu segera kembali melaksanakan perintah dari Chika.


Sedang Chika terus ditarik pergi oleh Gamma.


__ADS_1


__ADS_2