Allena And Friend'S

Allena And Friend'S
PART 106 ~ Allena and Friend's


__ADS_3

Setya datang dan langsung saja membuat kedua wanita yang bertengkar tadi berhenti.


Segera Hera menghampiri Setya dan bergelayut manja dilengan kekar pria itu.


"Cewe bar-bar itu yang duluan, dia narik rambut gue. Nih lihat rambut gue sampai rontok kaya gini. Sakit banget tau". Hera menunjukan kumpulan rambutnya yang terlepas pada Setya.


"Lo yang duluan ya ngedorong gue". Ucap Zee nyolot menatap galak Hera.


"Tuh lihat, dia itu emang cewek bar-bar". Hera berkata dengan nada manjanya yang terkesan dibuat-buat.


"Dih lo apaan sih jijik gue lihat lo kaya gitu. Emang lo itu cocoknya dipanggil cewe kecentilan". Cibir Zee.


Ini Hera kenapa sih? Sok manja banget kaya gitu. Pake segala ngegandeng Setya sok di imut-imutin.


"Udah udah diam!". Sentak Setya. "Lepasin tangan gue". Setya kemudian melepas gelayutan Hera dilengannya lalu memberi jarak.


"Ngapain lo berdua pada berantem? Cari muka lo berdua". Semprot Setya dengan wajah bengisnya menatap kedua gadis itu.


"Dan lo-". Setya beralih kearah Zee, "Lo bisa nggak sih nggak nyari ribut.


"Loh Kak, kok gue. Orang dia yang...


"Lo denger nggak yang gue omongin? Atau lo emang suka nyari ribut minta diperhatiin?". Setya mendekat kearah Zee, "Dan gue peringatin satu hal ke lo, jangan pernah deketin gue lagi. Lo tau nggak gue itu nggak suka lo deketin, risih banget. Lo nggak sadar dengan lo begitu sama aja lo kaya cewe murahan, nggak tau diri. Tau kan lo cewek murahan itu apa? Ya kaya lo. Nggak tau diri, nggak tau malu, atau lo emang nggak punya malu". Zee langsung terkesiap mendengar perkataan Setya itu.


"Kak...


"Dan berhenti lo manggil-manggil gue seakan kita itu dekat. Kita itu nggak pernah dekat. Gue nggak akan pernah sudi deket sama cewek nggak tau malu kaya lo". Oh Mai Setya, lo nggak tau perkataan lo itu sudah melukai perasaan Zee.


"Woyy Setya, maksud lo apa ngatain sahabat gue kaya gitu ha". Tessa tentu saja tak terima dengan Setya yang mengatai Zee sahabatnya.


Sedari tadi Tessa dan juga Airin sempat melihat dan mendengar Setya yang sudah menghina Zee. Meskipun sedikit terlambat.


"Jagain tuh sahabat lo biar tau artinya malu itu apa. Ganggu hidup orang tau nggak". Setelah berkata seperti itu Setya langsung pergi begitu saja. Sempat dia melirik Zee yang hanya diam mematung ditempatnya.


"Tuh cowok ya bisa-bisanya ngatain sahabat gue. Harus gue kasih bogeman tuh Kakak kelas nggak ada akhlak". Tessa ingin menyusul Setya, namun Airin menghadangnya, "Udah Sa, jangan. Mending kita pergi aja dari sini ayo, kasihan Zee". Airin kemudian beralih kearah Zee, "Zee, kita pergi aja ya, lo nggak usah dengerin omongan Kak Setya.


"Udah ayo". Airin segera merangkul Zee, "Sa, udah nggak usah ribut". Airin kemudian menarik lengan Tessa. Takut gadis itu semakin mengamuk.


Semuanya kemudian ikut bubar pergi dari sana.


Hera yang melihat reaksi Setya tadi sungguh-sungguh sangat bahagia. Hera sangat senang karena Setya dengan gamblangnya mengatai Zee. Apa lagi itu didepan murid-murid yang lainnya.


"Ra, good job. Emang lo paling paling dah". Alexa memuji sahabatnya itu.


"Iya dong, Hera gitulohh.


"Hedehh lo berdua itu ya emang paling sukanya bikin keributan. Masalah cowo lagi, kaya nggak ada cowo lain aja di dunia ini. Cowo banyak woi tinggal milih". Chika benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikir kedua sahabatnya itu. Cowo doang diperebutin.


"Ya biarin, dari pada lo sukanya sama si Gamma Gammaludin itu. Mana orangnya sengklak lagi". Semprot Hera.


"Gamma doang woyy nggak usah lo tambah-tambahin. Lagian gue juga nggak ada hubungan apa-apa kali sama Gamma. Ngapain? Kaya nggak ada cowo lain aja". Balas Chika.


"Yakin?". Seru seorang pria dari arah belakang Chika. Sontak gadis itu berbalik dan mendapati Gamma yang sedang berjalan kearahnya.


"Cie-cie Chika, disamperin tuh sama calpar". Bisik-bisik Hera. Kedua sahabatnya itu malah mendorong-dorong dirinya.


Chika memandangi Gamma yang kini sudah berdiri dihadapannya, "Ngapain lo disini?". Chika berkata dengan ketus.


Gamma tidak menjawab malah beralih menatap bibir Chika, "Lo masih ngerokok?". Tanya Gamma kemudian.


"Bukan urusan lo". Jawab Chika semakin ketus.


"Itu udah jadi urusan gue.


"Dih lo apaan sih nggak jelas banget. Gaje tau nggak.


"Iihh Chika jangan kaya gitu sama calpar. Sorry ya Gam, Chika emang kaya gitu orangnya, emosian banget". Ini lagi Hera ngapain ikut ngomong sih. Bisa diam aja nggak.


"Oh nggak apa-apa". Ucap Gamma tanpa mengalihkan pandangannya dari Chika.


"Lo apaan sih liatin gue mulu, minta gue colok mata lo!?". Gertak Chika membulatkan matanya dihadapan Gamma.


Pria itu malah berdengus lucu, Gamma kemudian semakin mendekat kearah Chika dan langsung mengecup kening Chika sekilas, "Jangan marah-marah mulu, entar cantiknya ilang lo". Setelah berbicara seperti itu Gamma kemudian pergi dari sana.


Sementara Chika mengerjab-ngerjabkan matanya akibat perlakuan Gamma padanya tadi.


"O My God Chik, Gamma sosweet banget sama lo. Gue juga pengen digituin sama Setya kyaaa....". Yang histeris malah Hera.

__ADS_1


"Kayanya Gamma itu suka sama lo deh Chik. Buktinya dia main cium lo aja kaya gitu". Alexa ikut menimpali.


"Udah nggak tau ah, males gue ngomongin orang stres kaya dia". Chika berlalu pergi begitu saja. Gadis itu masih memikirkan kejadian tadi. Gamma menciumnya woyy didepan sahabat-sahabatnya lagi.


"Cieee Chika malu-malu ni yee". Alexa menyusul Chika sambil terus menggoda Chika diikuti oleh Hera.


Kedua orang itu terus saja menggoda Chika sahabat mereka itu.


...*****...


"Udah Zee, lo nggak usah mikirin kejadian tadi. Tenang ya". Airin mencoba menenangkan Zee yang sedari tadi diam ditempatnya.


Saat ini mereka sudah berada dalam kelas.


"Iya gue nggak papa kok, tenang aja kali". Zee tetap berusaha sebiasa mungkin. Meski dia masih mengingat kejadian tadi dimana Setya mengatai dirinya.


"Nggak papa gimana Zee? Lo itu nggak usah sok tegar gitu deh. Itu si Setya udah keterlaluan ngehina lo, didepan murid-murid lain lagi". Tessa malah yang emosi mondar-mandir kesana kemari dengan amarah yang memuncak. Gimana nggak marah? Sahabatnya dikatain kaya gitu. Emang kurang ajar tuh Setya.


"Lagian lo ngapain sih malah suka sama Setya si batu itu. Dia itu 11/12 sama Aziel. Udah hidupnya kaku nggak ngehargain orang lagi, pake segala Setya ngatain lo murahan. Hihh pengen gue bejek-bejek tuh mulutnya". Sambung Tessa lagi. Gadis itu benar-benar terlihat emosi.


Zee menghela nafas, "Udah Sa, lo nggak usah marah-marah kaya gitu, gue juga nggak kenapa-napa kok. Udah biasa kali Kak Setya ngatain gue.


"Ya justru itu, lo nya sampai kapan mau dikatain terus sama manusia batu itu. Lo juga dari dulu suka sama Setya ngapain, dia juga nggak ngehargain lo kok dari dulu. Masih aja lo bertahan sampai sekarang. Heran gue sama lo. Apa sih yang lo sukain sama makhluk yang bernama Setya itu". Heran bener Tessa. Dari kelas 10 hingga mereka sudah berjalan beberapa bulan kelas 11, Zee masih saja menyukai Setya. Mau sampai kapan Zee seperti itu terus.


"Udah Sa, lo jangan malah marahin Zee. Harusnya lo tenangin Zee dong, malah lo marahin". Tegur Airin.


"Ya Rin, coba lo pikir deh. Gimana gue nggak...


"Widihh kalian lagi ngomongin apaan nih, serius amat". Seruan Alvian membuat ucapan Tessa berhenti. Pria itu datang bersama Allena.


"Kebetulan lo berdua udah datang. Lo berdua tau nggak, tadi Zee sama si Cewek Kecentilan dari kelas sebelah mereka pada ribut di lapangan. Mereka tadi sempat dilerai sama...


"Tunggu-tunggu Cewek Kecentilan itu siapa?". Tanya Alvian tak paham.


"Itu si Hera Hera itu temannya si Mak Lampir Alexa. Mereka sempat ribut di lapangan terus Chika sama Setya ngelerai mereka berdua. Terus lo pada mau tau cerita yang selanjutnya apa? Setya malah ngata-ngatain Zee. Emosi gue tuh, emosi banget". Tessa bercerita dengan amarah yang membara.


"Ngatain? Maksudnya?". Kini Allena yang bertanya.


"Iya Setya ngatain Zee, ngatain nggak tau dirilah, murahanlah, nggak punya malulah apalah itulah, didepan anak-anak yang lain lagi di lapangan lagi, astagaaa gue ingat itu gue yang emosi lo tau. Hiih..kesel gue, pengen gua tonjok ampe ancur mulut Setya. Bisa-bisanya dia ngatain Zee kaya gitu". Ucapnya lagi.


Baginya itu sudah sangat keterlaluan. Alvian tak terima jika Setya mengatai Zee dengan sembarangan. Apalagi Zee adalah gadis yang sudah sangat dicintainya.


Bagaimanapun tidak ada yang boleh menyakiti Zee. Pria itu akan jadi orang pertama yang maju jika ada siapapun yang menyakiti Zee.


Zee yang melihat Alvian bergegas menyusulnya. Zee tentu saja tau Alvian pasti akan mendatangi Setya.


Zee tidak ingin Alvian dan Setya bertengkar seperti dulu lagi.


"Alvian tunggu! Jangan!". Zee berlari menyusul Alvian yang berjalan dengan mengepalkan kedua tangannya. Pria itu terlihat sangat marah.


"Al, Al, Al, Al!". Zee langsung menghadang Alvian, "Al, Alvian jangan ya. Nanti kalian bisa berantem lagi.


"Nggak, nggak bisa Zee, tuh orang udah keterlaluan. Beruntung gue nggak ada disana tadi. Kalau gue ada dan lihat langsung dia ngatain lo, gue langsung picahin mulut kurang ajarnya itu". Alvian terlihat emosi.


"Gue mohon sama lo, jangan Al. Gue juga nggak kenapa-napa kok, gue nggak permasalahin.


"Tetap nggak bisa, dan gue harus tetap kasih pelajaran sama Setya. Lo jangan ngehalangin gue Zee". Alvian kembali berjalan.


Dan dengan cepat Zee menarik lengan Alvian, "Al, Al, jangan, gue mohon sama lo Alvian jangan, jangan ya". Zee seberusaha mungkin melarang Alvian.


Dia tidak ingin melihat Alvian sahabatnya dan juga Setya orang yang disukainya bertengkar.


Meskipun Setya sudah dengan kasarnya mengatainya dan itu didepan murid-murid lainnya, tapi Zee tetap tak mempermasalahkannya. Yaa meskipun sakit dikit nggak papa sih. Walau bagaimanapun itu, Setya adalah orang yang akan tetap disukainya. Mungkin sudah sayang, atau cinta. Kita nggak tau, karena itu adalah perasaan Zee dari dulu.


"Udalah Zee, nggak papa. Biarin Alvian kasih pelajaran sama Setya belagu itu". Tadi Allena, Tessa, sama Airin sempat menyusul mereka.


"Sa, lo bisa diem nggak sih!? Gue nggak mau ada ribut-ribut. Lagian gue juga nggak kenapa-napa kok". Ucap Zee sambil menatap kesal kearah Tessa. Dari tadi sahabatnya itu tak bisa terkontrol.


"Ini lagi tambahin terus. Lo diem aja napa Sa, jangan memperkeruh suasana". Airin berbisik sambil mencubit pinggang Tessa. Gadis itu juga mulai kesal pada Tessa. Sahabatnya ini terlalu cepat emosi.


Zee kemudian beralih kembali pada Alvian, "Udah Alvian jangan! Lo dengerin kata-kata gue. Gue nggak mau lo datengin Kak Setya terus kalian ribut lagi. Gue nggak mau. Lo ngertikan maksud gue?". Zee mulai jengah. Jika Alvian tak mendengarkannya, Zee akan marah.


"Dengerin kata Ziva". Allena mulai berbicara. "Dia nggak mau ada keributan, jadi kalian harus ngehargain itu". Sambungnya lagi.


Allena kemudian menatap datar Zee, "Tapi, kalau sampai Setya kaya gitu lagi ke lu Ziva, gua orang pertama yang bakal maju untuk kasih pelajaran sama Setya dan lu nggak boleh ngelarang kalau sampai gua ngelakuin itu. Bagaimanapun itu adalah harga diri, dan lu nggak boleh menutup mata akan hal itu. Lu pahamkan maksud gua Va?". Allena langsung menatap serius pada Zee.


Mendengar perkataan Allena, Zee hanya bisa menghela nafas. Bagaimanapun Allena adalah sahabatnya yang paling tak bisa dilawannya.

__ADS_1


Allena memang benar. Itu adalah harga diri, dan orang yang disukainya sudah menyakiti harga dirinya sekaligus perasaannya.


"Huff....Oke Allena gue paham kok". Ucap Zee memelas sambil menunduk lesu.


Allena kemudian ikut menghela nafas menatap sahabatnya yang sudah terlalu bucin itu, "Yaudah kita balik ke kelas sekarang". Allena merangkul Zee. "Dan lu Alvian, ikut. Nggak usah ribut. Lu itu anggota OSIS mana ada anggota OSIS mau buat keributan di sekolah". Ucap Allena menasihati.


"Hmm yaudah! Susah emang kalau udah jadi bucin". Alvian sengaja menyindir, membuat Zee langsung cemberut.


Mereka kemudian bergegas kembali ke kelas mereka. Mungkin guru sudah masuk ke kelas tadi. Kan bahaya, apa lagi guru pelajaran kali ini itu terkenal menyeramkan bila sudah mengajar.


...*****...


Bel pulang sekolah telah berbunyi sedari tadi. Saat ini Allena sudah berada dalam mobilnya akan pulang.


Saat Allena menjalankan mobilnya keluar dari gerbang sekolah dan melewati halte, tak sengaja dirinya bertemu pandang dengan Alexa dari balik jendela mobil. Langsung saja Allena membuang muka setelah bertatapan beberapa detik dengan Alexa.


"Idihh sok cantik banget sih tu cewek". Umpat Alexa sambil terus memandangi mobil Allena yang mulai bergerak jauh.


Sementara Allena hanya melirik dari balik kaca spion dengan ekspresi datarnya. Tak ada yang tau apa yang ada dipikirannya saat ini.


Allena kemudian tetap terus melanjutkan laju mobilnya.


TIN TIN!!


"ANJI*NG!! BANG*SAT TUH ORANG!!". Suara klakson mobil tepat dihadapannya membuat Alexa kaget setengah mati.


Seorang pria 2 tahun lebih darinya turun dari mobil.


"Hahaha kaget lo hahaha". Pria itu menghampiri Alexa dengan tertawa ngakak.


"Jadi lo Cowo Mesum, gila lo ya. Gue kaget as*u!". Ternyata itu adalah Brayen.


Ini cowo kok beberapa minggu ini sering Alexa lihat. Itupun juga pas pulang sekolah. Sebenarnya ngapain sih dia disini.


Brayen terus tertawa tak menggubris umpatan Alexa padanya.


"Dih ngeselin banget sih lo, masuk lalat baru tau rasa lo. Udah-udah sana-sana! Ngapain sih lo disini? Ngerusak penglihatan gue tau nggak". Alexa sangat kesal karena ulah Brayen tadi.


Brayen berhenti tertawa, "Apaan lo ngusir-ngusir gue? Lo kira nih tempat punya Nenek Moyang lo apa ngusir-ngusir. Lagian emang gue peduli sama penglihatan lo itu. Mau lo buta sekalipun gue nggak peduli kali". Semprot Brayen.


"Apaan sih lo? Lagian siapa juga yang butuhin rasa kepedulian lo itu, nggak ada kali. Nggak ada yang nanya juga hihh...". Alexa mendelik eneg pada pria dihadapannya saat ini.


"Lo-


"Lagian lo itu yang ngapain? Perasaan datang ke sekolah ini terus. Lo itu udah bukan bagian dari sekolah ini lagi, tau. Atau lo nggak kuliah lagi, pengangguran lo ya. Wahaha pengangguran, kasihan banget sih lo. Udah miskin ya lo mangkanya nggak ada kerjaan". Cibir Alexa.


"Lo. Sekali lagi lo ngomong gue tampol lo". Ancam Brayen.


"Kenapa? Emang kenyataan kaya gitu kan. Mana tuh resto yang lo bangga-banggain? Udah bangkrut ya, atau emang udah nggak ada lagi? Makanya jangan songong lo". Alexa semakin menjadi-jadi mencibir Brayen, membuat pria itu kesal stenga mati.


Ini Alexa minta dilakban mulutnya apa gimana. Pedes banget ngomongnya kaya cabe.


Brayen tentu saja tak terima dikatai seperti itu. Dengan cepat tangannya mencengkram lengan Alexa.


"Eh ngapain lo megang-megang tangan gue, lepasin nggak". Alexa berusah melepas cengkraman Brayen dilengannya.


"Diem!!". Sentak Brayen membuat Alexa kaget dan seketika berhenti memberontak.


"Sekarang lo ikut gue". Brayen langsung saja menyeret Alexa menuju mobilnya.


Dihempaskannya Alexa kedalam mobil. Alexa mencoba berusaha untuk keluar, tapi Brayen tak membiarkannya lalu ikut masuk kedalam mobil.


Diangkatnya tubuh Alexa lalu dia pindahkan kesamping dan Brayen mengambil tempat dikursi pengemudi.


Alexa mencoba membuka pintu namun tak bisa karena Brayen sudah menguncinya.


"Bukain nggak pintunya. Gue mau keluar. Lo mau bawa gue kemana ha?". Alexa berkata dengan kerasnya pada Brayen disampingnya.


"Terserah lo mau pake sabuk pengamannya apa nggak. Yang jelas kalau sampai lo kejengkang jangan salahin gue". Tanpa berlama-lama Brayen langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi membuat Alexa hampir terhatup kedepan.


Dengan cepat Alexa memakai sabuk pengamannya.


Gadis itu kemudian menoleh kearah Brayen menatap pria itu dengan kesal.


"Dasar Brayen gila lo!!


__ADS_1


__ADS_2