
Pagi ini Allena dan ke-3 temannya Airin, Zee dan juga Tessa sudah berada dalam kelas. Terlihat ke-4 gadis itu membaringkan kepala mereka dan menyembunyikan wajah mereka dibalik kedua tangan mereka yang dilipat diatas meja.
Gamma yang melihat langsung menghampiri ke-4 sahabat wanitanya itu. Disana ada Alvian dan juga Manaf yang ternyata datang ke sekolah hari ini. Namun pria itu terlihat seperti tidak biasanya. Manaf hanya berdiam diri sedari tadi. Sesekali melirik Airin yang tengah berbaring.
"Oyy kenapa lo pada? Pagi-pagi udah turu aja. Bangun-bangun, entar guru datang dimarahin baru tau rasa kalian". Tegur Gamma menggoyang-goyangkan badan mereka secara bergantian.
"Sa bangun Sa. Bangun woyy". Desis Gamma menggoyangkan badan Tessa yang membuat gadis itu mengangkat kepalanya dan menatap Gamma.
"Apaan sih Gam, ganggu aja lo. Pergi-pergi sana, gua mau tidur tau". Cicit Tessa yang terlihat masih ingin tidur.
"Waduh, kaget gue. Kenapa tuh mata lo? Kaya kuntilanak tau nggak". Kaget Gamma yang melihat wajah Tessa.
Bagaimana tidak? Wajah gadis itu terlihat menyeramkan dengan mata yang memerah dan juga dibawah matanya yang menghitam seperti panda(mata panda).
"Wahh curiga nih gue. Jangan-jangan...". Ucap Gamma menjeda kalimatnya sambil berjalan kearah Zee yang juga sedang berbaring.
"Woy Zee, bangun nggak lo". Ucap Gamma membangunkan Zee dan menatap wajah gadis itu yang juga sama keadaanya dengan Zee.
"Kenapa lu pada? Kok samaan gini. Kalian habis ngapain ampe mata merah kek gitu. Woy Sa, habis ngapain kalian berempat?". Tegur Gamma.
Bagaimana tidak? Ternyata ke-4 gadis itu semalam melanjutkan aktifitas mereka menonton film dewasa yang direkomendasikan oleh Tessa. Gadis itu benar-benar banyak memiliki koleksi video seperti itu dilaptop miliknya.
Sampai-sampai membuat Allena juga Airin dan Zee tak menyangka ternyata gadis itu sangat mesum kelakuannya. Bukan hanya Zee yang berhasil terhasut, Allena dan juga Airin akhirnya ikut menonton karena sangat kepo dan ingin mengetahui adegan divideo tersebut.
Awalnya Airin ingin turun dari ranjang, tetapi Tessa langsung menarik lengan Airin dan memaksa gadis itu untuk nonton. Akhirnya Airin terpaksa menonton, apa lagi melihat Allena yang juga mulai terhasut. Gadis itu pun ikut-ikutan.
Bayangkan mereka menonton sampai 5 video tanpa skip. Mereka benar-benar terhasut dan ingin mengetahui. Tessa benar-benar berhasil membuat mereka mengikuti jejaknya.
Airin bahkan sesekali menutup matanya dan berdesis setiap ada adegan yang membuat dirinya tak biasa melihat itu. Berbeda dengan ke-3 temannya yang terlihat serius menikmati video dewasa dilaptop milik Tessa si lucknut.
"Duh apaan sih Gam, mending lo diem deh. Ganggu gue tidur aja". Desis Tessa mencoba mencari posisi yang nyaman.
"Wahh gue curiga nih. Jangan-jangan ada sesuatu nih Gam". Timpal Alvian diangguki Gamma setuju.
"Gue juga curiga. Pasti mereka habis ngelakuin sesuatu nih semalem". Ucap Gamma dengan tatapan curiga melihat ke-4 gadis itu secara bergantian.
Tidak lama seorang guru masuk kedalam kelas mereka.
"Selamat pagi anak-anak". Sapa Bu Preti guru biologi mereka sekaligus Wali Kelas.
Para murid lalu membalas sapaan Bu Preti. Berbeda dengan murid lainnya, ke-4 gadis tadi terlihat masih membaringkan kepala mereka, yang membuat Bu Preti langsung menoleh kearah ke-4 gadis cantik itu.
"Kalian ber-4, kenapa tidur didalam kelas. Bangun kalian". Teriak Bu Preti yang membuat ke-4 gadis cantik tadi langsung mengangkat kepala dan menatap Bu Preti.
Murid-murid yang ada disana seketika tertawa melihat wajah ke-4 gadis itu.
"Kenapa tuh wajah haha.. Habis ngebegal kemana semalam, gadis-gadis cantik ku". Tawa Adrian dari pojok kelas sana.
"Habis ngebegal di X kali ya ampe muka kek gitu. Haha". Sambung Gerald tertawa.
Murid-murid di kelas itu seketika makin tertawa mendengar ucapan kedua pria itu.
''Sementara Allena, gadis itu terlihat memandang kedua pria itu dengan tatapan datarnya. Ditambah lagi dengan matanya yang memerah membuat aura gadis itu terlihat menyeramkan seperti ingin menerkam.
"Woy Duo Pembuat Onar, kalian diem aja disitu nggak usah ngebacot. Mau gue sumpel pake sepatu mulut lo berdua". Balas Tessa yang mulai tersadar.
"Apa lo laki? Ngebegal kemana semalam? Udah dapet apa aja? Haha". Balas Adrian tak mau kalah sambil terus tertawa.
Tiba-tiba.
"Bisa diem nggak lu. Ngebacot mulu lu dari tadi nggak berhenti-berhenti. Lu nyari ribut ha". Bentak Allena seketika membuat seisi kelas langsung terdiam berhenti tertawa.
__ADS_1
Nampak aura kemarahan diwajah Allena menatap Adrian. Kelas-kelas itu tiba-tiba sunyi tak berani tertawa lagi.
Bu Preti sendiri kaget akan bentakan Allena. Sedari tadi guru itu mencoba melerai agar tak ribut.
"Yaelah Len, galak amat. Gue kan cuman bercanda tadi". Ucap Adrian yang langsung kicep akan tatapan Allena padanya.
"Makanya lu nggak usah banyak omong. Banci lu". Gertak Allena.
"ALLENA GILMER PUTRI ALBERN!!". Teriak Bu Preti tiba-tiba.
Allena yang mendengar teriakan Bu Preti seketika menutup matanya lalu menarik nafas dalam menetralkan dirinya. Gadis itu hampir saja kelepasan.
Allena kemudian menoleh secara perlahan ke arah Bu Preti yang sedang menatapnya galak.
"Huff...
"Maaf Bu, kami tidurnya agak larut semalam". Ucap Allena dengan tenang.
Bu Preti yang mendengar pernyataan Allena juga seketika hanya menarik nafasnya perlahan. Muridnya itu memang dapat membuat keadaan menjadi tegang jika sudah marah.
"Baiklah, kali ini Ibu maafkan.
"Untuk sekarang kalian ber-4 pergi ke kamar mandi, dan cuci muka kalian". Ucap Bu Preti yang juga tenang.
"Baik Bu, sekali lagi kami minta maaf". Ucap Allena lagi seraya beranjak dari duduknya dan berjalan keluar kelas diikuti ke-3 temannya.
Tessa sebelum itu melototkan matanya kearah Adrian dan Gerald dengan kepalan tangannya yang ditujukannya kepada dua pria itu, dan mereka hanya membalas melototkan mata juga.
"Sudah. Sekarang kita mulai pelajarannya". Ucap Bu Preti seketika.
Sementara ke-4 gadis tadi terlihat sedang memasuki kamar mandi wanita dan mencuci muka diwastafel.
"Hah.. seger banget". Ucap Tessa sambil mengelap mukanya dengan tisu yang sempat dia bawah tadi.
"Yaelah Rin, nggak usah muna kali". Timpal Zee yang sedang berkaca dicermin besar yang tertempel ditembok.
"Bener dah, nggak lagi-lagi gue. Kalian lihatkan apa yang terjadi tadi sama kita". Balas Airin.
"Udah nggak usah bahas itu lagi. Kita balik ke kelas sekarang". Ucap Allena seketika yang sudah selesai seraya ingin melangkahkan kakinya.
Namun baru beberapa langkah, mereka dikejutkan dengan kedatangan Alexa yang masuk kedalam kamar mandi.
"Oh hai! Ternyata kalian ada disini juga, sama cewe sok kecantikan ini juga". Cibir Alexa melangkahkan kakinya kearah wastafel.
Ke-4 gadis itu tak menggubris. Allena yang memang ingin keluar melanjutkan langkahnya tak mempedulikan Alexa.
"Eh cewe sok kecantikan tunggu". Seru Alexa tiba-tiba seraya menghampiri Allena yang sudah berada dekat dengan pintu. Allena kemudian berbalik menghadap Alexa.
"Gue cuman mau bilang ke lo, kalau gue bakal minta ke bokap gue supaya mau jadi donatur diacaranya Aziel nanti.
"Dan gue bakal manfaatin itu supaya gue bisa lebih dekat sama Aziel. Terus lo? Lo nggak akan bisa deketin Aziel lagi karena gue yang akan buat lo ngejauh dari dia. Paham lo". Ucap Alexa dengan sombongnya.
Allena yang mendengar itu hanya memberikan tatapan datar pada Alexa. Gadis itu tidak berniat membalas perkataan Alexa yang membuat Alexa terlihat seperti orang bodoh.
Sementara ke-3 teman Allena tadi hanya menyimak perkataan Alexa yang ada hubungannya dengan Aziel. Membuat mereka kebingungan ada hubungan apa antara kedua gadis itu dengan Ketua OSIS mereka.
"Hmm". Gumam Allena sambil menaikan sebelah alisnya sebagai tanda jawaban. Gadis itu terlihat santai akan perkataan Alexa.
Setelah itu Allena berbalik kearah pintu dan keluar dari kamar mandi seakan tak peduli apa-apa.
"Eh Mak Lampir minggir sana". Cibir Zee yang ingin menyusul Allena.
__ADS_1
Ke-3 gadis itu kemudian menyusul Allena. Namun sebelum itu Alexa terlebih dahulu menubrukan pundaknya pada Airin yang ingin lewat dan menatap sinis Airin lalu berjalan kembali kearah watafel.
Sementara Airin, gadis itu hanya menunduk tak berani melawan Alexa. Menurutnya Alexa tak akan pernah berubah sikap pada dirinya. Akan selalu bersikap tak bersahabat padanya.
"Cih sok banget sih. Makin nggak suka gue sama cewe sok kecantikan itu. Gayanya sok berkuasa banget". Cibir Alexa disela-sela ia mencuci tangannya.
Gadis itu bertekat akan menjauhkan Allena dari Aziel apapun caranya. Alexa sepertinya benar-benar sangat tidak menyukai Allena.
...*****...
Bel istirahat berbunyi. Murid-murid mulai berhamburan keluar kelas.
Manaf yang sedari tadi tak menahan, langsung menarik lengan Airin dan membawa keluar gadis itu dari dalam kelas mereka. Terlihat Airin yang memberontak minta dilepaskan.
"Gais gais gais, Manaf narik Airin keluar". Ucap Zee dengan hebohnya.
Allena yang melihat itu segera berdiri dari duduknya berniat mengejar Manaf dan Airin.
"Ikutin mereka". Ucap Allena seketika membuat ke-4 teman Allena tadi saling melirik satu sama lain dan mengangguk cepat lalu bergegas menyusul Allena yang sedari tadi sudah berjalan terlebih dahulu.
Sementara Manaf terus menarik Airin tanpa mempedulikan murid-murid yang melihat mereka sedari tadi.
Airin terus memberontak minta dilepaskan. Akan tetapi Manaf tak berniat melepaskan Airin dan terus menyeret gadis itu hingga ke taman belakang sekolah. Setibanya disana Manaf mendudukan Airin dikursi yang terdapat di taman itu.
"Aww.. tangan gue. Sakit banget". Ringis Airin memperhatikan pergelangan tangannya yang memerah.
"Coba gue lihat". Ucap Manaf seraya mendekat pada Airin dan ingin memegang lengan gadis itu.
"Lepasin". Desis Airin menepis tangan Manaf.
Manaf yang melihat itu seketika merasa bersalah pada Airin.
"Gue minta maaf Rin. Gue cuman pengen ngomong sama lo. Gue mau ngejelasin semua permasalahan kita". Cicit Manaf merasa bersalah.
"Mau ngejelasin apa lagi? Semua udah jelas Manaf.
"Bokap lo yang udah buat keluarga gue hancur. Bokap lo yang udah buat Ayah gue masuk rumah sakit, dan sampai sekarang masih nggak sadarkan diri. Apa itu masih kurang jelas?". Desis Airin menatap tajam Manaf.
"Airin tolong lo ngasih kesempatan buat gue ngejelasin semuanya. Gue mau memperbaikin semuanya. Ini nggak kaya yang lo pikirin". Cicit Manaf menatap sendu Airin.
Laki-laki itu benar-benar merasa bersalah dengan apa yang terjadi pada Airin dan juga keluarganya. Manaf ingin memberi penjelasan agar Airin tak menjauhinya apalagi sampai membencinya. Manaf tak akan sanggup jika Airin gadis yang disayanginya membenci dirinya.
"Gue nggak mau ngomong lagi sama lo. Tolong lo ngejauhin gue, gue nggak mau lagi dapat masalah dari Bokap lo karena masih dekat sama lo.
"Dan gue juga bakal ngejauhin lo. Gue mohon sama lo Manaf, jangan buat gue sama keluarga gue hancur lebih dari ini. Lo tau, rasanya sakit banget ngelihat Ayah gue sampai sekarang nggak sadarin diri". Ringis Airin yang akhirnya tangisnya pecah.
Begitu banyak masalah yang hadir dihidupnya karena Manaf dan Ayahnya Manaf. Dan itu sampai ke keluarganya.
Ayah Airin sampai masuk rumah sakit karena kecelakaan ditempat kerjanya yang disebabkan oleh Ayah Manaf.
Ayah Manaf sengaja datang ketempat kerja Ayah Airin yang bekerja disebuh proyek pembangunan, yang ternyata proyek tersebut adalah milik Ayah Manaf. Ayah Manaf menyuruh orang suruhannya untuk mencelakai Ayahnya Airin.
Awalnya Ayah Manaf menyuruh orang suruhannya untuk menugaskan Ayah Airin bekerja dibagian atas pembangunan gedung. Kerena Ayah Airin biasanya hanya akan bekerja dibagian bawa gedung bertugas mengaduk adonan semen dan memberikan kepada para pekerja yang bekerja bagian atas gedung. Karena Ayah Airin sudah cukup tua dan hanya bisa bekerja seperti itu.
Awalnya Ayah Airin menolak, karena beliau tau proyek pembangunan gedung itu sangat tinggi. Takutnya terjadi apa-apa pada dirinya. Tapi orang suruhan Ayah Manaf mengatakan bahwa Ayah Airin akan mendapatkan gaji 3x lipat dari biasanya.
Akhirnya Ayah Airin menyetujuinya karena Ayah Airin berpikir akan sangat banyak biaya yang harus beliau keluarkan. Apa lagi Airin anaknya dan Rendi membutuhkan biaya yang sangat besar untuk bersekolah apalagi keperluan sehari-hari dengan tinggal di Ibu Kota yang terkenal akan mahal kebetuhannya.
Hingga pada saat Ayah Airin menaiki bagian atas pembangunan, Ayah Airin terjatuh karena tali pengaman yang digunakannya putus, membuat beliau langsung jatuh kebawah lantai dasar. Sekitar 10 meter dari atas ke lantai dasar Ayah Airin terjatuh. Membuat beliau harus dioperasi bagian kaki dan punggungnya karena mengalami patah tulang.
Memang tempat bekerja Ayah Airin menanggung biaya operasi tersebut. Akan tetapi dengan syarat Ayah Airin tidak bekerja lagi disana dan tidak akan diterima bekerja ditempat manapun.
__ADS_1
Membuat Airin harus menghabiskan semua tabungan Ayahnya untuk pengobatan, dan sempat ingin berhenti sekolah.
Dan yang membuat Airin tak menyangka ternyata Ayah Manaf lah yang telah berbuat jahat seperti itu pada keluarganya.