Allena And Friend'S

Allena And Friend'S
PART 18 ~ Allena and Friend's


__ADS_3

...Salah Paham...


Setelah mereka tiba ditempat permainan itu Brayen langsung melepas genggamannya pada Allena.


"Lu tuli ya? Gua bilang gua nggak mau". Ucap Allena sambil menatap datar Brayen.


"Udalah mau aja. Seru kok. Ayolah mau ya!". Cetus Brayen dengan sengaja memasang air muka sedih.


Allena seketika menghela nafasnya, "Hmm.. Yaudah!". Ucap Allena akhirnya.


"Yes bagus! Kalo gitu kita mulai sekarang". Cicit Brayen yang langsung senang. Allena mau.


Brayen kemudian mengambil posisi di samping Allena. Keduanya pun mulai bermain. Terlihat Allena yang dengan serius menatap layar di hadapannya dan juga bergerak menginjak kotak-kotak berwarna itu sesuai irama. Brayen pun sama seriusnya.


Allena terlihat mulai menikmati permainan gemsnya. Cewek itu merasa sudah lama merasa senang seperti itu sejak dia masih kecil. Dia mulai terbawa suasana. Terlihat Allena sering tertawa dengan Brayen di sampingnya sambil bermain game tersebut.


Setelah puas mereka pun menghentikan permainan. Terlihat Allena begitu senang dengan senyuman yang terus mengembang.


"Haduhh.. cape juga ya. Tapi ini seru banget". Ucap Allena girang sambil berdampingan dengan Brayen.


"Iya! Lo ternyata pintar juga ya mainnya". Puji Brayen sambil menatap Allena dengan ikut tersenyum. Entah mengapa dia melihat Allena yang tertawa senang seperti ini dia ikut senang sekaligus bahagia. Bahagia karena bisa sedekat ini dengan Allena. Apalagi jika Allena sudah tersenyum seperti ini menambah kesan kecantikan di diri cewek itu. Sungguh hatinya dibuat berdebar hanya dengan melihat senyuman manis Allena.


"Emang!". Sahut Allena tertawa.


Cewek itu kemudian terlihat memandangi seluruh penjuru gedung seperti sedang mencari-cari sesuatu. Setelah merasa apa yang dicarinya telah dia temukan Allena kemudian menarik pergelangan tangan Brayen.


"Kita kesana yuk!". Ajak Allena sambil menarik pergelangan tangan Brayen.


Brayen hanya mengikuti langkah Allena. Dia sangat senang bisa sedekat itu dengan Allena. Sejujurnya dia sudah sangat menyukai cewek itu sejak pertama kali melihatnya.


Bukan hanya karena kecantikan yang dimiliki oleh Allena. Tetapi juga Brayen ingin mengetahui soal Allena itu seperti apa. Menurutnya Allena sangat misterius dan hal itu yang membuatnya penasaran ingin mengenal lebih dalam seorang Allena.


Gadis cantik blasteran yang berhasil membuat hatinya luluh. Seakan jiwa keplayboyannya berhenti pada Allena.


"Kita main ini yuk! Lu mau kan?". Seru Allena yang berhasil membuat lamunan Brayen buyar seketika.


Brayen menoleh ke salah satu permainan yang ditunjuk Allena. Biasanya orang sebut dengan Time Crisis.


"Boleh". Balas Brayen sambil tersenyum pada Allena.


"Yaudah kalo gitu kita mulai sekarang!". Seru Allena.


Mereka segera memulai permainan. Terlihat keduanya serius memainkan permainan Time Crisis tersebut.


Cukup lama bermain, hingga mereka mulai terlihat menyelesaikan permainan itu. Terlihat wajah sumringah dari keduanya.


"Kalian berdua dari mana aja sih? Dicariin dari tadi juga". Seru Zee yang tiba-tiba muncul dari arah lain bersama Airin.


"Kita habis main ini". Jawab Allena sambil menunjuk permainan Crisis Time.


"Kita kesana yuk!". Ucap Allena lagi sambil berlari menuju ke salah satu box kaca besar yang berisikan banyak boneka. Allena terlihat seperti anak kecil saja yang berlari kerena akan diberikan permen.


Airin dan Zee yang melihat itu sampai melirik satu sama lain merasakan ada yang aneh pada Allena. Cewek itu terlihat begitu aktif menurut mereka. Tidak seperti biasanya Allena yang selalu diam dan tak banyak bicara dengan tampang datarnya itu. Seolah-olah merasakan kepribadian lain dari diri seorang Allena.


"Dih Allena, nggak kaya biasanya". Cetus Zee mengedip-ngedipkan matanya melihat Allena yang terlihat tengah sibuk dengan box kaca disana, "Kesambet setan apaan tuh bocah?


"Udah ikutin aja, nggak usah banyak cincong lo". Sahut Brayen mulai berjalan untuk menyusul Allena.


Zee yang melihat itu segera menarik lengan Airin, "Ayo Rin, kita susul". Ucapnya.


Ketiga orang itu kemudian segera menyusul Allena disana.


"Brayen bantuin gua dong! Ini gimana cara mainnya?". Tanya Allena kebingungan dengan alis yang berkerut memperhatikan tombol-tombol pada box yang memang tersedia disana.


"Yaelah Len, gini aja nggak bisa lo". Ucap Brayen sembari mendekati Allena, "Sini gue bantuin dah.


Terlihat Brayen membantu Allena untuk mengambil boneka dalam box kaca besar tersebut. Tampak Zee dan juga Airin merasa aneh dengan kedekatan kedua manusia itu.


"Yes berhasil! Makasih udah mau bantuin". Girang Allena tiba-tiba karena Brayen berhasil mendapat satu boneka yang ada dalam box kaca besar itu. Kemudian memandangi boneka itu dengan senangnya. Bahkan senyuman terus mengembang di bibirnya.


Sekali lagi Airin dan Zee hanya bisa saling melirik satu sama lain dengan pikiran masing-masing.


"Iya sama-sama". Balas Brayen yang ikut tersenyum.


"Yaudah kalo gitu kita ngapain lagi nih? Apa kita pulang aja sekarang atau gimana nih?". Tanya Zee kemudian pada mereka semua.


"Yaah.. jangan dulu! Kita main aja lagi bentar". Sahut Allena yang tiba-tiba memasang tampang memelas.


Zee sampai bingung dibuatnya karena tiba-tiba saja Allena bisa mengubah sikapnya.


"Eumm ya-ya-yaudah deh yaudah, kita lanjut lagi aja". Ucap Zee, kemudian beralih pada Airin, "Terus lo gimana Rin, nggak papa kalau lanjut?


Airin tersenyum, "Iya nggak papa". Ucapnya tenang.


"Umm.. Yaudah kalo gitu kalian ikut gue". Ucap Zee.


Mereka akhirnya memutuskan untuk mengikuti Zee dan melanjutkan jalan-jalan mereka yang dimana hari itu kebetulan adalah hari sabtu yang cocok untuk wekeend.


Mereka menghabiskan waktu mereka hari itu dengan makan di restoan, berbelanja dan bermain di salah satu pusat bermain terbesar yang ada di Kota X kota tempat tinggal mereka itu. Tentu saja dengan traktiran dari Brayen.


Hari itu Allena sangat bahagia dengan menghabiskan waktu bersama mereka.

__ADS_1


Sudah lama sekali dia seperti ini. Dan hari itu adalah hari paling bahagia dalam hidupnya setelah sekian lamanya lagi.



...******...


Keesokan harinya di SMAN Nasional sudah menunjukan waktu istirahat. Semua murid-murid mulai melakukan aktivitas mereka masing-masing.


"Allena, Airin.. Kita ke kantin yuk!". Seru Zee kepada dua cewek itu.


"Eumm maaf, gue nggak bisa gue-


"Udahlah ayoo! Nanti gue yang traktir kok tenang aja". Sela Zee cepat.


"Eh nggak usah. Makasih!". Tolak Airin cepat. Dia tidak ingin terlihat seperti memanfaatkan kebaikan Zee padanya.


"Udah nggak apa-apa! Ayolah Rin". Paksa Zee menggoyang-goyangkan lengan Airin agar mau menerima ajakannya.


"Kalian mau ke kantin kan? Kita ikut ya?". Seru Manaf tiba-tiba. "Tenang aja, untuk hari ini gantian gue yang bayarin". Sambungnya anteng.


"Yaudah kalo gitu kita ke kantin sekarang. Gue udah laper banget nih!". Ucap Zee yang tanpa banyak cincong langsung menarik lengan Allena dan juga Airin dari tempat duduk mereka. Kemudian berjalan menuju pintu kelas.


Alvian yang melihat itu, "Eh Ayang Zee tungguin!". Teriak Alvian beranjak dan menyusul.


Mereka semua pun segera menuju kantin bersama-sama. Seperti biasa mereka akan selalu menjadi pusat perhatian murid-murid yang ada di sekolah elit tersebut.


Berbeda dengan mereka, Airin selalu menunduk saat sedang berjalan dengan bersama mereka. Dia merasa bahwa sebenarnya dia tidak pantas berada dikalangan anak-anak seperti mereka. Berteman ataupun sekedar berkumpul bersama mereka.


Saat sedang dalam perjalanan menuju kantin, tiba-tiba dari arah lain muncul Brayen dan bergabung dengan mereka.


"Kalian mau ke kantin kan? Gue boleh ikut nggak?". Seru Brayen pada mereka semua.


"Hai Kak Brayen!". Sapa Zee, "Iya kita mau ke kantin. Kak Brayen boleh-boleh aja kok ikut". Jawab Zee.


"Thank's! Hai Allena!". Sapa Brayen seketika pada Allena sambil mencondongkan badannya menghadap cewek itu.


"Hai!". Balas Allena sambil tersenyum pada Brayen.


"Ciee ehem ehem!". Seru Gamma di belakang sana diikuti Manaf dengan tawa cekikikan.


"Waah, ini Kak Brayen kan? Kakak kelas kita yang jago main basket itu?". Seru Alvian antusias.


"Iya gue Brayen! Nggak jago-jago amat sih, biasa aja. Tapi makasih atas pujiannya". Sahut Brayen.


"Kak Brayen bisa nggak ajarin kita main basket?". Tanya Alvian.


"Iya Kak! Boleh kan?". Tanya Gamma menimpali.


"Sip lah!". Seru Manaf yang ikut antusias.


Selama di perjalanan mereka terus mengobrol, tanpa disadari mereka sudah tiba di kantin sekolah. Mereka kemudian masuk dan mencari tempat kosong yang masih tersedia. Mereka kemudian memesan makanan.


Setelah memesan mereka semua pun makan dengan sambil mengobrol. Berbeda dengan Allena yang terlihat makan dengan tenang dan hikmat. Tidak berniat sedikitpun untuk nimbrung obrolan mereka.


Sedang Brayen terus memandangi Allena dengan sambil memakan makanannya. Dia sangat menyukai gadis cantik blasteran itu. Ingin sekali rasanya dia memiliki Allena.


Tanpa disadari mereka semua, Aziel terus memandangi mereka yang kebetulan juga ada disitu dan mencoba menghampiri tempat mereka.


"Oh jadi ini alasan lu nggak datang?". Seru Aziel yang berdiri di hadapan Brayen saat tiba disana.


"Aziel!". Cicit Brayen ketika mendapati Aziel yang berdiri di hadapannya dengan tatapan tajam. "Nggak EL, ini nggak kaya yang lo pikir, lo jang-


"Apa? Nggak kaya apa? Kita nungguin lu waktu itu buat latihan. Tapi lu nggak datang-datang, lu pikir kita ini pembantu lu ha!!". Bentak Aziel di hadapan Brayen.


"Lo salah paham Bro, gue ke-


"Atau jangan-jangan lu nggak datang karena cewe ini? Iya?". Bentak Aziel lagi dengan menunjuk Allena di tempatnya.


"Lo bisa nggak sih biasa aja? Nggak usah teriak-teriak gitu. Santai aja dong". Cetus Brayen mulai terpancing emosinya. Aziel ini memang selalu tidak mau mendengar penjelasan orang dulu.


"Jadi lu mau apa ha? Lu mau marah? Harusnya gua yang marah ama lu". Sentak Aziel.


Sementara saat ini orang-orang yang ada di kantin sudah mengalihkan pandanga ke arah mereka.


"Aziel udah! Ngapain sih lo marah-marah?. Bikin keributan tau nggak". Ucap Setya tiba-tiba yang pada saat itu menyusul Aziel.


"Gimana gua nggak marah? Nih anak udah bohongin kita karena cewek ini tau nggak". Ucap Aziel kembali dengan nada emosi sambil menunjuk Allena.


"Ini nggak ada hubungannya sama Allena. Ngapa lo malah bawa-bawa dia?". Tanya Brayen dengan ekspresi bingung.


"Lu nggak usah bohong! Lu kira gua nggak tau lu jalan sama nih cewe. Sementara hari itu harusnya kita latihan, tapi lu malah asik-asikan jalan sama nih cewe satu". Sinis Aziel memandangi Allena yang masih tak bergeming dari tempatnya.


Flashback On


"Kiky jangan lari-lari nanti kamu jatuh!". Seru Aziel pada keponakannya itu.


"Duh.. Nih anak susah banget sih diaturnya". Gumam Aziel memutar bola matanya malas.


"Ayo Kak EL kejal Kiky. Hahaha!". Tawa Kiky sambil berlari.


Aziel segera mengejar Kiky sebelum makin jauh. Takutnya keponakannya itu jatuh dan bisa membuat masalah saja. Aziel lalu dengan segera menangkap ponakannya itu dan menggendongnya. "Hap! Kak EL dapat. Kiky nggak bisa lari lagi!

__ADS_1


"Hahaha!". Kiky tertawa karena Aziel menggelitiki perutnya.


"Makanya Kiky jangan bandel, jangan suka lari-lari! Kalau Kiky jatuh gimana?". Ucap Aziel memperingati Kiky ponakannnya itu.


"Iya Kiky nggak bakal lali-lali lagi! Tapii.. Kak EL halus beliin Kiky es klim". Ucap Kiky dengan cengirnya memperlihatkan gigi-giginya. Ada dua yang bolong disana bagian atas.


"Iya iya Kak EL beliin! Kalau gitu kita beli sekarang aja gimana?". Ucap Aziel sambil mengusap puncak kepala keponakannya itu.


"Holee! Makasih ya Kak EL!". Girang Kiky.


Aziel dan Kiky kemudian beranjak dan segera mencari es krim. Saat sedang berjalan, Aziel yang sedang menjajakan matanya seketika berhenti karena merasa tidak asing dengan dua orang tak jauh dari tempat dia berdiri saat ini.


Diperhatikannya terus Aziel agar merasa tak salah orang. Ternyata dugaannya benar. Dua orang itu adalah Brayen dan Allena yang terlihat bermain salah satu permainan yang ada disana.


"Cih, gua nggak nyangka. Ternyata Brayen malah disini sama tu cewek. Dasar!". Gumam Aziel sambil terus menatap tajam kedua orang itu.


"Kak EL, ayo! Kiky mau es klim. Kenapa malah belhenti?". Ucap Kiky seketika membuyarkan pandangan Aziel.


"Oh iya iya! Kiky ayo jalan! Kita beli es krim yang banyak-banyak, yang enak! Kiky suka kan?". Ucap Aziel kembali melanjutkan jalannya.


"Iya Kiky suka". Seru Kiky girang.


Aziel dan Kiky pun segera melanjutkan jalan mereka. Sesekali Aziel melirik Brayen dan Allena dengan tatapan sinis.


Flashback Off


"Lu mau ngelak? Iya?". Sentak Aziel kembali.


"Oke oke! Bener, gue yang salah! Tapi ini nggak kaya yang lo pikirin. Ini nggak ada hubungannya sama sekali dengan Allena". Ucap Brayen mencoba menjelaskan.


"Nggak ada hubungannya gimana? Jelas-jelas gua lihat lu ama dia, dan lu bohong. Lu tau kan bentar lagi kita bakal tanding, dan dengan seenaknya lu nggak datang dan malah enak-enakan pacaran sama cewek yang tampangnya nggak seberapa ini". Cetus Aziel sambil menatap sinis Allena.


Sementara Allena, cewe itu hanya diam mendengarkan perkataan Aziel yang terkesan menghinanya. Dipandanginya Aziel dengan tatapan datar.


"Gue bilang ini nggak ada hubungannya sama Allena. Lo kok malah gitu banget EL, santai dong. Gue juga bisa marah bukan cuman lo yang bisa marah". Ucap Brayen yang mulai tersulut emosinya.


"Kenapa? Jadi lu marah ama gua? Cuman karena cewe ini. Nggak nyangka gua". Ucap Aziel dengan nada meremehkan. "Nggak nyangka gua. Selera lu ternyata rendahan ya. Bisa-bisanya lu suka sama cewek yang modelannya kaya gini. Kalo gua sih ogah". Ucap Aziel sambil memandang remeh Allena.


Seketika hawa seluruh kantin menjadi sangat tegang. Semua murid-murid yang ada disana hanya bisa melihat perseturuan yang terjadi.


"EL udah! Lo mulai berlebihan tau nggak". Ucap Setya yang mulai khawatir dengan suasananya.


"Kenapa? Emang bener kan kalau cewek ini tu rendahan. Murahan tau nggak!". Maki Aziel kembali dengan terus memandang rendah Allena yang sejak tadi hanya diam sambil menatapnya datar.


Brayen yang emosi ingin mendekati Aziel, "EL lu ud-


Namun tanpa disangka-sangka Allena dengan cepat beranjak dari tempatnya, menghampiri Aziel dan...


PLAKK!!


Tamparan keras mendarat di pipi kanan Aziel.


Orang-orang yang ada disana seketika terkejut dengan apa yang dilakukan Allena. Cewek itu dengan beraninya menampar Aziel yang posisinya adalah Ketua OSIS di sekolah besar tersebut.


"MAKSUD LU APA NGOMONG KEK GITU HAH?". Teriak Allena tak terima.


Sedang Aziel mulai menatap dingin Allena. Namun tak bisa dipungkiri bahwa tamparan Allena itu cukup keras. Terbukti dengan pipinya yang merasa nyut-nyutan.


"Lu nampar gua? Berani banget lu nampar gua". Ucap Aziel tak terima dengan Allena yang menamparnya.


"Iya gua berani. Lu pikir gua takut ama lu. Lu udah keterlaluan ya ngehina gua kek gitu". Ucap Allena emosi.


Semua yang ada disana merasa tegang dengan pertengkaran kedua manusia itu. Mereka sangat tegang dengan kemarahan Allena. Sebab selama ini mereka tidak pernah melihat Allena dengan ekspresi seperti itu.


Kalau Aziel sudah jadi rahasia awam. Jika Aziel marah pasti mereka akan tahu seseram apa cowok itu kalau sudah marah. Siapapun tidak akan bisa menahannya.


"Kenapa? Emang bener kan kalo lu tu cewek murahan?". Bentak Aziel kembali tanpa merasa bersalah menghina Allena.


"Lu-


Allena menghentikan ucapannya. Cewe itu kemudian menarik nafas panjang sambil memejamkan matanya. Lalu kembali menatap Aziel dengan meredam emosinya.


"Gua nggak akan pernah lupa dengan apa yang lu omongin ke gua". Ucap Allena sambil mendorong keras Aziel dan pergi melewati lelaki itu, meninggalkan kantin tersebut tanpa mempedulikan tatapan murid-murid yang memperhatikannya.


Sementara Brayen yang melihat kepergian Allena ingin segera menyusul wanita itu.


"Keterlaluan banget lo EL!". Ucapnya, kemudian ikut pergi dari kantin itu.


Sedang Setya, "Udah EL ayo pergi!". Ucap Setya pada Aziel yang saat ini berdiri mematung.


Zee yang sedari tadi diam dan hanya menonton kejadian itu segera berdiri dari duduknya dan segera keluar kantin ingin menyusul Allena.


Setya yang melihat Zee pergi beralih memandangi Zee yang mulai keluar dari kantin.


"Gadis itu". Gumam Setya berkata dalam hati sambil menatap punggung Zee yang mulai menghilang dengan ekspresi yang tak dapat dimengerti.


"Huss udah EL, kita balik!


Aziel dan Setya kemudian beranjak kembali ketempat dimana mereka berada tadi.


__ADS_1


__ADS_2