Allena And Friend'S

Allena And Friend'S
PART 91 ~ Allena and Friend's


__ADS_3

Dua hari berlalu, setelah penerimaan raport Allena kini sedang berada dirumahnya. Gadis itu terlihat berada diatas balkon kamarnya menikmati sarapannya.


Tiba-tiba ponsel yang diletakannya diatas meja berbunyi pertanda ada panggilan masuk. Allena melihat nama Manaf yang tertera disana. Gadis itu mengkerutkan alisnnya. Manaf menelfonnya? Ada apa?


Allena kemudian menerima panggilan dari Manaf tersebut, "Halo". Sapa Allena.


"......"


"Kenapa?". Tanya Allena kemudian.


"......"


"Yaudah, sharelock lokasinya. Gua kesana sekarang". Ucap Allena lagi. Gadis itu kemudian mematikan ponselnya dan bergegas untuk bersiap-siap.


Hari ini Allena akan menemui Manaf.


...*****...


Saat ini Allena telah berada disalah satu restoran di Kota X.


Gadis itu terlihat mengedarkan pandangannya diseluruh penjuru ruangan restoran seperti mencari seseorang.


"ALLENA..!!". Panggil seseorang.


Allena kemudian menoleh ke sumber suara dan mendapati Manaf dari sisi lain ruangan restoran dan tengah melambaikan tangan kearahnya.


Segera Allena menghampiri Manaf dan langsung duduk disalah satu kursi yang berhadapan dengan Manaf.


"Ada apa?". Tanya Allena langsung.


"Bihh, to the point banget lo Len, baru juga sampai. Pesen makan dulu napa, emang lo udah makan?". Ucap Manaf menawarkan.


"Yaudah pesenin, gua juga lagi laper". Jawab Allena.


Manaf mendelik lucu melihat tingkah sahabatnya itu, "Seperti biasa". Ucap Manaf yang tentu saja paham dengan Allena.


Manaf kemudian memanggil pelayan restoran dan memesan makanan sesuai keinginan Allena.


Selama menunggu pesanan datang mereka mulai mengobrol lagi.


"Emang ada apa lu manggil gua kesini? Kayanya penting banget". Tanya Allena kemudian.


"Gue pengen minta bantuan lo". Jawab Manaf langsung.


"Hm? Bantu apa?". Allena sedikit menautkan alisnya.


"Intinya gini Len, gue mau minta tolong sama lo buat ngebujukin Airin supaya dia mau nganter gue ke bandara besok. Cuman lo satu-satunya yang bisa bantu gue buat ngebujuk Airin. Gue tau lo yang paling Airin mau dengerin". Jawab Manaf.


"Maksud lu gimana? Gua masih belum ngerti". Tanya Allena yang masih belum paham akan maksud Manaf.


Sebelum obrolan mereka berlanjut, pelayan yang tadi, kembali datang sambil membawa pesanan dan meletakannya diatas meja.


"Selamat menikmati". Ucap pelayan tersebut dengan sopan.


"Makasih Mbak". Jawab Manaf.


Pelayan itupun pergi dari sana.


"Maksud lu gimana tadi? Coba jelasin". Allena mulai menyantap makanannya.


Manaf memandang Allena takut-takut. Pria itu kemudian mulai menghela nafasnya, "Huuff.... Gue bakal pindah ke luar negri". Jawab Manaf jujur.


Allena yang mendengar itu langsung berhenti menyuapi makanannya. Dipandanginya Manaf tanpa ekspresi.


Manaf yang melihat tatapan Allena mulai berbicara kembali, "Gue terpaksa harus pindah ke luar negri karena Bokap gue yang maksa gue buat pindah". Ucap Manaf lagi.


"Yang lain udah pada tau?". Tanya Allena.


Manaf mengangguk, "Iya, yang lain udah pada tau termasuk juga Airin. Dia yang paling pertama gue kasih tau". Jawab Manaf.


"Terus lu sama Airin gimana?". Tanya Allena lagi.


Raut wajah Manaf seketika berubah, "Yaa.. gitu deh, masih sama kaya dulu nggak ada perubahan. Airin bahkan nggak pernah angkat telfon gue ataupun ngebales chat gue.

__ADS_1


"Gue juga sebenarnya pengen ngedeketin dia lagi dan mau coba minta maaf dengan nebus semua kesalahan yang telah diperbuat Bokap gue ke Airin dan juga keluarganya.


"Tapi Airin seolah ngejauh dari gue, kaya enggan gitu buat dekat-dekat lagi sama gue. Selama ini gue juga selalu berusaha ngelakuin segala cara supaya dia mau maafin gue. Tapi kayanya Airin nggak akan pernah maafin gue sekaligus sama Bokap gue. Gue tau apa yang telah Bokap gue perbuat udah diluar batas, gue tau itu. Dan Airin mungkin nggak akan pernah maafin gue sampai kapanpun". Ucap Manaf panjang lebar. Raut wajahnya menyiratkan keputus asaan.


Manaf kemudian menjatuhkan kepalanya dimeja dan menghebuskan nafas frustasi, "Hahh.... Lo tau Len, rasanya sakit banget disaat Airin ngejauhin gue. Putus asa banget gue, tau nggak". Curhat Manaf dengan suara lemahnya, sambil menyembunyikan wajahnya disela-sela kedua tangannya yang dilipat.


Allena yang melihat kesedihan sahabatnya itu hanya bisa menghela nafasnya juga. Gadis itu kemudian mengangkat tangannya lalu mengusap kepala Manaf dengan lembut.


"Lu tenang aja, gua bakal bantuin lu supaya Airin mau ikut nganter lu ke bandara besok". Ucap Allena kemudian.


Manaf yang mendengar itu tentu saja merasa senang, "Hah, yang benar Len?". Manaf langsung mengangkat kepalanya sambil memegangi tangan Allena yang mengusap kepalanya tadi, "Lo bisa bantu gue buat bujuk Airin kan". Ucap Manaf yang terlihat antusias. Terlihat matanya berbinar kesenenangan dihadapan Allena.


"Iyaa.. gua usahain. Tapi lu nggak usah pegang-pegang tangan gua segala. Malu dilihatin orang-orang dari tadi". Allena menepis tangan Manaf yang memegangnya.


"Hehe sorry Allena, kesenangan gue soalnya". Ucap Manaf cengengesan.


Pria itu merasa senang untuk saat ini. Setidaknya Allena mau membantunya membujuk Airin untuk menghantarnya ke bandara besok. Meskipun itu untuk pertemuan mereka yang terakhir kalinya, Manaf sudah sangat bahagia. Semoga Allena bisa membujuk Airin.


"Gua mau nanya sesuatu ke lu". Ucap Allena tiba-tiba.


"Mau nanya apa?". Ucap Manaf.


"Jadi ini alasan lu jarang masuk sekolah, dan nggak pernah mau kalau diajak buat ngumpul". Ucap Allena memandang serius kearah Manaf.


"Yaa salah satunya ya itu". Jawab Manaf, "Ada sih beberapa hal yang buat gue mau memutuskan untuk pindah ke luar negri. Tapi gue nggak bisa ceritain juga ya karena menurut gue itu merupakan suatu masalah pribadi yang tidak harus gue ceritain.


"Yang intinya itu gue harap lo bisa ngebujuk Airin. Udah itu aja yang paling penting buat gue". Jawab Manaf.


"Hmm... Bucin banget gua lihat lu ke Airin". Ucap Allena dengan tampang julidnya.


Manaf tertawa, "Ya nggak papa dong, namanya juga cinta. Lo aja gue lihat-lihat dibucinin tuh sama Kak Aziel". Balas Manaf yang membuat Allena mendelik.


"Dih.. Nggak ya, menurut lu aja itu". Ucap Allena.


"Ciee... Allena sama Kak El. Gimana nanti sama nasibnya Louis ya". Goda Manaf.


"Udah diem lu ah. Gua mau makan, malah lu ngajak becanda". Allena tak ingin memperpanjang candaan Manaf.


Gadis itu mulai kembali menyantap makanannya dengan lahap.



...*****...


Setelah Allena bertemu dengan Manaf tadi, saat ini gadis itu sedang dalam perjalanan menuju rumah Airin, dan setelah menempuh perjalanan yang menguras waktu kini Allena sudah berada dipekarangan rumah Airin.


Allena keluar dari dalam mobilnya dan kebetulan sekali Airin sedang menjaga kios. Airin keluar dan berdiri didepan kiosnya setelah mengetahui Allena yang datang.


"Hai". Sapa Airin dengan riangnya kearah Allena yang berjalan kearahnya. Kedua gadis itu kemudian saling berpelukan.


"Ada apa nih Len, lo datang kesini?". Tanya Airin sambil bersamaan duduk kearah kursi panjang yang terdapat didepan kios tersebut.


"Lu udah tau kalau Manaf bakalan ke luar negri besok?". Seperti yang kita ketahui Allena ini memang irit bicara. Tapi sekalinya berbicara, gadis itu akan langsung keintinya tanpa basa-basi.


"Iya tau. Ada apa emangnya?". Terlihat raut wajah Airin berubah setelah mendengarkan perkataan Allena.


"Gua mau lu ikut nganter Manaf ke bandara besok". Ucap Allena langsung.


"Tapi Len..


"Sama yang lain juga kok, bukan cuman lu aja". Sela Allena langsung. Gadis itu tau pasti Airin akan menolaknya.


"Sorry Len, gue nggak bisa, gue harus jagain Bokap gue". Ucap Airin. Kalau boleh jujur Airin sebenarnya masih belum bisa memaafkan apa yang telah diperbuat oleh Ayah Manaf. Apa lagi Ayah Airin saja sudah tidak bisa berjalan sekarang.


Allena menghela nafasnya lalu tersenyum tipis kearah Airin, "Oke gua paham kenapa lu nggak mau, gua paham itu. Masalah yang terjadi di keluarga lu, sama Bokap lu, apa pun itu semua terjadi karena ada hubungannya sama Manaf.


"Rin, bagaimanapun juga ini semua nggak sepenuhnya salah Manaf. Semua yang terjadi juga karena Bokapnya Manaf sendiri. Dan lu tau sendiri kan Manaf itu suka ama lu, sayang ama lu. Manaf juga pasti sebenarnya nggak mau semua ini terjadi. Kita juga harus ngerti dari sudut pandangnya Manaf sendiri". Allena mencoba memberi pengertian terhadap Airin.


Terlihat Airin menunduk setelah mendengarkan perkataan Allena, "Tapi Len, susah rasanya buat gue lupain apa yang telah Bokapnya Manaf lakuin ke keluarga gue, apalagi sekarang Bokap gue udah nggak bisa jalan lagi. Gue rasanya nggak terima itu semua. Gue nggak dendam gue cuman nggak terima aja Bokapnya Manaf masih bisa bersenang-senang diatas penderitaan Bokap gue sampai saat ini". Airin mencoba berbicara dengan tanpa emosi saat ini. Dia masih berusaha sabar.


"Gua tahu itu Rin, gua ngerti. Gua mungkin kalau jadi lu pasti juga masih susah buat lupain itu semua. Tapi ini adalah pertemuan terakhir kita dengan Manaf, kita mungkin nggak akan pernah ketemu sama Manaf lagi. Terlepas dari semua yang terjadi, Manaf itu juga masih sahabat kita. Gua harap lu mau ikut nganter dia ke bandara besok, ini juga sebagai permintaan terakhir Manaf sama lu". Allena masih tetap berusaha membujuk Airin.


"Bisakan Airin? Setidaknya lu mau ikut permintaan terakhir Manaf, terakhir kalinya ini". Sambungnya lagi.

__ADS_1


Airin terlihat menunduk sambil mengepalkan kedua tangannya. Beberapa saat kemudian gadis itu mengangkat kepalanya lalu menoleh kearah Allena yang ada disampingnya.


"Yaudah kalau gitu gue ikut. Tapi... ada tapinya, gue mau ikut juga karena atas permintaan dari lo". Ucap Airin kemudian.


Allena yang mendengar itu langsung tersenyum tipis kearah Airin, "Nggak papa, yang terpenting lu mau, itu udah cukup". Ucap Allena, "Tapi lu beneran mau ikut kan?". Tanya Allena memastikan.


"Iya Allena sayaaang... gue ikut kok, tapi atas permintaan dari lo, kalau nggak mana mau gue". Jawab Airin.


Allena yang mendengar jawaban Airin hanya menggeleng, "Yaudah, Tante sama Om ada didalam kan?". Tanya Allena lagi.


"Iya, Nyokap gue di dapur lagi buat kue". Jawab Airin.


"Tante lagi buat kue... wahh asyik dong bisa makan. Gua ke dalam dulu deh kalau gitu". Allena berdiri dari duduknya dan langsung bergegas menuju rumah Airin.


Airin yang melihat tingkah Allena hanya geleng-geleng kepala. Sahabatnya itu memang sangat doyan makan. Apa aja diembat. Airin kira orang kaya itu pemilih dalam hal makanan, tapi setelah dia bertemu Allena hilang stigmanya seperti itu.


Sementara saat ini Allena sudah berada di dapur bersama Ibunya Airin. Disana juga ada Rendi yang sedang membantu Ibunya membuat kue.


"Tanteee...". Sapa Allena yang berjalan mendekati Ibunya Airin yang sedang mencuci cetakan kue.


"Eh Nak Allena, sudah lama datangnya toh Nak?". Tanya Ibu Airin berbalik kearah Allena.


"Lumayan Tan, tadi habis dari ke Airin dulu". Jawab Allena sambil berjalan kearah meja yang terdapat kue yang sudah jadi, "Tante, Allena boleh nggak ambil kue yang ini? Allena bayar kok". Ucap Allena menoleh kearah Ibu Airin.


"Ambil aja to Nak, Ibu kasih gratis buat Nak Lena". Jawab Ibunya Airin.


"Eh nggak usah Tante, biar Allena bayar". Balas Allena.


Ibunya Airin kemudian tersenyum sambil berjalan menghampiri Allena, "Yo ndak usah kamu bayar to Nak. Kamu anaknya baik, sudah banyak membantu Ibu dan juga keluarga Ibu.


"Ambil Nak, ambil ambil saja ndak usah kamu bayar". Ibu Airin memberikan kue yang sudah jadi itu kepada Airin.


Rendi mulai bersuara, "Kak Allena ambil aja kuenya nggak usah bayar. Kak Allena orangnya baik, Rendi suka sama Kak Allena yang baik sama Kak Arin". Timpal Rendi.


"Umm.. Yaudah kalau gitu makasih ya Tante, Allena boleh makan sekarang?". Tanya Allena terlebih dahulu.


"Boleh Nak boleh boleh. Silahkan aja to Nak". Jawab Ibu Airin.


Allena kemudian menuju kearah meja tempat Rendi membuat kue sambil membawa sekotak kue tersebut dan duduk dikursi yang ada disana lalu mulai memakannya dengan lahap.


Sementara Ibunya Airin kembali melakukan aktifitas yang tertunda tandi.


Selama menyantap kue Allena mengajak Rendi berbicara.


"Rendi sekarang udah mau naik kelas 6 kan ya?". Tanya Allena dengan mulut penuh kue yang disantapnya.


"Iya, Kak Allena tau, di sekolah Rendi dapat rangking satu". Ucap Rendi sembari mengaduk adonan.


"Wahh.. Rendi pintar ya". Puji Allena, "Rendi harus pertahankan prestasi kamu, terus belajar lebih giat lagi biar jadi orang yang sukses nantinya". Nasihat Allena dengan masih terus mengunyah kue hingga pipinya terlihat penuh.


"Iya Kak". Jawab Rendi dengan tersenyum.


"Rendi harus...


Tiba-tiba ucapan Allena terhenti karena ada yang memanggilnya.


"Allena...". Panggil Airin yang berdiri diambang pintu dapur.


Allena seketika menoleh kearah Airin yang sedang menatapnya dengan tatapan aneh.


Airin kemudian berjalan menghampiri Allena bersamaan dengan munculnya seorang pria tinggi dari balik pintu dapur.


"Hai...!". Sapa pria tersebut sambil tersenyum manis kearah Allena yang langsung menatapnya kaget dengan mulut masih mengunyah kue.


Allena berdiri dari kursinya, "Kok lu bisa ada disini?". Allena tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.


Seorang pria yang dikenalinya kini sedang berdiri tak jauh darinya dengan tersenyum manis kearahnya.


"Siapa to ini Nduk?". Tanya Ibu Airin mendekat sambil memandang mereka secara bergantian.


Pria itu langsung mendekat kearah Ibunya Airin, "Maaf Tante sebelumnya, perkenalkan saya Aziel". Ucap Aziel sembari mencium punggung tangan beliau. "Pacarnya Allena, Tante". Sambung Aziel lagi dengan sekenanya.


Ya benar saja pria itu adalah Aziel. Jangan tanya kenapa dia bisa ada di rumah Airin sekarang. Tadi Aziel sempat melihat Allena bersama Manaf di restoran, dan saat Aziel melihat Allena pergi, pria itu mengikuti Allena hingga ke rumah Airin.

__ADS_1



__ADS_2