
Sekitar pukul 5 pagi, Allena terbangun dan merasa ada beban yang menimpa tubuhnya. Matanya terbuka perlahan lalu melirik kearah lengan kekar yang melingkar di pinggangnya.
Semalam ternyata memang bukan mimpi. Dirinya memang tidur satu ranjang bersama Aziel, pria yang kini tidur dengan memeluknya posesif.
Tangan kanannya terangkat membelai kepala Aziel yang berbaring di pundaknya.
Aziel bergerak merasakan belaian Allena di bagian belakang kepalanya, "Hmmhh". Gumam Aziel dengan suara yang serak khas orang baru bangun tidur. Lalu semakin mengeratkan pelukannya di pinggang ramping Allena.
"Bangun!". Desis Allena melirik pria yang masih terus saja memeluknya.
"Ngghh bentar lagi Allen, gua masih mau tidur bentar". Ucap Aziel serak lalu masuk ke dalam selimut, menarik tubuh Allena ke arahnya.
"Bangun Aziel, udah pagi! Gua juga mau balik". Ucap Allena membiarkan Aziel memeluknya.
"Yaudah bentar lagi aja. Sepuluh menit". Sahut Aziel.
"Mana ada sepuluh menit, entar jadi sejam lagi. Udah bangun EL, lu jugakan mau ke sekolah, gua juga mau balik sekarang". Allena berusaha melepaskan diri dari Aziel.
"Jangan dulu ihh, gua masih mau meluk lu bentar Allen, sepuluh menit doang juga.
"Lu kok jadi manja gini sih. Lepasin EL! Geli gua tau nggak kalau lu kaya gini". Allena mendorong kuat Aziel hingga tangan kekar yang melingkar di pinggangnya terlepas, kemudian segera bangun dari atas ranjang.
"Bangun Aziel, entar lu telat ke sekolahnya". Allena menarik selimut yang menutupi tubuh Aziel lalu mendekatinya.
"Bangun astaga, bangun Aziel! Batu banget sih, udah mau pagi juga". Allena berusaha membangunkan Aziel dengan menarik kedua lengannya hingga Aziel terduduk.
"Aahh Allena, bentar dulu lahh. Masi berat nih mata gua". Desis Aziel yang sudah terduduk namun masih memejamkan matanya.
"Gua siram air baru tau rasa lu. Yaudah cepetan, kalau lu belum mau ke sekolah seenggaknya lu bukain pintunya, gua mau balik Aziel. Udah semaleman gua disini". Protes Allena.
"Ck, yaudah yaudah gua mandi dulu". Aziel dengan malas beranjak dari ranjangnya menuju lemari kecil yang ada di sudut kamar, "Lu disini aja jangan kemana-mana, tunggu disini! Awas lu kalau ngilang". Aziel meletakan handuk di pundaknya.
"Gimana gua mau pergi, orang lu kunci pintunya. Emang gua bakal lompat dari jendela apa.
"Iya iya bawel banget sih, untung sayang". Aziel kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk segera melakukan ritual mandinya.
Setelah Allena mendengar suara cipratan air pertanda Aziel sedang mandi, Allena beranjak menuju meja untuk mengambil jaketnya lalu merogoh saku mencari ponselnya.
Allena menghela nafasnya mengetahui ponselnya kehabisan batrai dan mati total, 'Entah apa yang bakal terjadi sebentar', Allena membantin sambil meletakan kembali ponselnya di saku jaket kulitnya.
Allena kemudian melangkahkan kakinya menuju jendela lalu menyibakan horden membuat cahaya matahari yang mulai muncul dari langit cakrawala menampakan sinarnya.
Allena berdiri memandangi gedung-gedung tinggi pencakar langit dari jendela kaca kamar apartemen.
Apartemen Aziel memang berada di lantai 12 dengan fasilitas yang lengkap dan memadai. Membuat mereka yang tinggal disana pasti akan merasa nyaman.
Allena termenung memandangi pemandangan di luar sana. Seperti ada yang sedang dipikirkannya.
Satu tangannya terangkat meraba dada sebelah kirinya kemudian meremasnya sedikit.
Sesaat kemudian Allena menghela nafas dengan tangannya masih berada di dadanya dan terus memandangi pemandangan di luar sana.
Matahari mulai muncul menampakan dirinya dari atas langit sana.
"Baby!". Sebuah tangan terulur di pinggang Allena membuat Allena sedikit tersentak dan langsung berbalik mendapati Aziel yang kini sudah berada di hadapannya dengan memakai handuk yang terlilit di pinggangnya dan juga handuk di atas kepalanya.
Aziel nampak seksi saat ini dengan otot-otot kekarnya. Allena memandangi air dari atas dada bidang Aziel lalu perlahan turun ke perut sixs packnya.
"Cepat banget mandinya". Ucap Allena kemudian mengalihkan pandangannya menatap Aziel.
Aziel berdengus sambil tersenyum tipis, "Entar lu ngilang lagi". Sahut Aziel.
"Dih, nggak jelas lu.
Aziel hanya menggeleng tipis lalu menarik Allena ke arahnya memeluk gadis itu, "Kangen banget gua ama lu Allen". Desis Aziel menjatuhkan dagunya di bahu Allena. Kemudian menghembuskan nafas tenang.
Allena diam beberapa detik, lalu mendorong Aziel perlahan melepaskan pelukan pria itu.
"Basah Aziel". Ucap Allena kemudian.
"Eh iya ya, sorry sorry. Saking kangennya gua ama lu". Ucap Aziel cengengesan.
"Cih, kaya gua kemana aja selama ini.
"Ya namanya juga kangen Allen, gimana sih lu". Balas Aziel, "Ummm.. lu bisa nggak bantu keringin rambut gua?". Tanya Aziel kemudian.
Allena hanya menghembuskan nafasnya, "Yaudah sini gua bantuin".
"Tapi gua ini dulu, buat sarapan dulu.
"Hmm". Gumam Allena.
"Tunggu bentar ya, nggak lama kok. Gua juga bakal bikinin buat lu". Segera Aziel bergegas keluar kamar lalu menuju dapur membuat sarapan untuk mereka berdua.
__ADS_1
Sekitar 10 menit Aziel kembali ke kamar dengan sambil membawa sepiring berisikan beberapa lapis roti tawar dengan sudah diolesi selai coklat dan juga satu kotak susu ultramilk besar lalu meletakannya di atas meja samping sofa.
"Sarapan dulu Allena". Seru Aziel kemudian.
"Sebentar, gua keringin rambut lu dulu. Udah sini!". Allena memerintah Aziel untuk duduk di sofa dan dia mulai mengelap rambut Aziel menggunakan handuk yang ada di atas kepala Aziel tadi.
Sementara Aziel mulai memakan roti tawarnya sambil membiarkan Allena mengelap rambutnya.
"Mau gua suapin Allen?". Tanya Aziel disela-sela Allena mengelap rambutnya.
"Nggak usah.
"Dih, sok nolak". Aziel mengambil satu lapis roti tawar lagi lalu menyuapinya untuk Allena, "Makan!". Paksa Aziel dan Allena hanya menuruti, berhenti sebentar untuk membuka mulutnya dan mulai mengunyah roti tawar yang disuapi Aziel untuknya.
"Gua itu tau kali Allen, kalau lu laper. Pake segala nolak.
"Suka-suka gua dong". Balas Allena, "Yaudah ini udah selesai". Allena berhenti mengelap rambut Aziel, mengambil sisa roti tawar yang dipegang Aziel tadi lalu duduk di sofa dan mulai memakan sarapan yang dibuat oleh Aziel itu.
"Wuuu soal makanan aja gercep". Cibir Aziel.
"Biarin". Ucap Allena tak peduli dan tetap melanjutkan sarapannya mengambil lagi roti tawar buatan Aziel. Sementara Aziel hanya menggeleng melihat Allena.
Aziel kemudian melangkahkan kakinya menuju lemari untuk bersiap-siap memakai seragam sekolahnya.
"Eehh lu gila ya". Tiba-tiba Allena berteriak histeris, "Lu mau pakai baju di depan gua.
"Ya terus gua mau pakaian dimana Allena? Ini kan kamar gua.
"Ih gila aja lu". Allena segera beranjak dari sofa sambil membawa piring berisikan roti tawar tadi, "Tunggu gua keluar dulu". Allena berjalan kearah pintu.
"Eh, bentar Allen!". Seru Aziel, lalu berjalan mendekati Allena yang berhenti kemudian mengambil satu lapis roti tawar lagi, "Minta satu lagi.
Allena hanya melototkan matanya lalu berbalik kembali melanjutkan langkahnya keluar dari kamar Aziel.
Di depan Allena duduk di sofa, dan kembali melanjutkan sarapannya, sedang Aziel mulai memakai seragam sekolahnya.
Aziel melirik ranjangnya lalu menatapnya sambil mengingat kejadian dimana dirinya tidur bersama Allena dengan memeluk gadis itu.
Aziel kemudian mendekat dan mulai membereskan tempat tidurnya dengan senyuman yang terukir di bibirnya. Dia tak menyangka bisa tidur bersama Allena dan bertahan dengan memeluk gadis itu semalaman.
Aziel menatap dirinya di kaca besar yang tertempel di lemari besarnya. Lalu merapikan jas almamater sekolahnya, "Louis! Cih". Aziel berdecak mengumpat. Mengingat Allena sudah bertunangan dengan Louis membuatnya kesal setengah mati.
Aziel kemudian mengambil tasnya dan kunci motornya dari atas meja juga sekotak susu ultramilk tadi dan bergegas keluar kamar.
"Baby, udah?". Tanya Aziel pada Allena yang masih berada di sofa sedang memakan roti tawar terakhirnya.
"Laper banget kayanya". Aziel berdengus lucu melihat pipi Allena yang menggembul, "Minum dulu". Aziel menyodorkan susu ultramilk yang sudah dia bukakan tutupnya pada Allena.
Allena segera mengambilnya dan langsung meminumnya.
"Pelan-pelan Allen, entar lu kesedak lagi". Aziel geleng-geleng.
"Udah?". Aziel mengambil lagi susu ultramilk yang disodorkan kembali oleh Allena padanya.
"Yass". Jawab Allena santai.
"Lu nggak ke sekolah kan ya?". Tanya Aziel sambil memberikan jaket Allena yang juga dibawanya tadi.
"Maksud lu apa? Mentang-mentang gua di skors, sengaja nyinggung gua lu ya". Ucap Allena sensi sambil mengenakan jaketnya.
"Sensi amat sih, orang gua cuman nanya doang. Makanya lain kali tuh emosinya di kontrol, amarahnya di kurang-kurangin.
"Sok-sokan nasihatin gua lu, padahal sama aja.
"Eh iya ya, kok sama. Jangan-jangan kita emang jodoh kali.
"Ngimpi aja terus. Gua udah punya tunangan kali.
Raut wajah Aziel langsung berubah mendengar perkataan Allena itu, "Jangan ngomong kaya gitu, gua nggak suka". Aziel bergegas menarik lengan Allena tak ingin melanjutkan perdebatan jika menyangkut hal yang begituan.
Mereka kemudian segera keluar dari apartemen menuju lift untuk kelantai satu.
"Jangan ngomong kaya tadi Len, gua nggak suka lu ngomong tentang pertunangan sialan lu itu sama Louis". Ucap Aziel saat mereka berdua masih berada dalam lift. Wajahnya terlihat menahan kesal.
"Emang kenyataannya kaya gitu kan. Lu mau apa?
Aziel yang kesal langsung mendekat pada Allena dan meraih tengkuk Allena lalu membukam bibir gadis itu dengan ciuman panas, melu*matnya dalam.
Sementara Allena hanya membiarkan Aziel menyesap bibirnya. Tangannya meremas jas almamater yang dikenakan Aziel.
"Lain kali lu ngomong kaya gitu di depan gua, abis bibir lu ama gua". Desis Aziel saat sudah melepaskan pagutannya.
Pintu lift terbuka, Aziel langsung menggandeng Allena dan keluar bersama dari dalam lift.
__ADS_1
Aziel membawa Allena untuk ikut bersamanya ke meja resepsionis. Terlihat Aziel dan resepsionis itu berbincang. Terlihat resepsionis itu menyodorkan Aziel sebuah kunci.
Setelah selesai Aziel kembali melanjutkan langkahnya dengan tetep menggandeng Allena bersamanya.
"Ini kunci motor lu". Ternyata kunci tadi adalah kunci motor milik Allena.
Semalam Dicky membawa motor Allena ke apartemen atas perintah dari Aziel dan menitipkan kunci motor tersebut ke resepsionis.
Allena dan Aziel menuju parkiran untuk mengambil kendaraan masing-masing. Hari ini Aziel akan menggunakan motornya karena ingin menemani Allena yang memang mereka satu jalur.
"Hati-hati bawa motornya, nggak usah ugal-ugalan". Aziel menasihati Allena sembari memakai helmnya.
"Iya bawel". Balas Allena yang juga memakai helmnya.
Mereka berdua kemudian menyalakan motor dan bergegas keluar dari parkiran lalu pergi dari sana.
...******...
Allena saat ini terlihat dengan santainya berjalan memasuki rumahnya.
"ALLENA!!
Suara Papah Robert menggema di seluruh ruang tamu. Membuat yang empunya nama menghentikan langkahnya seketika.
Terlihat Papah Robert dengan wajah marah menghampiri putrinya itu.
"Kemana saja kamu semalam Allena? Kenapa baru pulang sepagi ini? Berkeliaran kemana saja kamu semalaman?". Bentak Papah Robert di hadapan putrinya.
Allena terlihat tenang mendapati Papahnya yang sementara itu terlihat murka.
Disana ada Mommy Tiara dan juga Louis.
"Allena semalam nginap di rumah teman Allena, Pah. Allena lupa kasih tau Papah semalam". Jawab Allena tanpa ekspresi.
"Bisa-bisanya kamu terlihat setenang ini Allena. Kamu pikir gimana perasaan Papah sama Mamah. Dari semalam Mamah sama Papah khawatirin kamu, kamu dihubungin nggak diangkat-angakat juga, Papah sampai merintahin orang suruhan Papah buat cariin kamu. Louis sampai cariin kamu kemana-mana. Kamu ini mikirnya gimana Allena.
"Memangnya kamu nginap dimana semalaman sampai nggak kasih tau sama Papah atau sama Mamah sama Louis juga. Mau jadi perempuan nggak bener kamu?". Sentak Papah Robert.
"Allena juga nggak butuh dikhawatirin sama Mamah, apa lagi sama Papah. Kenapa juga Papah harus merintahin orang suruhan Papah buat cari Allena". Balas Allena masih dengan tatapan datarnya.
PLAKK!!
"Kurang ajar kamu! Beraninya kamu berbicara seperti itu pada Papah. Papah ini Papah kamu Allena, orang tua kamu". Bentak Papah Robert yang murka dan sudah memberikan tamparan keras di pipi mulus anaknya itu.
Mommy Tiara yang melihat itu segera menahan suaminya menenangkan Papah Robert.
"Pah, udah Pah, tenang! Papah harusnya nggak nampar Allena seperti itu Pah. Allena itu anak kita". Ucap Mommy Tiara berusaha menenangkan Papah Robert.
"Anak ini tidak tau diuntung. Bisa-bisanya dia berbicara seperti itu pada orang tuanya. Mau jadi apa kamu Allena jika sikap kamu seperti itu pada orang tuamu?". Sentak Papah Robert, "Kamu bukannya sadar kalau dikasih tahu kamu malah semakin kurang ajar ya Allena. Sampai kapan kamu seperti itu". Sambung Papah Robert semakin murka.
"Harusnya Papah sadar, yang buat Allena seperti ini itu karena Papah sendiri. Papah pikir Papah udah jadi orang tua yang baik buat Allena?". Balas Allena yang memegang pipinya yang ditampar Papah Robert. Matanya tajam menatap Papah Robert.
Setelah berbicara seperti itu Allena langsung melangkahkan kakinya pergi dari sana sembari menatap sinis Louis yang juga ada disana.
"Allena berhenti disitu! Papah belum selesai bicara. Dasar anak memang tidak tau diuntung". Teriak Papah Robert yang melihat Allena berjalan melewatinya begitu saja. "Allena, kembali kesini kamu!". Teriak Papah Robert pada Allena yang terus berjalan menaiki tangga tanpa mempedulikan teriakannya.
Sementara Allena tidak peduli dan tetap melanjutkan langkahnya. Samar-samar dia mendengar Papah Robert yang sedang coba ditenangkan oleh Mommy Tiara.
Allena bergegas masuk kedalam kamarnya dan langsung mengunci pintu rapat-rapat tak ingin membiarkan siapapun masuk.
Allena kemudian berjalan cepat membuka lemarinya dan mengambil sebuah stoples berisikan barang yang paling dibutuhkannya.
Segera Allena mengambil sekitar 4 barang dan langsung memasukan kedalam mulutnya dan meneguknya kembali dengan air yang selalu dia sediakan diatas meja yang ada di kamarnya.
Allena kemudian membaringkan tubuhnya diatas ranjang empuknya itu. Menatap langit-langit kamar sambil memikirkan sesuatu. Entah apa yang ada dalam pikiran Allena saat ini. Hanya dia sendiri yang tau.
...******...
Sementara itu di SMAN Nasional...
Terlihat Zee sedang berjalan sendirian di koridor sekolah. Tak sengaja dirinya berpapasan dengan Setya yang saat ini sudah memakai jersey karena akan latihan basket.
"Eh, tunggu". Seru Setya menghentikan langkah Zee. Lalu menatap Setya tanpa ekspresi.
"Gue cuman mau bilang semalam...
"Oh, udah nggak papa kok Kak. Nggak usah dibahas. Zee tau Kak Setya emang nggak mau jalan sama Zee, Zee nya aja yang terlalu maksain buat Kak Setya mau jalan sama Zee". Zee dengan cepat memotong pembicaraan Setya. Gadis itu mencoba tersenyum.
"Bukan gitu, semalam gua...
"Udah Kak, udah nggak usah dibahas lagi. Setelah ini Zee janji nggak akan maksa Kak Setya lagi. Zee minta maaf kalau kehadiran Zee udah buat Kak Setya risih. Zee juga minta maaf kalau Zee udah buat kehidupan Kak Setya terganggu. Sekali lagi Zee minta maaf sama Kak Setya". Setelah berbicara seperti itu Zee kembali melanjutkan langkahnya pergi dari sana meninggalkan Setya dalam kebingungan.
Terlihat Setya mengkerutkan alisnya sambil memandangi Zee yang mulai berjalan menjauh.
__ADS_1
"Kenapa tuh cewek?