
Saat ini Allena tengah melangkah masuk kedalam rumahnya. Gadis itu segera berjalan menaiki tangga dan menuju kamarnya yang berada dilantai dua.
Allena kemudian masuk ke kamarnya dan membersihkan diri. Sekitar 20 menit Allena selesai dari ritual mandinya dan kini Allena sudah bersiap dengan pakainnya yang dikenakannya untuk berpergian bersama teman-temannya.
Kini Allena sudah berada dilantai bawah rumahnya. Terlihat Mommy Tiara sedang bersama Louis di ruang keluarga. Saat Allena berjalan melewati mereka, Mommy Tiara tiba-tiba memanggil Allena.
"Allena sayang. Kamu mau kemana? Ada Louis disini". Seru Mommy Tiara yang sukses membuat Allena menghentikan langkahnya.
"Apa?". Ucap Allena yang kini sudah menatap datar kedua orang itu.
"Kamu mau kemana sayang? Biar Louis yang antar kamu". Ucap Mommy Tiara yang diangguki oleh Louis.
"Nggak usah". Jawab Allena sambil memandangi Louis yang saat ini sedang tersenyum kearahnya.
"Kenapa Nak? Biar Louis yang menghantar kamu. Biar bagaimanapun kalian...". Ucap Mommy Tiara yang terhenti.
"Iya Allena tau itu, dan Allena sudah mengikuti keinginan kalian. Jadi Allena minta kalian semua juga mengikuti keinginan Allena sebelum hari itu tiba". Ucap Allena langsung memotong ucapan Mommy Tiara. Dia tak suka orang tuanya selalu mengatakan hal itu kepadanya.
"Nggak apa-apa Tante. Kalau Allena kepinginnya begitu, biarkan saja". Timpal Louis.
"Tapi Louis, bagaimanapun juga...". Ucap Mommy Tiara kembali terputus.
"Udah nggak apa-apa, Louis nggak permasalahin kok Tante". Ucap Louis seraya tersenyum.
Mommy Tiara yang mendengar perkataan Louis hanya mampu menghela nafasnya. Mommy Tiara kemudian beralih memandangi Allena.
"Yaudah Allena, kalau gitu kamu boleh pergi. Tapi jangan pulang malam ya sayang". Ucap Mommy Tiara.
Allena yang mendengar itu hanya memandang datar dua orang yang saat ini ada didepannya. Sedetik kemudian Allena berbalik dan berjalan keluar tanpa mempedulikan Mommy Tira dan Louis.
Allena berjalan kearah mobilnya dan masuk kedalam lalu pergi meninggalkan pekarangan rumah.
Diperjalanan Allena menyalakan ponselnya dan mencoba melihat lokasi yang sudah dikirim oleh Zee. Saat di sekolah tadi Zee dan yang lainnya telah meminta nomor Allena yang baru dan menyimpannya diponsel mereka masing-masing.
Sekitar stengah jam Allena sampai dilokasi yang dikirim oleh Zee. Saat ini Allena telah berhenti disalah satu restoran bertemakan Jepang. Gadis itu kemudian keluar dari dalam mobilnya dan masuk kedalam restoran tersebut.
"Dengan Mbak Allena ya?". Sapa seorang pelayan wanita kepada Allena saat dipintu masuk.
"Iya". Jawab Allena.
"Oh iya. Mari Mbak saya antar, yang lain juga sudah ada didalam bersama Nona Muda kami". Ucap pelayan wanita itu seraya menuntun Allena untuk mengikutinya.
Allena kemudian mengikuti pelayan tadi menuju lantai dua restoran tersebut. Allena dituntun untuk masuk kedalam ruangan yang memang disiapkan untuknya dan teman-temannya yang lain.
"Saya pamit duluan ya, Mbak Allena nya tinggal masuk aja kedalam". Ucap pelayan tadi diangguki oleh Allena.
Pelayan itupun pergi dan Allena segera masuk kedalam ruangan tersebut.
"Eh Allena. Udah datang kau rupanya. Seperti biasa paling akhir datangnya". Sarkas Manaf yang menyadari kedatangan Allena.
Allena tak menjawab. Gadis itu hanya diam menatap datar Manaf lalu beralih kearah teman-temannya yang lain.
"Ziva mana?". Tanya Allena mendekat dan ikut duduk bersama mereka.
"Zee lagi diluar. Sebentar lagi datang kok". Jawab Alvian dan diangguki oleh Allena.
Tidak lama Zee datang bersama dengan 3 pelayan sambil membawa beberapa menu makanan yang ada di restoran tersebut. Para pelayan itu kemudian meletakan menu tersebut dimeja hadapan mereka. Para pelayan itupun pergi setelah selesai.
Terlihat diatas meja itu tersaji makanan khas Jepang. Mereka tak sabar ingin mencoba menu tersebut.
"Widih hebat juga lo Zee. Kirain lo cuma ngebohongin gue aja". Puji Tessa.
Pasalnya restoran milik Zee ini sangat ramai dengan para pengunjung. Desainnya yang menarik membuat kita betah berlama-lama di restoran tersebut.
Dan jangan lupa dengan menunya yang bervarian. Makanan khas Jepang yang sangat enak-enak dan bikin ngiler. Harganya juga yang pas dikantong membuat kita tak perlu mengeluarkan begitu banyak uang.
"Yaiyalah Zee gitulohh. Mana ada gue bohong". Ucap Zee dengan sombongnya.
"Baru juga gue puji udah terbang aja lo". Cibir Tessa.
__ADS_1
"Nggak ikhlas lo muji gue. Yaudah bayar aja kalau gitu buat lo". Ancam Zee.
"Dih gitu aja ngambek, bercanda kali gue Zee". Ucap Tessa.
"Teman lucknut lo emang". Cibir Zee dengan wajah cemberut.
"Jelek amat tuh muka. Nggak usah ditekuk gitu juga kali". Cibir Tessa.
"Biarin". Ucap Zee tetap dengan wajah cemberutnya.
Sementara Tessa, gadis itu hanya tersenyum menahan tawanya. Dia berhasil menggoda Zee hingga membuat gadis itu kesal. Mereka yang melihat itu hanya menatap heran dua gadis yang sering adu monyong itu namun saling menyayangi.
"Udah debatnya? Kapan kita mulai kalau kalian debat terus". Ucap Allena yang membuat mereka seketika berhenti dan menatap Allena.
"Apa?". Sambung Allena sambil memandangi mereka semua secara bergantian dengan tatapan datarnya.
"Eh iya Allena. Lo udah lapar ya? Sorry sorry hehe!". Ucap Tessa tak enak hati.
"Gua bukannya nggak lapar. Tapi gua nggak suka dengar orang yang ribut didepan makanan. Terkesan nggak sopan". Ucap Allena memandang Tessa tanpa ekspresi.
Mereka yang mendengar itu seketika menatap Allena tak percaya. Sungguh perkataan Allena bagi mereka sangat menusuk hati sampai kelambung hihi..
"Nah ini nih, baru nih gue setuju. Pertahankan Allena". Timpal Gamma sambil mengangkat dua jempolnya diudara, setuju akan perkataan Allena.
Airin yang mendengar perkataan Allena seketika tersenyum sambil memandangi gadis itu. Airin kemudian mendekat pada Allena.
"Yaudah kalau gitu kita mulai makan sekarang. Benar kata Allena, nggak boleh ribut didepan makanan. Nggak baik". Ucap Airin lembut.
Setelah mendengar itu mereka mulai makan dan menyantap semua menu yang ada disana dengan kedaan tenang dan hikmat. Hanya ada bunyi suara alat makan disela-sela mereka makan.
Setelah makan mereka berencana bermain ke pantai. Mereka kemudian bersiap-siap terlebih dahulu dan meluncur ke pantai. Akan tetapi sebelum itu, mereka terlebih dahulu membeli camilan dan juga minuman.
Hari ini mereka menghabiskan waktu mereka di pantai hingga sore hari.
Pukul 19.20 WIB Allena tiba di rumahnya. Gadis itu bergegas keluar dari dalam mobil dan berjalan masuk kedalam rumah.
"Bisa nggak sih nggak tiba-tiba muncul gitu aja dihadapan Allena". Ucap Allena kesal pada Mommy Tiara.
Allena merasa sangat kesal pada Mommy nya yang selalu saja muncul tiba-tiba jika gadis itu habis berpergian kemana saja. Dan itu membuat Allena merasa kesal pada Mommy Tiara dan tidak menyukainya.
"Mommy minta maaf Allena. Mommy hanya khawatir sama kamu. Kamu sudah janji sama Mommy nggak akan pulang malam". Ucap Mommy Tiara dengan ekspresi khawatir.
"Memangnya kenapa? Apa ada masalah dengan itu? Suka-suka Allena dong mau ngapain aja". Ucap Allena ketus.
"Allena!!". Seru Louis menghampiri dua wanita itu yang saat ini masih berada di ruang tamu.
"Allena lo jangan ngomong seperti itu sama Mommy lo. Bisakan lo santai aja". Ucap Louis menasihati Allena yang kini berdiri dihadapan gadis itu.
Pasalnya bagi Louis, Allena terlalu kasar pada Mommy Tiara berbicara dengan nada seperti itu.
"Lu kalau nggak tau apa-apa mending diem aja, nggak usah ikut campur. Udah bagus lu nggak gua usir. Minggir sana". Sinis Allena berjalan sambil menabrakan bahunya disamping badan Louis. Dia tidak suka lelaki itu ikut campur.
Allena kemudian berjalan menaiki tangga dan menuju kamarnya. Saat Allena tiba didepan pintu kamarnya dan ingin membuka pintu, tangan gadis itu dicekal sehingga membuat Allenah menoleh kebelakang, dan mendapati Louis yang sedang berdiri sambil memandanginya.
"Lepasin. Ngapain lu megang-megang tangan gua?". Desis Allena menepis kasar tangan Louis.
"Gue mau ngomong sama lo". Ucap Louis dengan tetap menatap Allena.
"Dan gua nggak mau ngomong sama lu". Balas Allena datar.
"Sebentar aja Allena, nggak lama kok". Ucap Louis lagi.
"Gua bilang gua nggak mau. Dan mending lu pergi dari hadapan gua sekarang juga sebelum gua usir lu dari sini. Pergi sana!!". Ucap Allena dengan ketusnya pada Louis.
Allena kemudian membuka pintu kamarnya dan masuk kedalam, lalu menutupnya kembali dan menguncinya. Sementara Louis hanya bisa menghebuskan nafasnya kasar atas sikap Allena kepadanya. Laki-laki itu kemudian meninggalkan tempatnya sebelum menatap pintu kamar Allena sebentar dan pergi dari sana.
Allena yang saat ini sudah berada dalam kamarnya sedang duduk disofa yang ada disana. Allena lalu menghebuskan nafasnya setelah meraih tas gendong berukuran sedang yang dia bawah dipunggungnya.
Allena kemudian menatap barang yang sudah dia keluarkan dari dalam tas tersebut. Ditatapnya lama barang yang masih berbungkus itu sambil sesekali menghembuskan nafasnya.
__ADS_1
Allena lalu membuka isi barang dalam bungkusan tersebut. Diambilnya beberapa barang tersebut sekitar 4 barang, kemudian Allena memasukan kedalam mulutnya dan meminumnya bersama air yang telah diambilnya diatas meja samping sofa. Allena meminum air tersebut hingga tandas tak tersisa untuk membawa barang tersebut hingga masuk kedalam lambungnya.
Setelah selesai Allena duduk terlebih dahulu hingga beberapa saat, lalu kembali memasukan barang tadi kedalam tasnya. Allena kemudian berdiri dari duduknya dan memasukan tas tersebut kedalam lemari dan menguncinya.
Allena lalu mengambil kunci tersebut dan meletakannya dibawah bantalnya. Allena berbaring sambil menatap langit-langit kamarnya. Beberapa saat kemudian Allena tertidur dengan air mata yang terjatuh dipipinya.
...*****...
Pagi ini Allena sudah berada didepan sekolahnya dengan keadaan gerbang yang sudah tertutup. Allena keluar dari dalam mobilnya sambil menghembuskan nafasnya gusar.
"Pak Satpam tolong bukain gerbangnya". Teriak Allena pada Satpam Sekolah tersebut yang sedang berada dalam pos penjaga.
"Pak Satpam". Teriak Allena sekali lagi.
Pak Satpam mendengar ada yang memanggil segera keluar dan menghampiri Allena yang sedang berdiri diluar pintu gerbang.
"Ada apa to Neng manggil saya?". Tanya Pak Satpam dengan logatnya.
"Bukain gerbangnya Pak". Ucap Allena memandang datar Satpam tersebut.
"Yo ndak biso atuh Neng gelis. Neng kan terlambat mana bisa masuk kedalam, nanti saya lagi yang dimarahin". Ucap Pak Satpam tersebut.
"Terus gimana Pak?". Tanya Allena.
"Tunggu disini sebentar dulu ya Neng gelis. Biar saya nan...". Ucap Pak Satpam terhenti akibat suara seseorang yang memotongnya dengan cepat.
"Bukain gerbangnya Pak". Suara siswa tersebut dengan lantangnya.
Allena dan Pak Satpam menoleh kearah sumber suara dan mendapati Aziel berdiri dengan gagahnya dan gaya cool-nya menatap dengan tatapan dingin.
Pak Satpam yang tentu tau siapa Aziel segera membuka pintu gerbang.
Allena kemudian masuk kedalam sekolah dengan mobilnya dan memarkirkan mobilnya diparkiran sekolah tersebut.
Saat Allena keluar dari dalam mobilnya terlihat Aziel yang menghampirinya dan berdiri dihadapannya dengan tatapan datar.
"Ikut gua sekarang". Ucap Aziel sambil berlalu meninggalkan Allena.
Allena yang mendengar itu tentu tau apa kesalahannya dan langsung saja mengikuti Aziel dari belakang.
Aziel membawa Allena ke ruang OSIS yang disana juga terdapat anggota OSIS lainnya. Tapi yang membuat Allena bingung, ternyata disana juga ada Alexa yang entah sejak kapan sudah ada disana.
"Allena lo terlambat?". Tanya Brayen yang juga ada disana.
"Dih cowo mesum, lo bodoh apa gimana. Jelas-jelas cewe sok kecantikan ini terlambat, nanya lagi lo". Bukan Allena yang menjawab melainkan Alexa.
"Gue nggak ngomong sama lo, gue ngomongnya sama Allena. Kenapa lo yang jawab? Ikut campur aja lo cewe tengil". Ucap Brayen tak mau kalah.
"Apa lo dasar cowo mesum. Sok kegantengan lo. Gue cakar juga muka lo". Sinis Alexa dengan gerakan tagannya seperti ingin mencakar dan membulatkan matanya menatap Brayen.
Benar-benar dua orang itu akan selalu bertengkar bila bertemu. Mereka akan selalu adu bacot dan tidak ada yang mau mengalah.
"Diam kalian". Bentak Aziel tiba-tiba membuat mereka yang ada disana kaget seketika dan menatapnya ngeri.
"Alexa sekarang lo ke perpus bersihin tuh perpus. Jangan bikin keributan disini. Pergi sekarang". Perintah Aziel seketika.
"Terus nih cewe gimana, masa dia nggak dihukum? Dia juga terlambat kan". Ucap Alexa yang ditujukannya pada Allena.
Alexa tentu tak terima jika dia dihukum sementara Allena tak dihukum, padahalkan mereka sama-sama terlambat menurut Alexa.
"Dia juga dihukum sama. Sekarang kalian berdua pergi dan laksanain hukuman kalian biar selesai". Ucap Aziel sambil menatap Allena.
Allena yang mendengar perkataan Aziel seketika memandang pria itu dengan ekspresi datar.
Sedetik kemudian, Allena berdiri dari duduknya dan langsung berjalan keluar dari ruang OSIS tersebut tanpa mempedulikan tatapan oran-orang yang ada di ruang tersebut.
Sementara Aziel, pria itu hanya memandang Allena yang mulai hilang dari pandangannya, ada sedikit tarikan dari sudut bibir pria itu melihat kepergian Allena.
"Ternyata masih sama". Gumam Aziel dengan pelan.
__ADS_1