
"Kenapa lo bantuin gue?". Tanya Alexa ke arah Allena yang tengah duduk di kursi sembari memainkan ponselnya.
Saat ini keempat cewek itu sudah berada di UKS. Dan Alexa tengah diobati sama Chika.
Allena menoleh menatap datar Alexa, "Kenapa? Emang nggak boleh?". Sahut Allena.
"Bukan gitu, gue cuman ngerasa aneh aja gitu loh. Kok lo tiba-tiba bantuin gue? Emang lo percaya sama gue?". Cetus Alexa sembari menaikan kedua alisnya ke atas. Dia masih tidak percaya aja gitu Allena berada dipihaknya.
"Menurut lu?". Allena malah balik bertanya.
"Lo nggak percaya gitu sama sahabat-sahabat lo? Emang lo nggak takut kalau mereka bakal ngejauhin lo karena ngebela gue..aww shh sakit Chik, pelan-pelan napa". Cicit Alexa meringis.
"Eh sorry sorry gue nggak sengaja. Lagian sih lo gerak-gerak mulu dari tadi. Lagi diobatin juga". Sahut Chika kembali mengolesi salep di pipi kanan Alexa yang memerah secara hati-hati.
Sedang Allena mulai berdiri dari kursinya, "Kalau gitu gua tanya ama lu. Emang lu yang udah ngedorong Ziva tadi? Terus juga, emang lu yang udah nyiram Ziva pakai air sisa pel itu?
"Ya nggak lah, yakali gue ngelakuin itu. Gue juga nggak jahat-jahat amat kali". Cetus Alexa cepat(kalau nggak jahat terus siapa dong yang pernah buat Allena cedera waktu dulu?🤣🤣)
"Yaudah kalau gitu. Jadi nggak salah dong kalau gua ngebela yang bener?". Balas Allena.
"Umm iya sih.. tapi... tap-tapi gimana ya". Alexa jadi bingung sendiri dengan situasi yang terjadi saat ini.
"Udah nggak usah mikirin itu". Potong Allena cepat, "Yang penting bukan lu kan pelakunya. Lebih baik sekarang lu pikirin aja tuh pipi lu. Udah jelek banget gua lihatnya". Cibir Allena malah mengatai Alexa jelek.
Alexa seketika mendelik kesal mendengar perkataan Allena, "Eh, lo ternyata nyebelin ya aslinya. Malah ngatain gue lagi lo. Gini-gini gue masih cantik ya". Ucap Alexa tak terima. Dia baru sadar ternyata Allena ini kalau ngomong asal ngomong. Nggak mikirin perasaan orang. Masa dia dikatain jelek sih. Orang cantik gitu kok, malah dikatain jelek.
Sementara Hera dan Chika yang melihat interaksi kedua gadis itu hanya saling terkekeh bersama. Baru kali ini mereka melihat kedua gadis yang dulunya adalah rival terlihat sangat akrab. Apakah ini yang dinamakan mukjizat dari yang Maha Kuasa?🤣🤣
...******...
Seminggu berlalu. Selama itu pula hubungan Allena dan para sahabatnya pun menjadi lebih renggang lagi. Allena bahkan pindah tempat duduk ke belakang tak berdekatan lagi dengan kelima sahabatnya. Gadis itu sendiri yang memilih untuk tak berdekatan lagi dengan para sahabatnya.
Dengan Alexa pun Allena tidak terlalu akrab. Terakhir kali mereka saling berbicara ya waktu di UKS saja itu. Selebihnya mereka saling sapa pun tidak. Jika mereka berpapasan pasti hanya langsung saling melewati tanpa berkata apapun. Lebih tepatnya Allena yang tidak menggubris jika Alexa menegurnya. Allena pasti hanya akan memberikan tatapan datarnya tanpa menyapa sedikit pun ke arah Alexa.
Ya mau gimana pun Allena juga melakukan itu karena hanya ingin membantu Brayen untuk menjaga Alexa. Jika bukan karena Brayen yang memaksanya, mana mau Allena menjaga gadis yang disukai Brayen itu.
Selama seminggu itu pula hubungan Allena dan Aziel semakin memburuk. Aziel bahkan sudah tak mengganggu Allena lagi. Setiap kali mereka berpapasan atau tak sengaja bertemu pandang, Aziel pasti akan selalu mengalihkan pandangannya seolah menganggap Allena tak ada. Pria itu juga pasti hanya akan memberikan tatapan begitu dingin jika tak sengaja bertatapan dengan Allena.
Aziel juga tak segan akan cepat-cepat menghindari Allena jika tak sengaja bertemu dengan cewek itu. Mereka berdua bahkan kini seolah asing tak mengenal satu sama lain.
Allena sendiri pun seolah tak mempedulikannya. Dia juga bahkan ikut menghindar jika tak sengaja berpapasan ataupun bertemu pandang dengan Aziel.
Keduanya seolah tidak ada yang mau mengalah dengan bersikap tak peduli satu sama lain. Saling menjauhkan dan menjauhi.
Dan saat ini Allena sedang berjalan sendirian di koridor sekolah. Tapi tiba-tiba saja cewek itu memperlambat langkahnya saat melihat Aziel yang juga sendirian tak jauh di depan sana berjalan berlawanan arah dengannya.
Aziel langsung mengehentikan langkahnya saat menyadari ada Allena di depan sana tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini.
Allena menghentikan langkahnya dan langsung saja pandangan mereka berdua bertemu. Sama-sama memberikan tatapan datar satu sama lain.
Aziel terlihat mengalihkan pandangannya dari Allena, dan dalam seperkian detik pria itu pergi dari sana tanpa berbicara apapun. Meninggalkan Allena yang masih dalam posisinya berdiri dengan tampang tanpa ekspresi.
Allena melihat Aziel pergi, hanya memandangi tempat dimana Aziel berdiri tadi dengan tatapan datarnya. Entah apa yang dirasakan Allena saat ini, hanya dia sendiri yang tau. Gadis itu kemudian menghembuskan nafasnya setenang mungkin.
"Duhh kasihan banget sih yang dicuekin". Tiba-tiba saja dari arah lain Regina muncul dan langsung berdiri didekat Allena dengan tatapan mencibir.
Allena yang melihat Regina hanya memandangi cewek itu dengan sangat datar.
"Gimana rasanya dicuekin, nggak dipeduliin sama Aziel? Enak?". Ejek Regina, "Pasti nyesek banget kan ya. Iyakan Allena?". Ejeknya lagi.
Allena tak menjawab. Cewek itu malah melangkahkan kakinya tak peduli dengan perkataan Regina yang menurutnya tak bermutu sama sekali itu.
"Kasihan banget sih lo udah nggak dipeduliin sama Aziel lagi". Seru Regina yang berhasil membuat langkah Allena terhenti.
Regina tersenyum miring di belakang sana, lalu berjalan dengan santainya mendekati Allena sambil menyembunyikan kedua tangannya ke belakang.
"Sekarang lo lihatkan Aziel itu sebenarnya nggak pernah suka ama lo. Buktinya aja dia malah cuekin lo tadi dan pergi gitu aja. Jadi apa yang lo harapin dari selama ini yang lo pernah deket sama Aziel". Ucap Regina lagi dengan nada mengejek.
__ADS_1
Allena masih dengan tenangnya mendengar perkataan Regina. Tatapannya bahkan masih begitu santai mendengarnya.
"Udah? Itu aja yang pengen lu omongin?". Allena kemudian berdengus lucu sambil menaikan sudut bibirnya, "Nggak penting". Sambungnya.
"Oh ya?". Cetus Regina cepat, "Nggak penting kan kata lo? Kalau gitu gue minta sama lo selamanya buat jauhin Aziel. Kata lo udah nggak penting kan, lo juga udah nggak pedulikan? Kalau gitu bisa dong lo jauhin Aziel, nggak berhubungan lagi sama Aziel. Bisakan?". Cetusnya lagi sembari menaikan kedua alisnya ke atas.
Allena tersenyum kecut, "Lu tenang aja, gua dari dulu emang nggak ada hubungan kok ama dia. Dianya aja yang selalu ngejer-ngejer gua". Balasnya sedikit menyombong.
"Dih sok banget lo. Lo pikir lo...
"Tapi satu hal yang gua tekenin ke lu". Sela Allena memotong ucapan Regina, membuat cewek itu langsung menatap serius Allena seraya menunggu apa yang akan dikatakan cewek itu, "Jangan pernah lu nyari masalah apa lagi sampai gangguin sahabat-sahabat gua". Sambungnya tenang namun terkesan mencekam, "Kalau sampai lu gangguin sahabat-sahabat gua lagi, lu akan berurusan langsung ama gua. Dan gua pastiin lu nggak akan pernah hidup dengan tenang apa lagi aman. Ingat itu". Ucapnya lagi dengan tajam, seolah itu adalah sebuah peringatan untuk Regina.
Setelah berbicara seperti itu Allena berbalik dan pergi dari sana.
Sedang Regina yang mendengar perkataan Allena barusan hanya memandangi Allena yang perlahan mulai menghilang dari pandangannya dengan alis yang berkerut.
"Sialan juga tu cewek!
...******...
"ALLENA!". Tegur Zee saat melihat Allena berjalan masuk ke dalam kelas.
Allena sekilas melirik Zee, tapi tetap melanjutkan langkahnya tanpa mempedulikan panggilan Zee.
Dengan segera Zee beranjak cepat meraih lengan Allena. Karena tempat duduk Zee memang berada di paling depan. Sehingga Zee bisa dengan segera menghadang Allena.
Allena menarik lengannya dari genggaman Zee, "Ada apa?". Tanyanya dengan datar.
"Umm begini...
Zee terlihat ragu-ragu ingin mengatakan maksudnya pada Allena. Tapi sebisa mungkin dia harus mencobanya.
"Saya cuman mau bilang saya ingin kamu pindah duduk lagi ke tempat kamu yang dulu". Ucap Zee akhirnya. Cewek itu terlihat canggung karena ini baru petama kalinya lagi dia berbicara dengan Allena setelah di rumah sakit waktu itu.
Zee langsung kicep melihat Allena. Menurutnya Allena ini terlalu sensian orangnya. Tapi entah mengapa Zee malah merasa sangat akrab dengan Allena. Apa lagi melihat Allena yang selalu memasang tampang datarnya, merasa pernah mengenali Allena karena sifat dan sikapnya itu. Tapi Zee benar-benar susah untuk mengingatnya. Karena jika Zee memaksa untuk mengingat semuanya ingatannya yang dulu, kepalanya pasti akan langsung merasa sangat sakit.
"Eh, tidak. Bukan begitu maksud saya. Saya hanya ingin agar kamu kembali duduk lagi ke tempat kamu yang dulu. Saya tidak ada niatan untuk mengurusinya". Sahutnya canggung.
"Emang kenapa kalau gua duduknya di belakang? Urusannya ama lu apa? Emang lu ada masalah ama gua". Cetus Allena.
Zee tidak tau lagi harus berkata apa pada Allena. Sepertinya mood Allena sedang tidak baik pikirnya.
Alvian yang melihat segera menghampiri kedua cewek itu.
"Allena lo kenapa sih? Santai aja dong, lagian Zee juga cuman nyuruh lo balik ke tempat duduk lo yang dulu kok. Kenapa musti gitu juga reaksi lo? Biasa aja kali". Imbuh Alvian. Cowok itu nggak terlalu suka sama Allena yang terkesan ketus berbicara pada Zee.
Allena beralih menatap Alvian, "Lu cowok nggak usah banyak omong! Diem aja lu!". Cetusnya sinis.
Tessa yang sedari tadi melihat interaksi itu mulai geram pada Allena. Sahabatnya itu semakin menjadi-jadi pikirnya.
"Oyy Allena! Lu bisa nggak sih ngomongnya nggak usah nyolot gitu. Dari tadi lo ngomong ketus banget, Zee juga ngomong ama lo biasa ajakan dari tadi. Segitunya banget lo". Sentak Tessa yang sudah berdiri di hadapan Allena.
"Kenapa? Masalah buat lu?". Ucap Allena beralih pada Tessa.
"Jelas masalah buat gue, karena lo udah terlalu berlebihan tau nggak. Bisa ajakan lo ngomongnya biasa aja? Kenapa musti nyolot gitu juga". Sentak Tessa yang mulai kesal.
"Ya urusannya ama lu apa? Emang gua nyusahin hidup lu dengan cara gua ngomong? Kenapa lu sewot banget ama gua? Santai aja kali". Balas Allena mendesis sinis.
Sementara itu di luar sana hujan mulai turun dengan derasnya. Menambah kesan mencekam di kelas itu dengan perdebatan para sahabat.
"Udah mulai-mulai ya lo Allena. Kenapa? Mulai terkontaminasi lo sama temen-temen baru lo itu. Mulai rada-rada juga lo sama kaya geng si Mak Lampir itu?". Cibir Tessa.
Allena berdengus mendengar perkataan Tessa, "Ngapain lu malah bawa-bawa orang lain? Udah biasa ya lu suka nyalahin orang gitu aja? Atau emang udah jadi kebiasaan lu sukanya bawa-bawa orang lain gitu-gitu. Iya?". Balas Allena.
"Maksud lo apa ngomong kaya gitu?
"Kenapa? Emang salah sama yang gua omongin? Emang kenyataannya kan lu suka bawa-bawa orang lain, suka nyalain orang lain, suka nuduh orang lain gitu aja. Lu nggak nyadar? Emang perlu gua jelasin biar lu ngerti". Tantang Allena.
__ADS_1
"Lo...
"Kenapa? Lu mau ngelak gitu? Lu mau bilang lo orangnya nggak kaya gitu?". Potong Allena cepat.
"Kok lo bisa ngomong kaya gitu Len? Gue itu sahabat lo kalau lo lupa. Kenapa gitu banget lo ngomong sama gue?". Tessa mulai merendahkan suaranya. Tak menyangka Allena akan berbicara seperti itu padanya. Mungkin Allena marah padanya. Tapi tak harus seperti itu juga kan?
Seketika aurah wajah Allena berubah menjadi dingin seiring hujan yang turun semakin deras.
"Lu sukakan sama Louis?". Ucap Allena seketika.
DEG!
Tessa seketika terkesiap mendengar perkataan Allena itu. Bibir cewek tomboi itu langsung terasa keluh tak tau harus berkata apa lagi. Dari mana Allena??
"Allena lo...
"Kenapa? Salah sama yang apa gua omongin? Lu mau ngelak? Karena lu cuman bisanya nuduh orang kan?". Potong Allena cepat masih dengan tatapan dinginnya, "Lu suka kan ama Louis?
"Len, lo dengerin dulu gue...
"Nggak usah lu ngomong apa-apa". Sela Allena lagi, "Gua baru nyadar sekarang kenapa lu suka banget nyolot kalau ngomong ama gua. Ternyata karna Louis kan.
"Gue...
"Lo marah kan karna Louis lebih milih gua dibandingkan lu? Makanya kalau lu ngomong ama gua suka marah-marah gitu". Ucap Allena menyela lagi.
"Dengerin gue ngomong dulu Len, ini nggak yang kaya...
"Emang bener kan kenyataannya kaya gitu? Lu marah kan ama gua? Lu keselkan karna Louis lebih suka ama gua. Lu juga keselkan karna Louis lebih milih...
PLAKK!!
"ALLENA!". Teriak Tessa yang tiba-tiba sudah menampar pipi kanan Allena.
Murid-murid yang ada di kelas itu bahkan sampai terkejut tak percaya melihat tindakan Tessa yang menampar Allena. Sahabat-sahabatnya pun ikut terkejut melihat itu.
Allena sampai menengok ke samping saking kerasnya Tessa menamparnya. Wajahnya sudah ditutupi helaian rambut curly panjangnya sambil memegangi pipinya yang kena tamparan.
Tessa seketika menyadari dengan apa yang sudah dilakukannya. Segera cewek itu ingin mendekati Allena.
"Len, sorry! Gue bener-bener nggak sengaja tadi, gue...
Namun dengan cepat Allena melangkah mundur, dan langsung berbalik melangkahkan kakinya menuju ke belakang, mengambil tasnya di loker...
DAM!!
Langsung menutup pintu loker dengan keras dan pergi dari kelas itu sambil terus memegangi pipi kanannya.
"ALLENA TUNGGU!". Teriak Tessa.
Namun Allena tak mempedulikan teriakan Tessa, dan tetap melangkah dengan cepat.
Allena terus menyusuri lorong kelas di lantai dua itu, menuruni tangga, berjalan di lorong kelas lantai bawah hingga akhirnya kini dia sudah tiba di parkiran.
Segera Allena masuk ke dalam mobilnya dan tanpa berlama-lama langsung tancap gas pergi dari sekolah itu.
Tanpa mempedulikan hujan yang turun semakin deras, Allena terus mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi menerobos setiap kendaraan yang dilewatinya. Menerobos jalanan yang digenangi air hujan lebat itu.
Hingga akhirnya Allena menghentikan mobilnya disuatu pantai yang pernah didatanginya dengan bersama Aziel dulu.
Dengan hujan yang semakin deras Allena keluar dari dalam mobilnya membiarkan dirinya basah terkena air hujan.
Berlari ke arah pantai, berdiri di atas pasir putih yang berjenjang ke seluruh pantai. Pandangannya menatap ke arah laut yang tertutupi dengan kabut gelap.
Seketika tubuh Allena luruh ke bawah.
"HIKS AAAAA.......
__ADS_1