
20 menit berlalu. Saat ini Allena sudah berhenti tepat di depan sebuah rumah minimalis berlantai dua. Markas Alcandor. Allena tentu saja tau letaknya karena dia pernah datang bersama Aziel.
Allena datang kesana karena ingin bertemu dengan Aziel. Dan Allena bisa tau Aziel ada disana dari Setya karena gadis itu sempat bertanya pada Setya saat di perjalanan tadi.
Segera gadis itu memasuki pekarangan markas karena memang tidak ada yang menjaga di pintu gerbang. Banyak motor yang terpakir di pekarangan itu dan ada juga dua mobil yang terpakir. Satu mobil yang Allena kenali adalah mobil Aziel, dan satunya lagi Allena tidak mengetahuinya. Tapi gadis itu tak mempedulikannya dan tetap melanjutkan langkahnya.
TING TONG!!
TING TONG!!
Dengan tidak sabaran Allena menekan tombol rumah itu.
'Shi*t!!' Umpat Allena karena pintu tak kunjung dibuka. Hingga akhirnya Allena terus menekan tombol itu berulang kali.
Tidak berselang lama pintu dibuka dari dalam.
"Eh, ada Neng Cantik rupanya! Neng Cantik ngapain disini?". Seru Gabriel yang ternyata membuka pintu.
Allena tidak menjawab. Gadis itu langsung saja menerobos masuk ke dalam tanpa izin.
"Aziel mana?". Tanya Allena seketika.
"Ohh Neng Cantik nyariin Bos ternyata. Bos lagi di atas nggak bisa diganggu". Jawab Gabriel.
Allena berhenti dan langsung berbalik, "Di atas? Ngapain?
"Bos lagi...
Belum sempat Gabriel melanjutkan ucapannya, Allena langsung kembali melanjutkan langkahnya dengan cepat.
"Lah, tu cewek kenapa? Cantik-cantik kok aneh". Gumam Gabriel sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Sedang Allena terus berjalan sampai tiba di ruang tengah. Disana anak-anak geng Alcandor terlihat tengah berkumpul dengan melakukan aktivitas masing-masing.
"Cewek Datar!". Setya sontak membola ketika melihat Allena muncul dari ruang depan, cowok itu sampai beranjak dari kursinya saking kagetnya melihat Allena, "Kok lo bisa ada disini?". Tanya Setya yang terlihat kelagapan.
Anak-anak geng Alcandor yang lainnya pun ikut terkejut melihat kedatangan Allena yang tiba-tiba itu.
"EL dimana?". Tanya Allena tidak menjawab pertanyaan Setya.
"Lo ngapain disini?". Setya malah terlihat kelagapan melihat Allena ada disitu saat ini.
"Gua tanya EL dimana?". Paksa Allena.
"Aziel lagi...
BRAK
PRANG
Tiba-tiba terdengar suara keras di lantai dua. Seperti barang jatuh/pecah. Semuanya yang ada disana bahkan sampai melirik ke lantai atas.
Setya kembali menoleh ke arah Allena yang juga melihatnya dengan tatapan anehnya.
Tidak berselang lama Allena langsung berlari menaiki tangga menuju lantai dua. Setya yang melihat itu hanya mampu bisa membeo sembari meneguk salivanya kasar.
"Waduh mampus dah! Siap-siap aja nih kita". Cicit Setya sembari mengacak rambutnya kasar.
"Gue nggak mau meninggoy sekarang, gue belum mau". Ucap Gabriel yang ikut-ikutan, "Udah ah mending gue kabur sekarang". Namun dengan cepat Dicky menarik baju si petakilan itu dari belakang.
"Et et mau kemana lo? Nggak ada kabur-kaburan". Ucap Dicky mencegat Gabriel.
Sementara itu, Allena yang sudah berada di depan pintu sebuah kamar tanpa basa-basi lagi langsung menendang pintu itu dengan kuat hingga terbuka lebar.
BRAKK!
Allena sontak terkejut dengan pemandangan di hadapannya saat ini. Begitu juga kedua orang berlainan jenis yang ikut terkejut melihat Allena berdiri di ambang pintu sembari menatap mereka berdua.
Dua orang berlainan jenis itu yang tak lain dan tak bukan adalah Aziel dan Regina. Terlihat kedua orang itu yang duduk di tepi ranjang, dengan Regina yang sudah berada di atas pangkuan Aziel dengan menghadap pria itu. Seragam sekolahnya memang masih terlihat utuh. Tapi tidak dengan Aziel yang kancing seragamnya sudah terlepas semua menampilkan dada bidang dan otot perut dibalik seragam berwarna putih itu.
Allena yang awalnya terkejut seketika berubah datar setelah melihat mereka berdua. Namun tangan gadis itu terlihat mengepal. Sedetik kemudian tanpa berbicara apapun Allena langsung berbalik pergi dari sana.
Aziel yang melihat Allena pergi awalnya terkejut dan langsung tersadar.
"ALLENA!". Teriak Aziel.
Matanya kemudian melirik tajam Regina yang masih berada di pangkuannya, "MINGGIR LU SIALAN!". Langsung saja Aziel mendorong Regina dengan kuat dari atas pangkuannya hingga membuat gadis itu langsung terjatuh ke bawah dengan keras.
Tanpa berlama-lama Aziel langsung berlari keluar kamar untuk menyusul Allena. Gadis itu pasti akan salah paham pikirnya.
Sementara itu, Allena terus berjalan menuruni tangga dengan cepat tanpa mempedulikan teriakan Aziel yang terus memanggil namanya.
"ALLENA TUNGGU!". Sambil mengancingkan seragamnya, Aziel terus berteriak memanggil Allena, apa lagi ketika melihat Allena sudah berada di bawah. Jangan sampai dia tak berhasil menyusul Allena.
Anak geng Alcandor yang ada disana hanya bisa melihat Bosnya yang sedang mengejar Allena. Mereka sama sekali tak berani ikut campur dengan masalah seperti ini. Kali ini masalah ini adalah masalah yang paling berbahaya selama mereka jadi geng Alcandor. Masalah ini lebih berat dari masalah yang pernah mereka tangani selama ini. Lebih berat dari pada menangani musuh-musuh mereka. Salah-salah bisa mereka sendiri yang kena amukan Aziel. Bisa bahaya bagi kehidupan mereka nanti.
"ALLENA TUNGGU! BIARIN GUA JELASIN DULU". Teriak Aziel saat mereka berdua sudah berada di pekarangan markas.
Allena berhenti dan langsung berbalik menghadap Aziel menatap pria itu dengan tatapan tanpa ekspresi. Sangat datar tak ada ekspresi sama sekali.
"Allen, lu jangan natap gua kaya gitu. Gua nggak suka". Ucap Aziel melangkah ingin mendekati Allena.
Namun dengan cepat Allena mundur beberapa langkah, "Ada apa?". Tanyanya datar.
"Allen!". Cicit Aziel saat Allena memilih untuk tidak ingin didekati olehnya.
"Ada apa?". Tanya Allena sekali lagi. Mata hazelnya melirik ke arah belakang sana melihat Regina yang ingin menghampiri. Tapi beberapa anak geng Alcandor langsung memegangi gadis itu.
__ADS_1
Sedang Aziel mulai menghembuskan nafasnya gusar, "Biarin gua jelasin dulu Allen. Lu salah paham tadi". Ucapnya.
"Salah paham apa?". Tanya Allena masih dengan ekspresi datarnya.
"Ya salah paham soal tadi, soal di kamar tadi, gua ama Regina. Biarin gua jelasin dulu Allen, lu denger dulu penjelasan dari gua". Tekan Aziel.
Allena seketika menghembuskan nafasnya tenang. Tidak ada yang tau apa yang sedang dirasakan Allena saat ini. Gadis itu benar-benar pandai menyembunyikan perasaannya dengan ekspresinya.
Aziel sendiri pun tidak tau apa yang sedang dirasakan Allena saat ini. Apakah gadis itu marah padanya, kecewa padanya, atau sebaliknya, Aziel tidak bisa melihat itu. Tapi yang Aziel tau dia harus menjelaskan semuanya pada Allena, agar gadis itu tak salah paham padanya.
Tidak berangsur lama, Allena terlihat mulai mengambil sesuatu di saku almamaternya. Sebuah ponsel.
"Awalnya gua nggak percaya, tapi-". Allena menjeda ucapannya, lalu menunjukan sebuah foto yang terpampang jelas di layar ponselnya pada Aziel, "Setelah gua lihat secara langsung, gua makin percaya kalau itu emang terjadi". Sambungnya.
Aziel menajamkan penglihatannya ke arah ponsel Allena yang terpampang sebuah foto dirinya dan Regina seperti telah selesai melakukan hubungan badan. Terlihat jelas difoto itu Aziel tengah tertidur dengan menggunakan selimut untuk menutupi bagian atas tubuhnya. Sedang Regina terlihat memasang gaya yang juga dirinya tengah memakai selimut yang sama dengan Aziel untuk menutupi tubuhnya juga. Jelas kita ketahui Regina sengaja memotret dirinya dengan Aziel dalam keadaan seperti itu.
Aziel langsung menatap Allena, "Nggak Allen, itu nggak bener. Lu jangan percaya sama foto itu". Ucap Aziel menggeleng.
"Iya emang awalnya gua nggak percaya sama foto itu. Tapi setelah gua lihat tadi, gua mulai yakin kalau lu emang ada hubungan sama cewek itu". Ucap Allena sambil melirik Regina di belakang sana yang masih dipegangi anak geng Alcandor, lalu kembali menatap datar Aziel.
"Nggak Allen, itu nggak bener. Makanya lu denger dulu penjelasan gua". Aziel ingin kembali mendekati Allena, namun dengan cepat Allena mundur ke belakang.
"Nggak, nggak usah. Lu nggak usah ngejelasin apapun". Kemudian berbalik dan melangkahkan kakinya dari tempatnya.
Aziel yang melihat Allena pergi, dengan cepat menyusul gadis itu.
Allena berlari keluar gerbang menuju motornya yang terpakir di depan gerbang itu dan dengan cepat memakai helmnya lalu naik ke atas motor sportnya.
Tidak lama Aziel datang dan langsung mencegah Allena untuk pergi.
"Jangan pergi Allen, dengerin penjelasan gua dulu!". Cegah Aziel menghadang bagian depan motor Allena.
"Minggir!". Sentak Allena.
"Nggak, gua nggak akan biarin lu pergi gitu aja. Lu harus denger penjelasan gua dulu". Kekeh Aziel dengan terus berdiri di depan motor Allena.
"Minggir sialan!". Maki Allena.
"Nggak akan". Dengan cepat Aziel mencabut kunci motor Allena, lalu ingin mendekati gadis itu.
Namun Allena yang sudah turun dari atas motornya langsung menjauh, "Siniin kunci motor gua!". Sentak Allena dengan motor di tengah-tengah mereka berdua.
"Nggak mau!". Tolak Aziel.
"Siniin gua bilang!". Sentak Allena melotot dari balik helmnya.
"Nggak mau Allen, lu harus denger penjelasan gua dulu". Kekeh Aziel sembari menyembunyikan tangannya ke belakang. Lalu berjalan ingin mendekati Allena.
"Berhenti disitu!". Sentak Allena berjalan kesisi lain motornya, "Jangan deketin gua!
"Kenapa Allen? Gua cuman mau ngejelasin kesalah pahaman ini". Ucap Aziel.
"Allen...
"Gua bilang berhenti disitu, jangan deketin gua!". Bentak Allena saat Aziel ingin kembali mendekati dirinya.
"Allen gua cuma...
Aziel langsung tersentak saat tiba-tiba Regina muncul dan langsung memeluk pinggangnya.
"Aziel kok lo malah ninggalin gue sih?". Cicit Regina dengan nada manja yang terkesan menggelikan bagi siapa pun yang mendengarnya.
"Ngapain lu meluk-meluk gua? Lepasin nggak!". Bentak Aziel yang berusaha melepaskan pelukan Regina.
Namun Regina malah mengencangkan pelukannya, "Ihh emang kenapa sih? Emang nggak boleh apa?". Ucapnya semakin manja dan menjadi-jadi. Matanya bahkan sempat bertabrakan dengan Allena, lalu tersenyum penuh merasa kemenangan.
"Lepasin sialan!". Umpat Aziel yang terus berusaha melepaskan pelukan Regina di pinggangnya, namun tak bisa. Gadis itu terus saja memeluknya dengan paksa.
"Ngapain aja kalian ha biarin dia sampai terlepas?". Bentak Aziel pada anak buahnya yang berdatangan.
"Maaf Bos, nih cewek ngegigit tangan gue sakit bener". Sahut Gabriel menunjukan lengannya yang digigit oleh Regina tadi.
"Iya Bos, dia juga ngecakar muka gue. Mana sakit banget lagi". Timpal Dicky menunjukan cakaran Regina di pipi bagian kirinya.
"Alasan aja kalian! Cepat bantu gua nyingkirin ni cewek!". Perintah Aziel.
"Siap Bos!
"Oke Bos laksanakan!
"Baik Bos!
Segera Gabriel dan Dicky berserta 3 geng Alcandor lainnya membantu untuk melepas Regina yang terus saja memeluk pinggang Aziel. Gadis itu bahkan memberontak ketika ditarik paksa oleh mereka.
Aziel juga terus berusaha melepas lengan Regina yang melingkar di pinggangnya. Aziel bener-benar risih dan jijik pada Regina yang tak mau melepaskannya.
Sementara Allena, saat melihat Aziel yang lengah gadis itu segera melancarkan aksinya. Dengan cepat Allena mendekati Aziel dan langsung menarik kunci motornya dari tangan Aziel dan segera berlari kembali ke motornya. Tanpa berlama-lama lagi Allena langsung tancap gas pergi dari sana.
"ALLENA!". Teriak Aziel yang melihat Allena sudah pergi dengan motornya, "Shi*t!". Umpatnya kesal.
Aziel kemudian melirik tajam ke arah Regina yang sudah berhasil lepas darinya dan tengah dipegangi beberapa anak buahnya.
"GARA-GARA LU BANG*SAT!". Bentak Aziel seketika pada Regina, lalu Aziel mulai melangkahkan kakinya dari sana, "Jangan biarin cewek sialan itu masuk!". Kata Aziel lagi sebelum dia benar-benar melangkah masuk ke dalam rumah.
Segera kelima anak buah itu mengikuti arahan dari Bosnya, Aziel.
Sementara itu, Allena saat ini tengah mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi, menyalip semua kendaraan yang ada di depannya. Tak peduli dengan teriakan dan umpatan-umpatan dari para pengendara yang berhasil disalipnya.
__ADS_1
Hingga akhirnya Allena kini sudah sampai di mansion. Setelah memarkirkan motor sportnya, Allena segera berlari masuk ke dalam mansion.
"Allena!". Tegur Louis saat membuka pintu dan melihat Allena.
"Minggir!". Sentak Allena yang langsung mendorong kasar Louis membuat pria itu terdorong ke samping.
"Len, tunggu! Gue mau ngomong dulu!". Seru Louis.
Namun Allena tak mempedulikan, dan tetap berlari.
"Tunggu Len!". Segera Louis menyusul Allena. Bagaimana pun dia harus menyelesaikan masalah ini.
Allena yang sudah di depan pintu kamarnya segera membuka pintu dan langsung masuk ke dalam kamar, lalu dengan cepat mengunci pintu kamarnya rapat-rapat. Tak membiarkan siapapun masuk.
TOK
TOK
TOK
"Len, gue mohon sama lo buka pintunya! Kita bicara dulu". Teriak Louis dari luar kamar Allena.
"Allena, gue tau gue salah. Tapi biarin gue ngomong bentar ama lo Len. Setidaknya biarin gue minta maaf dengan tulus sama lo. Gue cuman nggak mau hubungan kita jadi rusak Len". Teriak Louis dengan terus mengetuk pintu kamar Allena.
"PERGI LU SANA! GUA NGGAK MAU NGOMONG AMA LU!
...******...
Malam harinya di ruang makan, terlihat Papah Robert, Mommy Tiara dan juga Louis sudah berada di meja makan. Mereka akan makan malam.
"Louis, dimana Allena? Kok dia nggak keluar juga dari kamarnya". Tanya Mommy Tiara sembari meletakan sayur sup di atas meja.
Namun Louis diam saja. Dia bingung harus menjawab apa. Memang saat Allena pulang siang tadi, gadis itu belum juga keluar dari dalam kamarnya.
"Kenapa Louis? Kamu kok diam saja dari tadi". Tegur Mommy Tiara.
"Ah, ng-ng-nggak papa kok Tan, nggak papa". Sahut Louis gugup.
"Kamu kenapa Nak? Kamu ada masalah sama Allena? Kalian bertengkar lagi?". Tanya Mommy Tiara akhirnya.
Louis menggeleng, "Ng-ng-nggak kok Tan nggak, Louis nggak lagi ada masalah sama Allena. Cuman-". Louis ragu-ragu mengatakannya pada Mommy Tiara.
"Cuman apa Nak?
"Cuman... Allena sekarang ini lagi nggak mau ngomong sama Louis, Tan". Jawab Louis dengan lesuh.
"Loh, kenapa? Kalian ada mas...
"Sudah-sudah!". Potong Papah Robert seketika, "Mah, Mamah lebih baik ke atas sekarang. Ajak Allena untuk makan malam!". Sambung Papah Robert kemudian.
"Yaudah Mamah ke atas dulu!". Ucap Mommy Tiara akhirnya.
Mommy Tiara kemudian segera beranjak dari kursinya, lalu mulai berjalan menuju tangga untuk ke kamar anaknya.
Karena tak kunjung mendapatkan sahutan dari dalam kamar, Mommy Tiara akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam kamar Allena.
CEKLEK!
Pintu kamar ternyata tidak dikunci. Segera Mommy Tiara masuk ke dalam. Dan saat sudah di dalam kamar, Mommy Tiara tidak melihat keberadaan anaknya. Tidak juga terdengar suara air dari dalam kamar mandi, karena pikirnya Allena sedang mandi mungkin.
Mommy Tiara kemudian melangkah menuju balkon. Dan benar saja, Allena ada disana. Gadis itu terlihat tertidur dengan tangan sebagai bantalan yang dia letakan di atas meja. Seluruh wajahnya tertutup dengan rambut panjang hitam kecoklatan miliknya.
Mommy Tiara mendekat lalu menggoyangkan tubuh anaknya perlahan.
"Allena, bangun sayang! Kamu kok tidur disini Nak?". Seru Mommy Tiara dengan terus menggoyangkan tubuh Allena sampai akhirnya gadis cantik itu terbangun.
Euughh...
Allena melenguh saat sudah bangun, lalu menegakan badannya mencoba mengumpulkan nyawa.
"Kamu kenapa tidur disini Sayang? Kan bisa di dalam Nak". Ucap Mommy Tiara lembut.
"Bukan urusan Mamah!". Sahut Allena dengan suara khas bangun tidur.
Mommy yang mendengar itu hanya tersenyum, "Yaudah kalau gitu kamu mandi terus ke bawah ya, kita makan malam". Ucap Mommy Tiara sambil mengusap lembut kepala Allena. Pasalnya Allena saat ini juga masih memakai seragam sekolahnya.
"Nggak mau, Allena nggak mau turun ke bawah". Ucap Allena.
"Kenapa Sayang?
"Allena malas kalau harus ketemu sama Louis. Allena nggak mau lihat muka dia". Jawab Allena ketus.
"Memangnya kenapa Nak? Kalian bertengkar?
"Pokoknya Allena nggak mau turun ke bawah". Ucap Allena kekeh.
Mommy Tiara yang tidak ingin membuat Allena semakin marah, akhirnya berhenti bertanya lebih banyak lagi. Apa lagi mengetahui anaknya itu cepat sekali emosi.
"Yasudah kalau begitu kamu mandi, nanti biar Mommy bawakan makanan kesini untuk kamu. Ya!". Ucap Mommy Tiara akhirnya.
"Hmm". Jawab Allena dengan gumaman.
Allena kemudian berdiri dari kursi, lalu mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar.
Sedang Mommy Tiara hanya melihat punggung Allena dengan tatapan sendu.
__ADS_1
"Kamu kenapa Sayang? Kenapa Mommy merasa kamu ada masalah?