Allena And Friend'S

Allena And Friend'S
PART 129 ~ Allena and Friend's


__ADS_3

Satu minggu Zee di rumah sakit setelah sadar dari komanya, cewek itu sudah diperbolehkan untuk pulang. Namun masih harus dalam pemantauan Dokter untuk penanganan yang lebih lanjut.


Selama satu minggu pula ini Allena jarang terlihat ke sekolah. Allena jadi sering bolos dan OSIS jadi terbengkalai, berjalan seperti tidak semestinya.


Entah apa yang membuat Allena seperti itu tidak ada yang mengetahuinya sekaligus para sahabatnya ataupun Aziel. Mereka jadi jarang bertemu karena Allena sering bolos dan jarang masuk sekolah.


Waktu di rumah sakit pun satu minggu yang lalu saat Setya datang ke rumah sakit untuk menjenguk Zee, setelah apa yang dikatakan oleh Aziel tentang Zee yang hilang ingatan, Allena dan Setya bertengkar. Allena tidak mengizinkan Setya untuk bertemu dengan Zee, hingga pertengkaran di rumah sakit itu terjadi.


Namun karena ada Tante Yuna yang melerai pertengkaran dan mencairkan suasana yang menegangkan itu, akhirnya Setya bisa bertemu dengan Zee atas izin Tante Yuna. Karena bagaimana pun apa yang terjadi pada Zee bukan sepenuhnya kesalahan Setya.


Louis sendiri pun sebenarnya selama satu minggu ini masih sering bertemu dengan Allena di mansion. Setiap pagi jika berangkat ke sekolah pasti Louis sudah melihat Allena yang sudah memakai seragam sekolahnya. Dan mereka juga kadang berangkat ke sekolah bersama meskipun membawa kendaraan sendiri-sendiri.


Setiap Louis menanyakan kepada Allena mengapa gadis itu sering bolos pasti Allena akan langsung memberikan tatapan tajam kepadanya dan mengatakan jika itu bukan urusannya dan Louis tidak berhak menanyakannya apalagi ikut campur. Jadi Louis sendiri pun tidak berani bertanya lagi apalagi jika Louis memberi tahu Papah Robert dan Mommy Tiara.


Louis juga karena tidak ingin merusak hubungan antara dirinya dengan Allena. Makanya Louis diam saja.


Kerena hal itu pula Regina jadi sering lebih leluasa lagi untuk mendekati Aziel dan mencoba mencari perhatian dari Aziel. Meskipun Aziel tak menanggapinya, namun tetap saja Regina selalu berusaha mendekati Aziel dengan berbagai cara. Padahal Aziel sudah secara terang-terangan menolak dirinya apalagi keberadaannya jika Regina sudah dekat-dekat dengan Aziel apalagi mencari perhatian darinya.


Pernah kejadian dua hari yang lalu Regina terlambat dan dihukum hormat bendera. Gadis itu sengaja pura-pura pingsan saat Aziel berjalan sendirian di lapangan. Dan saat Regina melancarkan aksinya dengan menjatuhkan dirinya di lapangan saat Aziel sudah dekat, Aziel malah mengabaikannya dan melangkahinya begitu saja lalu kembali berjalan tanpa mempedulikan dirinya.


Regina saat itu benar-benar merasa malu bukan main. Apa lagi saat itu murid-murid yang lain melihat kejadian itu sampai menertawakan dirinya juga murid-murid yang berada di lantai dua ikut menertawakan dirinya saat mereka melihat dari atas kelas lantai dua itu.


Apalagi Duo Pembuat Onar, Adrian dan Gerald yang juga melihat itu ikut menertawakannya dengan mengejeknya pula. Ditambah lagi yang menolong Regina bukan Aziel melainkan Rasyah dari kelas 12 1PS 3. Cowok berkulit hitam, dekil, dengan gaya cupunya yang memakai kacamata bulat menambah kesan cupunya cowok itu, juga bertubuh gempal berisi. Namun cowok itu masih sanggup mengangkat Regina hingga sampai ke UKS. Daripada malu teruskan berbaring di lapangan, mending biarin aja dia digendong cowok lain meskipun bukan Aziel yang sesuai keinginannya.


Dan hari ini Regina kembali melancarkan aksinya untuk mendekati Aziel. Meski sudah banyak penolakan, gadis itu masih saja berusaha mendekati Aziel. Nggak ada nyerah-nyerahnya juga tu cewek.


Regina masuk kedalam kelas 12 IPA 1, dimana Aziel menempati kelas itu. Memang kelas itu masih dalam jam kosong karena guru-guru sedang rapat.


"Hey Aziel!". Sapa Regina mengahampiri Aziel di kursinya yang sedang bermain game di ponselnya.


Aziel seketika mengumpat dalam hati mengetahui suara siapa yang memanggilnya. Pria itu tak menoleh sama sekali dan tetap fokus bermain game tanpa mempedulikan Regina yang sudah berdiri di hadapannya dengan meja yang menjadi penghalang.


"Aziel ih gue panggilin juga". Cicit Regina yang merasa tak dipedulikan oleh Aziel.


Namun Aziel tetap tak berniat menggubris Regina sama sekali. Kalau boleh jujur Aziel sangat tak menyukai dengan Regina yang selalu saja mengganggunya.


Apa lagi mengingat kejadian yang entah itu benar terjadi atau tidak bahwa dirinya sudah berhubungan badan dengan Regina. Dan Regina dengan gamblangnya mengatakan bahwa mereka berdua telah melakukan itu. Sementara Aziel benar-benar merasa tak pernah melakukan hal itu dengan Regina.


Aziel memang mencurigai bahwa pasti itu hanya akal-akalan Regina saja untuk mengelabui dirinya. Tapi Aziel berusaha tetap tak mempedulikannya. Apalagi Aziel tak memiliki perasaan apapun pada Regina.


Kalaupun benar mereka melakukan itu, biarkan saja. Toh Aziel juga tak peduli, karena mereka melakukan itu juga disaat dirinya sedang mabuk. Mengingat malam itu dia sedang berada di club malam dan minum banyak. Jadi Aziel tak akan mempedulikannya sama sekali.


"Aziel lo denger nggak sih?". Regina semakin menggerutu melihat Aziel yang masih terus saja tak mempedulikannya seakan mengganggap dirinya tidak ada disitu.


Aziel seketika memukul meja yang ada di hadapannya dengan keras.


"Ah, shi*t! Kalahkan gua, sialan! Gara-gara lu sih! Ngapain sih lu disini? Ganggu tau nggak". Maki Aziel menatap kesal kearah Regina.


"Ih Aziel, gue kan udah manggil-manggil lo dari tadi". Cicit Regina.


Aziel langsung memutar bola matanya jengah melihat Regina yang ada di hadapannya sekarang.


Aziel tak menyangka gadis yang dulunya adalah partner waktu mereka masih menjadi OSIS dulu sekarang terlihat menjadi gadis yang tidak tahu malu.


Dulu Regina terlihat selalu rapi dan teratur jika dalam berseragam ke sekolah. Dan terkesan malu-malu jika menghadapi dirinya.


Tapi sekarang lihat, baju seragam yang ketat menonjolkan dua tonjolan yang ada di depan dadanya, rok yang pendek, padahalkan Regina bisa memakai almamaternya untuk menutupi badannya. Juga memakai make up yang terkesan menor untuk seusianya.


Aziel jadi geli sendiri melihatnya. Entah apa yang membuat Regina menjadi seperti itu.


Jika memang karena dirinya, seharusnya Regina jangan bertindak bodoh hanya karena cinta. TOLOL!!


"Apaan?". Sentak Aziel mendelik tak suka.


"Gue cuman mau kasih lo ini". Regina menyodorkan sekotak bekal makanan juga dua coklat batang ke arah Aziel.


Aziel menatap tak minat kedua barang itu dengan alis yang berkerut.


"Nggak usah! Buang aja sana!". Ucap Aziel menolak keras.

__ADS_1


"Aziel kok lo tega banget sih ama gue. Gue kan udah cape-cape buat ini". Cicit Regina dengan nada sedih yang dibuat-buat.


"Emang siapa yang nyuruh lu buat itu? Nggak ada yang nyuruh juga kan? Peduli apa gua". Ucap Aziel tak peduli dan kembali memainkan ponselnya tak berniat menerima pemberian Regina.


"Ishh!". Kesal Regina yang sudah mencengkram keras kotak bekal yang ada di tangan kanannya.


Tiba-tiba Allena muncul dari balik pintu dan berjalan masuk ke dalam kelas itu dengan tatapan datarnya. Sempat Allena melihat Regina dan Aziel, lalu kembali melanjutkan langkahnya menuju ke arah Louis yang ada di.belakang pojok kiri kelas.


"Eh, ada bunga sekolah nih si Allena. Hai Allena cantik, tumben-tumbenan nih datang ke kelas kita". Seru salah satu siswa yang ada di ujung kanan kelas itu.


Seketika keempat teman siswa yang tadi ikut menyahuti Allena memuja-muji kecantikan Allena sekaligus menggoda gadis itu.


Aziel yang ada disana sontak berbalik dan langsung saja menatap mereka semua siswa tadi dengan tatapan tajamnya yang seketika merontokan nyali mereka menjadi debu.


Mereka semua langsung kicep ditempat tak berani bersuara lagi. Mereka lupa disana masih ada Aziel yang mereka ketahui sedang dekat dengan Allena. Berani sekali mereka itu.


Sementara itu Allena tak mempedulikan semua para siswa yang menyahutinya bermaksud menggodanya. Allena berdiri didepan Louis terlihat tengah membicarakan sesuatu dengan Louis. Entah apa yang mereka bicarakan hanya mereka berdua yang tahu.


Setelah selesai Allena berbalik kembali melangkahkan kakinya berniat meninggalkan kelas itu.


Namun saat tiba di depan, Aziel yang memang duduk di bangku paling depan segera berdiri dari duduknya mencegat Allena.


"Allen!". Tegur Aziel yang sudah menahan lengan Allena.


Allena diam sebentar, lalu menatap datar bergantian Aziel dan Regina yang berdiri di belakang Aziel.


"Gua mau ngomong bentar ama lu". Ucap Aziel kemudian.


"Lepas!". Ucap Allena menatap datar Aziel.


"Gua mau ngomong Allena". Ucap Aziel dengan penuh penekanan kali ini.


"Lepas gua bilang!". Ucap Allena masih dengan tatapan datarnya.


"Mau sampai kapan lu marah ama gua?". Kali ini Aziel tak bisa menahannya lagi. Hubungannya dengan Allena tidak boleh seperti ini terus.


"Tu cewek lu nungguin dari tadi". Allena kemudian berlalu pergi dari sana.


"Len! Len! ALLENA! ALLENA! LEN!". Teriak Aziel yang melihat Allena mulai menghilang dari ambang pintu kelas.


"Sial!". Desis Aziel yang mulai ingin menyusul Allena.


Namun Regina yang memang masih ada disitu segera menarik lengan Aziel dari belakang mencegatnya.


"Lo mau kemana EL? Mau nyusulin tu cewek?". Ucap Regina memandangi Aziel.


"LEPASIN BANG*SAT!". Bentak Aziel yang langsung menepis kasar tangan Regina yang mencegatnya dan segera berlari keluar untuk menyusul Allena.


Saat sudah berhasil menyusul Allena, Aziel langsung menarik lengannya membuat Allena berbalik ke padanya.


"Allen!". Desis Aziel.


Allena mendongak menatap Aziel dan langsung menarik lengannya sambil berkata, "Gua udah mutusin". Ucapnya kemudian yang membuat Aziel membalas menatap Allena sambil menautkan alisnya bingung.


"Gua udah mutusin untuk nggak pernah berhubungan lagi ama lu. Gua udah punya tunangan dan gua nggak boleh berhubungan sama siapapun itu, termasuk lu sekalipun". Ucap Allena lagi dengan pandangan yang semakin datar menatap Aziel.


Aziel yang mendengar itu seketika mulai mengeratkan cengkramannya di lengan Allena.


Matanya menjelajar mengelilingi penjuru kelas yang ada di lantai dua itu. Seketika matanya menangkap satu ruangan yang tak berpenghuni.


Seketika Aziel langsung menarik paksa Allena menuju ruangan tak berpenghuni itu dan menghempaskan Allena ke dalam ruangan itu.


Tanpa kata-kata Aziel dengan cepat menghampiri Allena dan langsung menyerobot bibir gadis itu dengan rakus. Membuat Allena yang tak siap sampai mundur beberapa langkah ke belakang.


Aziel kemudian melepaskan ciumannya, "UDAH BERAPA KALI GUA BILANG JANGAN PERNAH LU NGOMONG DI DEPAN GUA TENTANG PERTUNANGAN SIALAN LU ITU!!". Bentak Aziel dengan tajam, lalu kembali menarik wajah Allena ke arahnya memagut bibir Allena dengan kasar.


Allena yang hampir kehabisan nafas berusaha sekuat tenaga mendorong Aziel menjauh darinya.


"Emang salah sama yang gua omongin? Benerkan gua udah tunangan sama Lo..mphh..mphh". Allena tak bisa melanjutkan ucapannya karena Aziel sudah kembali membungkam mulut Allena dengan mulutnya. Terus memagut bibir ranum itu dengan kasar.

__ADS_1


Aziel benar-benar tak suka mendengar ucapan Allena tentang pertunangannya dengan Louis.


Aziel benci mengetahui bahwa yang menjadi tunangan Allena adalah Louis bukan dirinya. Padahal Aziel berharap Allena akan menjadi miliknya.


Allena memukul-mukul dada bidang Aziel, mendorong Aziel agar terlepas dari Aziel. Namun Aziel seolah menolak melepaskan Allena.


Aziel semakin menarik Allena ke arahnya menahan tengkuk gadis itu dengan terus menyesap bibir Allena.


Hingga beberapa saat setelah merasa puas Aziel melepaskan pagutannya tanpa melepaskan rangkulannya di pinggang ramping Allena.


Sedang Allena terlihat menghirup udara sebanyak mungkin. Gadis itu hampir mati kehabisan nafas karena Aziel tak kunjung melepaskan pagutannya tadi.


Aziel menatap tajam Allena, "Sekali lagi lu ngomong kaya tadi. Gua pastiin bakal ngelakuin hal yang lebih dari ini". Ancam Aziel, lalu kembali melu*mat bibir Allena sebentar kemudian berbalik meninggalkan Allena sendirian di ruangan itu.


Sementara Allena hanya menatap tajam punggung Aziel yang mulai menghilang sembari mengelap bibirnya dengan kasar.


"DASAR SINTING!!



...******...


Sementara itu di gudang sekolah terlihat Chika dan Gamma yang duduk saling berjauhan. Chika di atas meja depan, sedang Gamma duduk di kursi yang berada di sudut ruangan.


"Jadi Zee hilang ingatan? Bisa gitu ya". Ucap Chika sambil menyesap rokoknya.


"Ya gitu deh". Sahut Gamma yang juga sedang menikmati rokoknya.


"Kasihan juga ya dia sampai bisa hilang ingatan gitu.


"Hmm". Balas Gamma hanya dengan gumaman.


Gamma mulai beranjak dari kursinya berjalan mendekati Chika yang masih duduk di atas meja dan hanya memandanginya sambil terus menyesap rokok kesukaannya.


"Lo mau ngapain deket-deket?". Tanya Chika saat Gamma sudah berdiri di depannya.


"Kita nggak usah bahas soal Zee. Kita bahas yang lain aja". Cetus Gamma sambil menatap intens Chika.


"Misalnya?". Sahut Chika dengan mengeluarkan asap rokok dari mulutnya membalas tatapan Gamma.


"Misal--". Gamma menggantung ucapannya sembari semakin mendekatkan dirinya ke arah Chika berdiri di hadapannya.


Mata hitam lekatnya melirik ke arah bibir Chika yang terdapat putung rokok disana. Tangannya seketika bergerak mengambil putung rokok itu dari bibir Chika lalu menyesapnya, dan tangannya satunya yang memegang sisa rokoknya tadi diberikannya untuk Chika langsung ke bibirnya.


Sementara Chika yang awalnya kaget dengan apa yang dilakukan oleh Gamma langsung mencoba mengikuti apa yang dilakukan oleh cowok itu.


Chika menerima rokok sisa yang diberikan oleh Gamma tadi dan menyesapnya bersamaan dengan Gamma yang juga menyesap rokok yang diambil darinya.


Mereka saling beradu pandang dengan mulut yang sama-sama menyesap rokok sisa yang mereka tukar tadi. Lebih tepatnya Gamma yang melakukan penukaran itu tanpa seizin Chika terlebih dahulu. Tapi Chika sepertinya tak mempermasalahkannya dan menerima begitu saja.


"Misalnya tentang kita". Desis Gamma kemudian sambil mengeluarkan asap rokok dari mulutnya.


Chika seketika mengerutkan alisnya bingung mendengar perkataan Gamma, "Maksudnya?". Tanya Chika kemudian.


Gamma tiba- tiba tersenyum miring tanpa mengalihkan pandangannya dari Chika. Mata hitam lekatnya terus menyapu keseluruhan wajah Chika tanpa tertinggal cela sedikitpun. Dan tatapannya berhenti tepat di bibir sensual milik Chika.


Kemudian Gamma kembali menyesap rokoknya dengan terus memandangi Chika lalu menjauhkan tangannya yang memegang rokok tadi ke arah samping dan tangan yang satunya terangkat memegang paha sebelah kanan Chika dan langsung menggesernya ke samping sehingga membuat cewek itu sontak terkesiap dengan apa yang dilakukan Gamma barusan. Sehingga dari belakang nampaklah Chika seperti membuka lebar kedua pahanya di hadapan Gamma.


"Gam, lo...


"Shh shh syuutt!". Gamma menggeleng langsung menghentikan ucapan Chika dengan jempolnya yang dia tempelkan di bibir gadis itu. Dan keempat jari lainnya membelai lembut pipi Chika.


Gamma kemudian semakin mendekatkan tubuhnya masuk ke tengah-tengah diantara kedua paha Chika yang terentang, membuat tubuh Chika sontak menegang dan satu tangannya langsung bertumpu di samping meja. Rok yang dikenakan Chika pun sedikit tersingkap ke atas karena Gamma semakin mendekatkan dirinya kearah Chika.


Gamma menekan bibir Chika dengan jempolnya, lalu menatap intens wajah gadis itu.


"Bibir lo seksi. Gue suka bibir lo!!


__ADS_1


__ADS_2