
Saat ini Allena dan ke-4 temannya sudah berada dipekarangan rumah Airin. Terlihat keadaan disana sangat sepi tak ada orang.
Tapi yang membuat mereka bingung adalah keadaan kios milik keluarga Airin yang terlihat berantakan dan rusak dengan papan yang menjadi dinding kios tersebut hancur dan terbuka, yang membuat kios itu seperti tak lagi memiliki dinding.
Tak hanya itu bagian teras rumah Airin juga terlihat sama dengan keadaan kios keluarga Airin. Dinding teras yang terbuat dari papan terlihat terbuka dan hancur. Tanaman yang ada diteras tersebut juga terlihat berantakan dengan pot tanaman tersebut yang pecah.
"Lahh ini rumah sama kios Airin kenapa bisa hancur berantakan gini? Ini siapa yang lakuin kaya gini? Wahh nggak bener nih". Desis Gamma tiba-tiba.
"Kok kaya gini? Terus Airin kemana ya? Sepi gini nggak ada orang". Timpal Tessa kaget dengan apa yang dilihatnya.
Sementara Allena terlihat sedang mengobrol dengan seorang bapak-bapak tua yang kebetulan lewat didepan rumah Airin. Setelah berbincang-bincang bapak tua itupun pergi meninggalkan Allena.
Zee yang melihat segera menghampiri Allena.
"Len, kenapa?". Tanya Zee.
Allena tak menjawab, gadis hanya berbalik menatap rumah Airin dengan menyipitkan matanya melihat dengan teliti.
Hingga beberapa saat kemudian, Allena langsung berbalik berjalan kearah mobilnya.
"Ikut gua sekarang". Ucap Allena seketika disela-sela dia berjalan.
Zee yang tentu saja paham segera memanggil Tessa, Gamma dan juga Alvian.
"Oyy guyss.. Allena nyuruh kita buat ikut dia sekarang". Seru Zee pada ketiga orang tersebut.
"Hah? Kenapa emang?". Tanya Alvian seraya berjalan cepat.
"Nggak tau juga. Tapi Allena suruh kita buat ikut dia sekarang. Dia kaya buru-buru gitu". Jawab Zee.
"Yaudah kalau gitu kita ikut Allena sekarang". Ucap Alvian diangguki oleh mereka.
Mereka kemudian bergegas mengikuti Allena dan pergi dari sana dengan kendaraan masing-masing.
Sekitar 30 menit mereka sampai disebuah rumah sakit. Setelah memarkirkan kendaraan, mereka langsung masuk kedalam dan Allena segera menanyakan ruangan yang akan dikunjunginya pada resepsionis di rumah sakit tersebut.
Setelah mengetahui ruangan yang akan dikunjungi, Allena langsung saja menuju keruangan tersebut.
Sementara ke-4 teman Allena hanya mengikuti Allena dengan melirik satu sama lain. Mereka kebingungan kenapa Allena membawa mereka ke rumah sakit.
Saat Allena tiba diruangan yang dicarinya, dengan segera Allena masuk kedalam diikuti ke-4 temannya.
Betapa terkejutnya mereka ketika melihat Airin yang ada didalam ruangan tersebut sedang menangis menggenggam tangan Ayahnya yang berada diatas brankar rumah sakit.
Disana juga ada Ibu Airin dan Rendi adiknya yang sedang duduk dikursi tak jauh dari brankar Ayah Airin.
"Airin". Seru Zee segera menghampiri Airin.
Airin yang menyadari kedatangan teman-temannya segera menoleh kearah mereka dengan mata yang sembab.
"Airin ada apa?". Tanya Tessa ikut menghampiri dan berdiri didekat Airin.
"Hiks.. hiks..!". Tangis Airin masih mengenggam tangan Ayahnya yang berbaring.
Sementara Allena, gadis itu hanya diam menatap Airin dan juga Ayah Airin yang tengah berbaring diatas brankar. Allena lalu beralih menatap Ibu Airin dan Rendi adik Airin, kemudian beralih mengelilingi keadaan ruangan yang ditempati oleh Ayah Airin.
Sesaat kemudian Allena mendekati Gamma dan juga Alvian yang hanya diam berdiri disana.
"Kalian berdua sekarang panggil penjaga yang ada di rumah sakit ini atau nggak, dokternya sekalian. Bawa mereka kesini sekarang juga". Ucap Allena tiba-tiba kepada dua pria itu.
"Kenapa Len?". Tanya Gamma yang tidak mengerti akan Allena yang menyuruh mereka.
Allena langsung saja menoleh dan menatap Gamma datar namun mencekam baginya.
"O-o-oh ok ok gue panggilin sekarang. Ayo Alvian sebelum Bu Ketua marah". Desis Gamma langsung menarik tangan Alvian dan melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Allena. Melihat tatapan gadis itu membuat Gamma bergedik ngeri.
Setelah kedua pria tadi pergi, Allena kemudian mendekati Ibu Airin dan bersalaman dengan beliau. Ibu Airin yang melihat Allena yang sopan hanya tersenyum seraya mengangguk.
"Ada apa Tante? Kenapa Om bisa kaya gitu". Tanya Allena to the point.
__ADS_1
Ibu Airin tersenyum kearah Allena dan mulai menceritakan kejadian yang mengapa bisa membuat Ayah Airin bisa terbaring di rumah sakit saat ini.
Saat masih sedang bercerita, Gamma dan Alvian sudah datang kembali bersama dengan salah satu penjaga dan perawat yang bekerja di rumah sakit tersebut.
Allena dan yang lainnya seketika menoleh kearah Gamma dan Alvian yang membawa dua orang tersebut.
"Len, ini nih orang-orangnya. Lo tau, Gue sama Alvian susah banget nyari penjaga sama perawat disini". Ucap Gamma diangguki Alvian.
"Iya Len. Banyak maunya orang-orang yang pada kerja disini". Timpal Alvian dan juga diangguki oleh Gamma.
"Tadi aja kita mintai tolong sama salah satu perawat disini malah marah-marah sama kita berdua, disinisin lagi. Kesel sendiri gue.
"Kalau bukan cewe, udah gue kasih bogeman mentah tuh orang". Sambung Alvian.
Allena yang mendengar itu segera berdiri dari duduknya dan menghampiri kedua pekerja di rumah sakit tersebut. Terlihat mereka sedang menunduk tak berani menatap Allena.
"Apa yang kalian lakukan? Apa kalian pikir, kalian bekerja disini makan gaji buta?". Tegur Allena pada dua pekerja itu.
"Jika kalian tidak ingin bekerja segera keluar dari sini. Masih banyak pekerja lainnya yang mau mengganti kalian dan bekerja disini dengan lebih baik". Ucap Allena lagi.
"Kalian harusnya merasa bersyukur saya masih mau menjadi penyumbang di rumah sakit ini dan dengan senang hati memberikan kompensasi kepada kalian semua". Sambung Allena dengan tegasnya.
Mereka yang ada disana hanya menatap cengo dengan perkataan Allena. Mereka tidak menyangka Allena adalah salah satu penyumbang terbesar di rumah sakit tersebut.
Sementara dua pekerja tadi semakin menunduk dan tak berani sama sekali menatap Allena. Mereka tidak mengira Allena akan datang dan berkunjung. Mereka tentu saja tau siapa Allena.
"Maafkan kami Nona". Ucap Penjaga memberanikan diri.
Allena seketika menghembuskan nafas dan menatap dingin dua pekerja tadi.
"Beri tahu semua yang bekerja di rumah sakit ini! Jika mereka tidak berniat bekerja, segera keluar sekarang. Saya tidak suka ada orang yang bermalas-malasan di rumah sakit ini". Ucap Allena lagi.
"Baik Nona. Maafkan kami juga". Balas Perawat tadi.
"Satu lagi. Apa ini? Kenapa kalian beraninya menempatkan Om saya diruangan ini. Apa kalian mau dipecat hari ini juga?". Ucap Allena.
Dua pekerja tadi seketika terkejut dengan perkataan Allena. Mereka tak menyangka keluarga yang memang mereka sengaja tempatkan diruangan tersebut ternyata keluarga Allena. Mereka menempatkan Ayah Airin disana karena keluarga itu tidak sanggup membayar dan menggunakan kartu BPJS untuk menanggung.
"Sekarang kalian siapkan ruang VVIP untuk Om saya. Cepat kerjakan sebelum saya berubah pikiran".
"CEPATT!!". Sambung Allena menekan kata-katanya yang langsung diangguki oleh kedua pekerja tadi.
"Baik Nona segera kami kerjakan". Ucap Perawat tadi diikuti Penjaga yang bersamanya.
Kedua pekerja tadipun segera melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Allena.
Melihat apa yang dilakukan oleh Allena, Ibu Airin menghampiri gadis itu dan berbicara kepadanya.
"Ada apa ini to Nak? Kenapa suami Ibu mau dikeluarin dari sini?". Tanya Ibu Airin yang tidak mengerti.
Mereka yang ada disana hanya melihat interaksi antara Allena dan Ibu Airin.
"Tenang aja Tante, Om bakalan dipindahin keruangan yang tempatnya lebih baik dari ruangan ini". Terang Allena.
"Tapi Nak, biayanya pasti sangat mahal. Gimana Ibu bayarnya? Biarin suami Ibu disni aja to Nak". Ucap Ibu Airin keberatan.
"Tante nggak usah mikirin hal itu, nggak usah mikirin biayanya. Semua Allena yang akan tanggung. Sampai Om sembuh dan keluar dari sini. Tante tenang aja". Ucap Allena.
Ibu Airin yang mendengar itu langsung saja menghampiri Allena dan memeluk gadis itu.
"Terima kasih to Nak. Mbo yo anak ini baik sekali. Terima kasih atas bantuan dan pertolongannya. Semoga selalu dilimpahkan rahmat dan rezekinya sama gusti Allah". Ucap Ibu Airin menangis.
"Iya Tante sama-sama. Makasih juga untuk doanya". Ucap Allena tersenyum tipis membalas pelukan Ibu Airin.
"Sekali lagi terima kasih Nak". Ucap Ibu Airin yang tak henti-hentinya berterima kasih.
Allena mengangguk. Gadis itu kemudian menoleh kearah Rendi adik Airin yang sedari tadi hanya diam dikursinya.
"Rendi, kemari sama Kakak". Panggil Allena.
__ADS_1
Rendi kemudian menghampiri Allena dengan malu-malu.
"Ada apa Kak?". Tanya Rendi.
"Kamu sekarang ikut Kak Gamma sama Kak Alvian ya. Beli makanan". Ucap Allena seketika.
Kedua pria yang sedari tadi ada disana hanya menatap Allena cengo. Pasalnya sikap Allena sangat berbeda saat ini bagi mereka berdua. Allena saat ini sangat bersikap lembut. Berbeda seperti biasanya yang selalu bersikap datar dan cuek.
Sama dengan ke-3 wanita yang ada disana. Mereka menatap Allena tak percaya dengan sikap Allena yang terkesan lembut sekarang ini. Airin yang melihat itu hanya tersenyum dengan mata sembabnya.
Saat itu Ayah Airin sudah dibawa keruangan VVIP di rumah sakit tersebut.
"Makanan? Lo laper Len?". Tanya Gamma reflek.
Allena seketika menoleh. "Iya. Kenapa emang? Masalah?". Ucap Allena datar.
Gamma yang melihat itu segera mengalihkan pandangannya. "Baru juga bersikap manis, udah kembali ke pabrik semula aja". Cibir Gamma dalam hati.
"Lu ngomongin gua?". Tanya Allena datar.
"Hah? Ng-ngg-nggak kok.
"Yaudah kalau gitu gue sama Alvian pergi sekarang. Rendi ayo, Kakak beliin kamu makanan yang banyak". Sambung Gamma gugup.
Rendi pun dengan senangnya menghampiri kedua pria itu dan mereka segera keluar mencari makanan.
"Allena, makasih ya. Lo udah baik banget sama gue sama keluarga gue juga". Ucap Airin menghampiri Allena dan memeluknya.
"Iya sama-sama". Balas Allena.
Tessa dan Zee yang melihat itu ikut menghampir kedua wanita yang sedang berpelukan itu.
"Huwaaa... Kita juga mau ikutan". Seru kedua wanita itu bersamaan dan saling berpelukan.
"Sekali lagi terima kasih ya Len. Kalian berdua juga. Kalian ber-3 sahabat paling terbaik buat gue". Ucap Airin sambil menangis.
"Iya Airin. Kita juga seneng kok punya sahabat kaya lo. Baik pinter lagi". Ucap Zee.
Mereka ber-4 pun saling berpelukan bahagia. Ibu Airin yang melihat itu hanya tersenyum melihat Airin bersama sahabatnya yang sangat baik kepada Airin.
Allena memandangi ketiga sahabatnya itu disela-sela mereka berpelukan. Dia berjanji pada dirinya sendiri. Dengan semua apa yang dimilikinya, Allena berjanji akan selalu ada dan membantu mereka semua dalam keadaan apapun dan hal apapun.
Karena Allena selalu merasa bahagia saat selalu bersama mereka. Meslipun Allena terkesan datar dan cuek terhadap apapun. Tapi dia selalu berusaha untuk membantu teman-temannya. Allena akan selalu melakukan itu semua untuk teman-temannya.
...*****...
Saat ini Allena dan ke-6 temannya sudah berada diteras depan rumah Airin. Hari ini Airin pulang kerumah karena besok dia akan mulai bersekolah kembali setelah dua minggu lama tak masuk.
Airin dan Ibunya sudah sepakat mengatur jadwal untuk menjaga Ayah Airin. Pada pagi hari sampai sore hari Ibu Airin yang akan menjaga Ayah Airin, dan malamnya Airin yang akan menjaga Ayahnya. Sebab Airin harus bersekolah.
"Lo kenapa sih Rin, nggak bilang ke kita-kita kalau Bokap lo itu masuk rumah sakit? Kenapa lo bilangnya malah lo yang sakit?". Tanya Zee yang duduk dikursi samping Airin.
"Maaf. Gue cuman pengen kalian nggak tau aja". Jawab Airin sedih.
"Kita itu teman lo Airin sahabat lo. Gue bahkan udah nganggap lo kaya saudara gue sendiri. Harusnya lo bilang dong kalau lo lagi ada masalah. Kita pasti bantu kok". Timpal Tessa disetujui oleh yang lainnya.
"Iya Rin. Kalau kaya ginikan kita berasa bukan sahabat lo yang nggak ngebantu lo sama sekali.
"Kita ada disini karena kita sayang sama lo, care sama lo. Kita mau ngebantu lo dalam hal apapun itu. Apalagi masalah lo sampai seberat ini. Kita berasa gagal loh Rin sebagai sahabat lo, dengan musibah yang lo alamin saat ini". Sambung Alvian.
"Maafin gue. Gue nggak mau nyusahin kalian. Gue sadar dengan kekurangan gue saat ini. Gue nggak mau jadi beban buat kalian". Ucap Airin yang akhirnya tangisnya pecah.
Airin sangat sedih saat ini. Dia tak menyangka teman-temannya sangat baik kepadanya. Airin hanya tak ingin menjadi beban bagi sahabat-sahabatnya. Airin merasa dengan keadaan ekonomi keluarganya dia tak pantas berteman dengan mereka yang jauh diatas dirinya.
"Berapa kali sih gue bilang sama lo Airin. Jangan jadiin patokan keadaan ekonomi lo. KIta berteman sama lo bukan karena itu. Lo itu pintar, lo juga baik. Nggak pernah jahat sama orang. Itu yang buat kita mau temenan sama lo". Ucap Tessa.
"Iya gue tau. Maafin gue". Ucap Airin masih menangis.
"Sekarang lo tenangin diri lo dulu. Terus ceritain ke kita-kita kenapa keadaan rumah sama kios lo bisa sampai hancur berantakan kaya gini". Ucap Zee sambil mengusap-usap punggung Airin menenangkan gadis itu.
__ADS_1
Mereka tentu saja ingin tahu apa penyebab musibah yang terjadi pada Airin dan juga keluarganya.