Allena And Friend'S

Allena And Friend'S
PART 41 ~ Allena and Friend's


__ADS_3

Saat ini Allena dan Brayen sedang berjalan bersama menuju kantin. Tanpa sengaja mereka berpapasan dengan Aziel dan juga Alexa yang saat itu juga ingin ke kantin.


"Apa lo lihat-lihat? Mau gue colok mata lo? Dasar cowo mesum". Tukas Alexa tiba-tiba pada Brayen sambil melototkan matanya.


"Lahh.. Nih cewek tengil kenapa dah? Siapa juga yang liatin lo. Orang gue dari tadi cuman jalan doang. PD banget lo gue liatin". Desis Brayen ketus.


"Apa lo? Sok kegantengan. Gantengan juga Aziel dari pada lo. Nggak usah sok deh lo". Cibir Alexa.


"Dihh.. Nih cewek. Ngajak ribut lo ama gue". Balas Brayen.


Sementara Brayen dan Alexa adu mulut, Allena dan Aziel saling pandang. Allena menatap datar Aziel. Begitu juga sebaliknya. Selang beberapa detik Allena mengalihkan pandangannya dan berjalan pergi dari sana meninggalkan Aziel dan juga dua orang yang sedari tadi sedang berseteru.


"Eh.. Allena tungguin gue!". Seru Brayen menyadari Allena pergi.


Brayen lalu kembali beralih pada Alexa dan menjitak kepala gadis itu. Setelah itu Brayen berlari secepat mungkin dan menyusul Allena.


"Aww aduhh..! Shh.. sakit tau bego. Dasar cowo mesum. Awas aja lo ya!". Umpat Alexa berteriak pada Brayen yang tengah berlari.


"Aduhh..! Aziel. Lo kok cuman liatin aja si Brayen ngejitak gue. Lo lakuin sesuatu kek. Apa kek. Gitu banget reaksinya. Diem doang". Celoteh Alexa.


Sedang Aziel tak berniat menjawab. Lelakit itu hanya menatap Alexa tanpa ekspresi. Selang beberapa saat Aziel kemudian beranjak dari tempatnya meninggalkan Alexa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Alexa yang melihat Aziel meninggalkannya dengan secepat mungkin pergi menyusul Aziel.


"Aziel tunggu! Kok malah ninggalin gue sih". Celoteh Alexa sambil berlari menyusul Aziel.


"Aziel tungguin". Seru Alexa lagi.


Setelah berhasil menyusul Aziel dan mendekat pada lelaki tersebut, Alexa kemudian dengan cepat meraih lengan Aziel dan mencegat Aziel.


"El.. tunggu! Gue mau ngomong sama lo". Ucap Alexa dihadapan Aziel.


"Apa?". Jawab Aziel datar.


"Gimana sih sama hubungan kita El? Gue cape sama sikap lo yang acuh kek gitu. Kaya nggak ngenganggap gue ada. Mau lo apa sih sebenarnya?". Celoteh Alexa.


"Hubungan? Emang kita ada hubungan apa?". Tanya Aziel tetap dengan tampang datarnya.


"Kok lo ngomong kaya gitu sih? Oke emang kita nggak ada hubungan pacaran atau semacamnya. Tapi lo harus ngehargain usaha gue dong". Ucap Alexa.


"Usaha gue buat bikin lo bisa suka sama gue atau cinta sama gue. Kan lo sendiri yang minta gue buat lakuin itu. Tapi lo kok malah kaya gitu reaksinya". Ketus Alexa.


"Jadi lu ngeluh gitu?". Tanya Aziel.


"Gimana gue nggak ngeluh Aziel? Lo kaya gitu nanggepinnya. Gue udah berusaha banget ngelakuin segala cara biar bisa bikin lo jatuh cinta sama gue, sayang sama gue. Tapi lo nggak ngehargain usaha gue itu. Gue cape cuman gue yang berbuat disini. Lo tetap aja kaya gitu. Diam dan acuh. Gimana mau bisa Aziel?". Ucap Alexa tak habis pikir dengan Aziel.


"Lahh.. Emang gitu kan perjanjiannya? Lu harus usaha biar gua bisa suka ama lu". Ucap Aziel.


"Karena gua yang minta, lebih baik kalau gitu kita akhiri aja semuanya. Lagian lu juga nggak bisa kan ngebuat gua suka ama lu? Rasanya percuma juga usaha lu. Gua emang nggak bakalan bisa suka ama lu". Ucap Aziel santai.


"Loh.. Nggak bisa gitu dong. Kita udah sampai ditahap ini dan lo main akhiri aja. Gue udah berusaha banget. Lo harusnya ngehargain usaha gue". Celoteh Alexa.


"Jadi lu maunya kaya gimana?". Tanya Aziel.


Alexa tak menjawab. Gadis itu tak tau harus menjawab apa. Dia tak habis pikir dengan Aziel. Padahal Alexa sudah sangat berusaha melakukan segala cara agar Aziel bisa menyukainya. Tetapi Aziel seperti benar-benar sangat tidak menghargai segala usahanya.


"Kenapa diam?". Tanya Aziel lagi.


"Hah.. udalah! Kita berhenti aja sampai disini. Lagian gua juga yang mintakan. Kalau gitu gua juga yang akhiri". Ucap Aziel lagi.


Aziel kemudian melangkahkan kakinya ingin pergi dari sana. Namun baru beberapa langkah Alexa kembali berteriak memanggilnya.

__ADS_1


"Aziel! Nggak bisa gitu dong. Lo harusnya ngehargain semua segala usaha gue". Teriak Alexa sambil berjalan cepat ke arah Aziel. Gadis itu kemudian berdiri dihadapan Aziel dan kembali mencegat Aziel.


"Apa lagi sih?". Ketus Aziel.


"Lo nggak bisa dong main akhiri semuanya. Disini gue yang merasa dirugikan kalau kaya gitu. Sia-sia dong usaha gue semuanya". Celoteh Alexa tak terima.


"Terus mau lu apa?". Tanya Aziel datar.


"Kita mulai lagi dari awal. Tapi lo juga harus gerak dong. Setidaknya lo ada inisiatif buat apa gitu". Ucap Alexa.


"Huff.. Yaudah! Kalau gitu gua kasih lu kesempatan. Tapi kalau sampai lu nggak bisa, kita berhenti. Gua nggak mau buang-buang waktu gua cuman untuk hal yang kek gini". Ucap Aziel.


"Paham lu". Ucap Aziel lagi.


Setelah berkata itu, Aziel kemudian beranjak pergi dari sana meninggalkan Alexa yang tengah berdiri diam ditempatnya.


"Gue bakalan lakuin hal segala cara biar lu bisa sama gue Aziel". Gumam Alexa tiba-tiba berkata pada diri sendiri.


"Walaupun gue harus nyingkirin si Allena itu. Karena gue yakin penyebab lo nggak mau sama gue karena cewe sok kecantikan itu. Awas aja tu cewek nanti". Desis Alexa lagi.


Alexa kemudian menarik nafas panjang mencoba meredamkan emosinya. Gadis itu kemudian melangkahkan kakinya beranjak pergi dari tempat tersebut.


Sementara dikantin Zee saat ini sedang memesan nasi goreng. Setelah pesanannya selesai Zee kemudian berjalan menuju Setya yang sedang duduk dimeja kantin yang tak jauh dari meja kasir.


Setibanya dimeja Setya, Zee kemudian meletakan nasi goreng tersebut diatas meja dihadapan Setya.


"Hai Kak Setya! Zee pesanin ini nih untuk Kak Setya. Nasi goreng. Dimakan ya Kak!". Ucap Zee sambil tersenyum.


"Apaan dah? Lo ngapain sih disini? Bawa balik sana makanan lo". Ucap Setya ketus.


"Tapi Kak... Zee kan udah pesanin ini buat Kak Setya. Kak Setya makan ya!". Ucap Zee lagi.


Zee kemudian duduk dikursi sebelah Setya dan menyendokan sedikit nasi goreng untuk Setya.


"Gue bilang gue nggak mau. Gimana sih. Lo nggak ngerti ya gue bilang apa?". Ketus Setya tiba-tiba sambil mendorong keras piring nasi goreng yang dibawah Zee sehingga nasi goreng tersebut terhambur dan mengenai badan Zee, dan piring tersebut jatuh kelantai dan pecah.


Orang-orang yang ada dalam kantin seketika berbalik dan melihat kejadian tersebut. Ada yang merasa kasihan, ada yang tidak peduli, dan ada yang merasa senang dengan apa yang dilakukan Setya pada Zee.


"Lo nggak dengar apa yang gue omongin tadi? Gue bilang bawa pergi tu nasi goreng lo. Gue nggak makan nasi goreng". Celoteh Setya tak merasa bersalah dengan apa yang dilakukannya pada Zee.


Sementara Zee, gadis itu hanya diam ditempatnya sambil menunduk karena malu. Zee ingin menangis, tapi gadis itu mencoba untuk menahan air matanya yang ingin jatuh.


"Duhh.. Setya ini kenapa? Lo nggak apa-apa kan?". Seru Hera yang tiba-tiba muncul dari arah lain dan berlari kearah Setya dan memeriksa keadaan Setya.


"Lo nggak apa-apakan? Apa yang sakit? Mana yang luka? Jangan sampe lo kena serpihan piring ituuuu... yaampun nggak mau gue". Ucap Hera dengan nada centilnya yang dibuat-buat.


"Gue nggak apa-apa. Oke. Gue nggak apa-apa. Tapi bisa nggak sih lo berhenti". Ucap Setya sambil mencoba memberhentikan Hera yang terus memeriksa keadaannya.


"Tapi kenapa bisa sampe berantakan kaya gini sih?". Tanya Hera sambil memperhatikan tempat Setya. Gadis itu kemudian melirik Zee yang masih tengah menunduk.


"Ooh... Gue tau! Pasti karena cewek ini kan? Cewek ini apain lo lagi Kak? Nih cewek bar-bar satu bener-bener ya. Lo apain lagi Kak Setya ha?". Teriak Hera dihadapan Zee. Hera kemudian memperhatikan nasi goreng dibadan Zee.


"What? Nasi goreng? Lo mau kasih makan Setya nasi goreng? Lo gila ya. Setya itu alergi sama bawang, dan udah pasti nasi goreng ini tuh ada bawangnya. Lo malah kasiin ke Setya. Kalau Setya kenapa-napa gimana? Emang lo mau tanggung jawab?". Teriak Hera lagi.


Alvian yang ada disana segera menghampiri mereka dan mendorong Hera menjauh dari Zee.


"Lo apa-apaan teriak-teriak gitu sama Zee". Ucap Alvian mendorong Hera menjauh.


"Ayang Zee lo nggak kenapa-napakan? Ayang Zee udah kotor kek gini". Ucap Alvian mendekati Zee dan membersihkan nasi goreng dibadan Zee.


"Maaf Kak Setya.. Zee nggak tau kalau Kak Setya alergi sama bawang". Ucap Zee tiba-tiba membuka suara.

__ADS_1


"Makanya kalau mau kasih orang makanan tuh cari tau dulu ada alergi apa atau nggak. Kalau Setya kenapa-napa gimana?". Timpal Hera ketus.


"Lo bisa diam nggak. Lo nggak usah ikut campur. Ngomong mulu lo dari tadi". Ucap Alvian kesal pada Hera.


"Kasih tau tu pacar lo. Jadi orang ngehargain orang sedikit. Udah bagus Zee baik kasiin dia makanan. Malah kek gitu reaksinya. Kurang ajar banget jadi orang". Celoteh Alvian.


"Eh.. salah cewek lo tuh. Udah tau gue alergi bawang. Malah kasiin nasi goreng". Ucap Setya.


"Tapi lo nggak harus berbuat ampe segininya juga kan sama Zee. Lo lihat baju dia ampe kotor. Jadi cowok kok gitu amat sama cewek". Celoteh Alvian.


"Emang dia tau kalau lo alergi sama bawang? Dia juga nggak tau kan". Sambung Alvian ketus.


"Kok malah lo yang nyolot. Nyari ribut lo ama gue". Ucap Setya marah.


"Yaudah sini ribut. Lo kira gue takut ama lo". Ucap Alvian sambil menarik kerah baju Setya.


"Yaudah ayo!". Ucap Setya membalas menarik kerah baju Alvian.


Kedua laki-laki itu pun saling menarik kerah baju satu sama lain. Zee yang melihat itu segera berusaha ingin melerai mereka.


"Udah jangan pada berantem". Ucap Zee melerai.


Anak-anak yang ada dikantin mereka semua seketika mengalihkan pandangan dan melihat apa yang sedang terjadi.


"Udah jangan berantem. Alvian udah! Kita pergi aja dari sini". Lerai Zee menarik tangan Alvian dan melepaskan cengkraman tangan Alvian dikerah baju Setya.


Alvian kemudian melihat Zee dan segara melepaskan cengkramannya. Alvian tidak ingin kejadian seperti waktu itu terjadi lagi.


Dia tidak ingin Zee terkena pukulan dari Setya ataupun dirinya. Alvian kemudian melepaskan cengkramannya. Begitu juga sebaliknya Setya melepaskan cengkramannya pada Alvian.


"Alvian udah! Kita pergi aja dari sini. Nggak usah ribut lagi". Ucap Zee mengenggam lengan Alvian.


Zee kemudian menarik lengan Alvian dan mereka berdua berlalu pergi dari tempat tersebut.


"Pergi sana husshh...! Dasar cewek bar-bar". Usir Hera.


Hera kemudian beralih ke arah Setya yang tengah memandang Zee dan Alvian yang pergi. Hera kemudian menghampiri Setya.


"Setya lo nggak apa-apakan. Lo jadi kucel kek ginikan aduhh...! Sok banget dah si Alvian". Ucap Hera dihadapan Setya.


"Aagghh... Udahlah!". Umpat Setya beranjak pergi dari sana dalam keadaan emosi.


"Aahh... Setya lo mau kemana? Jangan tinggalin gue!". Seru Hera melihat Setya tidak menggubrisnya.


"Isshh... Setya!". Desis Hera sambil menghentak kakinya.


Gadis itu kemudian duduk dikursi sambil memasang tampang cemberutnya.


Sementara Zee dan Alvian mereka sedang menuju mini market yang terdapat di sekolah itu. Mereka kemudian masuk ke dalam.


"Lo udah lihatkan Zee apa yang dilakuin Setya sama lo. Dia nggak bakal ngehargain lo. Dia dengan kasarnya ngebuang makanan yang bahkan lo udah bawain buat dia kebadan lo. Dan itu didepan anak-anak lain. Mereka semua lihat kejadian itu". Ucap Alvian membuka suara.


"Terus lo mau bilang lo masih suka ama Setya?". Tanya Alvian.


"Kita nggak usah bahas itu. Mending lo bantu gue buat cariin baju yang pas buat gue ganti nih seragam". Ucap Zee sambil mencoba mencari seragam baru.


"Kalau sampe lo masih suka ama Setya. Nggak habis pikir gue ama jalan pikiran lo". Ucap Alvian lagi.


"Alvian gue kan udah bilang jangan bahas itu lagi, bantuin gue cariin seragam baru aja. Kalau lo nggak mau yaudah lo bisa pergi dari sini". Ucap Zee.


"Iya iya gue bantuin. Untung sayang kalau nggak mana mau gue". Ucap Alvian.

__ADS_1


Zee yang mendengar itu tak menggubris. Dia hanya menggelengkan kepalanya dengan tetap sambil mencari seragam barunya, dan Alvian membantu Zee mencari seragam untuk Zee.


__ADS_2