
Hari-hari berlalu. Saat ini di SMA Nasional tengah dalam pelaksanaan hari akhir UAS(Ulangan Akhir Semester). Murid-murid tengah dalam keadaan serius-seriusnya dalam mengerjakan soal yang diberikan.
Sekitar pukul 10.35 WIB semua murid SMA Nasional telah selesai mengerjakan soal UAS. Anak-anak mulai berhamburan keluar kelas dan menuju parkiran mengambil kendaraan masing-masing.
Saat ini ke-7 teman yang terdiri dari Allena, Zee, Airin, Tessa dan juga Alvian, Gamma, serta Manaf, mereka sedang bersama masih berada dalam kelas mereka.
"Eh guys.. kita nongki yuk entar malem. Hari ini kan hari terakhir UAS ya. Kita jalan-jalan refreshing gitu, melepas penat setelah berhari-hari kita ngerjain soal UAS yang bikin otak gue membludak saking susahnya". Ucap Zee membuka obrolan.
"Apalagi soal matematika sama fisika tuh yaampun rasanya mau meledak kepala gue. Lihat soalnya aja gue udah pusing. Salah pilih jurusan nih gue kayanya". Sambung Zee.
"Untung ada Airin yang ngebantuin gue. Iya nggak Airin. Makasih ya.. lo emang pinter sih. Hebat!". Puji Zee sambil memeluk Airin.
"Iya sama-sama". Balas Airin dengan memeluk Zee.
"Bukan salah pilih jurusan. Tapi emang otak lo yang gesrek. Mikirin Setya mulu sih lo". Timpal Gamma.
"Yee.. Suka-suka gue dong. Emang masalah buat elo?". Balas Zee.
"Halahh.. Terserah lu lah. Makan tu si Setya". Cibir Gamma.
Zee tidak menjawab. Gadis itu hanya menjulurkan lidahnya sambil membulatkan matanya dan menjulingkannya pada Gamma. Gadis itu mengejek Gamma.
"Udah nggak usah berantem". Lerai Tessa.
"Jadi gimana nih? Kita nongki juga nggak entar malam?". Tanya Tessa pada mereka semua.
"Kalau gue sih ikut. Nanti gue jemput lo ya Airin?". Tanya Manaf pada Airin.
"Duhh.. Gimana ya? Gue kayaknya...". Ucap Airin terputus.
"Tenang aja Airin gua yang bayarin. Gua ikut kok, jadi lu juga harus ikut". Timpal Allena seketika.
"H-hah.. nggak usah Len gue nanti...". Ucap Airin kembali terputus.
"Udah lu tenang aja". Ucap Allena lagi dengan santainya.
Airin seketika tiba-tiba menunduk dan menangis. Zee yang melihat itu langsung saja menghampiri Airin dan kembali memeluk Airin.
"Loh Airin.. kok lo malah nangis. Kenapa?". Tanya Zee.
"Gue ngerasa cuman gue disini yang nyusahin kalian. Kalian udah banyak ngeluarin uang cuman buat ajak gue jalan atau nraktir gue. Sementara gue nggak pernah ngelakuin sesuatu hal buat kalian". Jawab Airin.
"Kayaknya gue emang nggak cocok dan nggak pantes buat jadi teman kalian atau sekedar deket sama kalian. Gue bakalan terus jadi beban buat kalian semua". Sambung Airin.
"Airin lo nggak boleh ngomong kaya gitu. Lingkaran pertemanan itu nggak bisa diukur cuman dengan uang. Ya emang sih kita butuh duit. Tapi nggak harus semuanya tentang uang". Timpal Gamma.
"Nih contohnya aja, Zee minta bantuan sama lo buat ngerjain soal UAS nya. Berarti kita itu nggak hanya butuh duit tapi otak cerdas juga". Ucap Gamma lagi seperti menyinggung.
"Maksud lo apaan ngomong kek gitu. Maksud lo gue nggak cerdas gitu?". Tukas Zee tak terima.
"Gue nggak ada ngomong lo nggak cerdas loh yaa. Lo aja sendiri yang berpikiran kek gitu". Ucap Gamma santai.
"Wehh... Gue tabok juga lo". Ucap Zee dengan gaya ingin menabok.
"Udah udah.. Kalian ini berantem terus dari tadi. Nggak cape apa kalian ngomong mulu". Timpal Tessa.
Tessa kemudian menghampiri Airin dan memeluk gadis tersebut.
"Airin gue emang belum lama deket ama lo dan juga sama yang lainnya. Tapi gue tau lo itu orangnya baik dan juga lo itu pintar. Buat masuk sekolah ini tuh susah untuk keluarga yang keterbelakangannya emang biasa aja. Tapi karena lo itu pintar lo bisa masuk ke sekolah ini. Sementara gue, gue cuman bisa pake uang biar bisa masuk ke sekolah ini. Dan itu kelebihan lo yang nggak ada di gue". Ucap Tessa panjang lebar.
"Jadi lo nggak boleh ngerasa kalau lo itu hanya jadi beban di pertemanan kita ini". Ucap Tessa lagi sambil melepaskan pelukannya pada Airin.
"Lo harus bangga sama diri lo sendiri. Lo nggak boleh nganggap diri lo itu cuman jadi beban buat orang lain. Lo nggak tau apa kalau gue tu iri banget sama lo yang pintar kek gini. Lo malah ngerasa nggak pantas jadi teman kita. Gue nangis nih". Ucap Tessa dengan ekspresi sedih yang dibuat-buat.
Airin kemudian berhenti menangis. Dia sangat merasa bersyukur mempunyai teman seperti mereka. Awalnya Airin selalu merasa bahwa orang kaya dan terpandang seperti mereka tidak akan mau berteman ataupun sekedar dekat dengan orang seperti dirinya.
Tetapi ternyata dia salah. Masih ada orang-orang baik seperti mereka yang saat ini sudah menjadi temannya bahkan sudah menganggap mereka keluarga. Airin berjanji suatu saat dia akan membalas semua perbuatan baik mereka pada dirinya.
Allena yang tadi masih duduk dikursinya tiba-tiba berdiri dan menghampiri Airin. Gadis itu pun langsung memeluk Airin.
"Lu jangan nangis. Lu adalah teman pertama yang paling gua sayangin". Gumam Allena disela-sela dia memeluk Airin.
"Iya Allena. Makasih". Ucap Airin membalas pelukan Allena.
__ADS_1
Allena lalu mengelus-elus punggung Airin lembut sambil mengangguk-anggukan kepalanya perlahan.
Zee yang melihat itu seketika bergegas menghampiri mereka dan ikut berpelukan bersama mereka disusul Tessa.
"Huu... Yaampun gue kok jadi pengen ikutan nangis sih". Ucap Zee sambil memeluk mereka.
"Gue juga. Jangan nangis dong. Kok jadi sedih kaya gini sih". Timpal Tessa.
Mereka ber-4 kemudian saling berpelukan bersama. Pelukan sahabat.
Alvian yang melihat itu seketika mendekat pada Manaf dan memeluk erat Manaf.
"Gue jugaaa... Gue pengen ikutan pelukan". Sarkas Alvian tiba-tiba dengan nada manja yang dibuat-buat sambil memeluk Manaf dan menggoyang-goyangkan tubuh Manaf.
"Wueekk... Ini apaan sih? Alvian lepasin nggak. Jijik gue tau lo meluk-meluk gue kaya gini". Desis Manaf merasa jijay dengan Alvian yang memeluknya.
Gamma yang melihat itu langsung saja mendekat pada kedua lelaki tersebut dan ikut saling berpelukan.
"Waa... Gue mau ikutan jugaaa...! Masa kalian nggak ngajak gue sih".Timpal Gamma disela-sela mereka berpelukan.
"Woyy... Kalian berdua ngapain sih? Lepasin aduh..! Jijik gue tau nggak". Ucap Manaf berusaha melepaskan pelukan kedua temannya itu.
"Ayolah Manaf.. Kita pelukan juga. Lo mau kemana sih?". Sarkas Alvian sambil terus memeluk Manaf yang mencoba melepaskan diri.
"Wuekk... Kalian berdua jangan kek ginilah! Biasa aja yaelahh...!". Ucap Manaf tak tahan dengan kelakuan kedua temannya tersebut.
Mereka semua kemudian saling berpelukan satu sama lain. Mereka saling berpelukan sahabat.
Malam Hari Pukul 20.15 WIB
Saat ini Allena dan ke-6 temannya mereka sedang berkumpul di restoran milik Brayen. Mereka tengah berkumpul bersama dan saling mengobrol bersama.
"Halo semuanya! Kalian disini? Ngapain nih rame-rame? Ada acara apa? Gue boleh gabung nggak?". Seru Brayen tiba-tiba yang muncul dari arah lain.
"Eh.. Kak Brayen! Kak Brayen kok bisa ada disini? Sini Kak sini!". Balas Zee pada Brayen.
Brayen kemudian ikut bergabung bersama mereka dan duduk disebelah Allena.
"Kak Brayen kenapa bisa ada disini? Kak Brayen datang sama siapa?". Tanya Zee.
"Terus Kak Brayen ngapain disini?". Tanya Zee lagi.
"Ya mau makanlah Zee. Emangnya mau ngapain lagi kalau di restoran? Mau olahraga? Lo nih ada-ada aja pertanyaannya". Timpal Tessa.
"Yaa.. siapa taukan ada yang mau diketemuin. Iya nggak Kak Brayen?". Sarkas Zee memandang Brayen sambil menaik turunkan alisnya.
Brayen tidak menjawab. Lelaki itu hanya mendengus tersenyum.
"Kalian udah makan?". Tanya Brayen tiba-tiba.
"Belum Kak! Ini kita mau pesan". Jawab Tessa.
"Umm.. Yaudah! Tunggu ya". Ucap Brayen.
Brayen kemudian memanggil salah satu pelayan restoran yang ada disana. Tidak berapa lama pelayan tersebut datang dan menghampiri mereka semua.
"Selamat malam Tuan Muda! Ada yang bisa saya bantu? Mau pesan apa?". Ucap pelayan tersebut.
"Teman-teman saya mau makan. Tolong di layani dengan baik". Ucap Brayen lugas.
"Oh iya. Baik Tuan Muda saya mengerti. Kalau begitu Kakak-kakak sekalian mau pesan apa?". Ucap pelayan tersebut.
"Kalian mau pesan apa? Sebut aja". Ucap Brayen kepada mereka semua.
"Wahh.. Beneran nih Kak? Kak Brayen mau traktir kita semua emang?". Tanya Zee girang.
"Iya. Kalian pesan aja yang mau kalian makan". Jawab Brayen.
"Oke dehh.. Kalau gitu". Ucap Zee dengan girangnya.
Pelayan restoran tadi pun langsung memberikan buku menu kepada mereka. Mereka semua lalu memesan makanan yang mereka inginkan. Setelah selesai pelayan itu pun berlalu pergi dari sana ingin mengambil pesanan mereka semua.
Selama pelayan tadi pergi, mereka lanjut mengobrol.
__ADS_1
"Wahh.. Kak Brayen baik deh. Makasih ya Kak udah mau traktir kita semua". Ucap Tessa.
"Kan restoran ini punya dia". Ucap Allena tiba-tiba.
Mereka semua yang mendengar itu seketika kaget dengan perkataan Allena. Mereka lalu memandangi Brayen dengan tampang kaget mereka.
"Ha? Punya dia? Maksudnya restoran ini punya Kak Brayen?". Tanya Tessa kaget.
"Iya". Jawab Allena santai.
"Hoho... Yang bener Bro? Restoran ini punya lo?". Tanya Alvian tak percaya.
"Iya. Kenapa?". Tanya Brayen.
"Widihh... Hebat juga lo. Kakak kelas kita ini emang serba bisa ya. Salut gue". Puji Gamma ikut menimpali.
"Yaelahh.. Biasa aja kali. Tapi makasih loh atas pujiannya. Gue bisa terbang nih lama-lama". Sarkas Brayen cengengesan.
"Tapi beneran loh. Nggak nyangka gue. Selama ini gue sering datang makan kesini kalau lagi jalan-jalan. Ternyata yang punya nih restoran elo. Kalau gitu gue minta digratisin aja dari dulu". Timpal Manaf.
"Gratis mulu lo. Nggak punya duit lo?". Tanya Gamma heran.
"Yaa.. nggak juga sih. Maksudnya kan biar pengeluarannya dikit gitu. Hehe!". Sarkas Manaf.
"Yee.. Yang bener aja lo". Ucap Gamma.
"Eh.. Tapi Allena kok lo bisa tau restoran ini punya Kak Brayen?". Tanya Airin pada Allena tiba-tiba.
"Dia pernah bawa gua kesini". Jawab Allena santai.
"Yang bener. Kenapa? Kalian lagi ada sesuatu yaa...! Cie cie Allena sama Kak Brayen. Ada apa nih?". Ucap Zee curiga.
"Dih.. Nggak ada. Kita cuman makan aja". Jawab Allena.
"Yang bener nih! Nggak ada yang kalian berdua sembunyiin kan dari kita". Ucap Zee lagi.
"Beneran kok apa yang dibilang sama Allena. Gue cuman ajak dia makan aja". Timpal Brayen.
"Oohh... Yaudah kalau gitu. Kirain kan". Ucap Zee masi dengan ekspresi curiganya.
Tidak berapa lama beberapa pelayan datang menghampiri tempat mereka sambil membawa semua pesanan mereka. Semua pelayan tersebut lalu meletakan pesanan mereka semua diatas meja.
"Umm.. Yaudah! Kalau gitu gue ke dalam dulu. Ada yang mau gue urus soalnya. Kalian makan aja dulu". Ucap Brayen tiba-tiba sambil berdiri dari duduknya.
"Gue duluan ya. Kalian makan". Ucap Brayen lagi kemudian berjalan pergi dari sana diikuti para pelayan tadi.
Sementara mereka semua mulai mengambil pesanan mereka dan mulai makan dengan nikmat diiringi dengan obrolan-obrolan kecil.
"Oh iya gue mau nanya ke kalian semua. Liburan ini kalian mau ke mana?". Tanya Zee seketika.
"Kalau gue sih nggak kemana-mana. Gue cuman mau bantuin Ibu buat bikin kue sama jual kue". Jawab Airin.
"Oohh.. gitu. Kalau gue sih bakalan ke Jepang. Orang tua gue suruh gue buat kesana soalnya". Ucap Zee.
"Jauh banget lo liburannya Zee. Gue jadi nggak lihat lo dong untuk sementara ini". Timpal Alvian dengan ekspresi sedih yang dibuat-buat.
"Yaelahh.. Lo ngomong kaya gue nggak bakal balik lagi. Kan cuman selama liburan doang. Kenapa emangnya? Bakalan kangen lo ama gue?". Tanya Zee.
"Yaiyalah... Kan lo Ayang Zee nya gue. Bakalan kangenlah gue". Ucap Alvian.
"Apa... gue ikut lo aja ke Jepang?". Ucap Alvian lagi.
"Lah.. lo mau ngapain?". Tanya Zee kaget.
"Ya ikut lo lah. Nggak mau gue jauh-jauh sama Ayang Zee". Ucap Alvian.
"Dih.. Ada-ada aja lo". Ucap Zee sambil menggelengkan kepalanya.
"Kalau gue sih kayaknya bakalan ke Singapura. Mau belajar bisnis Ayah gue dulu yang ada disana". Timpal Gamma.
"Lahh.. Lo mau balik Gam? Masa lo ninggalin gue, sahabat lo sih". Ucap Manaf dengan tampang ekspresi sedih.
"Yaelahh.. Lo kalau mau kan bisa datang aja. Nggak usah sok masang tampang ekspresi sedih kek gitu. Gue juga nggak bakalan pergi selamanya kali. Orang cuman selama libur doang juga". Jelas Gamma.
__ADS_1
"Gue sih bakalan ikut Gamma ke Singapura. Iya nggak Gam?". Timpal Tessa sambil menaikan alisnya memandangi Gamma.
Zee yang mendengar itu seketika berbalik memandangi Gamma dan juga Tessa. Ada perasaan aneh yang dirasakannya kepada dua orang tersebut. Selama ini dia bertanya-tanya ada hubungan apa sebenarnya antara Gamma dan Tessa.