
Setelah mereka makan, kini Aziel mengajak Allena kesuatu tempat.
Saat ini mereka berhenti tepat didepan gerbang suatu rumah berlantai dua yang terlihat minimalis.
Letaknya tidak cukup jauh dari pusat kota. Tapi hanya ada beberapa rumah di lingkungan tersebut. Tidak begitu sepi karena rumah tersebut berada didepan jalan. Sehingga masih ada beberapa kendaraan yang berlalu lalang disana.
"Kita ngapain disini?". Tanya Allena dengan perasaan was-was.
"Jangan macam-macam lu ya ama gua". Allena menatap tajam kearah Aziel. Ada perasaan tak enak saat pria itu membawanya kesana.
"Jangan neting lu ama gua. Gua juga nggak bakalan ngapa-ngapain lu kok. Yaa.. itupun kalau lu yang minta sendiri". Goda Aziel.
"Eh maksud lu apa? Lu kira gua cewe apaan?". Allena tentu saja keberatan dengan perkataan Aziel.
Aziel hanya berdengus lucu. Pria itu kemudian menarik lengan Allena untuk ikut dengannya, "Udah nggak usah bawel, lu ikut gua aja. Gua nggak bakalan ngelakuin hal-hal aneh ke lu". Aziel kemudian membawa Allena masuk kedalam.
Allena menautkan alisnya ketika melihat banyaknya motor terpakir dihalaman depan rumah tersebut.
Ketika Allena masuk kedalam rumah tersebut, Allena dikejutkan dengan banyaknya laki-laki disana.
Mereka terlihat memakai jaket yang sama dengan melakukan berbagai aktifitas. Disisi lain ruangan ada yang bermain billiard, disisi ruangan lainnya ada yang bermain PS, ada yang bermain game dengan menggunakan ponsel dan ada juga yang sedang bersantai atau tidur disofa yang ada di ruangan itu.
Disana juga ada beberapa anak yang berasal dari sekolah lain. Sepertinya mereka itu adalah sekumpulan anak-anak geng motor bisa dibilang.
"Widihh.. Bos, siapa nih? Cantik bener. Gurih". Ucap salah satu cowok yang ada disana.
"Hai Neng cantik, kenalin Aa Gabriel". Sambung cowok itu lagi yang bernama Gabriel menggoda Allena.
"Woyy Gab, jangan berani lo ganggu tuh cewek. Entar di smakedown lagi lo ama pawangnya". Tiba-tiba dari arah lain muncul Setya tanpa menggunakan atasan dan hanya memakai celana santainya sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
Ternyata yang dilihat Allena tadi adalah mobil Aziel yang dipakai oleh Setya dan membawanya kesini. Pantas gadis itu tak asing saat melihat mobil itu ada di halaman rumah.
"Eh, maksudnya nih cewe, cewenya Bos?". Gabriel memandang Aziel dan Allena bergantian.
"Terus yang kemarin itu siapa?". Sambung Gabriel lagi yang langsung membuat Allena terlihat sedikit menautkan alisnya.
"Ikut gua". Aziel tiba-tiba meraih tangan Allena dan langsung menariknya untuk ikut dengannya.
Aziel membawa Allena menuju tangga untuk naik ke lantai dua.
Mereka kemudian menuju kamar yang ada di lantai dua rumah tersebut.
"Ngapain kita disini?". Tanya Allena saat mereka berdua sudah berada dalam kamar.
"Gua mau lu gantiin perban gua". Jawab Aziel sembari mengambil kotak P3K dalam lemari yang ada di kamar itu.
"Oh jadi maksud lu, lu bawa gua kesini buat jadiin gua babu gitu". Allena bertanya sambil memandang Aziel sensi.
"Kalau lu nganggepnya kaya gitu, ya terserah". Ucap Aziel santai, lalu menghampiri Allena yang duduk disofa.
"Dih nyebelin banget sih lu". Ucap Allena dengan ketusnya.
"Syuutt". Aziel menempelkan jarinya dibibir Allena. "Kalau lu nggak berhenti ngomong, gua cium lu sekarang. Kebetulan suasananya lagi mendukung". Ancam Aziel dengan menatap Allena.
Aziel kemudian menjauh dari Allena lalu membuka bajunya memperlihatkan area badannya yang diperban, "Sekarang mending lu ganti perban gua, nggak usah banyak omong". Sambungnya lagi, lalu berbalik membelakangi Allena.
Allena kemudian hanya menghela nafas berat sambil menatap Aziel yang membelakangi dirinya. Gadis itu lalu mulai membuka perlahan perban dibadan Aziel.
Allena seperti biasa akan membersihkan terlebih dahulu luka Aziel lalu memberikan obat sesuai resep dokter. Kemudian Allena mulai memperban luka tersebut dengan telaten dan rapi.
"Len". Desis Aziel saat Allena sudah berada dihadapannya dan tengah merapikan perban diperutnya.
Oouhh.. Bagaimana bisa Aziel menahan sentuhan Allena yang sedari tadi seperti membelai dirinya. Sekujur tubuhnya meremang saat Allena menyentuh punggung dan perut sixpaknya.
Saat Allena mendongakan kepalanya, Aziel langsung saja meraih wajah Allena mendekatkannya kearahnya lalu mencium bibir Allena sekilas.
Aziel kemudian menjauhkan wajahnya tanpa melepaskan tangkupannya.
Manik mata mereka bertemu dan saling pandang dalam diam. Mereka bahkan dapat merasakan hembusan nafas mereka yang saling beradu.
Selang beberapa detik kemudian Aziel berdiri dari duduknya diikuti oleh Allena yang ikut berdiri dihadapan Aziel, lalu berjinjit dan langsung mengalungkan tangannya dileher Aziel. Sementara Aziel meraih pinggang Allena kearahnya dan memeluknya.
Kedua orang itu kembali mempertemukan bibir mereka masing-masing dan saling melu*mat satu sama lain.
__ADS_1
Allena semakin mengeratkan kalungannya dileher Aziel, begitupun sebaliknya Aziel semakin mengeratkan pelukannya dan semakin menekan tubuh Allena kearahnya.
Keduanya terus saling menyesap tak membiarkan terlepas.
Tanpa menghentikan luma*tannya, Aziel mendorong Allena hingga berjalan mundur sampai dekat dengan ranjangnya yang ada disana, dan langsung membaringkan wanita itu keatas ranjangnya.
Aziel kemudian menindih Allena dan kembali memagut bibir Allena intens. Sementara Allena terlihat membalas pagutan Aziel, dan saling membelitkan lidah satu sama lain menyusuri bibir masing-masing.
"Ungghh... El..hh uddahh...nghh...". Allena melenguh saat bibir Aziel sudah berada dilehernya dan menciuminya dengan lembut.
Allena merasakan hawa panas ditubuhnya dan juga terasa meremang saat Aziel terus mencumbu lehernya.
"Uddahh Ellhh.. Jangan disitukhh". Allena tak kuasa menahan sentuhan Aziel diarea lehernya, apalagi Aziel menciumi lehernya dengan tangannya yang satunya meremas pelan pinggangnya dengan lembut.
Aziel kemudian berhenti melakukan aktifitasnya saat Allena memohonnya untuk berhenti.
Dipandanginya wajah cantik Allena yang terlihat sayu. Dadanya naik turun menghirup oksigen yang dibutuhkannya saat ini.
"Udah ya, gua nggak tahan". Desis Allena membalas tatapan Aziel padanya. Manik mata mereka bertemu.
Gadis itu masih berada dibawah Aziel dengan wajah sayunya. Siapapun yang melihat tampang Allena saat ini pasti akan sangat tergoda sekaligus terangsang. Termasuk Aziel yang saat ini memandangi Allena dengan senyum smirk khas dirinya.
Aziel kemudian menggeleng dan kembali memagut bibir Allena dan melu*matnya dengan begitu nafsu.
Sementara Allena berusaha mengarahkan tangannya kearah punggung Aziel dan langsung menekan kuat punggung Aziel yang terdapat luka disana.
"Akkhh". Aziel meringis dan langsung bangun dari atas tubuh Allena yang ditindihnya.
"Lu apa-apaan sih Len? Sakit nih". Ringis Aziel saat merasakan sakit dilukanya.
"Lu tuh yang apa-apaan. Orang minta udahan juga, malah dilanjutin terus. Rasainkan tuh". Balas Allena.
"Ya namanya juga ketagihan Len, masa itu lu nggak ngerti". Aziel meraba-raba area pinggangnya, "Duhh.. sakitnya". Desis Aziel kesakitan.
Allena kemudian beranjak dan menghampiri Aziel, " Makanya udahan biar lu nggak ketagihan, gitu aja nggak bisa". Cibir Allena lalu memberikan baju Aziel yang diambilnya tadi, "Yaudah pake bajunya, terus kita ke bawah. Banyak setannya disini". Ucap Allena.
"Emang lu kata kuburan". Ucap Aziel sembari memakai bajunya.
Saat menuruni tangga kedua orang itu disambut dengan Gabriel yang menunggu dibawah dengan gaya tengilnya.
"Jadi bener ini cewenya Bos? Terus yang kemarin-kemarinnya itu siapa Bos?". Tanya anak buah Aziel yang kebanyakan gaya itu.
"Eh Gab, sekali lagi lu ngomong, gua tampol beneran lu. Banyak nanya lu dari tadi". Tegur Aziel pada anak buahnya itu.
"Ya sorry Bos, namanya juga pengen tau. Lagian Bos kita ini playboy ternyata". Celetuk Gabriel.
Sementara Aziel, pria itu hanya menarik nafas dalam mendengar omongan anak buahnya yang sotoi itu.
Aziel kemudian melirik kearah Allena yang sedari tadi hanya diam disampingnya dan saat ini mulai berjalan menuju kearah meja billiard yang terdapat beberapa anak buah lainnya yang tengah bermain.
Allena terlihat mengambil satu tongkat disamping meja dan mulai mengambil tempat disisi lain meja.
Mereka yang ada disana mulai menyingkir memberikan tempat untuk Allena. Mereka ingin tau seberapa bisanya Allena dalam bermain billiard, yang kita ketahui sendiri permainan billard adalah salah satu jenis permainan yang terbilang tidak gampang untuk menyelesaikannya.
Allena mulai bermain dan... Ya! Satu bola berhasil didapatkan oleh Allena.
Mereka yang ada disana terlihat serius memperhatikan Allena yang seorang diri bermain billiard dengan teknik yang sangat bagus. Allena bahkan dapat memasukan bola yang posisinya terbilang susah untuk didapatkan. Akan tetapi Allena bisa menyelesaikan itu. Sepertinya Allena sedang hoki saat ini😂
Sementara Aziel terlihat tersenyum smirk khas dirinya ketika melihat Allena yang begitu pandai dalam bermain billard. Gadis itu sekali lagi membuatnya terkejut dengan bakat yang dimilikinya.
Setya saja yang melihat itu sampai memuji Allena karena teknik permainan yang dimiliki oleh Allena.
"Widihh.. El, ngeri juga tuh si cewek datar.. ckckck..". Ucap Setya yang berdiri disamping Aziel sembari berdecak kagum melihat Allena.
Aziel kemudian mulai melangkahkan kakinya menghampiri Allena dan berdiri disamping gadis itu, membuat Allena mendongak kearah Aziel.
Aziel kemudian dengan beraninya menarik pinggang Allena kearahnya lalu sedikit berjongkok mencium pipi Allena lembut, membuat Allena memejamkan matanya merasakan bibir Aziel yang tertempel dipipinya. Kedua orang itu sama sekali tak mempedulikan orang-orang yang ada disana dan tengah memperhatikan mereka.
"Cewe gua nih". Ucap Aziel sembari melihat anak buahnya yang ada disana satu persatu.
Allena hanya menatap tanpa ekspresi kearah Aziel saat pria itu selesai menciumnya.
__ADS_1
"Siapa perempuan yang pernah kesini, El?". Tanya Allena tiba-tiba pada Aziel. Gadis itu menatap datar kearah Aziel yang masih memeluk pinggangnya.
"Hmm?". Aziel menautkan alisnya mendengar pertanyaan Allena. Pria itu kemudian menoleh kearah Allena, "Oh itu, si Alexa. Iya Alexa pernah kesini waktu itu". Jawab Aziel.
Allena seketika memicingkan matanya mendengar jawaban Aziel, "Kenapa? Ngapain dia disini?". Tanya Allena menatap serius Aziel.
Aziel menarik sudut bibirnya sambil menatap mata hazel cantik itu, "Why Baby? Cemburu?". Tanya Aziel.
Tiba-tiba salah satu yang ada disana ikut menyela, "Cemburulah dia itu Bos". Ucap pria itu yang membuat Aziel menoleh kearahnya.
Aziel kemudian kembali menoleh kearah Allena sambil menaikan alisnya dan juga senyum smirk khas dirinya.
Allena memandang Aziel, sedetik kemudian gadis itu menggeleng.
Aziel berdengus lucu sekaligus tertawa, pria itu langsung merengkuh tubuh Allena kepelukannya, "Haha nggak usah cemburu, gua sama Alexa nggak ada hubungan apapun". Ucap Aziel disela-sela dia memeluk Allena dan mengusap-usap punggung gadis itu.
"Bisa lu nggak sebut nama cewe itu!". Ucap Allena sambil membiarkan Aziel yang terus memeluknya.
"Ahaha.. oke oke gua nggak sebut nama tuh cewe. Cemburuan banget lu". Aziel terus tertawa mendengar ucapan Allena yang terkesan seperti seseorang sedang cemburu terhadap kekasihnya.
"Bos!! Bisa geser dikit kesana? Pelukannya disana aja Bos, kita masih mau lanjut main". Ucap salah satu yang ada disana.
Aziel melirik kearah anak buahnya itu. Untung Aziel lagi senang karena ada Allena. Kalau tidak, sudah kena tampol tuh anak buah. Berani sekali dia memerintah Aziel.
Aziel kemudian mundur kebelakang masih dengan tetap memeluk Allena membawa gadis itu bersamanya.
"Nggak usah cemburu, gua nggak ada apa-apa kok sama dia. Waktu itu dia ngikutin gua ampe kesini. Makanya tadi Gabriel ngomongin tuh cewe". Ucap Aziel yang sudah melepaskan pelukannya dan beralih menangkup wajah Allena memandang gadis itu dengan intens.
Allena mendelik, "Siapa yang cemburu? Orang gua biasa aja. Kegeeran banget lu jadi orang". Elak Allena.
Aziel hanya tersenyum mendengar jawaban Allena.
"Kenapa? Emang gua salah?". Ucap Allena.
"Kalau bukan disini, udah gua cium lu dari tadi. Ngelak terus jawabannya". Ucap Aziel gemas.
"Ngelak gimana? Orang emang gitu kenyataanya kok. Lu nya aja yang kepedean. Pengen banget gua cemburuin perasaan". Balas Allena.
"Jadi lu nggak cemburu nih?". Tanya Aziel.
"Iyalah ngapain?". Jawab Allena.
"Yang bener? Jadi boleh nih gua deket-deket ama cewe manapun?". Pancing Aziel. Dia ingin tahu jawaban Allena.
"Ya terserah. Itu kan urusan lu mau deket sama cewe manapun juga, nggak ada hubungannya juga kan ama gua". Ucap Allena.
"Oh jadi boleh nih gua ajak cewe manapun kesini, termasuk Alexa". Aziel semakin sengaja memancing Allena.
Sebenarnya pria itu masih bingung antara hubungannya dan Allena.
Sedari dulu Allena terlihat seperti biasa saja terhadap dirinya. Mereka mungkin memang sudah beberapa kali saling merasakan bibir satu sama lain. Tapi Allena seperti hanya menerimanya dan menganggap itu angin lalu setelah mereka melakukannya.
Sebenarnya Aziel juga masih bingung dengan perasaannya. Dia memang belum mengungkapkan perasaannya secara terang-terangan terhadap Allena.
Aziel tidak tahu apakah dia memang menyukai Allena atau hanya karena nafsu belaka seperti yang dikatakan oleh gadis itu sendiri.
Akan tetapi Aziel semakin tak menentu perasaannya karena Allena begitu menerima saja perlakuan Aziel terhadap dirinya.
Allena mau saja dipeluk atau dicium olehnya pada waktu-waktu tertentu. Hal itu membuat Aziel semakin bimbang.
Akan tetapi, Aziel juga tak menyukai jika Allena terlihat begitu dekat dengan pria manapun. Hal itu membuatnya emosi setiap kali dia melihatnya.
Oh Aziel kau memang-memang sangat plin-plan ya orangnya. Kalau suka ya suka, kalau cinta ya cinta. Susah amat ngungkapin perasaan doang.
"Terserah lu. Suka-suka lu mau bawa siapa kesini. Gua nggak peduli". Jawab Allena kemudian.
Aziel manggut-manggut mendengar jawaban Allena, "Ohh... gitu. Oke oke". Aziel kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan Allena menuju sofa yang ada dibelakang Allena dan duduk disana dengan santainya.
"Dih nggak jelas". Gumam Allena memandang Aziel yang juga memandanginya tanpa ekspresi. Seperti ada yang dipikirkan oleh pria itu.
Allena kemudian menghampiri Aziel, "Ya udah gua mau pulang. Mana sini kunci mobil gua". Ucap Allena dengan sambil menengadahkan tangannya dihadapan Aziel.
Aziel memperhatikan Allena sebentar. Pria itu kemudian meraih tangan Allena yang ada dihadapannya itu.
__ADS_1
"Gua antar". Ucap Aziel seketika.