
Sehabis dari ruangan Kepala Sekolah, Allena langsung menuju kelasnya.
Pelajaran pertama sudah dimulai sekitar setengah jam yang lalu. Dan yang mengajar di kelas 11 IPA 1 saat ini adalah Pak Hamzah.
Pak Hamzah yang melihat Allena muncul di ambang pintu langsung menyuruhhnya masuk.
"Bagaimana Allena? Apa yang dikatakan Kepala Sekolah tadi kepada kamu?". Tanya Pak Hamzah ketika Allena mulai berjalan masuk ke dalam kelas.
"Bukan urusan Bapak!". Sahut Allena datar sambil tetap berjalan menuju kursinya.
Mendengar sahutan Allena, Pak Hamzah hanya bisa menggelengkan kepalanya. Pak Hamzah cukup tau bagaimana sifat dan sikap muridnya yang satu itu. Semua guru pun tau seperti apa Allena.
Sementara yang ada di kelas itu tak berani hanya sekedar untuk menegur Allena. Mereka cukup tau dan memaklumi akan Allena yang mempunyai sifat dan sikap seperti itu. Lagi pula mereka juga tak berani jika terhadap Allena. Apalagi melihat Allena saat ini sedang dalam keadaan tidak mood. Dilihat dari raut wajahnya saja mereka dapat mengetahui hal itu.
"Yasudah Allena, kalau begitu tolong kamu kerjakan tugas-tugas yang sudah Bapak berikan ke kamu. Bagaimana Bapak bisa memberikan nilai untuk kamu jika kamu sering bolos dan tidak mengerjakan tugas sekolah yang Bapak berikan". Terang Pak Hamzah.
Allena yang sudah duduk di kursinya hanya mendelik, "Cih, emangnya gua peduli apa". Gumamnya tak peduli sambil membuka tasnya di atas meja tanpa menoleh ke arah Pak Hamzah.
"Apa yang barusan kamu katakan Allena?". Tanya Pak Hamzah sekilas mendengar samar-samar gumaman Allena tadi.
Allena sontak mendongak, "Bukan urusan Bapak!". Sahut Allena memasang tampang datarnya menatap Pak Hamzah.
Sekali lagi Pak Hamzah mendengar sahutan Allena yang seperti itu, membuat Pak Hamzah menghembuskan nafasnya. Hampir stres lama-lama kalau bicara sama murid seperti Allena.
"YASUDAH, BAPAK LANJUTKAN SAJA PELAJARANNYA!
...******...
Bel istirahat berbunyi. Murid-murid mulai berhamburan keluar kelas, untuk sekedar melakukan aktifitas mereka masing-masing.
Terlihat Allena tengah berjalan sendirian di lorong kelas. Gadis itu akan menuju ke kelas 12 IPA 1, ingin menemui seseorang.
Setibanya disana, Allena langsung masuk ke dalam kelas itu tanpa mempedulikan tatapan murid-murid yang masih ada di dalam kelas tersebut. Mereka bertanya-tanya ada urusan apa Allena sampai datang ke kelas mereka.
Disana juga ada Aziel yang sedang berkumpul bersama saling mengobrol dengan teman-teman sekelasnya dan juga Setya yang ikut serta.
Allena berjalan menghampiri Louis di kursinya yang tengah terlihat mengerjakan tugas yang diberikan guru.
"Louis!". Seru Allena yang sontak membuat Louis mendongak ke arahnya.
Louis memandangi Allena sebentar, lalu kembali fokus mengerjakan tugas sekolahnya tanpa mempedulikan Allena yang berdiri di hadapannya.
Allena yang seolah seperti tak dipedulikan hanya menghela nafas.
"Louis, lu nggak denger gua panggil?". Tegur Allena.
"Apa?". Sahut Louis seketika kembali mendongak, menatap datar Allena.
Belum sempat Allena ingin berbicara, tiba-tiba Regina muncul dari balik pintu kelas dan langsung menghampiri Aziel yang tengah berkumpul bersama teman-teman sekelasnya.
"El, kita ke kantin bareng yuk! Lo belum makan kan?". Ucap Regina yang sudah bergelayut manja di lengan kekar Aziel. Cewek itu bahkan terlihat sengaja mendekatkan lengan Aziel di dadanya.
Kejadiannya pun tak luput dari pandangan murid-murid yang ada disana juga teman-teman yang tengah berkumpul bersama Aziel dan... Allena, cewek itu juga melihatnya.
Namun Allena seolah tak peduli dan kembali berbalik ke arah Louis.
"Ikut gua!". Ucap Allena seketika.
"Hah?". Louis menautkan alisnya tak mengerti akan maksud Allena.
"Ikut gua!". Ucap Allena lagi.
"Ngapain?
"Ck, bawel banget sih!". Allena langsung menarik lengan Louis untuk berdiri dari kursinya, "Ketimbang ikut gua doang banyak nanya. Cepetan berdiri!
"Eh, emang mau kemana?". Tanya Louis berusaha menyeimbangkan tubuhnya karena tiba-tiba Allena menariknya dengan kuat.
"Makanya ikut, nggak usah banyak nanya!". Allena kemudian menarik lengan Louis untuk ikut bersamanya.
Louis lalu ikut dan berusaha menyamakan langkahnya dengan langkah Allena, karena cewek itu sudah menariknya dengan tak sabaran.
__ADS_1
Sekilas Allena dan Aziel saling bertemu pandang, namun Allena segera mengalihkan pandangannya dan tetap melanjutkan langkahnya dengan menarik Louis bersamanya. Dan mereka berdua mulai keluar dari kelas tersebut.
"Emang kita mau kemana sih Allena? Buru-buru banget jalannya, pelan-pelan aja napa". Cicit Louis yang masih terus ditarik lengannya sama Allena.
Mereka berdua bahkan tak mempedulikan pandangan dari semua murid-murid yang melihat mereka berjalan di koridor sekolah.
Namun Allena tak menjawab dan tetap menarik lengan Louis untuk ikut dengannya.
Setelah beberapa menit berjalan, kini keduanya sudah berada di depan ruangan UKS.
Allena membuka pintu UKS, dan berjalan masuk ke dalam.
"Masuk!". Ujar Allena menarik lengan Louis untuk ikut masuk ke dalam UKS bersamanya.
"Ngapain kita kesini Len?". Tanya Louis ketika Allena menyuruhnya untuk duduk di atas ranjang yang ada di ruangan itu.
Namun Allena tetap tak menjawab. Cewek itu mulai berjalan menuju lemari di sudut ruangan, mengambil sebuah kotak P3K berukuran sedang yang ada di dalam lemari itu. Kemudian kembali mendekati Louis, meletakan kotak P3K di samping Louis, lalu membukanya. Sedang Louis hanya diam melihat apa yang sedang dilakukan Allena.
Allena menuangkan obat merah ke kapas yang diambilnya dari dalam kotak P3K tadi, lalu mulai mengobati luka di wajah Louis akibat perkelahian dengan Aziel tadi pagi.
"Aww shh pelan-pelan Len!". Desis Louis meringis merasakan perih di pipi bagian bawah matanya.
Allena berdengus, "Ngapain sih lu berantem sama Aziel lagi?". Tanya Allena sambil terus mengobati luka di wajah Louis dengan hati-hati.
Louis menatap wajah Allena yang sibuk mengobati lukanya, "Lo udah pasti tau apa penyebabnya". Sahut Louis.
Allena menghembuskan nafasnya kasar, lalu membalas tatapan Louis yang memandanginya, "Oke gua tau, gua yang salah". Ucapnya, kemudian kembali fokus mengobati luka Louis. Tentu saja Allena tau maksud dari perkataan Louis barusan.
"Ngakuin juga lo?". Sindir Louis.
"Iya". Jawab Allena.
"Ngakuin apa?
Allena berhenti dari aktifitas mengobati luka Louis mendengar pertanyaan pria itu, lalu berdiri di hadapan Louis sambil memandang tanpa ekspresi ke arahnya.
Sekali lagi Allena menghembuskan nafasnya kasar, "Gua tau gua salah. Nggak seharusnya gua bohong ama lu soal kemaren". Jawab Allena.
"Bohong soal apa?". Tanya Louis lagi sengaja memancing.
"Ya soal kemaren. Soal Aziel ada dalam kamar gua. Nggak seharusnya gua bohong ama lu, harusnya gua jujur". Jawab Allena kemudian.
Ya memang benar, Louis mengetahui tentang Aziel yang ada dalam kamar Allena dari semalam.
Awalnya Louis mengira Allena jujur dengan mengatakan bahwa dia tak tahu menahu tentang mobil Aziel yang ada di depan mansion. Awalnya Louis pikir Allena tak bertemu dengan Aziel.
Tapi semalam, saat Louis melihat mobil Aziel masih terparkir di depan mansion, dan Allena tak kunjung keluar dari kamarnya, Louis akhirnya mulai curiga.
Louis mencoba untuk tak keluar dari kamarnya, menerka-nerka kalau tiba-tiba Aziel keluar dari persembunyiannya. Karena Louis tau dan berpikir, pasti Aziel ada dalam mansion dan masih belum keluar mengetahui dirinya juga sedang berada di mansion. Pasti Allena melarang Aziel untuk keluar dari persembunyiannya, mengingat Allena dan Louis sudah membuat sebuah perjanjian.
Dan saat Louis keluar dari kamarnya ingin mengambil sesuatu, Louis melihat Allena dan Bi Ratih sedang berbicara. Louis juga mendegar Allena bertanya ke Bi Ratih tentang dimana keberadaan dirinya.
Dan saat Bi Ratih mengatakan bahwa Louis masih berada dalam kamarnya, Louis melihat Allena kembali ke kamarnya. Louis jadi semakin curiga dan mencoba mencari sesuatu tentang kecurigaannya apakah benar atau tidak, bahwa tempat persembunyian Aziel adalah kamar Allena.
Saat Bi Ratih kembali ke dapur, Louis segera menuju ke lantai dua untuk mengikuti Allena.
Dan setelah menuggu beberapa menit lamanya dengan Louis bersembunyi dibalik tembok dekat tangga , Louis melihat Allena keluar dari dalam kamarnya.
Satu hal yang membuat Louis kecewa sekaligus marah pada Allena. Cowok itu melihat Allena keluar dari dalam kamarnya tak sendiri, melainkan bersama Aziel. Berarti kecurigaan Louis itu benar. Aziel sedari siang sudah berada dalam kamar Allena dan itu hanya mereka berdua saja.
Entah apa yang mereka lakukan di dalam kamar dengan hanya mereka berdua, Louis sendiri pun tak tahu. Yang pasti Louis sudah memikirkan hal yang tidak-tidak dengan melihat mereka berdua seperti itu.
Hingga akhirnya Louis melihat Allena dan Aziel mulai berjalan menyusuri lorong kamar yang ada di lantai dua itu, Louis pun bergegas kembali turun ke bawah. Louis tidak ingin mengikuti Allena dan Aziel. Jangan sampai dirinya ketahuan jika sampai dia mengikuti dua manusia yang berhasil membuat dirinya naik pitam.
"Gua tau kalau lu tau Aziel ada di kamar gua dari semalem". Ucap Allena seketika.
"Bagus kalau lo nyadar". Balas Louis sinis.
"Tapi lu juga harus tau kalau gua ama Aziel itu emang nggak ngelakuin apa-apa sama sekali". Ucap Allena lagi.
"Oh ya?
"Kenapa? Lu nggak percaya ama gua?
__ADS_1
"Bukannya gue nggak percaya Len, tapi lo udah janji ama gue nggak bakalan berhubungan lagi sama Aziel. Tapi dengan apa yang terjadi antara lo sama Aziel kemarin, bener-bener buat gue nggak habis pikir aja gitu". Ucap Louis sambil memandangi Allena.
BRAKK
Tiba-tiba terdengar suara pintu UKS digebrak.
Ternyata itu Aziel. Cowok itu dengan tangan kanan yang mengepal juga aura wajah menyeramkan, tatapan tajam menghunus, berjalan masuk UKS menghampiri Louis yang sedang duduk di atas ranjang.
Tanpa ada yang bisa mencegah, Aziel tiba-tiba saja langsung memberikan bogeman mentah di wajah Louis.
"BANG*SAT! SIALAN! JADI LU YANG NYURUH ALLENA BUAT NGGAK BERHUBUNGAN LAGI AMA GUA!". Dengan nada membentak Aziel kembali ingin memukul Louis.
Namun dorongan Allena yang kuat berhasil membuat Aziel mundur ke belakang beberapa langkah.
"Lu apa-apaan sih ha?". Balas Allena yang ikut membentak.
Di belakang sana lebih tepatnya di belakang Aziel, ternyata ada Regina yang juga ikut melihat kejadian barusan. Gadis itu memang mengikuti Aziel tadi.
"Dia? Jadi dia yang nyuruh lu buat nggak berhubungan lagi ama gua? Iya?". Tanya Aziel menatap tajam Allena sembari menunjuk Louis yang terlihat memegang pipinya yang dipukul Aziel tadi, "Dan lu mau aja gitu disuruh sama dia? Kenapa Allen? Kenapa?
"Bukan Louis yang nyuruh, tapi emang gua yang nggak pengen berhubungan lagi ama lu. Lu nggak usah bawa-bawa Louis. Dia nggak ada hubungannya sama sekali dengan itu". Ucap Allena dingin menatap Aziel.
"Bohong!". Sentak Aziel seketika, "Lu pasti bohong kan? Emang dia kan yang nyuruh lu buat nggak berhubungan lagi ama gua". Kemudian beralih menatap tajam Louis, "Emang sialan nih bocah! Gua harus kasih pelajaran ke dia". Aziel berbicara seperti itu dengan kembali ingin menghampiri Louis, namun lagi-lagi Allena mendorong Aziel menjauh.
"Lu kenapa masih nggak ngerti-ngerti juga? Udah gua bilang emang gua yang pengen nggak berhubungan lagi ama lu. Ini nggak ada hubungannya sama sekali dengan Louis. Lu kenapa sih?". Sentak Allena.
"Terus lu emang nggak mau berhubungan lagi ama gua gitu. Emang nggak mau lagi? Kenapa Allen? Gua salah apa ama lu?". Desis Aziel sambil menatap Allena frustasi.
"Emang harus gua jawab itu? Lu tau sendiri kan gua sama Louis itu udah tunangan. Gua nggak mungkin berhubungan sama laki-laki lain, siapa pun itu. Termasuk lu sekali pun". Balas Allena masih dengan tatapan dinginnya menatap Aziel.
"Setelah semua apa yang terjadi Allen? Dan lu dengan gampangnya nyuruh gua buat jauhin lu? Mana bisa Allena? Mana bisa gua nggak berhubungan lagi ama lu? Gua nggak akan bisa". Ucap Aziel yang semakin terlihat frustasi karena perkataan Allena untuknya.
"Bukan lu yang salah, gua yang salah disini. Gua yang salah karena udah mau berhubungan ama lu, gua yang salah nerima lu gitu aja ke kehidupan gua. Semuanya emang salah gua. Jadi gua harap lu ama gua berhenti sampai disini aja. Kita emang harus nggak berhubungan lagi, dalam bentuk apapun. Lu ngerti kan maksud gua?". Ucap Allena datar.
"Jadi lu emang nggak mau berhubungan lagi ama gua, Allen? Lu udah bener-bener mau gua jauhin lu?". Ucap Aziel yang mulai merendahkan suaranya.
"Hmm". Gumam Allena, "Lu taukan gua udah punya tunangan?". Sahut Allena.
"Allena, lu...
Aziel menggantungkan ucapannya dan seketika mengepalkan kedua tangannya.
"AKHH PERTUNANGAN SIALAN! KENAPA LU HARUS TUNANGAN SAMA DIA LEN? KENAPA? GUA BENCI SAMA PERTUNANGAN SIALAN KALIAN ITU!!". Setelah menumpahkan semua kekesalannya Aziel mendelik tajam menatap Louis, kemudian berbalik dan langsung berjalan keluar pergi dari UKS itu dengan emosinya.
Regina yang melihat Aziel pergi segera menyusul cowok itu.
Sedang Allena hanya mematung di tempatnya melihat Aziel mulai menghilang dari ambang pintu UKS. Kedua tangannya mengepal kuat.
"Len!". Panggil Louis di belakang Allena.
Allena menghembuskan nafasnya perlahan, kemudian berbalik menghadap Louis. Tatapan cewek itu terlihat sangat datar, seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya.
Allena kemudian berjalan mendekati Louis.
"Len, lo...
"Diem!". Sentak Allena menghentikan ucapan Louis.
Cewek itu mulai kembali bergerak untuk mengobati luka Louis yang baru. Hasil ciptaan Aziel tadi lagi.
Baru juga diobatin udah luka lagi aja si Louis😅
Sementara itu, Aziel terus berjalan dengan kesalnya di koridor sekolah.
Terlihat di belakang sana Regina berusaha menyusul Aziel.
"Aziel tunggu! Tunggu dong!". Seru Regina terus berusaha mengejar Aziel di depannya.
"Tungguin dong Aziel, jangan cepat-cepat jalannya. Tungguin!". Regina masih berusaha mengejar Aziel.
Aziel seketika menghentikan langkahnya, dan langsung berbalik ke arah Regina di belakang sana.
"DIEM SE*TAN! JANGAN IKUTIN GUA! DASAR CEWE NGGAK TAU DIRI! SIALAN LU!
__ADS_1