Allena And Friend'S

Allena And Friend'S
PART 114 ~ Allena and Friend's


__ADS_3

Dan kini Allena sudah berada di gerombolan para penonton balapan. Gadis itu ternyata akan mengikuti balapan malam ini.


Seorang pria terlihat menghampiri Allena yang sedang duduk di atas motor sportnya, "Gimana? Udah siap?". Tanya pria itu pada Allena.


"Hmm". Jawab Allena.


"Yaudah kalau gitu lo siap-siap dulu, ngecek-ngecek keadaan motor lo, sepuluh menit gue bakal kesini lagi, oke". Ucap pria itu lagi.


Allena hanya mengangguk sebagai balasan.


"Gue juga balik kesana dulu mau ngecek arena balapan". Setelah berbicara seperti itu pria tadi meninggalkan Allena.


Sementara Allena mulai turun dari motornya melangkah ke arah penjual minuman yang berada di sisi lain jalan.


"Minumnya Bang!". Pinta Allena kepada seorang abang-abang penjual.


"Oh iya, yang mana Mbak?


"Yang ini aja Bang, yang biasa". Allena menunjuk sebotol mineral yang diletakan di atas meja kecil. Posisinya abang penjual itu duduk di kursi kecil dengan meja panjang di hadapannya berjejerkan botol-botol minuman juga beberapa makanan ringan.


"Ini Mbak". Abang penjual itu memberikan sebotol mineral pada Allena dan Allena langsung menerimanya.


Allena kemudian mengeluarkan uang selembar dari balik jaket yang dikenakannnya lalu memberikannya pada abang penjual itu.


"Waduh, ini gimana cara ngembaliinnya Mbak? Banyak bener seratus rebu. Emang Mbaknya nggak ada uang kecil ya?". Abang penjual itu menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal bingung bagaimana dia mengembalikan uang Allena. Secara uang yang ada di tas kecilnya tak cukup untuk mengembalikan uang Allena yang seratus ribu hanya dengan membeli minuman yang tak seberapa itu.


"Ambil aja Bang, nggak usah dikembaliin". Ucap Allena akhirnya.


"Wah yang bener Mbak, nggak papa nih?


"Umm ya, ambil aja.


Abang penjual tadi dengan senang hati menerima uang dari Allena. Lumayankan 100 ribu hanya dengan sebotol mineral.


"Wahh makasih ya Mbak. Udah cantik, baik lagi". Puji Abang penjual itu.


Hmm bisa aja sih Abang. Tiba dikasih duit lebih aja Allenanya di puji-puji. Tapi emang bener sih, Allena itu cantik pake banget. Makanya Abang penjualnya juga nggak salah kalau muji Allena🤭🤭


"Hmm". Hanya itu yang keluar dari mulut Allena. Toh emang bener kata si Abang-abang penjual.


Allena kemudian mulai meminum minumannya yang dibelinya itu.


"Oy cewek datar!". Seru seorang pria yang muncul dari arah lain seraya menghampiri Allena, "Lo kok bisa ada disini?". Ternyata itu Setya. Pria itu memandang Allena dari atas sampai bawah.


Allena melirik kearah Setya sambil terus menegak minumannya.


"Lo mau balapan juga?". Tanya Setya yang melihat penampilan Allena saat ini. Allena memang memakai kaos santainya yang dibalut dengan jaket kulit berwarna hitam, juga celana jeans hitam dan memakai sepatu safety boots berwarna hitam. Intinya semua serba hitam lah.


Allena melemparkan botol mineral kearah Setya sampai mengenai dada pria itu, "Bukan urusan lu". Jawab Allena ketus kemudian melangkah pergi, kembali menuju motornya.


"Bishh galak amat tuh cewek". Desis Setya heran akan sikap Allena, "Woyy cewek datar, santai aja kali!". Sambungnya meneriaki Allena.


Sementara Allena tidak peduli dengan Setya yang meneriaki dirinya. Gadis itu mulai menjalankan motornya ke garis start karena balapan akan segera dimulai.


Allena mulai mengambil tempat di sisi kanan sebelah lawannya dalam balapan kali ini.


Saat Allena mulai ingin memakai helmnya, tiba-tiba saja ada yang meraih lengannya dengan kuat dari arah samping hingga helm yang dipegangnya pun sampai jatuh kebawah.


"Turun! Ikut gua sekarang!". Itu Aziel. Pria itu ternyata juga ada disana.


"Lu apa-apaan sih? Lepasin!". Allena berusaha melepas cengkraman Aziel dilengannya.


"Ikut gua sekarang!". Aziel tak berniat melepaskan Allena. Pria itu malah semakin mencengkram kuat pergelangan tangan Allena.


"Gua nggak mau. Lepasin gua bilang!". Allena terus berusaha melepas genggaman Aziel dilengannya.


"Lu itu emang batu ya". Dengan kasar Aziel langsung menarik lengan Allena hingga membuat Allena harus turun dari atas motornya.


Aziel menyeret Allena menuju ke arah anak buah geng motornya yang ternyata juga ada disana, "Ky, kunci mobil lu". Aziel meminta kunci mobil pada anak buahnya yang bernama Dicky itu.


"Siap Bos!". Segera Dicky memberikan kunci mobilnya kepada sang Bos.


Setelah menerima kunci mobil, Aziel kembali menarik Allena membawa gadis itu bersamanya.


"Lepasin gua bang*sat! Lu mau bawa gua kemana?". Allena berusaha memberontak, namun tak bisa. Aziel terlalu kuat menggenggam lengannya tak membiarkan terlepas.


Aziel terus menyeret Allena hingga mereka berdua sampai ke salah satu mobil yang terpakir tak jauh dari sebrang jalan.


Aziel memaksa Allena yang terus memberontak untuk masuk kedalam mobil. Aziel mendorong Allena masuk dengan mengangkat tubuh gadis itu untuk pindah di sebelah kursi pengemudi dan Aziel duduk di kursi pengemudi. Aziel kemudian dengan cepat menekan central lock sehingga pintu mobil langsung terkunci dengan otomatis dan Allena tentu saja tak bisa keluar.


"Bukain pintunya! Gua mau keluar". Sentak Allena menatap tajam Aziel.


"Nggak akan.


"Bukain anji*ng! Lu budek ya?". Umpat Allena kasar.


Aziel hanya bisa mencengkram kuat setir mobil mendengar umpatan Allena yang begitu kasar kepadanya.


Dengan segera Aziel menjalankan mobil dan pergi dari sana bersama Allena.


Dan kini kedua orang itu sudah tiba di sebuah apartemen.


Allena dengan cepat membuka pintu dan berlari keluar dari dalam mobil. Namun Aziel dengan segera berlari mengejar Allena.


"Lu pikir lu bisa lari dari gua?". Aziel mencegat Allena dengan memeluk pinggang gadis itu.


"Lepasin gua breng*sek!". Allena memberontak minta dilepaskan.


"Ikut gua!". Aziel menyeret Allena dengan menarik pinggang gadis itu ke arahnya lalu menggendongnya ala bride style.

__ADS_1


Allena terus berusaha memberontak minta diturunkan sambil memukul-mukul dada bidang Aziel.


"Kalau lu nggak berhenti mukulin gua, jangan salahin kalau gua bakal cium lu disini sekarang". Ancam Aziel masih menggendong Allena.


Allena melotot mendengar perkataan Aziel. Tanpa disangka-sangka Allena langsung menggigit bahu Aziel dengan kuat.


Namun Aziel tak bergeming sama sekali dan tetap melanjutkan langkahnya dengan tak melepaskan Allena dari gendongannya.


Sampai mereka tiba di depan pintu bernuansa coklat gelap, Aziel langsung menurunkan Allena dari gendongannya namun tetap tak berniat membiarkan Allena lari dengan memeluk erat pinggang Allena.


Tangan yang satunya dia gunakan untuk menekan tombol kode dan pintu terbuka secara otomatis. Kemudian Aziel menyeret Allena untuk ikut masuk kedalam bersamanya.


Aziel langsung menghepaskan Allena ke sofa yang ada di ruangan itu, kemudian Aziel membuka jaket juga baju kaos yang dikenakannya dan membuangnya ke sembarang arah.


"Lu lihat bahu gua? Ada bekas gigitan lu kan?". Omel Aziel.


"Cih, gitu aja lebai lu". Cibir Allena sinis.


Aziel memandangi Allena dengan serius, pria itu kemudian melangkahkan kakinya menuju dapur untuk mengambil minum.


Saat dirinya kembali ke ruang depan sambil membawa botol minuman yang diambilnya dari kulkas, Aziel sudah tak melihat Allena di tempatnya.


Aziel kemudian menoleh kearah pintu dan mendapati Allena yang ingin coba keluar. Segera Aziel menghampiri Allena.


"Nggak akan bisa lu keluar dari sini". Ucap Aziel berbicara pada Allena yang membelakangi dirinya.


Allena berbalik menghadap Aziel dan menatap tajam pria itu, "Bukain pintunya, gua mau keluar!


"Tapi sayangnya gua nggak ngizinin lu pergi dari sini". Desis Aziel menatap gadis yang ada di hadapannya ini.


"Bukain pintunya!


"Nggak akan!


Allena langsung mengepalkan kedua tangannya dengan kuat sembari menatap bengis Aziel.


"Sebenarnya mau lu apa sampai bawa gua kesini?". Tanya Allena.


"Ngapain lu ikutan balap lagi? Gua udah pernah larangkan.


"Terus urusannya ama lu apa? Hak lu apa ngelarang-larang gua?


"Allen, lu kenapa sih ha? Gua tuh khawatir ama lu. Lu nggak tau sebahaya apa kalau lu ikut balapan. Kalau sampai terjadi apa-apa ama lu gimana? Kalau sampai lu jatuh pas lagi balapan gimana? Gua nggak mau kalau sampai lu kenapa-napa Allena". Desis Aziel frustasi. Memikirkan gadis yang ada dihadapannya saat ini benar-benar membuatnya stres sendiri. Allena terlalu keras kepala.


"Dan gua nggak butuh lu khawatirin, gua nggak butuh lu peduliin. Gua nggak butuh apa-apa dari lu". Sentak Allena, "Yang gua mau cuman satu, lu bukain pintunya sekarang juga, gua mau keluar.


"Nggak, gua nggak akan bukain pintunya. Selagi gua belum ngizinin lu pergi, lu nggak akan pernah tinggalin tempat ini". Ucap Aziel dengan tegas.


Allena menghembuskan nafas kasar sembari menatap dingin Aziel, "Lu mau tau satu hal". Allena mulai berbicara dengan tenang. Kemudian mengangkat tangan kanannya di hadapan Aziel, "Gua udah tunangan, sama Louis". Allena menekan kata Louis, "Jadi gua mau kita nggak dekat seperti biasanya, dan gua harap lu jauhin gua lagi kaya dulu dan gua juga bakal jauhin lu kaya dulu. Selamanya". Allena menunjukan cincin tunangan yang di kenakannya di hadapan Aziel.


Sedang Aziel mulai melirik ke arah jari manis Allena yang tersemat cincin disana. Beberapa detik mengamati, Aziel langsung berdecak.


Allena mendekat kearah Aziel, "Terserah lu mau percaya apa nggak, yang jelas gua mau keluar dari sini sekarang juga. Bukain pintunya!". Sentak Allena.


Aziel mendongak menatap Allena yang berdiri sembari menatapnya tajam.


Tanpa Allena duga, Aziel langsung menarik lengannya dan dalam sekejap Allena sudah berada di bawah Aziel mengurung gadis itu dengan kungkungannya.


"Lu...


Ucapan Allena terhenti karena Aziel sudah membukamnya dengan ciuman panas di bibir ranumnya.


Allena sontak membulatkan matanya akibat serangan tiba-tiba dari Aziel. Pria itu terlihat melu*mat dengan nafsu bibir Allena.


Aziel kemudian menjauhkan wajahnya membiarkan Allena untuk menghirup oksigen sebanyak-banyaknya yang dia mau.


Allena terlihat menarik-menghembuskan nafasnya sambil menatap Aziel yang ada diatasnya. Dadanya naik turun dengan mulut yang sedikit terbuka.


Satu tangan Aziel terangkat membelai bibir Allena yang terbuka.


"Udah berapa lama lu tunangan sama Louis?". Tanya Aziel kemudian tanpa mengalihkan pandangannya dari Allena.


"Bukan urusan lu". Desis Allena ketus sambil menepis tangan Aziel yang membelai bibirnya.


Aziel tersenyum miring mendengar perkataan Allena, "Itu udah jadi urusan gua karena udah ada orang yang berani ngerebut lu dari gua. Lu itu cuman milik gua. Milik Aziel". Desis Aziel terdengar tenang namun terkesan mencekam.


"Gua bukan milik lu. Gua udah jadi tunangan orang lain". Balas Allena tajam.


"Oh ya?". Ucap Aziel sambil menaikan sebelah alisnya.


Aziel kemudian bangun dari atas Allena lalu mengangkat Allena dengan menggendongnya ala bride style.


"Lu mau bawa gua kemana? Turunin gua!". Allena memberontak minta diturunkan.


"Diam!". Gertak Aziel membuat Allena tersentak kaget.


Aziel membawa Allena masuk ke dalam kamarnya dan langsung menghempaskan Allena ke atas ranjang tidurnya.


"Aww!". Ringis Allena. Gadis itu dengan segera berusaha bangun ingin kabur, namun Aziel mencegatnya dan kembali mendorongnya ke ranjang dan langsung menindih Allena.


Allena dapat merasakan beratnya tubuh Aziel yang menindihnya.


"Gua nggak akan pernah biarin siapa pun ngerebut lu dari gua". Desis Aziel yang sudah menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Allena.


Allena mengepalkan tangan kanannya mendengar ucapan Aziel.


"Gua udah tunangan sama Louis, dan lu...


"Kalau perlu gua abisin Louis aja sekalian biar dia hilang dari muka bumi ini, jadi dia nggak akan ngerebut lu dari gua". Ucap Aziel dengan cepat memotong ucapan Allena.

__ADS_1


"Lu emang gila!". Desis Allena mengumpat.


"Gua emang gila. Gila karena lu Allen". Tangan Aziel mulai bergerak ke arah pinggang Allena, "Apa Louis pernah nyentuh lu kaya gini?". Kemudian meremas lembut pinggang Allena, "Atau...". Lalu mengangkat kepalanya menatap Allena yang ada di bawahnya, "Louis pernah nyentuh lu lebih dari gua selama ini?". Sambungnya lagi tanpa mengalihkan pandangannya dari Allena.


"Maksud lu apa?". Sentak Allena menatap bengis Aziel dan tangan kanannya semakin mengepal kuat.


"Lu tingggal jawab, iya apa nggak?


"Menurut lu!". Tantang Allena.


Aziel malah menunjukan senyum smirk khas dirinya mendegar perkataan Allena.


"Okee...! terserah lu mau jawab apa nggak. Tapi satu hal yang gua mau minta ketegasan dari lu.


"Apa lagi sih?". Ini Aziel bikin emosi orang ya.


"Jadi gimana sama jawaban lu?


"Jawaban apa? Yang jelas lu kalau ngomong.


"Ya jawaban lu soal yang waktu itu, yang pas kita lagi di pantai. Gua udah kasih waktu ya buat lu pikirin semuanya, dan itu lama banget waktunya.


"Gua udah tunangan, dan lu masih bahas tentang hal itu?! Lu stres apa gimana?". Allena tentu saja tau maksud dari perkataan Aziel.


Aziel hanya berdecak. Kemudian menggulingkan badannya ke samping Allena dan berbaring disana dengan bertelanjang dada, hanya memakai bawahan celana panjangnya.


"Gua nggak peduli. Lu sama Louis cuman tunangan bukan nikah. Kalau perlu kalian nggak akan pernah nikah sampai kapan pun". Aziel kemudian menoleh ke arah Allena memandang serius gadis itu, "Karena selagi gua masih ada di dunia ini hal itu nggak akan pernah terjadi. Lu sama Louis nggak akan pernah bisa nikah". Sambungnya lagi.


Allena menoleh menatap Aziel yang berbaring di sampingnya, "Dasar stres!". Umpat Allena, kemudian bangun dari ranjang bergegas menuju pintu.


Namun sebelum tangannya meraih handel pintu, Aziel sudah mencegatnya dari belakang. Aziel menarik lengan Allena lalu menghempaskan gadis itu kebelakang dan sekali gerakan Aziel sudah mengunci pintu rapat-rapat.


Allena yang melihat itu melototkan matanya, "Bukain pintunya! Gua mau keluar, gua mau pulang!". Allena berusaha mendekat ke arah pintu ingin membukanya, namun Aziel menahan tubuh Allena yang terus memberontak lalu membawanya kembali ke atas ranjang.


"Lepasin breng*sek! Gua mau keluar! Lu apa-apaan sih ah". Allena terus memberontak, "Lepasin! Gua mau pulang.


"Gua nggak akan biarin lu pulang. Temenin gua tidur malam ini". Ucapan Aziel itu sontak membuat Allena berhenti memberontak dan langsung membulatkan matanya menatap Aziel.


"Lu gila ya! Maksud lu apa? Gua nggak mau.


"Temenin tidur doang Allen, bukan tidur yang kaya gimana-gimana. Tidur doang gitu, bareng satu ranjang. Lu ama gua tidur satu ranjang.


Allena menatap was-was kearah Aziel, "Maksud lu?


"Ya tidur biasa Allena. Emang lu mikirnya apaan?". Aziel kemudian menunjuk wajah Allena, "Aaa gua tau nih, pasti lu mikirnya yang macam-macam kan. Hii Allena, ngatain gua mesum ternyata dianya sendiri yang mesum.


"Ih lu apaan sih?". Allena menepis jari telunjuk Aziel di depan wajahnya, "Gua nggak mesum ya, lu nya aja yang nggak jelas ngomongnya. Lagian lu ngomong terkesan ambigu, jadi gua mikirnya yang aneh-aneh.


"Ya berarti pikiran lu mesum kan, kemana-mana". Goda Aziel sambil menaik turunkan alisnya.


"Nyebelin banget sih lu jadi orang". Semprot Allena, "Gua nggak mau ya tidur bareng lu. Gua mau pulang! Minggir sana!


Dengan cepat Aziel meraih pinggang Allena mencegat gadis itu, "Eh eh siapa yang nyuruh lu pergi. Gua nggak ngizinin lu pulang. Lu harus temenin gua tidur malam ini". Aziel kemudian membaringkan Allena lalu menahan pergerakan gadis itu dengan memeluk pinggang Allena agar tak bisa kabur.


"Ishh ini apaan sih? Lepasin nggak!". Allena berusaha melepas lengan kekar Aziel yang memeluk pinggang rampingnya.


"Kalau lu nggak berhenti gerak dari sekarang, jangan salahin gua, kalau gua bakal lakuin hal yang ada dipikiran lu tadi. Lu tadi mikirnya tentang en*a-en*a kan?". Desis Aziel yang sudah menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Allena menghirup bau lavender yang menyeruak di tubuh gadis itu. Membuat Aziel betah berlama-lama memeluk Allena seperti itu.


"Emang mesum lu!". Umpat Allena sambil menahan geli akibat hembusan nafas Aziel di lehernya.


"Ya nggak papa kalau mesumnya cuman ama lu". Balas Aziel.


"Yakin?". Tanya Allena. Namun tangan kanannya mengepal kuat.


"Ya yakinlah. Gua kan sukanya cuman ama lu Allena". Ucap Aziel masih dengan posisinya.


"Nggak jelas hidup lu". Cibir Allena sambil terus mengepalkan tangan kanannya.


"Hmm". Gumam Aziel, "Udah udah sekarang diem, kita tidur. Gua mulai ngantuk nih". Sambung Aziel sambil mengeratkan pelukannya.


Terdengar helaan nafas dari Allena.


"Yaudah kalau gitu biarin gua buka jaket gua dulu. Gerah nih". Ucap Allena akhirnya.


"Tapi lu jangan coba kabur lagi.


"Gimana gua bisa kabur. Lu meluk gua kaya guling gini.


Aziel kemudian melonggarkan pelukannya, "Siapa tau kan ini akal-akalan lu aja biar bisa kabur dari sini. Nggak akan bisa ya". Ucap Aziel sambil memandangi Allena yang mulai membuka jaketnya.


"Bawel banget sih lu". Allena mengambil posisi duduk lalu membuang jaketnya ke atas meja samping tempat tidur.


Aziel langsung kembali meraih pinggang Allena, membawa tubuh gadis itu ke arahnya dan memeluknya erat. Aziel memang benar-benar tak membiarkan Allena ada celah sedikit pun untuk kabur darinya.


"Udah bisa tidur kan sekarang? Kalau gitu lu juga tidur. Udah mulai larut". Ucap Aziel kemudian.


Sementara Allena mulai melirik Aziel yang mulai kembali menyembunyikan wajahnya di ceruk lehernya. Sepertinya Aziel memang sangat menyukai posisi seperti itu.


Beberapa menit kemudian mulai terdengar dengkuran halus yang berasal dari Aziel.


Allena yang memang belum tidur hanya bisa menghela nafas berat. Entah apa yang akan terjadi esok hari.


Allena kemudian mulai memejamkan mata mencoba untuk tidur.


Tidak membutuhkan waktu lama Allena juga sudah mulai masuk di alam mimpinya.


Kedua sejoli itu sudah tidur dengan satu ranjang yang sama😅😅😅


__ADS_1


__ADS_2