
Seorang gadis cantik blasteran saat ini tengah duduk dikursi panjang yang terdapat di taman SMA Nasional. Allena!. Gadis itu duduk termenung sambil mengingat kejadian yang dialaminya di kantin sekolah tadi.
Gadis tersebut tak habis pikir dengan perkataan Aziel yang menghina dirinya. Dia sangat-sangat membenci Aziel karena telah menghinanya. Allena tak akan pernah memaafkan Aziel.
"Allena! Ternyata lo disini". Seru Brayen muncul dari arah lain.
Brayen kemudian menghampiri Allena dan duduk disamping Allena.
"Maaf ya Allena atas kejadian di kantin tadi. Maaf juga atas perkataan Aziel tadi. Gue yang salah. Aziel marah karena gue yang emang udah bohong ke dia. Tapi ini nggak ada hubungannya sama lo". Ucap Brayen.
"Harusnya dia nggak ampe segitunya marah-marah sama lo. Sekali lagi maaf ya Allena". Sambung Brayen dengan nada merasa bersalah pada Allena.
Allena yang mendengar itu tidak bergeming sama sekali. Gadis itu lalu memejamkan mata dan kemudian menarik nafas panjang.
Setelah itu Allena kembali membuka matanya, diam beberapa detik. Gadis itu kemudian berdiri dari duduknya dan langsung pergi begitu saja meninggalkan tempat tersebut tanpa mempedulikan Brayen.
Mendapati Allena yang meninggalkannya, Brayen kemudian langsung berdiri dan berlari menyusul Allena.
"Allen.. Kok lo malah ninggalin gue sih?". Ucap Brayen ketika berhasil menyusul Allena.
"Lu bisa nggak sih nggak ganggu gua? Lu mending pergi deh". Celoteh Allena tiba-tiba dan menghentikan langkahnya sambil menatap Brayen.
"Ya Maaf Allena! Tapi gue pengen tagih janji lo ke gue". Ucap Brayen tiba-tiba.
"Janji apa lagi sih? Emang kita ada janji apaan? Utang? Gua bayar sekarang". Ucap Allena.
"Ya janji buat ngedate. Masa lo nggak ingat waktu itu taruhan kita. Lo kan kalah, jadi lo harus mau ngedate ama gue". Ucap Brayen kembali mengingatkan Allena.
"Duh.. emang nggak bisa ya lu mintanya yang lain aja. Nggak mau gua jalan ama lu". Celoteh Allena.
"Yaudah kalo gitu gini aja. Umm.. Lo cium gue aja kalo gitu. Gimana?". Ucap Brayen sarkas sambil menaikan alisnya.
"Idihh.. Cium? Ogah! Najis banget gua nyium lu". Ucap Allena geli.
"Makanya lo harus mau ngedate sama gue. Kalo nggak ya cium. Kalo nggak gue aja yang cium lo". Ucap Brayen dengan menahan tawanya melihat ekspresi Allena.
"Lu apaan sih? Geli tau nggak. Jijik gua!". Ucap Allena geli.
"Kalo gitu kita ngedate OK! Kan itu taruhannya, dan lo udah setuju juga kan. Jadi lo harus tepatin. Janji adalah utang, dan untang harus dibayar". Ucap Brayen panjang lebar.
"Um.. iya iya! Bawel banget sih jadi orang". Ucap Allena.
"Jadi lo mau nih?". Tanya Brayen antusias.
"Yaa mau gimana lagi? Lagi pula itu taruhan kita, dan gua kalah". Ucap Allena santai menyetujui.
"Kalo gitu kita jalan entar malam. Gimana?". Tanya Brayen.
"Um.. Iya". Jawab Allena.
"Jadi nanti gue jemput atau...". Ucap Brayen terhenti.
"Nggak usah! Lu sebutin aja tempatnya, nanti gua datang sendiri. Jam berapa?". Jawab Allena seketika.
"Yaudah! Di restoran "X" jam 20.00 WIB. Tapi benar nih nggak gue jemput. Nggak etis banget kedengarannya". Ucap Brayen sedikit kecewa.
"Yaudah! Kalo gitu nggak usah". Ucap Allena beranjak dari tempatnya.
"Eh Allena! Ok ok! Nggak gue jemput. Jam 20.00 WIB di restoran "X". Lo harus datang". Seru Brayen menyusul Allena.
"Iya iya". Ucap Allena.
"Kalo gitu gue duluan ke kelas. Ingat jam 20.00 WIB". Ucap Brayen mengingatkan.
"Umm". Gumam Allena.
"Dahh.. sampai bertemu nanti malam". Ucap Brayen dengan mengedipkan sebelah matanya sambil berlalu pergi menuju kelasnya.
"Apaan sih tu anak! Geli gua". Sinis Allena.
Allena pun segera beranjak dari tempatnya dan menuju ke kelasnya juga.
Setibanya di kelas Zee yang sedari tadi mencari Allena segera menghampiri gadis itu ketika melihat Allena masuk ke dalam kelas.
"Allena lo dari mana aja sih? Lo nggak kenapa-napa kan?". Tanya Zee khawatir.
"Nggak. Gua nggak apa-apa. Kenapa emangnya?". Tanya Allena santai.
"Ya gimana ya Allen! Habisnya tu kakak kelas yang namanya Aziel keterlaluan banget ampe ngatain lo segitunya. Mana mukanya galak amat. Serem tau nggak". Ucap Gamma menimpali.
"Udah nggak usah dibahas! Nggak penting tau nggak". Ucap Allena cuek menuju tempat duduknya.
"Tapi lo nggak apa-apa kan Allena?". Tanya Airin menimpali dengan lugunya.
__ADS_1
"Nggak apa-apa Airin. Tenang aja". Ucap Allena sambil tersenyum pada Airin.
Airin kemudian hanya membalas senyuman Allena kepadanya.
Tak berapa lama seorang guru pun masuk ke dalam kelas tersebut. Mereka semua segera mengakhiri obrolan dan mulai duduk dengan tenang.
Pelajaran pun segera dimulai.
Malam hari pukul 19.20 WIB
"Haa.. Malas banget gua ngedate ama Brayen". Ucap Allena yang saat ini tengah dalam kamarnya berbaring di kasur empuknya.
"Ishh... Kenapa juga gua musti mau taruhan ama dia. Malas banget yaampun". Ucap Allena emosi dengan dirinya sendiri.
Allena pun segera meraih ponselnya tepat disampingnya dan melihat jam.
"Udahlah! Males gua". Allena kemudian hanya melanjutkan mengutak-atik ponselnya.
Cukup lama dia bergumul dengan ponselnya. Tanpa dia sadari jam sudah menunjukan waktu pukul 21.45 WIB.
Mata gadis tersebut mulai berat. Allena mulai mengantuk. Selang beberapa saat, Allena pun terlelap. Dia tertidur.
Pagi hari
Saat ini Allena dalam perjalanan menuju SMA Nasional. Tiba diperempatan, lampu merah menyala. Gadis itu kemudian memberhentikan mobilnya.
Saat sedang melamun, tanpa disadarinya dari sebrang sana terdapat mobil Aziel yang didalamnya ada Aziel tengah memandangi Allena dari kejauhan.
Cukup lama Aziel memandangi Allena dengan ekspresi yang tak dapat dibaca. Dia seperti sedang menilai sesuatu.
"Cih..!". Decak Aziel kembali menghadap ke depan.
Tidak lama kemudian lampu kembali hijau. Semua kendaraan kembali melanjutkan jalannya termasuk Allena dan juga Aziel.
Setelah beberapa menit menempuh perjalanan, Allena pun tiba di SMAN Nasional. Gadis itu kemudian masuk ke pekarangan sekolah lalu menuju parkiran dan memarkirkan mobilnya.
Allena kemudian keluar dari dalam mobilnya. Setelah keluar dia berpapasan dengan Zee yang kebetulan juga sedang memarkirkan mobilnya. Zee kemudian mengahampiri Allena yang tak jauh dari tempat berdirinya.
"Hai Allena. Selamat pagi!". Sapa Zee dengan senyuman sambil mendada-dadakan tangannya.
"Pagi". Balas Allena.
Tidak lama kemudian datang Brayen dengan motor sportnya. Lelaki itu kemudian memarkirkan motornya lalu turun.
Brayen kemudian jalan dan berpapasan dengan Allena dan juga Zee yang tengah berdiri disamping mobil Allena.
"Hai!". Sapa Zee lagi.
Brayen yang menoleh pun segera memandangi Zee dan beralih ke Allena. Tidak lama kemudian Brayen kembali menghadap kedepan dan kembali melanjutkan jalannya tanpa mempedulikan sapaan Zee padanya.
"Lah.. Kok! Kak Brayen kenapa?". Ucap Zee bingung.
Allena yang tak peduli kemudian beranjak dari tempatnya meninggalkan Zee yang masih kebingungan menuju kelas.
"Loh Allen tungguin. Kok gue ditinggalin sih!". Teriak Zee sambil menyusul Allena.
Aziel yang juga kebetulan ada disitu dan melihat semuanya, hanya berdecak sinis.
"Cih! Jadi mereka bertengkar. Norak banget dah". Ucap Aziel.
Aziel kemudian melanjutkan jalannya meninggalkan parkiran.
10 IPA 1
"Selamat pagi anak-anak! Hari ini adalah pelajaran Fisika. Oleh karena itu, Allena boleh Ibu minta tolong?". Tanya Bu Sisil Guru Fisika pada Allena.
"Iya Bu". Jawab Allena.
"Tolong ambilin buku paket pelajaran Fisika di perpustakaan. Bisa?. Kamu ambilnya sesuai jumlah siswa di kelas ini". Suruh Bu Sisil.
"Bu boleh saya ikut bantuin nggak ? Kan banyak tu Bu siswa di kelas ini". Seru Zee menimpali.
"Iya boleh. Sekarang aja kalau gitu. Ibu tunggu ya". Ucap Bu Sisil.
"Sip lah Bu. Allena ayo". Ucap Zee menarik lengan Allena.
Mereka berdua pun segera keluar dan menuju ke perpustakaan. Setibanya disana mereka segera masuk dan mencari buku yang diperintahkan.
Setelah mereka berdua mendapatkan buku paket tersebut. Mereka segera menuju ke penjaga perpustakaan. Mereka kemudian menyerahkan buku tersebut untuk didata.
Tidak lama kemudian datang Aziel dan juga Setya. Mereka juga sedang di perpustakaan untuk meminjam buku.
Zee yang melihat Setya begitu antusias dengan kedatangan lelaki tersebut.
__ADS_1
Menyadari Allena yang ada disana Aziel sempat melirik Allena sekilas dan kembali fokus kedepan menunggu penjaga perpustakaan mendata buku yang mereka ambil.
Sementara Allena, gadis itu hanya cuek dan memasang tampang datarnya menganggap Aziel dan Setya tidak ada disitu.
Setelah beberapa saat, penjaga perpustakaan selesai mendata. Allena pun segera mengambil beberapa buku paket dan berlalu pergi begitu saja.
"Eh Allena tungguin". Seru Zee segera mengambil sisa buku dan pergi meyusul Allena.
Aziel yang melihat Allena pergi begitu saja langsung mencibir gadis itu.
"Sombong banget si Allena itu. Sok jual mahal banget". Ucap Aziel seketika.
"El El..! Gitu banget lo sama Allena. Nanti suka lo ama dia". Ucap Setya sambil mengambil beberapa buku paket di atas meja penjaga perpustakaan.
"Gua? Suka ama dia? Ogah banget gua ama si Allena. Kaya nggak ada cewek lain aja". Celoteh Aziel sambil mengambil buku paket juga.
Mereka berdua pun segera keluar dari perpustakaan tersebut.
"Kenapa? Kalau di lihat-lihat Allena cantik juga. Blasteran lagi. Terus kaya lagi. Cocok juga ama lo. Sama-sama kaya. Sama-sama cantik-ganteng. Sama-sama serem dan galaknya. Sama-sama pemarah pula". Ucap Setya panjang lebar sambil berjalan dengan menahan tawanya.
"Maksud lu apaan? Make cocok-cocokin segala. Kalo gitu lu aja ama dia. Nggak usah gua. Apaan gua ama dia?". Ucap Aziel tak terima dengan perkataan Setya.
"Yaudah sih! Santai aja kali. Gitu banget reaksi lo". Ucap Setya dengan ekspresi menahan ketawa.
Mereka berdua pun segera berjalan menuju kelas mereka.
...*****...
Jam pelajaran telah selesai. Saat ini anak-anak SMAN Nasional tengah bersiap-siap untuk pulang.
"Ini Airin mana sih? Nggak balik-balik dari tadi. Lama banget ke toiletnya. Tidur kali dia ya?". Celoteh Zee.
"Baik anak-anak. Sampai disini saja dulu pembelajaran kita hari ini. Nanti kita lanjut minggu depan. Sekarang silahkan pulang. Bu Guru duluan. Hati-hati ya anak-anak". Ucap Bu Nancy Guru Kimia.
"Baik Bu Guru. Terima kasih!". Ucap anak-anak 10 IPA 1.
Bu Nancy pun segera keluar dari kelas tersebut.
"Allena! Kita cari Airin yu. Khawatir nih gue. Nggak balik-balik dia dari tadi". Ajak Zee pada Allena dengan nada khawatir.
"Iya". Ucap Allena beranjak dari duduknya.
Mereka berdua pun segera keluar dari kelas tersebut. Tampak ekspresi khawatir dari wajah Zee. Mereka menyusuri koridor sekolah menuju WC yang ada di sekolah tersebut.
Setelah mereka tiba disana nampak terdengar samar-samar suara seseorang tengah berbicara dari arah kamar mandi wanita.
"He cewe miskin! Lo harusnya sadar posisi lo tu disini apa. Lo tu cuman cewe miskin yang beruntung karena bisa dekat sama si Allena itu dan teman-temannya yang lain". Maki Alexa pada Airin yang saat ini mereka berdua berada dalam kamar mandi sekolah.
Saat ini posisi Airin terduduk sambil menunduk dalam keadaan basah dengan Alexa dihadapannya yang tengah memakinya.
"Airin!". Teriak Zee masuk ke dalam kamar mandi dan melihat Airin terduduk.
"Airin lo kenapa basah? Lo nggak apa-apa kan?". Tanya Zee khawatir dengan sambil berlari mendorong Alexa menjauh dari hadapan Airin. Gadis itu kemudian berjongkok pada Airin.
"He Alexa! Lo apain Airin sampe dia bisa kaya gini?". Teriak Zee pada Alexa.
"Lo gila ya ha. Bisa-bisanya lo kek gini ke Airin". Ucap Zee menghampiri Alexa dan mendorongnya.
"Kenapa emang? Ini urusan gue ama dia. Nggak ada urusannya sama lo. Dan juga ngapain lo ngedorong gue. Berani banget lo ama gue". Marah Alexa.
"Lo kira gue takut ama lo ha? Awas aja lo". Ucap Zee berlalu mengambil selang yang terdapat dalam kamar mandi tersebut dan segera menyiramkan air dari selang tersebut ke Alexa.
"Apa-apaan sih lo? Berhenti nggak. Seragam gua basah anj*ng". Teriak Alexa keluar dari kamar mandi tersebut.
"Ee eeh.. Udah udah! Ayang Zee berhenti". Ucap Alvian yang muncul dari arah lain bersama Manaf dan Gamma.
Alvian kemudian segera meraih selang ditangan Zee dan mengembalikan ke dalam kamar mandi. Alvian yang melihat keadaan Airin begitu kaget melihatnya.
"Manaf! Airin di dalam. Cepetan!". Seru Alvian memberitahu Manaf.
Manaf yang mendengar itu dengan segera masuk ke dalam kamar mandi dan menghampiri Airin.
"Airin! Kenapa bisa kaya gini? Siapa yang ngebuat lo kek gini?". Tanya Manaf sambil membantu Airin berdiri.
Airin tak menjawab dia hanya menangis sambil menggelengkan kepalanya.
"Hiks..hiks! Gue nggak apa-apa kok". Jawab Airin sesenggukan sambil berdiri.
"Nggak apa-apa gimana? Ini keadaan lo sampe kaya gini Airin". Ucap Manaf khawatir.
"Yaudah kita keluar dulu". Ucap Manaf sambil menopang Airin keluar.
Sementara diluar, saat ini Zee tengah berseteru dengan Alexa.
__ADS_1
"Lo kan yang udah buat Airin kek gitu? Ngaku lo!". Tanya Zee dihadapan Alexa.
Tidak lama datang Chika dan juga Hera. Mereka kemudian menghampiri Alexa dan berdiri disamping gadis itu.