Allena And Friend'S

Allena And Friend'S
PART 59 ~ Allena and Friend's


__ADS_3

Pagi harinya Allena berangkat ke sekolah bersama dengan Louis. Pria itu terlebih dahulu mengantar Allena kemudian akan menuju ke SMKN Putra Bangsa tempat dia bersekolah.


"Allena tunggu". Seru Louis ketika Allena keluar dari dalam mobil.


Louis kemudian keluar dari dalam mobil dan menghampiri Allena yang tengah berdiri sambil memandanginya. Pria itu lalu berdiri tepat dihadapan Allena.


Sedetik kemudian Louis memajukan kepalanya dan mencium puncak kepala Allena lembut hingga beberapa saat. Pria itu lalu melepaskan ciumannya dan memandangi Allena yang sedang menatapnya datar.


Para murid lainnya yang saat itu sedang melintas dan ingin masuk seketika mereka kaget dan histeris melihat adegan itu. Mereka tiba-tiba menjadi heboh sendiri.


Mereka berbisik-bisik satu sama lain dengan kegirangan.


"Kyaaa.. ini apa lagi yaampun.


"Wuihh diembat semua sama Allena.


"Murid dari sekolah lain kayanya, lihat aja seragamnya beda sama kita.


"Tapi ganteng woyy... jantung gue nggak aman.


Begitulah ucapan-ucapan murid-murid yang melihat itu. Mereka sangat histeris dengan Allena yang selalu membuat gempar setiap gadis itu berinteraksi dengan lawan jenisnya. Mereka mengira Allena mempunyai hubungan dengan dua pria sekaligus.


"Kalau gitu gue duluan ya Len. Ingat, jauhin cowo itu". Ucap Louis mengingatkan. Pria itu kemudian tersenyum pada Allena lalu melangkahkan kakinya ke arah mobil dan pergi dari sana menuju sekolahnya.


Melihat kepergian Louis, Allena hanya bisa menghembuskan nafasnya. Allena tak menyangka Louis akan menciumnya didepan umum, sementara kejadian antara Allena dan Brayen kemarin masih hangat-hangatnya diperbincangkan.


"Ciee Allena, dua cowo sekaligus cuy". Seru salah satu murid pria pada Allena.


"Diam-diam menghanyutkan ternyata nih cewe, iya nggak". Timpal teman pria tersebut.


Allena yang mendengar ucapan kedua pria tadi langsung saja menatap datar mereka namun mencekam.


Kedua murid pria itu yang melihat tatapan Allena seketika berjalan cepat dengan bergedik ngeri.


"Serem cuy". Samar-samar suara salah satu murid pria tadi diangguki temannya.


Allena kemudian berjalan tanpa mempedulikan tatapan orang-orang padanya akibat kejadian tadi.


Aziel yang saat itu berada di parkiran dan melihat kejadian tadi seketika mengepalkan kedua tangannya dengan kuat sambil menatap datar Allena yang sedang berjalan.


Aziel lalu mengikuti Allena dari belakang. Saat sudah berada didekat Allena, pria itu langsung saja menabrakan dirinya dengan sengaja disamping Allena.


Allena yang ditabrak sontak saja kaget dan berhenti melangkah untuk menyeimbangkan dirinya agar tak jatuh, sambil melihat siapa yang telah menabrak dirinya.


Nampak Allena melihat Aziel berjalan dengan santainya tanpa menoleh kebelakang sedikitpun. Allena tentu saja tahu siapa yang telah menabrakan dirinya padanya dengan sengaja. Seketika Allena menaikan sedikit sudut bibirnya sambil memperhatikan Aziel yang terus berjalan.


Allena kemudian melanjutkan langkahnya menuju kelasnya.


Saat tiba di kelas, Allena tidak melihat keberadaan Airin disana. Allena kemudian melangkahkan kakinya menuju tempat duduknya.


"Airin mana?". Tanya Allena seketika sambil menatap ke-5 temannya yang sudah ada disana. Mereka dalam jajaran satu tempat duduk.


"Airin nggak datang Len, katanya lagi sakit". Jawab Tessa.


Allena yang mendengar itu hanya menganggukan kepalanya. Gadis itu kemudian beralih menatap Manaf serius. Ada hal lain yang dirasakan oleh Allena ketika melihat Manaf yang tampak berbeda menurutnya.


Manaf terlihat seperti sedang serius memikirkan sesuatu, dan Allena dapat mengetahui itu.


...*****...


Bel istirahat telah berbunyi. Semua murid-murid SMAN Nasional mulai berhamburan keluar kelas.


Saat Allena dan ke-5(tanpa Airin) temannya keluar dari kelas ingin ke kantin, Allena melihat Papah Robert yang sedang berjalan di koridor kelas lain yang bersebrangan dengan kelasnya.


Allena langsung saja berlari menyebrang untuk menghampiri Papah Robert.


"Eh Len, mau kemana lo?". Teriak Zee pada Allena namun gadis itu tak menjawab dan tetap berlari menghampiri Papah Robert.


Saat Allena tiba didekat Papah Robert, gadis itu langsung memanggil Papahnya.


"Papah". Teriak Allena.


Papah Robert langsung berhenti dan menoleh kearah Allena anaknya yang terlihat menghampirinya.


"Papah ngapain disini?". Tanya Allena datar.


Murid-murid yang melihat interaksi kedua orang itu hanya menatap heran. Mereka tak menyangka Allena ternyata bukan hanya bersikap datar pada orang lain, tetapi juga sangat bersikap datar kepada Papahnya.

__ADS_1


Alexa yang melihat dari sebrang kelasnya menyipitkan matanya melihat Allena dan Papah Robert. Gadis itu seketika mencebik.


"Dih sok banget sih tuh cewe. Mau pamer orang tua apa". Cibir Alexa seraya melangkahkan kakinya pergi.


Sementara Allena, gadis itu mulai berjalan bersama Papah Robert menuju kantor Kepala Sekolah. Papah Robert meminta Allena untuk menemani dirinya kesana.


Setibanya di kantor mereka disambut oleh staff yang ada disana. Staff itu kemudian menghantar mereka ke ruangan Kepala Sekolah.


Ternyata di ruangan tersebut juga ada Aziel dan Regina selaku anggota OSIS. Aziel dan Allena seketika saling pandang sebelum akhirnya saling memutuskan pandangan.


Papah Robert kemudian dipersilahkan duduk disalah satu kursi yang ada di ruangan tersebut. Allena juga kemudian disuruh duduk dikursi sebelah Aziel. Gadis itu kemudian duduk disana dengan tatapan datarnya.


"Ini dia Aziel, Pak Robert. Beliau adalah orang yang akan menjadi donatur untuk acara yang telah kamu buat. Beliau juga yang menjadi penyumbang terbesar di acara kamu nantinya". Ucap Kepala Sekolah menjelaskan dihadapan Aziel.


Benar saja Papah Robert saat ini datang ke SMAN Nasional untuk membahas dan menjadi donatur acara yang telah dibuat oleh Aziel dan para anggota OSIS lainnya.


Aziel yang tentu saja mengetahui siapa Papah Robert atau Papahnya Allena itu, awalnya tak percaya dengan apa yang dikatakan Kepala Sekolah. Aziel tak menyangka Papah Robert akan menjadi donatur untuk acaranya.


Sebenarnya Aziel awalnya ingin meminta kepada Ayahnya untuk menjadi donatur acara tersebut. Tetapi karena Papah Robert yang ingin menjadi donaturnya, maka Aziel juga tidak keberatan dengan hal itu.


Sementara Allena, gadis itu tidak menyangka ternyata Papahnya sampai datang ke Indonesia untuk menjadi donatur acara sekolahnya. Mengingat Papah Robert itu orang yang sangat sibuk.


"Pak Robert, ini anak murid saya Aziel dan rekannya. Mereka ini OSIS yang bertanggung jawab dalam acara kegiatan tersebut". Ucap Kepala Sekolah memperkenalkan Aziel dan Regina.


Papah Robert kemudian beralih melihat Aziel dan Regina yang mengangguk sopan kepadanya.


"Baiklah saya hanya ingin mengatakan bahwa saya mau menjadi donatur untuk acara tersebut karena saya tahu murid-murid disini mempunyai potensi dan keahlian mereka masing-masing yang terbilang bagus. Bakat murid-murid disini juga sangat tidak main-main ya. Mereka sangat berusaha untuk membuat sekolah ini menjadi sekolah yang paling diminati dan terkenal akan prestasinya.


"Maka dari itu saya mau menjadi donatur di sekolah ini, kalau bisa menjadi donatur tetap". Sambung Papah Robert.


"Wahh.. kalau begitu kami sangat berterima kasih sekali kepada Pak Robert karena sudah mau menjadi donatur di sekolah kami. Kami berjanji kepada Bapak, kami tidak akan mengecewakan Pak Robert". Ucap Kepala Sekolah tersenyum senang.


"Namun sebelum itu ada yang ingin saya sampaikan kepada Pak Kepala Sekolah". Ucap Papah Robert lagi.


"Apa itu Pak?". Tanya Pak Kepala Sekolah.


"Saya ingin mengatakan bahwa nanti yang mengatur semuanya adalah Allena anak saya". Ucap Papah Robert seraya menatap Allena.


"Anak saya nantinya yang akan mengurus masalah keuangannya. Sebab saya harus kembali ke Amerika beberapa hari ini. Ada urusan mendesak disana dan saya tidak bisa menundanya.


"Pak Kepala Sekolah tidak keberatan kan jika anak saya saja yang mengurus semuanya?". Sambung Papah Robert lagi.


"Tidak apa-apa Pak Robert. Saya yakin anak bapak bisa mengurus semuanya. Lagi pula akan ada anak OSIS yang bertanggung jawab dan ikut membantu". Terang Kepala Sekolah tak keberatan.


Papah Robert kemudian setuju. Beliau akan menjadi donatur diacara tersebut.


Mereka semua kemudian saling berjabat tangan dan berterima kasih.


Setelah semua urusan selesai Papah Robert ingin segera kembali karena ada yang harus diurus oleh beliau.


Kepala Sekolah kemudian menghantar Papah Robert hingga keparkiran diikuti oleh Allena, Aziel dan Regina.


Sekali lagi mereka berjabat tangan dan sangat berterima kasih kepada Papah Robert.


Setelah selesai dan beres Papah Robert segera menaiki mobilnya dan pergi dari sekolah tersebut.


"Baiklah untuk kalian bertiga silahkan kalian berdiskusi kembali dan atur semuanya. Bapak percaya kepada kalian". Ucap Pak Kepala Sekolah beralih menatap ke-3 murid dihadapannya.


"Kalau begitu Bapak duluan ya". Sambung Kepala Sekolah seraya melangkahkan kakinya dan pergi dari sana meninggalkan ke-3 murid tersebut.


Selama Kepala Sekolah pergi mendadak suasana menjadi hening diantara ke-3 murid itu. Sedetik kemudian Allena melangkahkan kakinya ingin pergi dari sana.


"Allena tunggu". Seru Regina tiba-tiba yang sukses membuat Allena berhenti.


Allena kemudian berbalik dan menatap datar Aziel dan Regina.


"Apa?". Tanya Allena menatap datar Regina.


"Lo nggak denger apa yang diomongin sama Kepala Sekolah tadi? Katanya kita harus berdiskusi kembali". Ucap Regina.


"Acaranya masih lamakan? Masih ada waktu buat diskusi". Balas Allena masih dengan tatapan datarnya.


"Tap...". Ucap Regina terhenti akibat Aziel yang mencekal lengannya dari samping.


Allena yang melihat Aziel disamping Regina beralih menatap secara perlahan tangan Aziel yang sedang mencekal lengan Regina.


Allena kemudian beralih menatap datar Aziel yang juga menatapnya. Sedetik kemudian Allena berbalik dan kembali melangkahkan kakinya pergi dari sana.

__ADS_1


...*****...


Bel pulang sekolah telah berbunyi. Murid-murid mulai berhamburan keluar sekolah.


Terlihat Manaf sedang tergesa-gesa membereskan buku-bukunya. Setelah selesai Manaf langsung beranjak dari tempatnya dengan ekspresi tak biasa.


"Oyy Manaf tunggu, kita ke restoran Zee makan-makan". Seru Gamma melihat Manaf yang buru-buru ingin pergi.


"Gue nggak dulu, lagi ada urusan. Lain kali ya". Balas Manaf saat dia sudah mau keluar dari pintu masuk kelas.


Setelah berbicara Manaf kembali tergesah dan hilang dikerumunan murid-murid lainnya.


Melihat itu Gamma seketika merasa heran. Tak biasanya Manaf sahabatnya itu terlihat bertingkah aneh.


"Manaf kenapa ya? Dari tadi kok dia kaya beda gitu nggak kaya biasanya". Ucap Alvian seraya berbicara kepada teman-temannya.


"Nah kan sama, kalian juga ngerasakan?. Sama gue juga". Timpal Tessa diangguki oleh teman-temannya. Sementara Allena, gadis itu hanya memperhatikan pembicaraan ke-4 temannya.


"Tuh bocah dari pagi kaya nggak tenang. Gue yakin dia pasti mikirin Airin yang nggak datang hari ini". Sambung Tessa.


"Kan Airin sakit. Apa jangan-jangan Manaf mau jengukin Airin ya?". Timpal Zee.


"Bisa jadi sih itu". Timpal Alvian manggut-manggut.


Allena yang sedari tadi hanya menjadi pendengar tiba-tiba berdiri dari duduknya dan melangkahkan kakinya ingin pergi.


"Eh Len, lo mau kemana? Kita ke restorannya Zee, lo ikut kan?". Seru Gamma.


"Gua nggak ikut". Jawab Allena tetap melangkahkan kakinya.


"Loh kenapa Len? tungguin". Ucap Zee yang mengejar Allena.


"Gua lagi ada urusan. Lain kali aja". Jawab Allena melangkah keluar dari kelas.


Mereka ber-4 kemudian bergegas dan mengikuti Allena yang mulai menjauh.


Saat mereka tiba di parkiran ternyata ada Brayen yang sedang bersandar dimobil miliknya. Brayen sedang menunggui Allena.


"Eh ada Kak Brayen. Kak Brayen lagi nungguin siapa?". Tanya Zee yang langsung dibalas senyum oleh Brayen.


"Lagi nungguin Allena". Jawab Brayen mengalihkan pandangannya pada Allena.


"Ooohh.. lagi nungguin Allena toh.. Ehem ehem". Goda Tessa ikut menimpali.


Sementara Allena tak menggubris. Gadis itu hanya memasang tampang datarnya. Tiba-tiba dari arah lain...


"Allena". Seru seorang pria yang tengah menghampiri mereka semua.


Pria tersebut berjalan mendekati mereka dengan tatapan datarnya.


"Eh Bro. Kapan datangnya?". Tegur Brayen kepada pria tersebut yang ternyata adalah Louis.


"Baru aja datang". Jawab Louis sambil mengepalkan sebelah tangannya memandang dingin Brayen.


"Ayo Len, kita pulang sekarang!". Ucap Louis mengalihkan pandangannya kearah Allena.


Louis kemudian meraih lengan Allena dan menariknya pergi dari sana, sementara Allena gadis itu mengikuti Louis.


"Gue duluan". Ucap Louis diangguki oleh Brayen.


Brayen hanya melihat Louis membawa Allena pergi dari sana. Terlihat pria itu menautkan alisnya bingung. Menurutnya ekspresi Louis terlihat seperti orang yang menahan marah.


Sementara Louis, pria itu terus saja menarik lengan Allena sampai ke mobilnya.


"Gue udah bilangkan lo jangan deketin Brayen". Ucap Louis pada Allena yang saat ini mereka sudah berada dalam mobil milik Louis.


"Gua nggak deketin dia". Balas Allena datar.


"Terus tadi apa? Gue lihat lo ngomong sama Brayen". Ucap Louis menahan marah.


"Gua bilang gua nggak deketin Brayen. Lu nggak usah lebay". Ucap Allena seraya menatap Louis.


"Kita belum nikah, tapi reaksi lu udah berlebihan banget". Sambung Allena.


"Gue harap lo tepatin janji lo buat jauhin Brayen.


"Terutama Aziel". Sambung Louis menahan amarahnya.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2