
Setibanya didekat Allena, Aziel kemudian langsung menggenggam lengan Allena.
"Lu ikut gua sekarang". Ucap Aziel sambil menatap Allena lalu menarik lengan Allena.
Akan tetapi Louis yang memang saat itu berada disamping Allena dengan cepat segera menahan Aziel untuk membawa Allena, dengan menggenggam lengan Allena yang satunya.
"Lo mau bawa Allena kemana?". Tanya Louis sambil menatap datar Aziel disebelah Allena.
"Ini bukan urusan lu. Lu nggak usah ikut campur. Lepasin tangan Allena! Gua mau ngomong berdua ama dia". Ucap Aziel tak kalah datar namun begitu mencekam menatap Louis.
"Kenapa nggak mau ngomong disini aja? Dan mending lo aja yang lepasin tangan Allena". Ucap Louis.
"Lebih baik kalian berdua yang lepasin tangan Allena". Timpal Brayen berdiri dihadapan mereka ber-3.
Saat ini posisi mereka sangat strategis. Dengan Allena berada ditengah-tengah ketiga pria tersebut. Aziel yang berdiri disamping kanan Allena, dan Louis yang berdiri disamping kiri Allena dengan posisi mereka berdua sama-sama menggenggam lengan Allena. Sedang Brayen berdiri dihadapan mereka.
"Oyy.. Brayen! Ngapain lu disini? Lu mending pergi sana. Gua ada urusan sama Allena. Lu juga nggak usah ikut campur sama kaya orang ini". Ketus Aziel sambil memandang sinis Louis dan Brayen secara bergantian.
"Kenapa nggak lo aja sama orang ini yang lepasin tangan Allena?". Ucap Brayen tak kalah sinis.
"Oohh.. udah berani lu ama gua?". Tanya Aziel dengan wajah bengisnya pada Brayen.
Allena yang saat ini berada diposisi tersebut seketika merasa bingung dengan suasana yang dihadapinya. Ke-3 lelaki tersebut memperebutkannya, dan Allena merasa tak enak dengan para tamu undangan yang sedang memperhatikan mereka.
Sedang para tamu yang ada disana dan menyaksikan semua itu dapat merasakan aura mencekam dari ketiga pria itu.
Terlihat para tamu berbisik-bisik dengan pemandangan dihadapan mereka. Seorang gadis cantik blasteran tengah diperebutkan dengan ke-3 pria yang tampan dan gagah.
"Widihh.. Kayanya bakal terjadi peperangan nih". Sarkas Gamma sambil menyaksikan drama tersebut.
"Ngeri juga tuh Allena. Di embat semua". Timpal Manaf.
"Mm.. Manaf!". Ucap Airin menggeleng.
"Hehe.. Sori sori! Bercanda doang kok". Ucap Manaf.
Sementara itu susananya menjadi berubah dengan adanya mereka terlihat memperebutkan Allena. Ada yang merasa kagum dan juga iri terhadap Allena yang dikelilingi dengan ke-3 pria tersebut.
Seperti saat ini yang dirasakan oleh Alexa. Gadis itu begitu kesal menyaksikan semua itu. Alexa dengan rasa kesalnya dia segera menghampiri mereka dan segera meraih lengan Aziel.
"El.. Jadi partner dansa gue ya". Ajak Alexa.
"Tunggu! Gua mau...". Ucap Aziel terhenti dengan Alexa yang langsung menarik lengannya.
"Udah ayoo..!". Ucap Alexa lagi membawa pergi Aziel dari situ.
"Ayo Len! Lo sama gue". Ucap Louis tiba-tiba sambil menarik lengan Allena meninggalkan Brayen.
Brayen yang sendiri hanya bisa pasrah melihat Louis membawa Allena pergi.
Acara dansa pun dimulai. Alunan musik diputar. Para tamu sudah mulai berdansa dengan pasangan dansa masing-masing.
Terlihat Manaf dan Airin menjadi partner dansa. Mereka berdansa mengikuti alunan musik.
"Aduhh.. Lo punya mata nggak sih? Bisa-bisanya lo nabrak gue". Ketus Chika kepada orang yang menabraknya.
Chika kemudian mendongakan kepalanya dan mendapati Gamma dihadapannya. Saat ini mereka ada ditempat dekat meja makan.
"Lo lagi?. Kenapa sih lo itu rajin banget nabrak gue? Suka lo ama gue ampe sengaja nabrakin diri?". Ucap Chika.
"Dih.. PD banget lo. Ngapain juga gue suka ama laki? Lagian ni ya.. ini tuh tempat buat lewat. Kalau lo mau makan tu disebelah sana bukan disini". Ujar Gamma menunjuk kursi disebelah meja makan.
"Makan kok ditengah jalan. Udah salah pake marah-marah lagi. Dasar laki!!". Ejek Gamma.
"Apa lo bilang? Laki? Wahh.. beneran buta lo emang. Jelas-jelas gue ni cewek. Berani-beraninya lo ngatain gue laki. Minta dihajar lo". Celoteh Chika.
"Emang lo laki kan? Mana ada cewe ke acara kek ginian pake celana ama jas. Cuman eloo laki..!". Ejek Gamma lagi.
"Dihh.. Lo ya. Minta dihajar emang. Sini lo!". Ucap Chika ingin menghampiri Gamma.
Namun tiba-tiba muncul Tessa dari arah belakang Gamma dan menarik kerah baju Gamma.
"Gammaaaaaaa....!! Dicariin juga ternyata lo disini". Panggil Tessa.
"Apa lagi sih? Jangan narik-narik baju gue. Nanti kusut aelahh..!!". Ucap Gamma merapikan pakaiannya.
"Temanin gue jadi partner dansa gue". Ucap Tessa sambil menaik turunkan alisnya.
"Lah.. Kok?". Ucap Gamma bingung.
"Udah ayoo.. Cepetan ah!". Ucap Tessa menarik Gamma meninggalkan Chika.
Tessa dan Gamma kemudian segera pergi ke lantai dansa dan melakukan dansa bersama.
__ADS_1
Disana juga ada Allena yang berdansa dengan Louis.
Aziel yang berpasangan dengan Alexa. Mereka berdansa bersama dilantai dansa.
Ada Manaf yang berpasangan dengan Airin. Terlihat Airin sangat malu-malu. Maklum Airin tak terlalu pandai dalam berdansa.
Sementara Zee saat ini dia tengah berjalan menghampiri Setya yang tengah duduk dikursi sambil memegang gelas jus ditangannya.
"Hai Kak Setya! Mau jadi partner dansa Zee nggak?". Tanya Zee mengajak Setya.
Setya kemudian mendongakan kepalanya dan mendapati Zee yang tengah berdiri dihadapannya sambil memandanginya dengan tersenyum.
"Ngapain lo disini? Pergi sana! Dasar cewe nggak tau diri". Cibir Setya.
"Tapi kan Zee ngajak Kak Setya buat jadi partner dansa". Ucap Zee.
"Ya gue nggak mau. Gue kan nyuruhnya lo pergi dari sini. Ngapain masih disini? Pergi sana!". Usir Setya.
"Tapi Kak..". Ucap Zee terputus.
"Lo denger nggak sih? Gue suruh pergi ya pergi. Tuli lo ya?". Bentak Setya berdiri dari duduknya.
Zee yang mendengar bentakan Setya seketika kaget. Tapi Zee mencoba tetap tenang dan tak peduli. Gadis itu sudah sangat menyukai Setya sehingga tak peduli akan bentakan lelaki tersebut.
"Umm.. Kalau gitu Kak Setya mau apa? Biar Zee ambilin". Ucap Zee kembali.
"Gue bilang lo pergi dari sini. Lo nggak denger ya gue ngomong apa dari tadi?". Ucap Setya mulai emosi.
Alvian yang saat itu melihat Setya dan juga Zee segera menghampiri mereka.
"Zee ngapain lo disini sama cowok ini?". Tanya Alvian.
"Cewek ini pacar lo? Kalo iya bawa dia pergi dari sini. Ganggu tau nggak". Celoteh Setya.
Alvian yang mendengar perkataan Setya seketika memandang sinis Setya. Sesaat kemudian dia menatap Zee.
"Zee kita pergi aja dari sini. Lo jadi partner dansa gue". Ucap Alvian menatap Zee.
"Tapi kan gue..". Ucap Zee terhenti.
"Udah ayoo lo sama gue aja". Ucap Alvian menarik lengan Zee meninggalkan Setya.
Zee dan Alvina kemudian menuju ke lantai dansa dan berdansa bersama.
Alexa kemudian dengan berani makin merapatkan dirinya ke tubuh Aziel. Disandarkannya kepalanya ke dada bidang Aziel dengan memejamkan matanya. Alexa lalu mengeratkan kalungan tangannya di leher Aziel.
Allena yang melihat kedekatan Alexa dan Aziel hanya memberikan tatapan datar dari kejauhan yang tak dapat dimengerti. Seperti seseorang yang tidak mengikhlaskan namun tetap mencoba menutupnya.
"Cowo itu siapa Allena?". Tanya Louis disela-sela dansa.
"Bukan siapa-siapa". Jawab Allena datar.
"Lo tau kan Allena, mau gimanapun lo nggak bakalan bisa sama cowok itu". Ucap Louis memperingati.
"Gua tau. Gua juga udah bilang kalau cowo itu bukan siapa-siapanya gua". Ucap Allena.
"Gue cuman ingatin lo". Ucap Louis lagi.
"Iya". Ucap Allena.
Sementara Setya, lelaki itu terus saja memperhatikan Zee dan juga Alvian yang sedang berdansa dari kejauhan.
"Cih...!". Decak Setya dengan smirknya.
Tidak lama datang Hera lalu menghampiri Setya dan merangkul pundak Setya.
"Setya kita dansa yuk!". Ajak Hera.
"Gue nggak mau. Ngapain lo rangkul gue segala. Pergi sana!. Risih gue ama cewe modelan kek lo. Ganggu tau nggak". Celoteh Setya.
"Aaa.. Lo kok gitu sih ama gue". Rengek Hera.
"Ck.. Gue bilang pergi ya pergi. Aleahh.. ganggu aja lo". Ucap Setya beranjak meninggalkan Hera.
Setya kemudian pergi meninggalkan Hera dari sana. Mendapati Setya yang meninggalkannya, Hera kemudian segera beranjak menyusul Setya
"Gua ke toilet dulu sebentar". Ucap Allena tiba-tiba pada Louis. Saat ini mereka masi berdansa.
"Mau gue temanin?". Sarkas Louis.
"Nggak usah. Yakali!". Ucap Allena.
"Bercanda Allena. Gitu aja lo anggap serius". Ucap Louis.
__ADS_1
"Dih.. Yaudah kalo gitu gua ke toilet dulu". Ucap Allena melepaskan tangannya di leher Louis.
Allena kemudian segera pergi menuju toilet. Sementara Louis, lelaki itu segera keluar dari lantai dansa menuju kursi dan duduk disana menunggu Allena.
Aziel yang melihat Allena pergi ingin menyusul gadis tersebut. Aziel lalu melepaskan tangannya di pinggang Alexa.
"Kenapa El?". Tanya Alexa.
"Gua lupa gua harus nelfon orang tua gua dulu. Ada yang mau gua kasih tau ke mereka". Ucap Aziel mencari alasan.
Aziel kemudian dengan cepat beranjak dari tempatnya menyusul Allena.
Sementara Allena, setelah tiba di toilet gadis itu segera masuk ke dalam menutup pintu dan duduk diatas kloset duduk tersebut. Allena kemudian menarik nafas panjang lalu mengehebuskannya. Allena lalu mengangkat kepalanya ke atas dan kembali menghebuskan nafasnya dan menghembuskannya kembali. Allena kemudian mengulanginya terus hingga beberapa kali sambil meremas dress yang dikenakannya. Allena mencoba menenangkan diri.
Setelah beberapa saat Allena kemudian berhasil menenangkan dirinya. Gadis itu kemudian mencoba untuk duduk sebentar lagi. Setelah beberapa menit, Allena kemudian berdiri membuka pintu dan keluar dari toilet tersebut.
Saat Allena telah keluar, dia tiba-tiba dikejutkan dengan kedatangan Aziel yang muncul dari belakangnya dan menghadang dirinya.
"Ha? Hah.. hah.. hah.. Lu kenapa sih? Tiba-tiba muncul aja. Gua kaget tau nggak". Celoteh Allena sambil menarik-menghembuskan nafasnya.
"Lu kenapa?". Tanya Aziel memperhatikan Allena.
"Gua nggak apa-apa. Minggir! Gua mau lewat". Ucap Allena beranjak dari tempatnya.
Namun baru melangkah Aziel kembali menghadang Allena.
"Gua tanya lu kenapa?". Tanya Aziel lagi.
"Gua bilang gua nggak kenapa-napa. Lu kenapa sih ngehadang mulu? Gua mau lewat juga". Jutek Allena.
Saat mereka sedang berdebat, Aziel mendengar seperti ada yang datang dan ingin masuk. Dengan cepat Aziel menarik lengan Allena dan mendorong gadis tersebut untuk masuk kembali ke dalam toilet bersamanya dan langsung mengunci pintu toilet. Didorongnya pelan Allena ke dinding toilet. Aziel kemudian menutup mulut Allena dengan tangannya.
"Ssyyuuuuttt...! Lu diem dulu. Ada orang". Ucap Aziel waspada.
Posisi mereka saat ini sangat dekat. Dengan Aziel mendekatkan dirinya pada Allena dan menahan Allena agar tak bersuara.
Seseorang itu pun datang dan seperti masuk kedalam toilet disebelah tempat Aziel dan Allena saat ini. Aziel semakin coba untuk setenang mungkin agar mereka tak ketahuan. Ditatapnya wajah Allena yang terlihat sayu.
"Lu kenapa?". Tanya Aziel pelan sambil memperhatikan wajah Allena. Dilepaskan bekapannya dibibir Allena.
"Hah.. hah..! Gua nggak kenapa-napa". Jawab Allena lemas sambil menarik-menghembuskan nafasnya.
Gadis itu menatap Aziel sayu. Allena kemudian menyenderkan kepalanya didada bidang Aziel. Gadis itu kembali kumat. Namun Allena sebisa mungkin untuk mencoba menenangkan dirinya.
Aziel yang tak mengerti mulai khawatir dengan keadaan Allena.
"Lu kenapa Allena?". Tanya Aziel dengan nada yang mulai khawatir. Diangkatnya wajah Allena dan menangkup kedua pipi Allena.
Aziel kemudian memperhatikan wajah Allena. Gadis itu nampak selalu menarik dan menghebuskan nafasnya hingga beberapa kali.
"Gua tanya Allena. Lu kenapa?". Tanya Aziel khawatir. Dipandanginya terus Allena.
"Gua bilang gua nggak kenapa-napa". Jawab Allena sambil melepaskan kedua tangan Aziel diwajahnya.
Allena kemudian kembali menyenderkan kepalanya didada bidang Aziel. Gadis itu mencoba memejamkan matanya sebentar.
"Tolong biarin gua kek gini dulu sebentar aja". Ucap Allena memohon.
Mendengar itu Aziel kemudian membiarkan Allena bersandar didadanya. Didekapnya Allena secara perlahan. Allena membiarkan Aziel, dia hanya ingin menetralkan dirinya terlebih dahulu. Mereka berada dalam posisi dekat itu hingga beberapa menit.
Tidak lama orang yang disebelah terdengar telah selesai dan keluar dari ruang toilet disana. Allena juga sudah mulai tenang dan mengangkat kembali kepalanya dari dada bidang Aziel.
"Lu kenapa Allena? Kenapa lu tiba-tiba kaya tadi? Lu sakit?". Tanya Aziel menatap Allena.
"Gua nggak apa-apa. Awas gua mau keluar". Ucap Allena sambil mendorong Aziel dan berjalan keluar dari dalam toilet.
Aziel kemudian mengejar Allena dan meraih lengan Allena lalu menahannya.
"Nggak apa-apa gimana? Tiba-tiba lu bereaksi kaya tadi masih bilang lu nggak kenapa-napa". Celoteh Aziel.
"Gua bilang gua nggak apa-apa. Lu nggak usah sok khawatir ama gua. Karena kita nggak sedekat itu". Ucap Allena.
"Udah bagus beberapa hari ini lu nggak deket-deket lagi ama gua. Sekarang lu mulai lagi". Ucap Allena lagi.
"Mending lu pertahanin dah!". Sambung Allena.
Allena kemudian beranjak pergi meninggalkan Aziel dan keluar dari sana. Sementara Aziel setelah mendengar perkataan Allena, lelaki itu langsung mengepalkan kedua tangannya.
"Itu yang lu ingin Allena? Oke! Gua ikutin mau lu. Gua nggak bakal deket-deket lu lagi". Ucap Aziel.
Aziel kemudian beranjak keluar dari sana dalam keadaan menahan emosinya.
Aziel berjanji pada dirinya dia tidak akan mendekati Allena lagi dan tidak akan peduli lagi pada gadis tersebut.
__ADS_1