
Malam hari sekitar pukul 19.00, terlihat Allena berjalan melewati ruang keluarga. Disana sudah ada Alvian dan juga Gamma.
"Mau jemput Airin, Len?". Seru Gamma dengan sambil mengunyah snack yang dipegangnya.
"Iya". Jawab Allena menoleh kearah Gamma.
"Tessa sama Zee mana?". Tanya Alvian juga.
"Lagi di kamar tuh dua bocah". Jawab Allena.
"Terus lo sendiri gitu jemput Airin?". Tanya Gamma lagi.
"Iya. Kenapa emang?". Ucap Allena.
"Gue temenin kalau gitu". Gamma bersiap berdiri dari sofa.
"Eh nggak usah. Biar gua sendiri aja". Tolak Allena.
"Tapi ini dah malam Len, lo nggak takut apa keluar malam sendirian". Ucap Gamma masih dengan mengunyah makanan.
"Iya Len, udah malem ini. Main pegi sendiri aja lo". Timpal Alvian.
Kedua pria itu tentu saja khawatir jika sahabatnya itu keluar sendirian pada saat malam seperti ini.
"Yaelah lebay amat lu bedua, baru juga jam segini. Udah nggak apa-apa, gua sendiri aja. Lu lu pada diam aja disini, jagain rumah gua". Allena kemudian berbalik begitu saja melangkahkan kakinya.
"Len Len, Allena..! yee.. tuh bocah dibilangin juga, batu banget jadi orang". Gamma hanya geleng-geleng melihat Allena yang begitu keras kepala.
"Udah Gam, nggak apa-apa. Susah emang kalau ngomong sama Allena". Ucap Alvian kemudian.
Sementara Allena mulai keluar dari rumah dan menuju parkiran sambil terlihat seperti menelpon seseorang.
Setelah selesai, Allena kemudian mengendarai mobilnya menuju rumah Airin.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup menguras waktu, kini Allena sudah berada dipekarangan rumah Airin.
Terlihat Airin berada diteras rumahnya yang memang sudah menunggu kedatangan Allena.
"Hey, udah nyampe". Seru Airin. Mata gadis itu kemudian tertuju kearah seseorang yang berada disamping Allena, "Ini siapa Len?". Tanya Airin.
"Tante mana?". Allena tidak menjawab. Gadis itu malah menanyakan Ibunya Airin.
"Oh-oh.. Nyokap gue lagi didalam". Jawab Airin. "Mau gue panggilin?". Tanya Airin yang mengerti maksud Allena.
"Boleh kalau bisa". Jawab Allena.
"Oke, kalau gitu tunggu bentar ya". Airin kemudian berjalan masuk kedalam rumahnya lalu memanggil Ibunya.
Tidak lama Airin kembali bersama Ibunya.
"Nak Lena nyariin Ibu? Ada apa to Nak?". Tanya Ibu Airin.
Mereka kemudian duduk terlebih dahulu dikursi yang ada diteras rumah itu.
"Iya Tante, maaf kalau Allena mengganggu waktu malam Tante". Ucap Allena.
"Yo ndak papa to Nak. Ndak mengganggu sama sekali. Ibu malah senang kamu datang kemari". Ibu Airin kemudian melirik seseorang yang ada dibelakang Allena, "Kamu kemari sama siapa to Nak?". Ibunya Airin bertanya sembari tersenyum kearah orang tersebut.
"Oh iya, ini perkenalkan Tante namanya Bi Ami. Bi Ami ini adalah orang yang Allena tugasin buat kerja disini". Allena memperkenalkan seorang Ibu-ibu berusia sekitar 56 tahunan kepada mereka.
"Maksudnya opo iki to Nak? Ibu masih ndak ngerti". Ucap Ibunya Airin.
"Intinya gini Tante, Bi Ami ini orang suruhan Allena untuk kerja disini. Buat bantu-bantu Tante nantinya di rumah ini. Istilah kasarnya jadi pembantulah, gitu Tante". Allena mencoba menjelaskan.
"Jadi maksudnya, Ibu ini kerja disini untuk bantu-bantu Ibu gitu Nak?".
"Iya Tante. Soalnya kan pasti Airin juga nggak selalu bisa bantu Tante sama Rendi juga. Mereka juga pasti sibuk sama sekolah, kadang-kadang ada tugas sekolah yang harus dikerjain jadi susah kalau mau bantu Tantenya gimana. Atau mungkin tiba-tiba mereka ada urusan penting yang mendadak". Allena mencoba memberikan penjelasan.
"Jadi Allena pikir Tante mungkin butuh orang untuk mau bantu-bantu apa gitu. Tante nggak usah pikirin bayarannya gimana. Biar Allena sendiri yang urus". Ucap Allena lagi.
Mendengar perkataan Allena barusan, Ibunya Airin langsung mendekat kearah Allena dan memeluk gadis itu.
"Terima kasih to Nak, wong kamu sudah baik sekali sama keluarga Ibu. Sudah berkali-kali kamu bantuin keluarga Ibu. Kenapa kamu baik sekali to Nak, sama keluarga kecil kami. Ibu jadi bingung balasnya nanti kaya gimana". Ibunya Airin menangis sambil memeluk Allena. Gadis itu sudah sangat terlalu baik dengan terus membantu keluarganya.
"Sama-sama Tante, Tante nggak usah mikirin itu. Allena ikhlas kok bantuin Tante". Ucap Allena sembari membalas pelukan Ibu Airin.
__ADS_1
"Tante kalau ada apa-apa, nggak usah sungkan minta bantuan ke Allena. Allena pasti usaha bantuin kok". Sambungnya lagi.
"Sekali lagi terima kasih buat Nak Lena. Semoga Nak Lena selalu diberikan limpahan rezeki oleh Gusti Allah". Ucap Ibu Airin.
"Makasih untuk do'anya Tante. Semoga balik ke Tante juga". Balas Allena dengan tersenyum.
Kedua orang itu kemudian saling melepaskan pelukan.
Tiba-tiba Airin mendekat dan langsung memeluk Allena sahabatnya itu.
"Makasih ya Len, makasihh...banget. Lo udah terlalu baik banget sama keluarga gue". Ucap Airin yang mulai pecah tangisnya.
Allena sahabatnya itu sudah sangat terlalu baik padanya. Entah diciptakan oleh apa Allena ini pikirnya.
Allena mungkin sangat terlihat mengintimidasi dari luar dan sangat cuek tidak pedulian. Tapi yang sebenarnya Allena sangat baik dan hatinya begitu lembut bagi Airin.
Baginya Allena adalah Sang Dewi penolongnya. Entah julukan apa yang harus dia sematkan untuk sahabat baiknya itu.
"Iya sama-sama. Nggak usah nangis gitu ah, lebay banget". Ucap Allena mengusap-usap punggung Airin.
Airin melepaskan pelukannya, "Ini tuh bukan lebay tau, tapi terharu. Jadi bingungkan gue cara ngebalas kebaikan lo kaya gimana". Airin sesenggukan sambil mengusap air matanya.
"Nggak usah balas, nanti lain kali aja". Sarkas Allena.
Setelah berbincang-bincang sedikit Allenapun meminta izin kepada Ibunya Airin untuk mengizinkan Airin menginap dirumahnya malam ini.
"Kalau gitu kami pergi sekarang ya Bu". Ucap Airin berpamitan pada Ibunya.
"Iya Nak hati-hati". Balas Ibunya.
Allena menoleh kearah Bi Ami, "Bibi kerja yang baik disini, jangan buat kesalahan kalau Bibi nggak mau dipecat". Ucap Allena memperingati.
"Iya Non, Bibi akan kerja sebaik mungkin". Ucap Bi Ami menunduk.
Setelah mencium tangan dan berpamitan, kedua gadis itupun pergi dari sana dengan menggunakan mobil.
Saat Allena dan Airin telah tiba, samar-samar mereka berdua mendengar seperti ada suara ribut-ribut dari dalam rumah.
"Udah ayo". Ajak Allena bergegas.
Dengan segera mereka berdua berlari masuk ke dalam rumah menuju ruang keluarga dari mana asal suara tersebut.
Terlihat disana terjadi keributan antara ketiga pria(Alvian, Gamma dan Louis) yang saling berdebat satu sama lain, dengan Tessa juga Zee yang mencoba melerai dan menahan mereka yang ingin bergulat. Disana juga ada Bi Ratih yang ikut membantu.
Seperti biasa 2 VS 1(Gamma dengan Alvian dan Louis sendiri).
"Apa-apaan ini?". Allena yang berteriak langsung saja memberhentikan keributan tersebut.
Dipandanginya mereka satu persatu dengan tatapan tajamnya.
Mereka yang melihat Allena langsung saja berhenti pada posisi mereka.
Apalagi posisi Tessa yang menahan Louis dengan memeluk perut pria itu dari belakang, dan Zee dari depan Alvian. Sementara Bi Ratih hanya menarik pergelangan tangan Gamma.
Dengan segera Tessa melepas pelukannya pada Louis saat pria itu mulai berjalan menghampiri Allena.
"Len, maksud lo apa ngizinin dua orang pria ini nginap disini? Emang mereka nggak ada tempat tinggal sampai harus tidur disini. Kalau mereka bertiga sih gue nggak papa, nggak masalah. Tapi kalau dua makhluk ini, ngapain. Mending mereka balik sekarang". Ucap Louis yang terlihat kesal.
"Maksud lu apa ngomong kaya gitu? Lu pikir lu siapa? Ini rumah gua dan lu cuma numpang disini. Lu nggak berhak ngatur-ngatur siapa yang gua bawa kesini. Lagian gua sendiri yang ajak mereka buat nginap disini, ngapain lu larang-larang?". Ucap Allena dengan menaikan suaranya menatap bengis kearah Louis.
"Kalau emang lu nggak suka ada mereka disini, lu aja yang pergi sana! Nggak ada juga yang butuhin lu disini. Berani-beraninya lu ngusir sahabat-sahabat gua". sambungnya lagi masih dengan suara yang keras.
Sementara mereka yang ada disana hanya diam melihat Allena yang memarahi Louis. Gadis itu begitu menyeramkan bila sudah marah. Perkataannya pasti akan selalu menyakitkan bagi yang mendengarnya.
Louis tentu saja kaget dengan Allena yang memarahinya. Sorot mata Allena begitu tajam memandanginaya. Bukan ini yang Louis inginkan.
Pria itu memandangi Allena sebentar. Sedetik kemudian Louis berbalik dan pergi dari sana menuju kamarnya.
Sedang Allena tidak peduli dengan Louis yang pergi. Allena tidak suka dengan Louis yang berani mengusir sahabat-sahabatnya. Louis pikir dia siapa beraninya seperti itu pada sahabatnya.
"Udah Len, tenang. Jangan marah-marah kaya gitu!". Airin mencoba menenangkan Allena.
Allena menghembuskan nafasnya, "Gua ke kamar dulu, ada yang mau gua ambil". Ucap Allena.
__ADS_1
Gadis itu kemudian mulai melangkahkan kakinya menuju tangga untuk ke kamarnya yang berada dilantai dua.
Setelah tiba di kamarnya, Allena mengunci pintu rapat-rapat lalu segera mengambil tasnya dari dalam lemari.
Dicarinya barang yang paling dibutuhkannya, mengambil beberapa barang dan diteguknya kembali bersama air digelas yang memang dia selalu sediakan.
Allena duduk diatas ranjangnya dan mulai menenangkan dirinya, "Kok bisa sih gua lupa". Allena berkata pada dirinya sendiri.
Gadis itu menghela nafas dan mulai membaringkan dirinya diatas ranjangnya sebentar.
...*****...
"Truth or dare?".
Ke-5 orang yang membundar itu kompak menatap Allena. Botol wine kosong baru saja berhenti berputar, mengarahkan moncongnya kearah Allena.
"Truth". Jawab Allena.
Saat ini ke-6 orang itu sedang bermain permainan yang lagi ngetren sekarang 'Truth or Dare'. Dan saat ini Allena mendapat giliran dengan memilih 'Truth'
"Oke gue dulu, gue dulu. Gue mau nanyain sesuatu hal ke Allena". Seru Gamma yang ingin cepat-cepat menanyai sesuatu hal ke gadis itu.
"Gue mau nanya dan lo harus jawab jujur, sejujur-jujurnya". Sambung pria itu serius.
"Yaudah lo mau nanya apaan? Lama banget aelah". Timpal Zee yang juga terlihat tak sabar.
"Gue mau nanya lo ada hubungan apa sama Kak Aziel? Gue lihat-lihat lo kayanya dekat banget sama Kakak kelas kita itu". Ucap Gamma kemudian.
"Wahh kayanya seru nih, jawab Len jawab". Ucap Tessa dan yang lainnya pun ikut penasaran setelah mendengar pertanyaan Gamma.
"Nggak ada, gua nggak ada hubungan apapun sama dia". Jawab Allena cepat.
"Yang bener, terus lo nggak ada perasaan apapun gitu sama Kak El?". Tanya Gamma lagi.
Allena menggeleng, "Nggak ada". Elak Allena. Wajahnya terlihat serius menjawab pertanyaan dari Gamma.
"Ah yang bener Len? Ngaku aja lo. Terus kenapa...
"Udah ah Gam, lo mulu yang nanya, gue juga mau nanya kali. Banyak bener pertanyaan lo, terus tarus terus tarus... udah". Zee dengan cepat menyela Gamma yang terus bertanya pada Allena, dia juga mau nanya kali ke Allena.
"Yee... Yaudah lo mau nanya apaan emang?
"Sebenarnya pertanyaan gue nggak jau-jauh juga sih dari Kak Aziel, tapi mungkin ini agak sensitif. Kalau lo nggak mau jawab juga nggak papa Len". Zee terlihat serius menatap Allena.
"Yaudah lo mau nanya apaan, bikin penasaran kita-kita aja". Gamma terlihat tak sabaran. Pertanyaan apa yang ingin ditanyakan Zee kepada Allena.
"Len, lo jawab ya. Apa yang lo sama Kak El lakuin waktu di kelas pas kita masih kelas 10? Gue lihat lo sama Kak El masuk kedalam terus pintunya kalian tutup". Tanya Zee kemudian.
Allena menautkan alisnya, "Ha? Kapan? Gua nggak ingat". Ucap Allena.
"Itu Len, yang pas kita masih kelas 10 waktu pulang sekolah. Gue lihat Kak El narik lo terus bawa lo masuk kedalam kelas. Masa lo nggak ingat sih". Ucap Zee mencoba mengingatkan.
"Ohh itu". Allena mulai ingat, "Kita cuman ngobrol bentar". Jawab Allena.
"Yang bener Len, kok lama amat ngobrolnya? Pake di tutup segala lagi pintunya". Zee masih belum puas akan jawaban Allena, "Masa cuman ngobrol doang harus pake nutup pintu, berduaan lagi sama Kak El". Zee menatap curiga. Sebenarnya sudah lama dia ingin menanyakan hal itu tapi dia takut Allena akan marah.
"Lo berdua nggak ngelakun hal-hal aneh kan Len?". Tanya Zee lagi.
"Ada". Jawab Allena santai.
Mereka yang mendengar itu langsung menatap kaget kearah Allena. Mereka masih belum yakin dengan jawaban gadis itu.
"Ha? Yang bener Len? Maksud lo gimana nih? Jangan bilang lo..". Airin tiba-tiba heboh sendiri.
Airin berdiri dari duduknya berjalan mondar-mandir, "Nggak, nggak mungkin. Ini nggak kaya yang gue pikirin kan Len. Lo sama Kak El nggak mungkin ngelakuin itu kan. Jelasin Len, jelasin sejelas-jelasnya, ini otak gue udah mengarah ke hal-hal yang nggak baik aduhh...". Airin terus berjalan kesana-kemari sambil memijit-mijit pelipisnya. Sekarang dia yang mulai heboh sendiri.
"Nggak ada kita ngelakuin itu". Jawab Allena masih dengan sikap santainya, "Aziel cuman nyium gua doang, itupun dia yang maksa. Gua mana tau kalau dia mau nyium gua waktu itu". Ucapnya lagi.
Ke-5 orang itu semakin menatap Allena kaget dengan mulut menganga.
"Astaga Allena...". Tessa geleng-geleng. "Cium apa dulu nih Len?". Tanya Tessa memajukan wajahnya kearah Allena.
"Dia nyium bibir gua". Jawab Allena biasa-biasa saja. Terlihat santai tak ada yang ditutup-tutupi.
__ADS_1