
"Uhuk..uhuk, lepasin oyy. Mati nih gue". Ringis Louis yang berusaha melepas kuncian Tessa dilehernya. Rasanya dia hampir mati kehabisan nafas.
"Sa, lepasin Sa, mati anak orang". Tegur Airin menghampiri Tessa agar melepaskan Louis.
Tessa kemudian melepaskan kunciannya dileher Louis dan memandang tajam pria itu.
"Heh, lo mau ngapain Allena tadi? Mau macam-macam lo sama Allena. Iya?". Tessa berkata dengan galak.
Louis memegangi lehernya yang sakit, "Orang gue nggak ngapa-ngapain Allena kok, sotoi lo jadi orang.
"Kalau nggak percaya tanya aja sama Allena". Desis Louis masih memegangi lehernya yang sakit.
"Emang nggak percaya eehh.. Lo kira gue nggak lihat tadi apa yang lo mau lakuin ke Allena.
"Kalau sampai berani-beraninya lo sama Allena, gue bakalan hajar lo habis-habisan. Kalau nggak gue bakalan laporin lo ke polisi. Awas aja lo". Ancam Tessa melototkan matanya dihadapan Louis.
Tessa kemudian menarik lengan Allena yang sedari tadi hanya diam, "Minggir lo sana!". Tessa mendorong Louis dan berjalan pergi dari sana bersama Allena.
Airin dan Zee kemudian menyusul mereka, "Louis, lo ternyata cowo mesum ya". Ucap Zee memperhatikan Louis dengan bergedik ngeri.
"Ayo Rin, kita cepat pergi dari sini". Sambung Zee menarik lengan Airin dan bergerak cepat, pergi dari situ.
Sementara Louis hanya berdengus kesal sambil terus memegang lehernya, "Gue nggak mesum kali, orang gue cuman bercanda doang sama Allena.
"Gila tuh cewek. Ampe encok gini leher gue jadinya. Aduhh..!!". Sambung Louis dengan meringis, memijit-mijit lehernya sambil berlalu pergi dari sana menuju kamarnya.
Sementara saat ini Allena dan ketiga temannya sudah berada didalam kamar Allena.
"Gue bilang juga apa, gue yakin pasti si cowok nyebelin itu nyari-nyari kesempatan biar bisa berbuat sesuatu diluar batas sama Allena. Lihat aja wajah mesumnya tadi itu. Ingin ku tonjok rasanya". Celoteh Tessa sambil mondar-mandir didepan ketiga sahabatnya itu.
"Untung gue tadi kepikirannya sampai kesana. Jadi gue mutusin buat temanin lo, Len disini. Takutnya tuh cowo benar-benar berbuat sesuatu yang nekat". Sambung Tessa masih terus mondar-mandir.
"Dia itu cowok normal. Nggak mungkin dia nggak bisa nahan lihat cewe udah didepan mata dia sendiri. Apa lagi Len, kalian itu tinggal serumah udah dijodohin lagi. Pasti ada sedikit terbesit dipikirannya buat lakuin sesuatu hal ke lo yang diluar batas. Gue yakin itu Len.
"Kalau gini terus, gue mutusin bakal tinggal sama lo sampai Nyokap lo pulang Allena. Gue takut tuh cowo nekat. Dia itu mesum kalau gue lihat-lihat". Tessa terus tak berhenti berbicara. Dia terus mengeluarkan unek-uneknya karena kesal pada Louis.
Zee menghampiri Tessa, "Udah Sa, tenang. Jangan bolak-balik mulu lo jalan, ikut pusing nih gue liatnya".
"Habis.. gue kesel banget sama tu cowo nyebelin. Berani banget dia mau ngapa-ngapain Allena. Baru juga dijodohin belum nikah, udah lancang aja dia". Kesal Tessa.
"Udah Sa, lo tenang aja. Gue sebagai sahabat terbaik bakal ikut lo buat jagain Allena dari Louis. Gue mulai over juga nih jadinya". Zee terlihat sangat bersemangat.
"Gue juga". Ucap Airin ikut-ikutan.
"Lah kalau lo ikut, terus yang jagain Bokap lo siapa?". Ucap Zee menatap bingung Airin.
Airin tersenyum, "Tenang aja, itu gampang kok. Gue lakuin ini juga buat sebagai ucapan terima kasih gue ke Allena karena sahabat gue ini udah baik banget sama gue dan keluarga gue juga". Airin mendekati Allena dan memeluk gadis itu.
"Makasih ya Len, mungkin untuk kali ini baru ini yang bisa gue lakuin sebagai tanda terima kasih gue ke lo. Tapi suatu hari gue pasti bisa balas semua kebaikan lo yang udah lo lakuin ke gue dan juga keluarga gue. Lo baik pake banget. Pokoknya lo ter the best lah. Sekali lagi makasih ya Allena". Ucap Airin masih terus memeluk Allena.
Allena tersenyum, "Iya Rin, sama-sama. Santai aja kali". Allena membalas pelukan Airin.
Zee memasang tampang sedihnya, "Huwaa.. kok jadi melow gini sih jadinya. Gue mau ikutan pelukan juga". Zee menghampiri kedua wanita yang berpelukan itu dan ikut bergabung.
"Gue juga dong. Masa kalian nggak manggil gue sih". Tessa ikut berpelukan.
Mereka berempat kemudian saling berpelukan bersama dalam keadaan campur aduk, haru dan bahagia.
"Udah udah pelukannya. Gua gerah nih belum mandi dari tadi. Gua mau mandi dulu sekarang". Ucap Allena mengerai pelukannya.
"Lo belum mandi?". Tessa memperhatikan Allena, "Oh iya ya, gue baru sadar lo masih pake seragam sekolah. Pantas aja dari tadi gue nyium bau-bau aroma tak sedap. Ternyata itu lo Len". Canda Tessa.
Allena menjitak kepala Tessa, "Yee.. bisa aja lu". Ucap Allena. Sementara mereka hanya tertawa dengan candaan Tessa.
Allena kemudian beranjak mengambil tasnya disofa dan memasukannya kedalam lemarinya lalu menguncinya rapat-rapat.
__ADS_1
Gadis itu kemudian berjalan ke kamar mandi dengan handuk yang dibawanya dan juga kunci lemarinya tadi. Allena lalu melakukan ritual mandinya.
...*****...
Pukul satu dini hari Tessa terbangun. Gadis itu merasakan kering ditenggorokannya. Tessa bangun dan duduk ditepi ranjang sambil melirik meja disamping tempat tidur.
Tessa kemudian keluar dari dalam kamar Allena dan turun kebawah menuju dapur. Tessa mengambil gelas dan membuka kulkas untuk mengisi air digelasnya.
Tessa lalu keluar dari dapur menuju ruang keluarga dirumah Allena itu, lalu dengan santainya meyalakan televisi untuk menonton siaran kesukaannya lomba sepakbola dunia. Terlihat Tessa dengan seriusnya menonton, sesekali meminum air yang dibawanya tadi.
"Suka bola juga lo".
Suara seseorang mengagetkan Tessa dan sontak membuat gadis itu menoleh kesumber suara, "Ihh gob*lok kaget gue anji*r, "Tessa mengusap-usap dadanya.
"Woyy lo sengaja buat gue jantungan. Mau balas dendam lo sama gue soal tadi". Tessa menatap tajam Louis.
"Sorry gue nggak sengaja kali". Ucap Louis santai sambil berjalan lalu duduk disamping Tessa.
"Eh eh ngapain lo duduk disini? Pindah ketempat lain sana!". Usir Tessa.
"Gue nggak mau. Kalau lo mau lo aja yang pindah sana. Gue tetep mau disini". Louis tak mengindahkan permintaan Tessa dan tetap duduk disatu sofa bersama Tessa. Lagi pula sofa tersebut dalam ukuran yang panjang kok.
Tessa hanya bisa menatap kesal Louis dan membiarkan pria itu disana. Tessa juga tak mau mengalah pada Louis. Orang dia duluan yang disitu, jadi Tessa harus bertahan dong. Yakali dia mau mengalah sama cowok nyebelin kaya Louis.
Akhirnya mereka berdua menonton pertandingan itu bersama dalam satu sofa.
Louis melirik Tessa yang nonton sambil memegang segelas air. Pria itu dengan cepat mendekati Tessa dan langsung mengambil gelas Tessa.
"Eh lo apa-apaan sih?". Tessa kaget, "Balikin nggak minuman gue". Sambung Tessa menatap tajam Louis.
Louis tak peduli, langsung saja pria itu meminum air dari gelas tersebut dan kembali memberikan gelas itu pada Tessa.
Tessa memandang tajam Louis dan juga gelas yang diberikan oleh pria itu, "Lo gila ya". Tessa langsung saja mengambil gelas itu dengan kasar dari tangan Louis.
Tessa melihat gelas yang sudah kosong, "Air minum gue lo habisin? Lo mau gue hajar sekarang ha, nyari ribut lo?". Tessa semakin kesal pada Louis.
"Tessa memandang kesal pada pria dihadapannya saat ini, "Lo- gue gampar juga lo". Ucap Tessa sambil mengayunkan tangannya memperagakan ingin menggampar orang.
Tessa kemudian berjalan ke dapur dengan perasaan kesal. Gadis itu kembali mengisi air digelasnya yang dihabiskan oleh Louis tadi.
Sementara Louis sangat senang karena sudah berhasil mengganggui Tessa. Dia ingin sedikit membalas perbuatan Tessa tadi padanya. Lehernya bahkan masih sakit saat ini.
Setelah selesai Tessa kembali menuju ruang keluarga dan duduk kembali ditempatnya tadi.
"Awas aja lo". Tessa melototkan matanya pada Louis dan kembali menonton televisi.
...*****...
Pukul lima pagi Tessa membuka matanya perlahan karena merasa ada yang menepuk-nepuk pelan pipinya. Dihadapannya kini sudah ada Allena, Zee dan juga Airin.
"Ciee.. Tessa. Ternyata diam-diam lo ada hubungan ya sama Louis. Kelihatannya aja nggak suka padahal mah ada hubungan ni yee". Zee mengatai Tessa yang membuat gadis itu bingung.
"Hah, maksud lo apa sih Zee?". Ucap Tessa dengan suara khas orang baru bangun tidur.
"Alahh.. sok-sokan lo Sa. Itu apa?". Zee menunjuk tangan kekar yang berada dipinggang Tessa.
Tessa langsung saja melirik yang dimaksud oleh Zee dan sontak membulatkan matanya kaget.
"Kyaaa... ini apa. Lepasin!!". Tessa berteriak menjauh dari Louis yang terlihat membuka matanya karena teriakan tersebut.
Ternyata Tessa semalam menonton televisi dan kembali tertidur, dan tanpa sadar dia tertidur dipangkuan Louis. Dia tidak tahu pasti bagaimana dia bisa berakhir tidur dipangkuan pria itu. Tapi yang jelas saat ini Tessa semakin kaget karena tadi lengan kekar Louis melingkar dipinggangnya, dan yang lebih memalukan lagi kejadian itu dilihat langsung oleh ketiga sahabatnya saat ini.
"Ck, berisik banget sih lo. Orang masih tidur juga". Louis perlahan membuka matanya sambil mengumpulkan nyawanya.
"Ada apasih, pagi-pagi udah teriak-teriak aja". Sambung Louis sambil mengedarkan pandangannya.
__ADS_1
Terlihat Tessa menatap bingung pada Louis. Saat ini dia tak bisa berpikir jernih. Tessa kemudian beranjak dari sofa dan berjalan cepat sambil sengaja menginjak kaki Louis dengan keras.
"Aduhh.. cewe stres, gila lo ya. Main injak-injak aja, nggak punya mata lo". Ringis Louis berteriak sambil memegang kakinya yang diinjak oleh Tessa.
"Ciee.. Louis sama Tessa. Ada apa nih?". Ucap Zee tiba-tiba sambil menatap curiga pada Louis.
Louis mendongakan kepalanya kearah Zee, "Hah, apa sih, maksud lo apa? Gue nggak ngerti dah". Louis benar-benar bingung saat ini.
Pagi-pagi dia sudah dibangunkan dengan teriakan Tessa dan juga tatapan aneh oleh ketiga sahabat Tessa itu.
...*****...
Saat ini keempat bersahabat itu sudah berada dalam mobil Allena.
"Kirain gue, lo ada hubungan dibelakang sama Louis, Sa". Ucap Zee yang berada dibelakang kursi penumpang.
"Ya nggak lah, ngapain gue punya hubungan sama cowo nyebelin kaya dia itu. Najis tau nggak". Tessa terlihat mendelik tak suka. Gadis itu tetap fokus mengemudi.
"Sa, nggak boleh ngomong kaya gitu. Nggak baik". Ucap Airin yang berada disamping Zee.
"Iya, iya Airin. Maaf keceplosan tadi". Balas Tessa.
"Tapi kenapa bisa lo tidur dipangkuan Louis ya". Zee bertanya kembali.
"Nggak tau gue juga. Guekan udah jelasin tadi".
"Udah ah nggak usah bahas itu lagi. Nggak enak gue, soalnya lagi berdampingan sama jodohnya tu cowok nyebelin". Tessa bermaksud menyinggung Allena disampingnya.
"Gue nggak peduli kali. Kalian juga kan tau kalau gua tuh nggak ada perasaan apapun sama Louis". Ucap Allena langsung.
"Tapi lo udah dijodohin sama Louis, Len. Dan itu berarti lo bakalan nikah sama Louis dong". Timpal Zee.
"Udah nggak usah bahas itu, nggak penting juga". Balas Allena tak peduli.
Sekitar 20 menit mereka telah sampai di SMAN Nasional. Tessa memarkirkan mobil dan mereka semua keluar dari dalam mobil.
Saat masih berada di parkiran mereka berpapasan dengan Aziel dan juga Setya.
"Hei!!". Sapa Aziel tersenyum kearah Allena.
Ketiga sahabat Allena yang melihat itu seketika saling melirik satu sama lain dan histeris bersama.
Allena tak menjawab, dia hanya membalas senyuman Aziel dengan tersenyum manis hingga matanya terpejam membuat Aziel gemas sendiri pada Allena.
Aziel mengangkat tangannya sambil berdengus lucu, "Lu tuh ternyata imut banget ya". Ucap Aziel seketika sambil mengacak-acak rambut Allena gemas, sontak membuat Allena kaget dengan perlakuan Aziel padanya.
"Kyaaa.... Kak El sama Allena sosweet baget sih astaga. Gue mau juga". Zee tiba-tiba histeris dan mendekat kearah Setya, menggandeng lengan pria itu.
"Kak Setya lihat itu. Allena sama Kak El sosweet baget kan". Ucap Zee sambil bergelayut manja dilengan kekar Setya.
Sementara Setya terlihat berusaha melepaskan gelayutan Zee dilengannya. Pria itu benar-benar merasa risih akan sikap agresif Zee padanya.
"Pulang sekolah nanti lu ada acara nggak Len?". Tanya Aziel seketika pada Allena.
"Umm...". Allena terlihat berpikir, "Rencananya sih gua mau ke rumah sakit. Mau jengukin Bokapnya Airin soalnya". Jawab Allena.
Aziel manggut-manggut, "Kalau gitu gua boleh ikut nggak?". Tanya Aziel sekali lagi.
Allena seketika menoleh kearah Airin, "Rin, boleh nggak?". Tanya Allena pada Airin.
Airin mengangguk, "Boleh-boleh aja kok". Jawab Airin sambil tersenyum.
Aziel menoleh kearah Allena, "Jadi boleh kan?
Allena kemudian mengangguk sebagai tanda jawaban, "Boleh". Allena tersenyum kearah Aziel yang juga tersenyum padanya.
__ADS_1
Mereka semua kemudian melanjutkan berjalan bersama-sama untuk menuju kelas mereka masing-masing.
Terlihat Zee terus memaksa Setya agar mau digandeng olehnya. Sementara Setya selalu berusaha agar Zee melepaskan dan tidak terus-terusan bergelayut manja dilengannya. Pria itu sangat terganggu akan perlakuan Zee padanya.