Allena And Friend'S

Allena And Friend'S
PART 140 ~ Allena and Friend's


__ADS_3

Beberapa hari berlalu. Hari ini adalah hari jum'at, dan hari ini diadakan senam pagi di SMAN Nasional.


Seperti biasanya, jika setiap ada senam pagi Allena pasti tidak akan ikut. Entahlah, mungkin karena Allena malas, tidak menyukai senam pagi, atau apalah alasannya tak ada yang tau.


Gadis itu malah memilih untuk pergi ke aula melakukan apa saja yang diinginkannya disana.


"ALLENA TUNGGU!". Panggilan tersebut berhasil membuat Allena menghentikan langkahnya.


Saat ini Allena memang sedang berada di lorong sekolah ingin menuju aula.


Seorang cowok berlari menghampiri Allena yang sudah berbalik padanya.


"Mau kemana?". Tanya cowok itu saat sudah di dekat Allena.


"Bukan urusan lu". Jawab Allena datar.


"Allen, ayolah jangan kaya gini! Lu masih marah ama gua? Gua kan udah bilang gua nggak ada hubungan apa-apa sama Alexa. Gua juga cuman...


"EL!". Ya cowok itu Aziel. Cowok yang saat ini sudah berdiri di hadapan Allena dengan tatapan frustasi.


"Gua udah bilang gua nggak marah ama lu. Apalagi yang ada hubungannya dengan Alexa, nggak sama sekali. Gu-gua cuman, gua cuman-". Allena seketika menghentikan ucapannya, lalu menghembuskan nafasnya berat, "Haahh... EL, kita nggak ada hubungan apapun, kenapa lu masih nggak ngerti juga? Gimana caranya gua ngejelasin ke lu biar lu ngerti kalau gua ama lu itu emang nggak bisa sama-sama lagi kaya dulu. Oh nggak, nggak gitu. Dari awal kita emang nggak punya hubungan apapun. Gua yang salah karena udah biarin lu datang ke kehidupan gua. Gua yang salah karena udah nerima semua perlakuan lu ke gua. Emang gua yang salah disini. Tapi gua harap sekarang lu ngerti kalau gua emang nggak mau ada hubungan apapun lagi ama lu". Terang Allena. Meskipun tatapannya sangat datar. Namun tangan kanan cewek itu terlihat terkepal seperti menahan sesuatu yang bergejolak di hatinya.


"Nggak, gua nggak mau!". Sentak Aziel cepat, "Gua nggak mau lu ngejauhin gua Allen, mana bisa kaya gitu. Gua mau lu tetap berhubungan ama gua, sampai kapanpun. Pokoknya lu ama gua harus tetap berhubungan. Dan gua maksa!". Sambungnya kekeh dan penuh penekanan.


"EL! Kenapa lu masih nggak ngerti juga sih? Gua cape ngejelasinnya. Gua ama lu dari awal emang nggak ada hubungan apapun. Jadi lu ama gua harus hentiin ini dari sekarang". Cetus Allena dengan cepat, "Udahlah, gua nggak mau ngomong lagi ama lu!". Dengan cepat Allena berbalik dan langsung melangkahkan kakinya.


"NGGAK BISA!". Teriak Aziel dengan cepat berlari menyusul Allena dan langsung memeluk cewek itu dari belakang. "Nggak bisa Allen, gua nggak bisa kalau nggak berhubungan lagi ama lu. Gua sayang ama lu, gua bener-bener sayang dan tulus ama lu Allen. Tolong jangan buat gua kaya gini!". Desisnya semakin mengeratkan pelukannya dan sudah menjatuhkan kepalanya di bahu kanan Allena.


Allena yang merasakan pelukan Aziel semakin mengerat hanya bisa kembali menghembuskan nafasnya perlahan dengan mata yang terpejam.


Tidak berselang lama Allena melepaskan tangan Aziel yang mengalung di lehernya dan juga yang memeluk pinggangnya. Lalu berbalik menghadap Aziel, menyatukan kedua tangan itu sembari menggenggamnya dengan kuat. Sedetik kemudian Allena langsung melepaskan genggamannya, menatap mata tegas itu namun terlihat sendu.


"Maafin gua EL, kita emang nggak bakal bisa bersama apa lagi bersatu. Gua udah punya tunangan dan lu tau itu. Jadi gua harap lu bisa jauhin dan lupain gua. Lu ngerti kan maksud gua?". Desis Allena terlihat begitu tenang dengan tatapan datarnya.


"Tapi Allen, gua nggak mungkin bis...


"EL.. stop! Not again! It's enough! Udah ya!


Setelah berbicara seperti itu Allena berbalik dan langsung melangkahkan kakinya dari sana.


"Len! Allen! Allen nggak bisa gitu dong". Namun Allena tetap melangkahkan kakinya, "ALLENA ALLENA ALLENA!". Teriak Aziel namun Allena tak menggubris dan terus melangkahkan kakinya, "AAGHH!! LU JAHAT LEN! LU JAHAT AMA GUA, LU TEGA! PADAHAL GUA SAYANG AMA LU, GUA TULUS DAN BENER-BENER CINTA AMA LU! TAPI LU MALAH GINIIN GUA! GUA NGGAK MAU ALLEN, GUA NGGAK BISA!". Teriak Aziel lagi melihat Allena yang benar-benar menghilang dari pandangannya.


"AKKHHH!! SHI*T! SHI*T! SHI*T! FUC*K!


BUGH!


BUGH!


BUGH!


Dengan perasaan kesal bercampur marah dan emosi, Aziel meluapkan semua rasa kekesalannya dengan meninju tembok di sampingnya dan juga memandangnya dengan begitu kuat. Tak peduli dengan rasa sakit di tangan dan kakinya, yang penting Aziel bisa meluapkan kemarahannya yang begitu memuncak.


Dengan perasaan marah Aziel memandangi tembok di hadapannya dengan nafas yang memburu dan juga tatapan yang begitu tajam, matanya memerah begitu menyeramkan. Bagi siapa pun yang melihatnya pasti akan takut melihat Aziel saat ini.


Hanya satu nama diingatannya saat ini. Satu nama yang menurutnya membuat hubungannya dengan Allena rusak.


"SHI*T! LOUIS!". Dengan cepat Aziel berbalik dan langsung melangkahkan kakinya pergi dari sana dan tangan yang mengepal kuat.


Sementara itu Allena tetap melanjutkan langkahnya tanpa mempedulikan teriakan Aziel.


Allena tetap terus berjalan sampai akhirnya dia tiba di depan aula sekolah yang besar itu. Mata hazel cantiknya kemudian menatap pintu aula yang masih tertutup rapat itu. Terdengar hembusan nafas pelan yang keluar dari mulut Allena.


Saat tangannya mulai menyentuh handel pintu, Allena berhenti dan tiba-tiba sedetik kemudian mengingat sesuatu. Alisnya sampai terlihat mengerut.


"SHI*T! LOUIS!". Umpat Allena membola, dan dengan cepat cewek itu berbalik lalu segera berlari pergi dari sana.


Allena terus berlari sampai akhirnya cewek itu kini sudah tiba di lapangan utama yang dipenuhi dengan para murid-murid. Lebih tepatnya para murid-murid itu tengah terlihat mengerumuni satu tempat.

__ADS_1


Tanpa berlama-lama lagi Allena langsung berlari ke arah kerumunan tersebut dan dengan cepat menerobos masuk. Matanya membulat seketika saat melihat pemandangan di hadapannya.


Terlihat Aziel dan Louis yang tengah dipegangi oleh beberapa siswa. Seragam kedua cowok itu sudah berantakan, rambut yang acak-acakan, juga ada lebam dibeberapa bagian wajah mereka. Bahkan darah segar terlihat keluar di sudut bibir Louis.


"Lepasin! Gua mau kasih pelajaran ke cowok sialan itu!". Maki Aziel yang berusaha melepaskan cekalan para siswa yang menghadangnya.


"Udah EL, berhenti! Lo kenapa sih? Ha!". Cetus Setya yang juga ikut membantu memegangi Aziel.


"Nggak! Gua harus kasih pelajaran ke dia, karena dia udah berani ngerebut Allena dari gua". Bentak Aziel yang terus memberontak.


"Eh, Aziel! Asal lo tau ya, Allena itu udah jadi tunangan gue. Jadi gue yang lebih berhak atas Allena. Bukan lo yang jelas-jelas nggak ada hubungan apa pun sama Allena. Ngerti lo ha?". Balas Louis. Cowok itu memang terlihat tidak memberontak seperti Aziel. Karena dia masih bisa menahan diri.


"BRENG*SEK LU! KALAU LU NGGAK DATANG KE KEHIDUPAN GUA SAMA ALLENA, PASTI ALLENA UDAH SAMA GUA SEKARANG". Bentak Aziel yang emosi.


Louis seketika berdecak sinis, "Huh nggak malu lo ngomong kaya gitu? Pacaran aja nggak pernah lo sama Allena. Iya kan? Emang pernah lo sama Allena pacaran?". Tantangnya sinis.


Aziel yang mendengar perkataan Louis, seketika semakin emosi. Kedua tangannya bahkan semakin terkepal dengan kuat. Memang benar apa yang dikatakan Louis, bahwa Allena dan dirinya tidak pernah berpacaran. Aziel pernah mengatakan perasaannya pada Allena, tapi hingga saat ini Allena tak pernah membalas pernyataan cintanya itu. Meskipun begitu, tapi Allena selalu mau menerima perlakuan apa pun darinya. Maka dari itu Aziel merasa bahwa Allena sudah membalas perasaannya.


Dengan tenaga yang masih kuat, Aziel berusaha melepaskan cekalan siswa-siswa dengan terus memberontak hingga sampai Aziel berhasil terlepas.


Dan tanpa menunggu lama lagi Aziel langsung menghampiri Louis dan ingin memberi bogeman mentah lagi untuk Louis yang terlalu membuatnya emosi.


BUGH!


AGHH!!


Aziel sontak membulatkan matanya melihat Allena yang sudah jatuh tersungkur ke tanah akibat pukulan yang ingin dilayangkannya pada Louis malah mengenai wajah Allena.


Bagaimana tidak? Allena tiba-tiba saja muncul ke tengah-tengah saat Aziel sudah ingin menerjang Louis, dan pukulan itu tentu saja langsung mengenai Allena.


Murid-murid yang ada disana bahkan sampai ikut terkejut dan histeris melihat itu.


"ALLENA!!". Pekik Louis yang langsung menghampiri Allena yang duduk di tanah sembari memegangi pipi kanannya yang kena bogem mentah dari Aziel. Cewek itu menunduk hingga wajahnya sampai tertutup oleh rambut panjangnya yang halus.


Meskipun begitu, tidak terdengar sedikit pun suara jeritan yang keluar dari mulut Allena. Meringis pun tidak sama sekali.


Allena. Cewek itu terlihat menyingkapkan rambutnya hingga wajahnya terlihat. Tidak ada sedikit pun air mata yang keluar atau membasahi pipi cewek itu. Hanya ada tatapan tanpa ekspresi yang ditunjukannya.


"Nggak usah, gua nggak papa!". Cetus Allena kemudian.


"Tapi Len, dia udah...


Sekali lagi Allena menarik tangan Louis yang hendak memaksa. Cewek itu kemudian menggeleng. Tidak ingin lagi ada pertengkaran lanjutan.


Melihat Allena yang seperti itu, Louis hanya menghela nafasnya untuk meredam emosinya pada Aziel. Untuk sekarang ini dia harus mengurusi Allena dahulu. Louis kemudian berhenti, lalu beralih mendekati Allena.


Aziel yang awalnya tadi masih diam, mulai ingin mendekati Allena...


"Eh, Aziel!". Tessa tiba-tiba datang dan langsung mendorong Aziel hingga termundur ke belakang, "Kok lo malah mukul Allena? Otak lo dimana ha?". Sentaknya kesal.


Sementara itu Airin yang juga ada disana ikut membantu Allena, "Len, kita ke UKS sekarang ya?


Louis dan Airin kemudian membantu Allena menuntun cewek itu untuk menuju UKS. Sekalian untuk mengobati juga lebam-lebam di wajah Louis.


"Gila lu!". Maki Tessa kemudian berbalik untuk pergi menyusul ketiga orang tadi.


Sementara itu...


"AZIEL KE RUANG BK SEKARANG!". Sentak Pak Trisno yang sedari tadi ada disana.


Pak Trisno sendiri tadi sudah sangat kewalahan mengurusi Aziel. Beliau saja tadi hampir kena pukul Aziel kalau bukan karena bisa menghindar. Kalau nggak, udah kobam pasti sekarang Pak Trisno.


Mendengar itu, Aziel langsung saja menatap tajam ke arah Pak Trisno yang membuat guru itu langsung meneguk salivanya. Tatapan muridnya itu terlalu menohok, sampai bisa menembus jiwa dan relung hatinya(canda aelahh😅😅)


Tak mempedulikan perkataan Pak Trisno, Aziel langsung saja pergi dari sana.


"AZIEL MAU KEMANA KAMU? KE RUANG BK SEKARANG!!

__ADS_1


...******...


"Daechwita daechwita ja ullyeola daechwita daechwita daechwita ja ullyeola daechwita...eh Bos!". Gabriel melongo. Cowok itu segera menghampiri Aziel yang tengah berbaring selonjoran di atas sofa panjang dengan tangannya di atas pelipis. Matanya kemudian menerawang ke seleruh penjuru markas, "Waduh nih markas apa kapal pecah? Buset berantakan amat". Decaknya.


"Bos! Bos! Hellow Bos! Bos kenapa sih? Ada apa Bos?". Gabriel menggoyangkan tangan Bosnya.


Tadi dia sempat bolos sekolah dan langsung menuju markas, di parkiran Gabriel sudah melihat motor Aziel. Masuk-masuk markas udah kaya kapal pecah nggak terawat. Berantakan banget oyy! Barang-barang berserakan di lantai, vas bunga udah pecah nggak bisa disatuin lagi. Meja kursi udah kegeser nggak sesuai tempat. Kursi plastik beberapa satu kakinya ada yang patah. Banyak barang yang pecah berserakan di lantai. Untung televisi nggak kena amukan Aziel, kalau sampai kena nggak bisa main PS lagi mereka.


"BERISIK!!". Bentak Aziel menepis tangan Gabriel. Nggak tau apa moodnya sedang memburuk saat ini.


Gabriel sampai terkesiap dan nggak berani ganggu Bosnya lagi. Kalau udah marah kaya gini, Aziel pasti nggak kekontrol. Bisa-bisa dia sendiri yang kena damprat nanti.


Akhirnya Gabriel memutuskan untuk membersihkan kekacauan-kekacauan yang dibuat oleh Bosnya itu.


"Yaelah Bos Bos! Lagi Bos? Kemaren kan udah masa sekarang Bos mecahin barang lagi Bos. Kan AA Gabriel capek Bos kalau ngeberesin ini lagi". Celoteh Gabriel sambil membersihkan pecahan-pecahan barang di lantai putih bersih itu.


"Bos kenapa lagi sih Bos? Berantem lagi sama cewek Bos yang cantik itu?". Tanya Gabriel akhirnya.


Bagaimana tidak? Sebulan lebih yang lalu Aziel, Bosnya itu datang-datang langsung ngamuk-ngamuk, marah-marah mecahin barang sana-sini, ngebanting meja kursi sampai markas berantakan kaya habis dilemparin bom atom. Dan nggak ada satu pun yang berani nahan Aziel kalau udah marah-marah nggak terkendali kaya gitu termasuk Setya sekali pun . Hingga akhirnya semua anak-anak geng Alcandor harus membereskan semua kekacauan yang diperbuat oleh Bos mereka itu.


"Iya Bos? Bos berantem lagi sama cewek Bos yang cantik itu? Yailehh Bos berantem mulu, nggak capek apa". Seru Gabriel lagi masih dengan membereskan semua.


"BERISIK LU DARI TADI! MAU LU GUA GANTUNG SEKARANG HA?!". Bentak Aziel.


Anak buahnya yang satu itu emang nggak ngerti kondisi apa. Orang lagi emosi malah ditanya-tanya. Minta dikasih satu dua pukulan kali ya biar nggak banyak tanya.


"Yaampun Bos santai aja napa, nggak usah marah-marah mulu, entar keriput tuh kulit. Emang Bos mau tua sebelum waktunya?". Ucap Gabriel sambil terkekeh.


"BACOT!". Bentak Aziel langsung, "Sekali lagi lu ngomong, gua gantung beneran lu sekarang!


"Iya Bos iya. Nggak lagi kok". Gabriel akhirnya berhenti berbicara. Takutnya nanti dia bener-bener digantung sama Aziel. Dia masih belum mau meninggoy, dosanya masih numpuk segunung. Nanti-nanti aja dia meninggoy kalau udah tobat(itu pun kalau masih bisa tobat🤣)


Tidak beberapa lama geng Alcandor lainnya mulai berdatangan. Mereka langsung melongo melihat seisi markas yang berantakan itu. Dari pintu masuk sampai ruang tengah mereka semua langsung disuguhkan dengan pemandangan bagaikan rumah runtuh itu.


"Weishh kenapa nih? Kok jadi kaya kandang bab*i gini. Ini ada apa nih? Kenapa bisa kaya gini nih? Siapa yang udah berani ngacauin markas kita? Wahh nggak bisa dibiarin nih, kita kudu cari pelakunya sekarang juga sampai ketemu, terus kita hajar sampai mampus". Dicky, dengan segala ocehan-ocehannya pria itu melangkah masuk ke markas dengan melihat pemandangan yang tak bisa dipercayainya.


"Eh Gab, lu dari tadi disinikan? Siapa pelakunya? Siapa yang udah berani-beraninya ngerusuhin markas kita? Bilang sama gue, biar gue cari tuh orang sampai dapat. Terus gue hajar sampai koit. Berani-beraninya tuh orang samapai ngebuat markas kita kaya gini". Sambung pria itu sembari melangkah mendekati Gabriel.


"Lo mau tau siapa pelakunya yang udah ngebuat markas kaya gini?". Tanya Gabriel tersenyum penuh arti.


"Yaiyalah gue mau tau orangnya siapa. Ck, udah cepetan sebutin siapa orangnya?". Tanya Dicky tak sabaran.


"Emang kalau lo tau siapa pelakunya lo mau ngapain gue tanya?". Sahut salah satu anak buah geng Alcandor yang tengah membenarkan posisi kursi.


"Nggak denger lo gue ngomong apa tadi? Gue bilang kalau sampai gue tau pelakunya gue bakal cari sampai dapat terus gue hajar sampai koit sampai mampus sekalian". Jawab Dicky dengan songong.


"Yang bener?". Cetus Gabriel mendelik.


"Ya benerlah, masa gue boong.


"Nggak usah gue kasih tau ah, entar jadi lo lagi yang koit". Cetus Gabriel cekikikan.


"Mana ada, nggak lah. Lo kira gue siapa? Nih Babang Dicky, Babang paling tampan seantero dunia dan paling jago lumpuhin musuh. Jangan macem-macem lo ama gue". Sahut Dicky sambil membusungkan dadanya dan memukul-mukulnya bak atlet tinju, membuat yang ada disana melihat itu tertawa dengan tingkah absurd bocah satu itu.


"Dih songong lo Dik!". Cibir Gabriel.


"Makanya kasih tau ke gue, siapa pelakunya? Lama amat ketimbang nyebut nama doang. Cepetan udeh sebut!". Cicit Dicky tak sabaran.


"Beneran gue kasih tau nih?". Tanya Gabriel memastikan.


"Iya kasih tau Gab, lama amat dah gue tungguin dari tadi juga, nggak nyebut-nyebut. Bisa-bisa malah lo yang gue mampusin". Cetus Dicky yang mulai kesal dengan Gabriel.


"Yaudah-yaudah gue kasih tau nih". Sahut Gabriel akhirnya, "Pelakunya itu noh, yang sana!". Sambungnya sambil menunjuk ke arah seorang pria yang masih berbaring di sofa, membuat semua yang ada disitu langsung menolehkan kepala mereka ke arah yang ditunjuk oleh Gabriel.


Termasuk Dicky yang sudah membeo tak percaya dengan menatap pria di sofa yang juga menatapnya dingin namun begitu mencekam. Atmosfer di ruangan itu bahkan kini sudah terasa berubah seperti ada yang mencekik di leher.


'Waduhh berabe dah ini urusannya. Ini mah mala gue yang bakalan mampus!!'

__ADS_1



__ADS_2