Allena And Friend'S

Allena And Friend'S
PART 72 ~ Allena and Friend's


__ADS_3

Pagi ini Allena sedang berjalan di koridor sekolah menuju kelasnya. Sedikit sepi karena sebentar lagi akan upacara disetiap hari senin. Jadi sebagian murid-murid sudah ada yang berada di lapangan.


Tiba-tiba dari belakang ada yang menarik tas Allena, yang sontak membuat gadis itu berbalik kebelakang.


"Hai Baby!". Sapa seorang pria yang ternyata adalah Aziel. Pria itu berdiri dihadapan Allena sambil tersenyum kearahnya, membuat Allena merasa sedikit terpana akan senyuman Aziel padanya.


Menurutnya ada sedikit perbedaan pada Aziel hari ini, mungkin. Apa karena gaya rambut Aziel? Biasanya pria itu akan terlihat rapi dengan model rambut low fade yang rambut atasnya dia biarkan panjang dan disisir rapi kesamping dengan potongan rambut tipis dibagian samping.


Tapi kali ini Aziel memakai gaya rambut two block yang rambut bagian atasnya dia turunkan sebagai poni dengan belahan yang sedikit diberantakan, memberikan kesan stylish namun tetap keren bagi Aziel, seperti gaya rambut oppa oppa Korea gitu. Menambah kadar ketampanan pria itu hari ini.


Allena bahkan hampir tak berkedip melihat gaya Aziel hari ini. Benar-benar tampan woyy...


"Kedip kedip". Aziel mengusap wajah Allena dengan telapak tangannya. Tasnya yang sedari tadi jatuh bahkan sampai tak disadari oleh Allena.


"Terpesona lu ya ama ketampanan gua". Sambung Aziel menatap Allena yang mulai sadar. Pria itu terlihat menaik turunkan alisnya.


Allena berdengus sambil berjongkok menyadari tasnya yang jatuh, "Ishh.. lu tuh doyan banget sih jatuhin tas gua. Suka lu ama tas gua". Desis Allena mengambil tasnya yang jatuh. Gadis itu tak menyadari resleting yang biasanya dia letakan sebagai stoples tempat barangnya itu terbuka hingga ikut terjatuh.


Aziel yang melihat barang Allena itu menautkan alisnya, "Hmm? Barang itu lagi kah?". Aziel berkata dalam hati.


Allena kembali berdiri dihadapan Aziel, "Ngapain lu pagi-pagi udah gangguin gua, nyari ribut lu ama gua". Ucap Allena dengan wajah masamnya.


Aziel berdelik lucu, "Marah-marah aja lu.


"Nggak.. ini, gua cuman mau minta tolong ama lu. Tolong bantu pasangin dasi gua dong. Bisa kan?". Ucap Aziel sambil tersenyum memberikan dasinya dihadapan Allena.


Allena mengambil dasi Aziel, "Emang lu nggak bisa pake dasi apa? Masa dasi harus dipakein juga". Allena pura-pura kesal, padahal mah senang banget nih bisa dekat sama Aziel. Uhuyy🤭🤭😅


"Mana, coba deket sini dikit". Sambung Allena, dan Aziel langsung mendekat kearah Allena.


Beberapa murid yang melintas seketika heboh sendiri melihat kedua sejoli itu. Ada yang histeris ada juga yang memandang kaget.


"Waduh.. fotoin fotoin. Kyaa... kok cocok sih.


"Bakal trending nih. Foto yang banyak.


"Ini bisa jadi ladang penghasilan buat kita.


Murid-murid yang melintas bisanya hanya heboh sendiri. Sementara yang diheboin tak peduli, dan tetap melanjutkan aktivitas mereka.


Allena terlihat serius memasangkan dasi dileher Aziel. Gadis itu berjinjit karena badan Aziel yang tinggi sekitar 20 cm lebih, dari tinggi badan Allena.


Sementara Aziel terus tersenyum tipis memandangi wajah serius Allena. Pria itu beralih memandang bibir Allena yang terlihat menggoda baginya. 'Ughh.. bisa gila gua lama-lama', Aziel berkata dalam hati.


"Bentar, ini udah mau selesai". Ucap Allena seketika yang hampir selesai. Satu kaitan lagi dan tada... Selesai.


"Oke selesai". Ucap Allena sambil menepuk-nepuk pelan dada bidang Aziel bagian dasi yang tergantung untuk lebih memastikan rapi atau tidaknya dasi tersebut.


Allena memposisikan kembali kakinya. Tiba-tiba Aziel mendekat, memajukan kepalanya dan mencium dahi Allena sekilas.


Murid-murid yang sedari tadi disana semakin histeris melihat perlakuan Aziel pada Allena. Sangat heboh seperti habis melihat uang sekarung.


"Makasih cewe rakus". Aziel nyegir sendiri melihat wajah Allena yang mulai merah padam antara menahan kesal dan malu.


"Dih lu tuh ya, udah dibantuin malah ngatain. Nggak tau terima kasih lu". Desis Allena kesal.


"Itu gua cium. Sebagai tanda terima kasih lah". Ucap Aziel santai.

__ADS_1


Allena melototkan matanya melihat Aziel. Gadis itu kesal akan perlakuan Aziel yang selalu membuatnya berdebar seperti ini. Apa Aziel tak tahu bahwa Allena hampir gugup sendiri karena perbuatan Aziel yang seperti itu.


Aziel lalu meraih lengan Allena, "Yaudah kalau gitu kita ke lapangan sekarang. Kirain lu telat hari ini". Ucap Aziel menarik gadis itu untuk pergi dari sana.


"Eh eh.. Bentar bentar, tunggu! Gua simpan tas gua dulu di kelas". Allena menahan Aziel yang akan membawanya lalu berjalan menuju kelasnya dengan Aziel yang tetap menggandeng Allena dan mengikuti gadis itu. Pria itu memang tak berniat melepaskan gandengannya dilengan Allena.


"Ngapain sih lu ikutin gua ampe ke kelas segala? Kaya orang pacaran aja". Celoteh Allena yang sudah berada dalam kelas bersama Aziel dan meletakan tasnya diatas meja tempatnya.


Di kelas itu sudah tidak ada orang. Semuanya sepertinya sudah menuju lapangan.


"Ya nggak papa, takutnya lu hilang. Gimana?". Sarkas Aziel.


"Dih aneh aja lu. Udah lepas ah, dari tadi ngegandeng gua mulu. Mulai naksir lu ama gua". Desis Allena berusaha melepas tangan Aziel yang sedari tadi tak berhenti menggandengnya.


Aziel tak melepaskan, "Len, tunggu!". Ucap Aziel yang seketika menahan Allena yang ingin keluar kelas.


"Apa lagi yaelah". Desis Allena yang langsung memberikan tatapan kesal pada Aziel. Pria itu selalu saja berbuat sesuka hatinya.


"Bentar". Ucap Aziel mendekati Allena dan berdiri dihadapan gadis itu dalam jarak yang begitu dekat. Allena seketika mendongakan kepalanya keatas menatap wajah Aziel.


"Kenapa?". Desis Allena pelan. Gadis itu gugup sekarang. Allena bisa mencium bau maskulin dari tubuh Aziel yang menyeruak kedalam hidungnya.


Aziel mengangkat tangannya sebelah dan meraih tengkuk leher Allena dengan lembut, "Bentar aja ya Len". Ucap Aziel pelan lalu menundukan kepalanya kearah wajah Allena dan langsung mencium bibir ranum gadis itu.


Aziel menekan tengkuk Allena memperdalam ciumannya dengan memberikan beberapa luma*tan dibibir Allena. Aziel terus melu*mat hingga beberapa saat lalu melepaskan ciumannya ketika dirasa sudah cukup. Aziel kemudian memandangi wajah Allena yang juga tengah memandanginya dalam diam.


"El...". Desis Allena terhenti karena Aziel sudah meraihnya didalam dekapannya.


"Maaf Len, gua udah nggak tahan dari tadi". Desis Aziel lembut masih terus memeluk Allena.


Allena hanya membalas pelukan Aziel dengan nyaman dan mengangguk-angguk pelan dalam dekapan Aziel. 'Mau lu apa sih sebenarnya? Gua benar-benar nggak ngerti dengan keadaan kita yang seperti ini sekarang'. Allena berkata dalam hati bingung dengan apa yang terjadi dalam hubungannya antara dirinya dan Aziel. Pria itu selalu saja berbuat sesuatu yang membuat dirinya dilema.


Terlihat Aziel dan juga Allena berjalan menuju lapangan secara bersamaan dan saling berdampingan.


Sontak membuat seisi lapangan menjadi heboh karena kedatangan dua sejoli itu. Aziel dan Allena dikenal di sekolah itu sebagai kedua orang yang tidak saling akrab dan selalu saling memberikan tatapan mengintimidasi satu sama lain.


Tapi apa yang murid-murid lihat hari ini membuat mereka berpikir bahwa keduanya tengah saling memiliki hubungan, dan itu membuat heboh satu sekolah.


"Kalau gitu gua kesana dulu. Lu ingatkan apa yang gua omongin tadi". Ucap Aziel yang saat ini berada dibarisan kelas Allena, yang membuat murid ciwi-ciwi kelas 10 yang lainnya berjingkrak-jingkrak heboh karena kedatangan Ketua OSIS yang terkenal tampan itu. Apa lagi Aziel terlihat telah mengubah gaya rambutnya membuat mereka menjadi gila sendiri.


Sahabat-sahabat Allena saja memandang tak percaya dengan apa yang mereka lihat saat ini. Allena sahabat mereka itu terlihat sangat dekat dengan Aziel, yang mereka ketahui bahwa hubungan keduanya tidak baik dan tidak akrab.


"Iya iya, bawel banget sih. Udah sono ah, makin liar gua lihat fans-fans lu itu". Cibir Allena menatap sinis para murid ciwi-ciwi yang terlihat sangat gila akan kedatangan Aziel.


Aziel hanya bergelik lucu tersenyum melihat tingkah Allena yang terlihat seperti orang yang cemburu pada kekasihnya.


Sementara para siswi semakin histeris karena mereka baru kali ini mereka melihat senyuman seorang Aziel yang jarang senyum itu, bahkan yang mereka lihat Aziel selalu memasang tampang datar dan galaknya. Tapi ketika mereka melihat senyuman Aziel seperti sekarang ini, membuat mereka makin mengidolakan Ketua OSIS mereka itu.


"Gua duluan ya. Bye cewe rakus". Ucap Aziel sambil mengacak-acak rambut Allena dan berlalu pergi dari sana.


Para siswi yang melihat itu semakin histeris dengan apa yang dilakukan Aziel pada Allena.


"Kyaa.... Kak El ganteng banget astaga.


"Dia senyum woyy, bisa gila gue lihat senyuman Ketua OSIS kita itu.


"Iya kan, iya kan. Terus gaya rambutnya itu kaya oppa oppa Korea gitu yaampun.. makin ganteng Kak Aziel.

__ADS_1


"Sadar diri aja kalian. Lihat kaya gimana modelan saingan kalian.


Begitulah ucapan-ucapan para siswi disana. Mereka histeris, heboh sendiri dengan kedatangan Aziel dan apa yang dilakukan oleh pria tampan itu.


Sementara Alexa yang sedari tadi disana dan melihat kejadian itu terihat mengepalkan kedua tangannya menahan emosi.


Gadis itu beralih memandang kesebrang kelas Allena dan menatap Allena yang kebetulan juga menoleh kearah Alexa.


Mereka saling beradu pandang. Terlihat Allena memberikan tatapan datar pada Alexa dengan menaikan sebelah alisnya. Allena tiba-tiba menaikan sedikit sudut bibirnya dengan terus memandang Alexa seakan meremehkan, 'Gua menang, lu kalah'. Allena berkata dalam hati.


...*****...


Upacara telah selesai sedari tadi. Kini Allena dan ke-5 temannya(tanpa Manaf) sudah berada di kantin sekolah. Jam pelajaran pertama hari ini kosong. Para guru-guru saat ini sedang sibuk mempersiapkan untuk UAS(Ulangan Akhir Semester) disusul ujian untuk anak kelas 12.


"Lo beneran nggak pacaran kan Len, sama Ketua OSIS kita itu?". Ucap Zee yang saat ini menatap serius Allena.


Sahabat-sahabat Allena itu ingin lebih memastikan antara hubungan Allena dan juga Aziel. Pasalnya mereka mengetahui bahwa Allena itu sudah dijodohkan.


"Iya Len, bagaimana pun lo itu udah dijodohin sama orang tua lo. Yaa.. meskipun si cowo nyebelin itu sepupuan sama lo, tapi dia yang lebih berhak atas lo". Timpal Tessa.


"Gue jadi penasaran, sebenarnya lo itu mau nggak sih dijodohin sama Bro Louis". Ucap Gamma penasaran.


Allena memandangi sahabat-sahabatnya bergantian. Gadis itu kemudian menarik nafasnya dalam. "Huff...


"Sebenarnya gua tuh nggak ada perasaan apapun sama sekali sama Louis. Gua nerima perjodohan itu juga karena terpaksa". Jujur Allena.


Mereka semua yang mendengar itu seketika menatap Allena serius. Mereka ingin lebih tau lagi.


"Maksud lo? Tunggu tunggu! Coba lo jelasin ke kita-kita maksud lo gimana Len. Ini otak gue tiba-tiba ngestak sendiri". Ucap Alvian yang tiba-tiba menjadi heboh.


Allena kembali menarik nafas dalam. Gadis itu kemudian menceritakan semuanya mengapa dia mau menerima perjodohannya dengan Louis.


Terlihat para sahabatnya mendengarkan dengan serius setiap Allena bercerita.


"Wahh parah sih itu. Kirain gue cowok nyebelin itu nyogok lo biar lo mau dijodohin sama dia. Tau-taunya paksaan dari orang tua lo ya". Ucap Tessa tak habis pikir.


"Kenapa sih orang kaya itu harus pake ada acara jodohin anaknya segala. Padahalkan kita bisa cari jodoh sendiri sesuai keinginan kita sendiri". Timpal Zee yang terlihat kesal.


"Ya nggak papa sih. Setidaknya gua masih bisa balik kesini dan masih bisa kumpul-kumpul sama kalian-kalian lagi". Balas Allena santai. 'Dan juga masih bisa ketemu sama Aziel'. Lanjut Allena berkata dalam hati.


"Huwaa... Allena.. Kasihan banget sih sama masalah percintaan lo, nggak kaya gue. Sabar ya Allena ku sayang". Ringis Zee sambil memeluk Allena yang ada disampingnya.


"Terus sama Kak El gimana? Pak Ketua udah tau belum kalau lo udah dijodohin". Ucap Gamma.


Allena membalas, "Hubungannya ama dia apa? Lagian kan tuh cowok sendiri yang deket-deket ama gua. Gua juga nggak mikirin itu". Allena mengelak.


Allena sebenarnya selalu memikirkan hal itu. Bagaimana jika Aziel tahu bahwa dirinya sudah dijodohkan oleh Louis. Apakah Aziel akan menjauhinya. Apakah mereka tidak akan dekat seperti sekarang ini.


Allena juga sebenarnya sedikit merasa bersalah pada Louis karena terlalu dekat dengan Aziel. Bahkan sampai lebih kehubungan yang lebih intens.


Tapi Allena tak bisa memungkiri bahwa dia sangat senang dan bahagia jika bisa dekat pada Aziel pria yang disayanginya.


Allena hanya ingin menghabiskan waktunya bersama dengan orang yang disayanginya, sebelum dia benar-benar pergi.


"Tapi sebenarnya lo juga cocok kok sama Kak El. Tampan dan cantik. Sama-sama dari keluarga terpandang.


"Pokoknya cocok deh dilihat dari segi manapun. Dari pada sama si cowok nyebelin itu, nggak ada cocok-cocoknya. Lagian lo juga nggak suka kan sama cowok itu". Ucap Tessa bersemangat seakan mencibir Louis.

__ADS_1


"Lo kenapa sih Sa, kayaknya nggak suka banget sama Louis. Dia apain lo emang sampe segitunya". Timpal Airin yang heran akan sifat temannya itu.


Semua laki-laki sepertinya sangat dimusuhi oleh Tessa. Hampir semua cowok yang ditemuinya pasti akan dia adu bacot, kalau nggak ya adu gelut.


__ADS_2