Allena And Friend'S

Allena And Friend'S
PART 68 ~ Allena and Friend's


__ADS_3

"Apa? Lo mau apa dari gue?". Ketus Alexa.


Saat ini gadis itu sedang berada di gudang sekolah bersama Brayen. Hari ini dia sangat lelah karena harus berusaha lari dari pria itu.


Namun nasibnya berkata lain. Alexa harus berakhir berada di gudang bersama dengan Brayen. Apa lagi dengan tatapan nunus Brayen yang ditujukan padanya membuat wanita itu sedikit merasa ketakutan, namun tetap mencoba menutupi rasa kegugupannya.


"Udah gue bilangkan, berhenti ngatain gue cowo mesum. Kalau nggak, gue...". Ucap Brayen terhenti.


Alexa menyela, "Kalau nggak apa? Lo mau apa emang? Lo kira gue takut sama ancaman lo? Nggak ya". Tantang Alexa dengan beraninya. Dia tidak ingin kelihatan takut dihadapan Brayen. Gengsi dong kalau gitu.


"Oh ya". Gertak Brayen sambil berjalan kearah Alexa yang sontak membuat gadis itu kaget dan langsung berjalan mundur kebelakang.


"Emang lo mau gue apain? Hmm?". Sambung Brayen masih terus berjalan mendekati Alexa sambil tersenyum devil.


Alexa terus berjalan mundur, "Eh cowo mesum, lo jangan macam-macam yah ama gue". Desis Alexa was-was.


"Gue nggak macam-macam kok. Gue cuman pengen satu macam aja sama lo". Ucap Brayen masih terus berjalan mendekati Alexa yang membuat gadis itu mentok dimeja yang ada dibelakangnya.


Alexa memejamkan matanya kuat, "Duhh, mampus nih gue". Umpat Alexa didalam hatinya.


Gadis itu kembali membuka matanya dan menatap Brayen yang masih ada dihadapannya dengan senyum smirknya, membuat gadis itu bergedik.


Alexa mencoba tetap untuk tenang dan melawan, "Apaan sih lo? Minggir sana, gue mau keluar". Alexa melangkahkan kakinya ingin pergi dari hadapan pria dihadapannya saat ini.


Namun baru selangkah Brayen segera menarik lengan Alexa mencegat gadis itu untuk pergi.


"Et et et.. tunggu dong! Lo mau kemana sih emang?". Brayen menatap Alexa masih dengan smirknya.


Alexa menatap tajam Brayen, "Apaan sih ini? Lepasin nggak lo cowok mesum. Jangan pegang-pegang gue". Ringis Alexa mencoba menepis tangan Brayen namun tak berhasil. Pria itu enggan melepaskannya.


"Berhenti ngatain gue cowo mesum, udah berapa kali gue bilang. Kalau lo nggak berhenti juga, gua bakal...". Ucap Brayen terhenti.


"Apa? Lo bakalan ngapain gue emang? Lo kira gue takut sama ancaman cowo mesum kaya lo ha? Nggak.


"Lo itu emang cowok mesum nggak ada akhlak tau nggak. Nggak usah suruh gue berhenti, karena lo emang cowo mesum. Dasar cowo mesum nggak tau dir mmmphh". Alexa membulatkan matanya kaget.


Brayen yang sudah hilang kesabaran langsung menarik tengkuk leher Alexa dengan kuat dan mencium bibir ranum Alexa dengan paksa, membuat gadis itu kaget dan berusaha mendorong Brayen.


"Lo-". Ucap Alexa terhenti akibat Brayen yang kembali memagut bibirnya dengan kuat.


Alexa berusaha sekuat mungkin mendorong tubuh Brayen yang jauh lebih tinggi darinya. Namun gadis itu tak berhasil.


Brayen menangkup wajah Alexa dengan kuat agar ciumannya tak terlepas. Membuat wanita itu hampir kehabisan nafas. Brayen menjauhkan wajahnya sebentar dengan sambil mendorong Alexa agar mentok kearah meja dibelakang gadis itu.


"Brayen lep...". Ucapan Alexa kembali terhenti dengan Brayen yang memeluk pinggang ramping Alexa membuat gadis itu sulit bergerak.


Sementara Brayen, pria itu kembali memagut bibir Alexa dan langsung melu*matnya dengan lahap, membuat gadis itu terbelalak kaget. Brayen semakin menekan tengkuk Alexa kuat dengan terus merasakan bibir Alexa.


"Mhh..mhh..!". Alexa berusaha melepas pelukan Brayen dengan memukul-mukul dada bidang Brayen. Apa lagi dia hampir kehabisan nafas karena ulah pria ituh.


Setelah puas Brayen melepaskan ciumannya dan memandangi Alexa yang tengah menghirup udara sebanyak mungkin. Pria itu masih memeluk pinggang Alexa dengan menyunggingkan senyumnya dihadapan Alexa yang menatapnya dengan tajam.


Alexa lalu mendorong Brayen menjauh darinya, "Lo gila ya". Umpat Alexa marah.


"Kenapa hm?". Ucap Brayen terlihat santai memandangi Alexa.


Alexa menutup bibirnya, "Gila lo emang. Dasar kakak kelas nggak ada akhlak". Umpat Alexa melangkahkan kakinya ingin pergi dari sana.


Brayen berbalik melihat Alexa yang berjalan melewatinya dalam keadaan kesal dengan masih terus menutupi bibirnya.


"Nggak usah ditutupin Lex! Enak kok bibir lo. Lain kali gue mau lagi ya". Goda Brayen berteriak pada Alexa.


Alexa yang mendengar itu seketika berhenti dan langsung berbalik kearah Brayen, menatap tajam pria itu.


"Aaghh.... Dasar cowo mesum lo emang. Gila lo". Umpat Alexa berteriak kesal pada Brayen.


Alexa kemudian kembali berbalik dan melangkahkan kakinya pergi dari sana dalam keadaan kesal.


Sementara Brayen hanya melihat kepergian Alexa dengan tertawa puas.


Flashback Off


Brayen yang mengigat kejadian beberapa hari yang lalu seketika mengacak rambutnya frustasi. Saat ini dia sudah berada di restoran miliknya.

__ADS_1


"Ughh.. Bisa gila gue lama-lama. Jadi bingung gue sekarang". Ucap Brayen galau.


Pasalnya Brayen sangat bingung akan hatinya sekarang. Pria itu sebenarnya masih sangat suka pada Allena dan masih sangat berharap untuk mengungkapkan rasa sukanya pada Allena.


Tapi disatu sisi dia merasa senang akan adanya Alexa dihidupnya. Wanita itu seperti mewarnai hari-harinya jika dia sedang merasa sepi atau galau. Apa lagi Allena sekarang ini sangat susah didekatinya dan mulai menjauh darinya.


Tetapi dia masih sangat menyukai Allena. Pria itu benar-benar dilema saat ini.


Sementara ditempat lain Allena saat ini berada di halte sekolah sedang menunggu jemputan. Gadis itu tidak membawa kendaraan karena pagi tadi dia berangkat bersama Louis.


"Nungguin siapa?". Ucap seseorang pada Allena.


Allena seketika mendongakan kepalanya kesumber suara, dan mendapati Aziel sedang berdiri dihadapannya dengan tersenyum tipis, membuat Allena sedikit gugup karena senyuman pria dihadapannya saat ini.


"Oh ini, lagi nunggu jemputan". Jawab Allena mencoba tetap santai.


Aziel manggut-manggut, "Jemputan ya.


"Umm.. kalau gitu lu pulang bareng gua aja gimana? Dari pada lu duduk disini terus dari tadi. Panas juga kan". Ucap Aziel masih terus tersenyum pada Allena, membuat Allena semakin gugup.


Ya Ampun Allena! Baru kali ini kamu jadi gugup seperti ini. Melihat senyuman Aziel bisa membuat jantung kamu tak karuan sendiri. Tenang Allena tenang.🤭🤭😅


"Eh nggak usah, makasih. Ada yang jemput ko". Balas Allena tetap berusaha tenang.


"Duhh jantung gua, kok gua jadi gugup kaya gini sih". Umpat Allena berkata dalam hati. Padahal Allena biasanya hanya akan bersikap biasa saja pada Aziel. Tapi kali ini berbeda woyy..


"Yaudah kalau gitu gua temenin sampai jemputan lu datang". Ucap Aziel seraya mengambil tempat disamping Allena dan duduk disana.


Sementara Allena hanya membiarkan Aziel duduk disampingnya. Allena benar-benar sangat gugup sekarang. Situasi saat ini membuatnya jadi akhward sendiri. Apalagi dia tiba-tiba mengingat kejadian di ruang OSIS tadi.


Astaga Allena!! Kamu jadi merasa malu sekarang karena kejadian tadi. Apa lagi kamu terlihat menerima dan menikmatinya juga. Sialan!!😂😂


"Len, gua...". Ucap Aziel tiba-tiba terhenti.


"Jemputan gua udah datang tuh". Allena menunjuk mobil yang sudah datang dengan Louis yang ada didalam mobil tersebut.


"Gua duluan ya. Makasih". Sambung Allena seraya berdiri dari duduknya.


Namun baru beberapa langkah Allena kembali berbalik kebelakang lalu berjalan kembali kearah Aziel yang masih duduk disana dan sedang menatapnya.


"Gua cuman mau bilang, lupain kejadian tadi waktu di ruang OSIS. Anggap aja hal itu nggak pernah terjadi". Ucap Allena mantap, lalu kembali berbalik membelakangi Aziel dan melangkahkan kakinya menuju mobil Louis yang sedari tadi menunggunya kemudian segera masuk kedalam mobil.


"Ngapain? Kan gue udah bilang jauhin Aziel". Ucap Louis seketika saat Allena sudah duduk.


"Nggak usah lebay. Gua nggak habis ngapa-ngapain sama tuh cowok. Aneh aja lu". Jawab Allena.


"Terus tadi apa yang gue lihat lo sama dia duduknya sampingan". Ucap Louis masih belum puas.


"Bisa nggak lu nggak usah bahas tentang hal itu lagi. Gua nggak ada hubungan apa-apa sama dia. Lu kenapa dah jadi lebay banget. Nggak usah sok ngatur-ngatur gua. Kita juga belum nikah". Umpat Allena yang mulai kesal.


"Tapi gue jodoh lo Allena". Balas Louis.


"Kita masih cuman dijodohin belum nikah, ngerti nggak lu.


"Udahlah malas gua bertengkar sekarang. Jalanin mobilnya aja udah. Nyari ribut mulu. Belum juga nikah udah berani ngatur-ngatur". Kesal Allena.


"Jalanin mobilnya sekarang". Sambung Allena langsung menatap Louis yang ada disampingnya dengan kesal.


Louis yan mendengar itu seketika diam melihat Allena yang mulai marah. Pria itu kemudian menghembuskan nafas gusar.


Louis lalu menjalankan mobilnya dan pergi dari sana bersama Allena.


Sementara Aziel yang melihat mobil Louis pergi dengan Allena didalamnya hanya tersenyum miring.


"Lupain Allena? Aziel berdengus lucu, "Yakali gua lupain disaat gua udah ketagihan sama bibir lu yang... sshhh.. ughh...". Aziel meraba bibirnya.


"Bibir lu yang seksi dan menggoda itu buat gua. Gua pastiin hal itu akan terus berulang lagi dan lagi sampai seterusnya". Sambung Aziel mengingat kejadian tadi.


Kejadian dimana yang membuat dia memutuskan Allena akan menjadi miliknya, sehingga dia bisa terus dapat merasakan bibir ranum Allena yang menggoda imannya.


...*****...


Malam ini Allena sedang bersiap-siap untuk pergi berkumpul bersama para sahabatnya di restoran milik Zee.

__ADS_1


Gadis itu pasti terlebih dahulu melakukan rutinitasnya seperti biasa. Karena Allena sangat membutuhkan itu.


Allena menghembuskan nafasnya sambil memandangi benda ditelapak tangannya.


"Huuff.. sampai kapan gua gini terus? Cape banget, gua udah nggak kuat". Desis Allena terus melihat benda ditelapak tangannya.


"Udalah". Allena memasukan beberapa benda tersebut kedalam mulutnya dan meneguknya bersama dengan air digelas hingga tandas.


Setelah selesai Allena duduk diam sebentar untuk mencerna benda tersebut masuk kedalam lambungnya.


Merasa sudah beres, Allena segera beranjak mengambil kunci mobilnya dan turun kebawah.


Saat Allena melewati ruang keluarga disana ada Louis yang sedang menonton televisi.


"Mau kemana Len?". Seru Louis seketika yang membuat Allena berhenti dan berbalik kearah Louis.


"Mau keluar". Jawab Allena datar.


"Kemana? Gue ikut kalau gitu". Ucap Louis.


Allena memberikan tatapan datar pada Louis. Gadis itu kemudian menghembuskan nafasnya, "Ya udah, cepetan". Ucap Allena seketika.


Louis yang mendengar itu langsung saja tersenyum senang, "Nah.. gitu dong sama jodoh sendiri, kalau gini kan enak.


"Kalau gitu gue siap-siap dulu". Sambung Louis sambil bergerak cepat menaiki tangga menuju kamarnya.


Sementara Allena menuju sofa dan menunggu Louis disana.


Sekitar 10 menit Louis selesai dan menghampiri Allena, "Gue udah selesai nih, yuk berangkat". Ucap Louis pada Allena.


Allena berdiri dari duduknya sambil menatap kesal Louis, "Ngapain dulu sih? Lama amat". Ucap Allena kesal.


Louis hanya cengengesan, "Yaelah Len, nggak sampai sejam juga kali.


"Lagian kan, masa gue jalan sama calon bini penampilannya amburadul. Kan malu orang seganteng gue dicap sebagai calon suami yang nggak bisa urus diri. Emang lo mau Len, kaya gitu?". Sambung Louis dengan PD-nya.


Allena semakin menatap kesal Louis, "Bukan urusan gua.


"Udah ayo cepetan. Banyak omong". Sambung Allena seraya berjalan duluan meninggalkan Louis.


Louis kemudian dengan segera menyusul Allena, "Yaelah Len, tungguin napa". Seru Louis terus berjalan cepat.


Dan disinilah mereka semua, berada di restoran milik Zee. Mereka semua tengah berkumpul disuatu ruangan yang dikhususkan untuk mereka.


Disana juga ada Manaf yang datang. Namun pria itu terlihat berdiam diri tak bertingkah seperti biasa. Itu seperti bukan Manaf lagi. Ada yang hilang dari dirinya.


"Nih cowok ngapain disini? Ngikutin Allena lo?". Ucap Tessa yang ditujukannya kepada Louis.


"Gue maksud lo?". Ucap Louis menunjuk dirinya sendiri.


"Ya elo lah. Siapa lagi emang yang datang sama Allena tadi? Cuman lo kan". Ucap Tessa ketus. Sepertinya gadis itu tidak menyukai kehadiran Louis disana.


"Nggak usah nyolot dong. Santai aja kali. Biasa aja". Ucap Louis sewot.


"Dih, gue santai kali dari tadi. Lo nya aja yang kebaperan.


"Lagian, ngapain sih lo disini? Lo kan bukan sirkel kita. Ngapain ikut gabung". Sambung Tessa semakin ketus.


"Lah emang salah ya? Ini kan restoran. Siapa aja bisa dong ada disini. Lagian gue datangnya sama Allena, dan itu adalah hak gue selalu berada disisinya dia". Balas Louis.


"Idihh lo ngomong apaan dah? Sok puitis banget". Cibir Tessa.


Sementara yang ada disana dan sedari tadi hanya melihat pertengkaran kedua orang itu hanya bisa menatap heran. Tidak ada yang mau mengalah diantara keduanya. Membuat suasana menjadi sangat ribut.


Airin yang ada disana langsung menghampiri Tessa, "Tessa, udah dong ributnya. Nggak enak sama Zee kalau kalian ribut terus". Ucap Airin lembut.


"Tau nih orang dua. Mau gue usir kalian berdua". Timpal Zee menatap Tessa dan Louis bergantian.


"Usir aja nih cowo nyebelin. Ngapain sih dia ikutin Allena sampai kesini". Ucap Tessa menatap kesal Louis.


Memang Tessa tau bahwa Louis tinggal serumah dengan Allena. Tetapi Tessa berpikir, tidak seharusnya Louis juga mengikuti Allena kemanapun dia pergi. Seperti sekarang ini.


Allena tiba-tiba berkata yang membuat sahabat-sahabatnya kaget, "Gua udah dijodohin sama Louis". Ucap Allena dengan santainya seperti tak ada beban.

__ADS_1


"APAA...!!...


__ADS_2