Allena And Friend'S

Allena And Friend'S
PART 136 ~ Allena and Friend's


__ADS_3

Pagi harinya, terlihat Gamma dan Tessa sudah tiba di parkiran sekolah. Memang beberapa hari ini Tessa berangkat bersama Gamma karena motor trail miliknya sedang di bengkel.


Saat mereka mulai berjalan, tiba-tiba sebuah motor melesat melewati keduanya.


Tessa dan Gamma langsung saja menoleh ke arah pengendara yang terlihat turun dari motor yang lewat tadi. Mereka jelas mengenali siapa pengendara motor tersebut.


"Pagi Sa, Gam!". Seru pengendara motor tadi yang ternyata Airin.


"Weheee motor baru nih! Lo kapan belinya Rin? Bagus juga gue lihat-lihat". Puji Gamma sambil menaik turunkan alisnya.


"Iya nih Airin, cie ciee motor baru nih yee boleh lah gue coba-coba dikit. Iya nggak Rin?". Imbuh Tessa ikut menimpali.


"Jangan Rin, jangan-jangan! Jangan mau kalau ampe nih bocah lo izinin coba-coba motor baru lo. Yang ada nih ya, balik-balik motor lo udah tinggal rangka-rangkanya doang". Cetus Gamma mencibir.


Tessa langsung saja menjitak kepala Gamma yang mengatainya, "Apaan sih Gam? nggak ya, gini-gini gue jago bawa motor. Kalau lo nggak percaya kita balapan nanti, gue tantang lo". Cetus Tessa memicingkan matanya kesal.


"Ayo! Siapa takut! Kalau gue yang menang, gue ambil motor trail butut lo itu". Balas Gamma tak takut.


"Oke! Kalau gue yang menang mobil lo taruhannya. Deal kan!


"Oke gue terima tantangan lo. Siap-siap motor trail butut lo itu berpindah tangan ke gue". Cetus Gamma percaya diri.


"Ngimpi aja lo! Lo yang harus siap-siap, karena mobil lo yang bakalan berpindah tangan ke gue". Balas Tessa menunjukan tatapan permusuhan ke arah Gamma.


Airin yang mulai jengah melihat perdebatan kedua sepupu itu segera melerai keduanya, sebelum perdebatan itu menjadi tidak terkendali.


"Kalian berdua kok malah pada debat sih. Udah napa udah!". Lerai Airin cepat, "Mending kita ke kelas sekarang, udah mau bel tuh. Malah pada debat". Kemudian dengan cepat Airin menarik lengan kedua sahabatnya untuk segera berjalan.


Juga sebenarnya Airin ingin menemui Allena untuk membahas sesuatu.


...******...


Hingga sampai jam istirahat Airin belum juga bertemu dengan Allena.


Airin berpikir pasti Allena bolos lagi. Sebab sewaktu apel pagi tadi Airin sempat melihat Allena di barisan paling belakang kelas mereka.


Sebenarnya Airin ingin berbicara langsung dengan Allena, tapi Airin merasa tadi bukan waktu yang pas. Apalagi Guru piket masih berbicara di depan. Takutnya nanti dia dihukum kalau mengobrol di barisan.


Dan saat ini Airin sedang berjalan di koridor sekolah yang cukup sepi itu. Mungkin karena terlalu fokus celingak-celinguk Airin tidak sengaja menubruk seseorang yang berlawanan dengannya.


"Aduuhh! Lo buta apa gimana sih? Nggak lihat lo ada orang di depan sini?". Sentak orang yang di tabrak Airin barusan.


Airin mendongak, dan tampaklah Alexa juga Hera di hadapannya.


"Eh Cewek Miskin, nggak lihat lo orang mau lewat?". Bentak Hera yang ikut-ikutan.


"Sorry gue nggak sengaja". Sahut Airin cuek dan kembali melangkahkan kakinya.


Namun dengan cepat Alexa meraih bahu kanan Airin lalu mendorong gadis itu hingga termundur ke belakang.


"Sialan lo ya! Mulai berani lo ama gue ha?". Bentak Alexa melototkan matanya.


"Wahh mulai berani dia Lex ama lo. Mentang-mentang temennya Allena, macem-macem dia". Timpal Hera.


Tanpa lama-lama, Alexa langsung mendekati Airin, "Mulai berani lo ama gue ha? Berani lo ama gue? Dasar Cewek Miskin nggak tau diri!". Sentak Alexa sambil mendorong-dorong Airin hingga gadis itu terus mundur ke belakang.


Namun tak di sangka-sangka, Airin yang mulai geram karena Alexa terus mendorongnya, menarik tangan Alexa dan langsung membalas mendorong Alexa hingga jatuh tersungkur ke lantai.


"Apaan sih lo?". Bentak Airin seketika.


Hera yang melihat itu sampai terkejut karena melihat tindakan Airin.


Alexa mendongak ke atas menatap tajam Airin. Gadis itu tentu saja tak terima dengan Airin yang mulai berani melawan dirinya.


"Anji*ng lo!". Maki Alexa, kemudian beranjak berdiri dengan terus menatap tajam Airin yang juga menatapnya dengan berani. Seolah Airin memang tak takut pada Alexa sekarang.


"Hera, pegangin nih Cewek Miskin!". Suruh Alexa pada Hera.


Hera yang juga mulai kesal dengan Airin yang sok berani, langsung saja menghampiri Airin, "Sini lo miskin!". Kemudian menarik kedua lengan Airin, mengaitnya ke belakang menahan pergerakan Airin.


"Ha, lo apa-apaan? Lepasin tangan gue!". Sentak Airin yang memberontak, "Lepasin!


"Diem lo! Dasar Cewek Miskin nggak tau diri!". Sahut Hera di belakang Airin yang terus memegang kedua lengannya.

__ADS_1


"Ternyata lo udah berani ya sekarang ama gue. Lo lupa gue siapa ha?". Ucap Alexa kemudian dengan tenang, namun matanya terus menatap tajam Airin.


"Iya gue berani ama lo! Kenapa?". Tantang Airin.


Alexa langsung kesal melihat Airin yang sudah begitu berani padanya. Padahal dulu Airin terlihat cupu dan sangat takut padanya.


"Wah wah wah, coba kita lihat. Seorang cewek miskin kaya lo sekarang udah mulai berani ya". Cibir Alexa, "He Airin, lo harusnya tau malu, lo kalau bukan karena teman-teman lo itu lo bukan apa-apa di dunia ini. Lo itu cuman kuman pembawa penyakit bagi semua orang. Lo itu benalu bagi teman-teman lo itu, ngerugiin mereka semua. Apa lagi Allena tuh, cape-cape dia selalu bantuin lo tapi lo nggak berguna banget buat dia. Lo cuman bisa berlindung di belakangnya dia. Lo harusnya sadar kalau tempat lo itu bukan disini. Tapi disana di tempat sampah". Makinya dengan menekan kata-katanya, "Karena apa? Karena lo sampah yang harus dibuang jauh-jauh. Nggak guna, tau lo!". Maki Alexa lagi dengan segala hinaannya untuk Airin membuat cewek itu sampai tersulut emosinya.


"Lo...


"Apa? Mau ngomong apa lo?". Sela Alexa cepat.


"Aghh sialan lo!". Umpat Airin yang membuat Alexa dan Hera terkejut dengan Airin yang bisa mengumpat seperti itu. Matanya bahkan sudah memerah menahan emosi karena Alexa menghinanya.


"Asal lo tau ya, lo juga kalau bukan kerena orang tua lo itu lo juga bukan apa-apa". Maki Airin lagi, "Lo cuman cewek manja yang sombong karena lo bisa ngelakuin apa aja karena orang tua lo. Walaupun gue miskin setidaknya gue nggak kaya lo sialan! Cuman bisanya menindas orang-orang di bawah lo. Harusnya yang nggak ada di dunia ini itu orang-orang kaya lo bukan gue". Makinya terus-terusan.


Alexa yang tentu saja tak terima dengan Airin yang berani memakinya mendekati gadis itu.


"Beraninya lo ngatain gue. Cewek Miskin sialan!". Makinya, "Her, pegangin dia yang erat!


Dengan segera Hera semakin menahan pergerakan Airin, "Diem lo!


"Lepasin! atau gue...


"Atau apa ha?". Sentak Alexa menatap tajam Airin, "Lo udah berani nyari masalah sama gue, dan lo bakal tau akibatnya karena udah berani". Tangan Alexa mulai terangkat.


Tiba-tiba...


"BERHENTI!". Teriak Allena di ujung sana tak jauh dari tempat mereka bertiga saat ini.


Ketiga cewek itu langsung menoleh ke arah Allena yang mulai terlihat berjalan menghampiri mereka.


"He Cewek Miskin!". Seru Alexa seketika yang membuat Airin menoleh padanya.


PLAKK!!


Satu tamparan berhasil mendarat di pipi mulus Airin membuat gadis itu meringis.


Allena yang sudah dekat, langsung menerjang Alexa, "Apa-apaan lu ha nampar sahabat gua?". Mendorong Alexa dengan keras membuatnya sampai jatuh tersungkur ke lantai.


Allena ingin kembali mendekati Alexa, namun dengan cepat Airin menahannya.


"Udah Len, udah! Jangan!". Cegah Airin menarik lengan Allena.


"Tapi nih cewek udah...


"Udah nggak usah! Kita pergi aja dari sini sebelum nanti ada guru yang lihat. Gue juga ada yang pengen gue omongin sama lo". Ucap Airin, lalu menarik lengan Allena untuk ikut dengannya.


"AWAS AJA LU BERDUA GANGGUIN SAHABAT GUA LAGI. ABIS LU BERDUA AMA GUA!". Ancam Allena berteriak dengan Airin yang terus menariknya.


Airin memang ingin pertengkaran itu selesai, karena ada hal penting yang ingin dibicarakannya dengan Allena.


"GUE NGGAK TAKUT SAMA ANCAMAN CEWEK SOK KECANTIKAN KAYA LO. LO PIKIR GUE TAKUT HA!?". Alexa ikut berteriak dari kejauhan yang langsung mendapatkan tatapan tajam Allena yang mulai menghilang.


"Udah Lex, emang lo nggak takut sama Allena apa?". Ucap Hera.


"Nggak lah!". Sentak Alexa melotot, "Lo pikir gue takut sama tuh cewek? nggak pernah sama sekali". Sahutnya.


"Shh aduhh sakit banget lagi bokong gue. Gila aja tu cewek sok ngedorong gue kenceng banget". Ringis Alexa.



...******...


"Jadi.. yang beliin lo motor itu Allena ya?". Ucap Tessa manggut-manggut.


Saat ini mereka ber-4(Airin, Tessa, Gamma dan Alvian) sudah berada di salah satu cafe di Kota tempat tinggal mereka.


Setelah mereka mendengar penjelasan dari Airin, kini mereka tahu ternyata yang beliin Airin motor tuh Allena. Gampang ya kalau jadi orang kaya. Kalau mau apa aja tuh bisa, mau ngelakuin apa aja juga bisa.


Contohnya kaya Allena tuh. Dia main anteng aja beliin Airin motor tanpa mikirin uang. Padahal kalau kalian mau tau ya motor yang dibeliin Allena tuh bukan motor biasa. Harganya itu woyy nggak ngotak. Bisa untuk biaya makan sebulan, lebih mungkin.


'Kalau lu nggak nerima pemberian dari gua berarti lu udah nggak ngenganggep gua sebagai sahabat lu lagi'.

__ADS_1


Mengingat perkataan Allena di taman sekolah tadi, Airin hanya bisa menghela nafasnya pasrah.


"Hahh.. nggak tau deh. Allena maksa banget untuk gue nerima motor itu. Padahal gue udah nolak dan bilang bakal balikin, tapi dia tetep maksa". Cicit Airin.


Memang sehabis mereka berdebat dengan Alexa dan Hera tadi, Airin langsung menarik Allena ke taman sekolah. Dan langsung saja Airin bertanya tentang motor yang dibelikan oleh Allena untuknya.


Sehabis pulang sekolah kemarin ternyata hal yang ingin dibicarakan Ayahnya adalah tentang motor itu. Allena membelikan motor Airin untuk mempermudahnya bila berangkat ke sekolah atau bila Airin ada keperluan lain di luar yang mengharuskan dia menggunakan kendaraan. Mengingat juga tempat tinggal diantara semua sahabatnya memang tak searah dengan rumah Airin. Maka dari itu Allena membelikan motor itu untuk Airin. Hal itu pula menjadi salah satu alasan mengapa Airin menerima motor itu. Airin tidak ingin merepotkan sahabat-sahabatnya yang selalu bergantian untuk menjemput dan menghantarnya. Selain itu Allena juga sangat memaksanya untuk menerima motor itu.


Allena juga ternyata menyuruh karyawan yang bekerja untuk membawa motor itu saat Airin masih di sekolah. Jadi Airin tidak mengetahuinya. Sebenarnya kedua orang tua Airin juga sempat menolak. Tapi yang seperti kita ketahui Allena sangat pemaksa, keinginannya harus terpenuhi. Kalau mau dia itu ya harus itu, kalau mau dia ini ya harus ini. Akhirnya Airin juga kedua orang tuanya menerima motor pemberian dari Allena.


"Nih ya, sebenarnya gue tuh bingung sama Allena". Seru Tessa seketika.


"Bingung kenapa lagi lo?". Sahut Alvian.


"Ya gue bingung aja gitu, dia kan sekarang lagi ngejauhin kita tu, tapi sampai sekarang masih aja ngelakuin sesuatu. Ya contohnya ini, Allena sampai bela-belain beliin Airin motor. Yaa walaupun uangnya nggak bakalan habis sih, tapi gue nggak nyangka aja dia masih care sama sahabatnya". Jelas Tessa.


"Kaya lo nggak tau aja Allena gimana Sa. Lo nggak ingat waktu itu tentang file karya ilmiahnya Zee yang hilang. Allena sampai tau loh siapa pelakunya. Padahal waktu itu kita lagi nggak akrab-akrabnya sama dia. Dia juga lagi ngejauhin kita waktu itu". Cetus Alvian.


"Ya iya sih". Cicit Tessa, "Tapi itu yang bikin gue bingung sama dia. Sebenarnya mau Allena tu kaya gimana sih? Gue ngerasa dia itu kaya ada yang di tutup-tutupin gitu sama kita.


"Tutup-tutupin apa lagi sih lo Sa?". Timpal Gamma, "Dari tadi lo ngawur aja ngomongin soal Allena.


"Yee gue nggak ngawur ya, gue ngomong sesuai fakta. Emang lo lo pada nggak ngerasain gitu gimana sikap Allena? Gue ngerasa masih belum ada yang kita ketahui soal Allena". Ucap Tessa terlihat berpikir.


Gamma langsung menjitak kepala Tessa, seperti yang di lakukan Tessa di parkiran tadi pagi. Akhirnya dia bisa membalasnya.


"Ada-ada aja lo Sa, Sa. Emang lo lihat Allena kaya gimana coba?". Tessa terdiam mendengar pernyataan Gamma. Sebenarnya dia juga nggak tau gimana ngejelasinnya.


"Aaaa diem kan lo nggak bisa jawab. Makanya jangan sotoi". Cibir Gamma.


Tessa langsung mendelik tajam mendengar cibiran Gamma untuknya.


"Apaan sih lo Gam? Mending lo diem aja deh kalau nggak ngerti maksud gue. Mending lo ini aja.. apa shh ah iya, mending lo pikirin aja gimana caranya ngalahin gue dibalapan nanti". Ucap Tessa songong.


"Udah pasti lo kalah lah". Ejek Gamma.


"Ihh lo tu ya nyebelin banget sih. Dasar sepupu lucknut!". Umpat Tessa.


"Lo tuh yang lebih jauh lucknut dibanding gue.


"Lo lah, bukan gue!". Ejek Tessa.


"Jelas-jelas lo Sa!


"Lo lah


"Lo!


"Lo!


"Lo lah!


"Lo ya Gam bukan gue!


"Elo!


"ASTAGAAA INI KAPAN KALIAN SELESAI DEBATNYA SIH. LAMA-LAMA ROBOH NIH CAFE GARA-GARA LO BEDUA!". Sentak Alvian seketika.


Sementara itu di tempat lain, lebih tepatnya di pekarangan mansion keluarga Albern. Terlihat Allena yang baru turun dari mobilnya.


Baru beberapa langkah, ponsel yang dia letakan di saku almamaternya bergetar menandakan ada notifikasi masuk. Menyadari itu, Allena langsung mengambil dan melihat isi pesan yang dikirim oleh seseorang yang dikenalinya, namun sudah lama Allena hampir tak berjumpa dengan orang itu.


Allena menautkan alisnya membaca pesan yang dikirim oleh seorang pria yang dikenalinya itu.


Setelah membalas pesan itu, Allena kembali meletakan ponselnya disaku almamater sekolahnya. Kemudian kembali melanjutkan langkahnya masuk ke dalam mansion.


...******...


Malam harinya terlihat Allena yang sudah berada di salah satu restoran.


Ternyata pria yang mengirimi pesan Allena sore tadi meminta Allena untuk bertemu di restoran. Dan Allena mengiyakan karena juga ada yang ingin dibicarakannya dengan pria itu.


Saat sudah di dalam restoran, Allena langsung mengedarkan pandangannya keseliling restoran, mencari keberadaan pria itu.

__ADS_1


"ALLENA!!



__ADS_2