Allena And Friend'S

Allena And Friend'S
PART 69 ~ Allena and Friend's


__ADS_3

Semua yang ada disana masih tak percaya setelah mendengar penjelasan Allena. Sahabat mereka itu ternyata sudah dijodohkan.


Louis bahkan tak menyangka Allena akan memberi tahu sahabat-sahabatnya tentang perjodohan tersebut. Tapi yang pasti Louis senang saat ini, karena Allena mengatakannya sendiri.


"Gue ke toilet bentar". Ucap Gamma tiba-tiba berdiri dari duduknya.


"Eh iya Gam, lo masih ingatkan toiletnya dimana?". Seru Zee.


"Iya, gue masih ingat ko. Emang gue anak kecil apa". Balas Gamma.


"Ya siapa taukan. Kali-kali lo kesasar sampai ke tempat waria". Sarkas Zee tertawa.


"Yee ada-ada aja lo. Udah ah gue kebelet nih. Entar kalau meluncur disini kan berabe nantinya". Ucap Gamma berjalan kearah pintu dan keluar dari ruangan tersebut.


Gamma kemudian segera bergegas ke kamar mandi. Setelah selesai menuntaskan masalahnya pria itu tidak bergegas kembali, tapi malah turun kebawah dan keluar dari restoran tersebut menuju salah satu mini market yang bersebrangan dengan restoran milik Zee.


Pria itu masuk kedalam dan mencari barang yang ingin dibelinya. Gamma mengambil satu bungkus rokok yang ada dilemari khusus barang seperti itu, lalu berjalan menuju kasir.


Setelah selesai membayar, Gamma keluar ingin menikmati rokoknya itu. Dia menuju kesalah satu sudut dinding mini market dan menikmati rokoknya disana. Gempulan asap terlihat keluar dari dalam mulutnya.


Saat sedang asik-asiknya menikmati rokok yang dibelinya. Gamma melihat seorang wanita yang dikenalnya keluar dari dalam mini market dari tempat dia berdiri.


Tapi yang membuat Gamma penasaran adalah bukan wanita itu, melainkan seorang pria asing yang seperti mencoba mendekati wanita itu dan langsung menarik tas selempang yang dikenakannya dan juga ponsel yang ada ditangan wanita itu.


Terlihat dengan sigap wanita itu mencoba melawan dan memberikan pukulan-pukulan kepada pria asing itu yang ternyata adalah seorang preman.


Sementara Gamma terus memperhatikan dari tempat dia berdiri. Orang-orang yang melintas disana juga terlihat ingin membantu, akan tetapi mereka tidak bisa karena preman itu sudah mengeluarkan senjata tajam dari balik jaket yang dikenakannnya.


Wanita itu juga terlihat tak berani mendekat, apalagi sekarang barang-barangnya sudah ada ditangan preman tersebut.


Dengan cepat Gamma berlari ingin menolong wanita itu yang ternyata adalah Chika. Ditendangnya preman itu dari belakang sehingga membuatnya jatuh tersungkur kebawah. Membuat orang-orang yang ada disana histeris dan juga kaget.


Gamma ingin mendekati preman itu, akan tetapi preman tersebut dengan cepat berdiri dan langsung menodongkan pisau lipat tersebut kearah Gamma.


"Berhenti bocah! atau kau tidak segan-segan akan kuhabisi sekarang juga". Ancam preman tersebut dengan garangnya. Preman tersebut terus menodongkan pisaunya kesegala arah berjaga-jaga.


Namun kejadian tak terduga terjadi, preman tadi langsung menghampiri Gamma dan terjadilah perlawanan. Gamma terkena sayatan pisau dilengannya yang membuat bajunya sobek.


Orang-orang yang ada disana hanya bisa histeris karena takut terkena juga pisau dari preman itu. Apa lagi preman tersebut terus berusaha menyerang Gamma.


Sementara Gamma berusaha memberikan perlawanan dan berusaha menghindar. Dengan cepat Gamma menendang tangan preman tersebut sehingga membuat pisaunya terjatuh dan langsung Gamma menendang preman itu hingga terjatuh dan kembali menghajarnya hingga babak belur.


Chika yang melihat Gamma terus menghajar preman itu tak berhenti segera menghampiri Gamma dengan cepat, sebelum preman tersebut benar-benar kehilangan nyawa.


"Udah Gam, udah. Berhenti, udah". Desis Chika menahan Gamma agar berhenti.


Gamma menoleh kearah Chika, dan langsung berhenti menghajar preman tadi. Pria itu beralih mengambil tas dan juga ponsel Chika yang dirampas preman tadi.


"Nih barang-barang lo. Lo nggak apa-apa kan?". Tanya Gamma memberikan barang-barang Chika.


"Nggak, gue nggak papa. Makasih ya Gam". Ucap Chika diangguki oleh Gamma.


Sementara preman tadi segera dibawah ke kantor polisi oleh orang-orang yang melihat kejadian tersebut.


"Itu lengan lo luka, kita obatin dulu". Ucap Chika memperhatikan lengan Gamma yang terkena sayatan.


"Lo tunggu disitu". Chika menunjuk kursi yang ada didepan mini market, "Biar gue ambilin kotak P3K dimobil gue. Kita obatin luka lo, takutnya infeksi". Sambung Chika seraya berjalan kearah mobilnya.


Sementara Gamma segera menuju kursi yang ditunjuk Chika dan duduk disana. Tidak lama Chika datang sambil membawa kotak P3K dan mengambil tempat disamping Gamma.


"Biar gue yang bantu obatin". Chika membuka kotak P3K yang dia letakan ditengah-tengah mereka berdua. Gamma hanya melihat.


"Mana sini luka lo, majuan dikit". Sambung Chika meraih lengan Gamma.


Chika merobek sedikit baju Gamma ditempat pria itu terluka, "Nggak papakan gue robek dikit baju lo?". Tanya Chika menatap Gamma.


"Iya nggak papa. Yang penting lo obatin lukanya". Jawab Gamma membalas tatapan Chika.


Chika mengangguk dan beralih kearah luka Gamma lalu mengobatinya dengan hati-hati.

__ADS_1


"Shh aduh". Ringis Gamma menahan perih.


"Sorry sorry sorry, perih ya? Tahan dikit oke, ini juga udah mau selesai". Ucap Chika disela-sela masih mengoleskan antiseptik diluka Gamma.


Chika meniup-niup luka Gamma dengan lembut, membuat Gamma menatap teduh wanita yang sedang mengobati lukanya itu.


Chika kemudian memasangkan plester keluka Gamma dan selesai mengobatinya.


"Udah, selesai". Ucap Chika mendongakan kepalanya dan mendapati Gamma yang masih tengah menatapnya.


"Ngapa lo liatin gue kaya gitu?". Tanya Chika dengan sedikit mendekatkan wajahnya kearah Gamma, yang reflek membuat pria itu kaget dan langsung memundurkan kepalanya menjauh.


"Siapa yang ngeliatin lo? PD aja lo". Elak Gamma.


Chika berdecih, " Itu tadi lo ngeliatin gue terus.


"Lo jangan kege'eran ya. Gue obatin luka lo cuman sebagai tanda terima kasih gue ke lo, karena lo udah nolongin gue dari preman sialan tadi. Emang sialan tu preman". Umpat Chika mengingat kejadian tadi.


"Yee.. lo kali yang kege'eran. Ampe ngomong kaya gitu. PD banget jadi orang". Cibir Gamma.


"Nih cewek ya, udah bagus-bagus sikap dia tadi. Sekarang betingkah semula lagi". Gamma berkata dalam hatinya memandang heran kepada Chika.


Tidak lama terihat Allena dan juga yang lainnya menghampiri Gamma dan Chika.


"Gam, gue denger-denger tadi ada rusuh ya disini. Terus gimana?". Seru Alvian terlihat heboh.


"Iya tadi sempet ada rusuh, tapi udah selesai, penjahatnya juga udah dibawa ke kantor polisi. Tuh temen lo sendiri yang jadi korbannya". Bukan Gamma yang menjawab melainkan Chika.


"Hah yeng bener lo? Terus gimana keadaan lo Gam, apa yang luka?". Timpal Tessa terlihat khawatir mendekati Gamma, dan Chika langsung berdiri memberikan tempatnya untuk Tessa.


"Nggak, gue nggak apa-apa. Tenang aja. Gue cuman ini, luka dikit kok". Jawab Gamma sambil memperlihatkan lukanya, "Tapi udah diobatin sama tuh cewek". Sambung Gamma sambil menunjuk Chika dengan dagunya, membuat mereka semua menoleh kearah Chika.


"Gue ada nama ya. Nama gue Chika". Ucap Chika sedikit kesal.


"Ya suka-suka gue dong". Balas Gamma tak peduli sambil mengeluarkan rokok dari balik sakunya lalu menyalakannya.


"Dasar lo nggak tau terima kasih. Udah diobatin juga". Ucap Chika kesal sambil merapikan kotak P3K nya dan bergegas berbalik ingin kembali kearah mobilnya.


Namun baru beberapa langkah, Chika kembali dan menghampiri Gamma lagi, menunduk dan langsung mengambil rokok yang masih tengah disesap oleh Gamma.


Chika kemudian menyesap batang rokok tersebut dan mengeluarkan asapnya diwajah Gamma perlahan.


"Fyuuhh...". Gamma langsung memejamkan matanya sebelah dihadapan Chika sambil menahan nafasnya.


"Gue ambil rokok ini sebagai tanda terima kasih lo ke gue". Ucap Chika santai dengan menegakan kembali badannya dan segera berbalik menuju kearah mobilnya sambil menyesap batang rokok yang dimbilnya dari Gamma tadi.


"Widihh.. Bar-bar juga tuh cewek satu". Ucap Alvian geleng-geleng melihat tingkah Chika.


Sementara Gamma hanya memandang Chika yang sedang berjalan sambil menyesap rokok yang baru dinyalakannya tadi. Membuat pria itu memancarkan aura yang tak dapat dimengerti dengan dirinya yang terus memperhatikan gadis itu.


...*****...


Sekitar pukul 10.00 pagi, Allena terlihat tengah bersiap-siap. Karena hari ini adalah hari minggu, Allena berencana akan pergi ke rumah sakit. Entah apa yang dia lakukan. Tapi yang jelas Allena bukan pergi ke rumah sakit tempat Ayah Airin yang masih dirawat hingga saat ini. Allena akan pergi ke rumah sakit yang sudah dia datangi selama tiga bulan terakhir ini. Gadis itu akan kembali konsultasi dengan dokter kepercayaannya.


Selesai bersiap-siap Allena langsung turun kebawah, dan menuju ruang makan. Disana sudah ada Bi Ratih yang terlihat tengah membuat susu untuk Allena. Karena itu sudah menjadi rutinitas Allena setiap dipagi hari.


"Bi Ratih, Louis udah bangun?". Tanya Allena tiba-tiba.


Bi Ratih berbalik kearah Allena, "Den Louis kayanya belum bangun Non. Masih di kamar sepertinya". Jawab Bi Ratih.


Allena mengambil rotinya dipiring yang sudah dioleskan dengan selai coklat," Hmm ya udah!!


"Kalau misalkan Louis tanya saya pergi kemana, Bi Ratih jawab aja saya pergi ke rumah sakit buat jengukin Ayahnya teman saya yang lagi sakit". Ucap Allena sambil memakan rotinya.


"Iya Non. Kalau gitu Non Lena minum dulu susunya". Balas Bi Ratih sambil meletakan segelas susu dihadapan Allena.


Allena lalu mengambil susu tersebut dan langsung meminumnya hingga tandas. Setelah selesai Allena bergegas keluar menuju parkiran, dan meninggalkan pekarangan rumahnya dengan mobil yang dikendarainya.


Sekitar 30 menit Allena sampai disebuah salah satu rumah sakit terbesar di Kota X.

__ADS_1


Allena terlebih dahulu memarkirkan mobilnya lalu masuk kedalam rumah sakit tersebut dan bergegas menuju meja resepsionis yang ada disana.


"Selamat pagi". Sapa Allena kesalah satu penjaga yang bertugas disitu.


"Selamat pagi Mbak Allena". Jawab resepsionis itu dengan sopan.


"Oh iya, Mbak Allena sudah ditunggu sama Dokter Miranda. Mbak Allena bisa langsung saja keruangannya sekarang". Sambung resepsionis itu lagi.


Allena mengangguk, "Makasih ya Mbak".


"Iya Mbak Allena, sama-sama". Balas resepsionis itu.


Allena kemudian melangkahkan kakinya menuju keruangan Dokter Miranda sesuai perkataan resepsionis tadi.


Allena sampai didepan pintu ruangan yang bertuliskan nama Dokter Miranda.


Allena kemudian terlebih dahulu menarik nafas dalam dan menghembuskannya secara tenang dan perlahan. Gadis itu selalu gugup jika sudah berhadapan dengan ruangan tersebut. Entah apa yang ada didalam ruangan itu.


Setelah merasa tenang, Allena pun bergegas masuk kedalam ruangan tersebut.


Sementara ditempat yang sama, Aziel sedang menjenguk adik perempuannya yang tengah sakit karena demam berdarah. Adiknya itu memang sedikit mempunyai fisik yang lemah. Jika terkena hujan sedikit pasti langsung flu atau sakit demam.


"Cepat sembuh ya Azela adiku yang cantik, Kak El janji, nanti kalau kamu udah sembuh banget, Kak El bakalan traktir kamu belanja apa aja". Hibur Aziel pada Adiknya yang bernama Azela itu.


"Hah, yang bener? Kak El mau nraktir Azela belanja apa aja? Beneran Kak El?". Ucap Azela senang.


"Iya Zela, Kak El beneran kok. Masa Kak El bohongin adik Kak El yang cantik ini". Ucap Aziel mengusap-usap kepala Azela lembut.


"Janji". Ucap Azela mengangkat jari kelingkingnya.


Aziel tersenyum melihat tingkah adiknya itu. Selalu saja bersikap manja meskipun sudah kelas 2 SMP.


"Iya Kak El janji". Ucap Aziel mengaitkan jari kelingkingnya dijari adiknya itu.


Azela terlihat tersenyum senang dihadapan Aziel. Gadis itu memang sangat manja pada Aziel. Apalagi Aziel sangat menyayanginya dan selalu menuruti keinginannya.


"Kak El, Papah sama Mamah kapan datangnya?". Tanya Azela seketika.


"Papah sama Mamah masih dijalan. Bentar lagi juga nyampe". Jawab Aziel sambil berjalan kearah sofa yang ada diruangan tersebut.


Tidak lama terdengar suara pintu terbuka dan tampaklah kedua orang tua Aziel yang telah tiba dan berjalan masuk kedalam ruangan Azela.


"Sayang, Azela gimana keadaan kamu Nak?". Ucap Mamah Rani mengusap-usap lembut kepala Azela.


"Masih pusing dikit Mah, sama lemas juga. Tapi udah nggak apa-apa kok". Jawab Azela tersenyum.


"Baguslah kalau begitu. Kamu biar disini dulu sampai sembuh". Timpal Papah Rian.


"Iya Pah". Balas Azela beralih ke Papahnya.


"Kalau begitu ada yang ingin Papah mau omongin sama kalian berdua.


"Aziel kemari kamu". Sambung Papah Rian memerintah Aziel untuk mendekat.


Aziel yang sedari tadi disana berjalan mendekat kearah Papahnya.


"Papah mau omongin apa?". Tanya Aziel memandang datar Papah Rian.


Papah Rian yang melihat sikap anaknya yang seperti itu, beliau hanya mampu menghembuskan nafas kasar. Aziel pasti selalu seperti itu kepadanya. Terkesan dingin dan tak bersahabat.


Papah Rian pasti selalu sering jarang ada waktu untuk mereka. Membuat Aziel menjadi tak dekat dengan Papahnya itu.


Disaat Aziel masih kecil Aziel sering diasuh oleh baby sister yang dipekerjakan oleh Papah Rian, karena beliau pasti sangat sibuk untuk bekerja dan lebih sering tidak ada waktu.


Sementara Mamah Rani juga sama sibuknya dengan Papah Rian. Meskipun Mamah Rani selalu berusaha untuk mencari waktu, tapi itu masih kurang bagi Aziel.


Kedua orang tuanya memang sangat sibuk dengan pekerjaan. Sampai tak ada waktu untuk anak-anak mereka.


Tapi mau bagaimana lagi? Semua itu juga untuk kebaikan mereka semua dan masa depan mereka semua.

__ADS_1


__ADS_2