Allena And Friend'S

Allena And Friend'S
PART 143 ~ Allena and Friend's


__ADS_3

Pagi harinya Allena berangkat ke sekolah lebih cepat. Gadis itu tidak ingin melihat Louis apalagi wajah pria itu. Allena masih sangat marah pada tunangannya itu.


Saat sudah memarkirkan mobilnya di parkiran sekolah, Allena memilih untuk tidak keluar dulu. Gadis itu ingin berbaring sebentar lagi di dalam mobil. Lagi pun ini masih sangat pagi. Murid-murid yang lainnya juga belum semua berdatangan.


Hingga sekitar setengah jam Allena terbangun karena mendengar suara bel sekolah yang berbunyi. Allena mengedarkan pandangannya, sudah banyak kendaraan yang terpakir di parkiran itu. Allena kemudian bergerak untuk terlebih dahulu mengelap wajahnya dengan tissu basah, lalu merapikan rambutnya.


Merasa sudah selesai, Allena mulai membuka pintu mobilnya. Namun saat ingin keluar, tiba-tiba sebuah tangan kekar menahan pintu mobilnya.


Allena mendongak dan sudah melihat Aziel berjongkok di depan pintu mobilnya.


"Ngapain lu disini?". Sentak Allena membola.


Aziel tidak menjawab. Pria itu malah langsung masuk ke dalam mobil Allena, membuat gadis itu sontak mundur ke kursi penumpang di samping kursi kemudi yang ditempati Aziel saat ini.


"Allen, gua mau...


"Keluar!". Ucap Allena cepat menghentikan ucapan Aziel.


"Entar dulu Allen, gua mau...


"Keluar gua bilang!". Ucap Allena lagi masih dengan tenang dan tatapan datarnya menatap Aziel.


"Lu bisa nggak sih Len, dengerin gua ngomong dulu". Ucap Aziel masih sabar.


"Keluar!". Ucap Allena lagi.


"Astaga Allen, gua mohon dengerin dulu gua mau...


"Lu keluar sekarang atau lu nggak bakalan pernah lihat gua lagi di dunia ini". Ucap Allena semi mengancam.


"Kenapa sih lu suka ngomong kaya gitu Allen? Jangan ngomong kaya gitu, gua nggak suka". Ucap Aziel.


"KELUAR GUA BILANG! MASIH NGGAK NGERTI JUGA!". Akhirnya Allena membentak juga. Tatapannya mulai menajam pada Aziel.


Melihat Allena yang seperti itu Aziel hanya bisa menghebuskan nafas frustasi. Allena benar-benar menguji kesabarannya. Tapi bagaimana pun semua ini juga karena kesalahannya, membuat Allena semarah ini padanya. Akhirnya dengan terpaksa Aziel turun dari mobil Allena.


Melihat Aziel yang mulai menjauh, Allena seketika menghembuskan nafas berat. Menyingkapkan rambut panjangnya sambil mengerjab-ngerjabkan matanya, mencoba menenangkan diri, meredam emosinya. Sekali lagi Allena menghembuskan nafasnya lebih berat lagi.


Hingga beberapa saat Allena mulai tenang, gadis itu kemudian keluar dari dalam mobilnya.


Allena berjalan masuk ke dalam kelasnya. Disana sudah ada sahabat-sahabatnya yang tengah berkumpul disatu tempat. Lebih tepatnya di tempat Zee.


Airin yang melihat Allena seperti dalam keadaan tidak baik-baik saja, segera menghampiri Allena yang sedang berjalan.


"Lo kenapa Len, kok kaya lesuh gitu? Lo sakit?". Tanya Airin lembut.


"Bukan urusan lu!". Ketus Allena sembari menepis tangan Airin di pundaknya.


"Eh, Allena!". Sentak Tessa yang berdiri dari kursinya, "Masih gitu juga ya lo. Airin itu perhatian sama lo. Kenapa reaksi lo harus kaya gitu?


"Emang gua minta?". Tanya Allena datar.


Mendengar perkataan Allena itu membuat Tessa langsung kesal.


"Lo...


"Apa?". Potong Allena cepat.


"Lo itu bener-bener ya Len". Tessa kemudian menghampiri mereka berdua.


"Balik Rin, nggak usah lo perhatian sama orang kaya Allena. Dia itu nggak bakal ngehargain lo". Ucap Tessa sembari menarik lengan Airin.


"Tapi Sa, lo lihatkan muka Allena pucat banget kaya gini. Takutnya Allena kenapa-napa Sa". Ucap Airin menahan Tessa yang menariknya.


Tessa memperhatikan wajah Allena. Benar kata Airin, wajah Allena terlihat sangat pucat. Nggak biasanya Allena seperti ini. Tessa jadi ikutan khawatir. Bagaimana pun Allena sahabatnya. Meskipun dia tidak terlalu menyukai sifat egois dan keras kepalanya sahabatnya itu.


"Len, lo kenapa? Kok pucat kaya gitu?". Tanya Tessa yang mulai khawatir.


"Urusannya sama lu apa kalau gua pucat?


"Tapi Len, ini lo pucat banget lohh, lo nggak kenapa-napa kan. Lo...


"Nggak usah sentuh-sentuh gua!". Ketus Allena menepis tangan Tessa dengan kasar.


Tessa yang awalnya khawatir kembali kesal lagi pada Allena. Ini yang Tessa tidak sukai dari Allena. Sahabatnya itu selalu bersikap seolah tidak terjadi apa-apa dan selalu menganggap dirinya bisa melakuan apapun dengan sendirinya. Selalu menyembunyikan apa yang dirasakan dirinya sendiri.


Bagaimana pun Tessa itu sangat peka dibandingkan dengan sahabatnya yang lainnya. Dia bisa mengetahui apa yang terjadi dan apa yang dirasakan hanya dengan melihat peringai dari orang tersebut.


"Yaudah lo urus aja diri lo sendiri sana! Gue nanya baik-baik juga". Ucap Tessa ketus.


"Emang gua minta lu urusin gua?". Balas Allena tak peduli.


"Eh Allena, kita nanya itu karena kita perhatian sama lo. Kita itu sahabat lo makanya kita care sama lo. Kalau lo gitu terus sama aja lo nggak nganggep kita sahabat lo. Kalau lo diem aja nggak mau ngomong, nggak mau jujur sama kita, jadi buat apa dong kita sebagai sahabat lo". Ucap Tessa yang tak habis pikir dengan sifat dan jalan pikiran Allena.


Selalu aja sok kuat. Selalu ngenganggap dia bisa selesaikan masalahnya sendiri. Padahal mereka sebagai sahabatnya sebanyak itu bisa membantunya, bisa mendengarkan semua keluh kesahnya.

__ADS_1


Zee yang melihat perdebatan kedua orang itu tak tahu kenapa tiba-tiba bisa kepikiran untuk menghampiri mereka dan ingin melerai.


"Umm maaf, saya memang tidak tau permasalahan kalian apa. Tapi sebagai sahabat kalian tidak boleh saling berdebat bukan". Ucap Zee kemudian. Gadis itu dengan canggungnya tersenyum kecut ke arah mereka.


Allena menoleh ke arah Zee, menatap datar gadis itu.


"Nggak usah sok ikut campur lu". Ucap Allena, kemudian berjalan menuju kursinya tanpa mempedulikan reaksi sahabat-sahabatnya yang melihat tingkahnya.


Sedang Zee, yang mendapat reaksi seperti itu dari Allena hanya mengerjab tak percaya. Dia tak menyangka Allena akan seperti itu padanya.


"Nggak usah peduliin dia, dia memang kaya gitu". Ucap Tessa pada Zee.


Zee hanya mengangguk memaklumi. Mungkin memang seperti itu sifat dan watak Allena pikirnya.


"Yaudah kita balik aja ke tempat kita, nggak usah peduliin dia! Mau dinasihatin gimana pun dia nggak bakal denger". Tessa kemudian menarik lengan Zee dan Airin bersamaan, lalu kembali dimana mereka berada tadi.


Sementara Allena, gadis itu mulai menyibukan diri dengan ponselnya tanpa mempedulikan keadaan sekitar.


"Yaelah Sa, Sa, suka banget lo ngajakin Allena debat. Lo kan tau gimana sifat dia". Ucap Gamma saat ketiga gadis itu kembali duduk di kursi mereka masing-masing.


"Diem lo Gam! Lo itu nggak tau apa-apa, jadi diem aja". Sahut Tessa ketus.


"Nggak tau gimana? Jelas-jelas kalian berdua itu sering debat kok. Iya nggak Al?". Ucap Gamma beralih ke arah Alvian meminta dukungan padanya.


"Yass, I setuju sama you. Orang emang kalian sering debat kok, jadi nggak usah ngelak". Timpal Alvian.


"Yeh, emang siapa yang ngelak? Kan emang gue suka debat sama Allena. Mang gue kata enggak apa? ". Balas Tessa galak.


"Ya emang lo suka debat kan sama Allena?". Ucap Gamma.


"Ya iya! Emang yang bilang enggak siapa dodol". Sahut Tessa.


"Yaudah kalau gitu!". Balas Gamma.


"Yaudah!". Balas Tessa juga.


"Yaudah!". Ucap Gamma.


"Yaudah! Apaan sih lu berdua, nggak jelas banget dah. Orang gue bilang emang gue suka debat kok sama Allena". Ucap Tessa yang mulai kesal.


"Yaudah!". Balas Alvian.


"Udah diem ngapa Al". Ucap Tessa mendelik tajam, "Sekali lagi lu berdua ngomong yaudah, gua hajar lu berdua". Sambungnya galak.



...******...


Saat ini Allena sedang berjalan sendirian menuju kantin. Disana, lebih tepatnya tak jauh di depannya, terlihat Aziel berjalan bersama dengan seorang perempuan.


Zoya. Hanya itu yang terlintas dipikiran Allena. Terlihat keduanya berjalan berdampingan dengan sambil tertawa bersama. Entah apa yang sedang mereka bicarakan sehingga mereka bisa tertawa seperti itu.


Sudah lama sekali Allena melihat keduanya dekat seperti itu lagi. Dan saat ini mereka dekat kembali, dan terlihat lebih intim. Bahkan Aziel dengan santainya mengacak rambut Zoya dengan tertawa bersama seperti tak ada beban saja.


Hingga akhirnya Allena memutuskan untuk tetap berada di belakang mereka dengan menatap tanpa ekspresi keduanya.


Ternyata tujuan mereka sama, yaitu kantin. Aziel dan Zoya keduanya masuk terlebih dahulu, lalu Allena menyusul.


Allena kemudian terlebih dahulu mengantri untuk memesan makanan. Ternyata Allena mengantri dengan Zoya di sampingnya, dan di belakang Zoya ada Aziel yang sedang menatapnya.


"Hai Allena!". Sapa Zoya sambil tersenyum manis ke arah Allena.


Allena menoleh dengan tatapan datarnya menatap Zoya, lalu sekilas melirik Aziel di belakang sana yang ternyata juga menatapnya.


Dengan tidak membalas sapaan Zoya barusan, Allena langsung melangkah berpindah ke yang paling depan dalam antrian itu. Tidak ada sama sekali yang berani menegur Allena, karena tidak ingin bermasalah dengan gadis yang berasal dari keluarga paling berpengaruh itu. Salah-salah mereka bisa kena amuk Allena.


Sedang Aziel hanya bisa menatap Allena dengan tatapan yang sulit diartikan. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh seorang Aziel.


Setelah menerima pesanan makanannya Allena langsung mencari tempat untuknya.


"ALLENA!". Panggil Louis di sisi lain kantin tak jauh Allena berdiri saat ini. Pria itu juga sedang bersama dengan teman-teman sekelasnya.


Tanpa mempedulikan panggilan Louis, Allena langsung melangkahkan kakinya pergi ke meja lain yang tak jauh dari pojokan dalam kantin.


Allena kemudian duduk disana sendirian dan mulai menyantap makanannya tanpa mempedulikan keadaan sekitar(yang penting makan yoo😅)


Tanpa Allena sadar, sedari tadi ada yang sedang memperhatikannya dari kejauhan.


"Oyy, Kak EL lagi ngeliatin siapa?". Tegur Zoya sambil meletakan makannya di atas meja lalu duduk di kursi.


"Biasa ngeliatin siapa lagi kalau bukan si Cewek Datar itu". Sahut Setya yang duduk di samping Aziel. Dagunya menunjuk ke arah Allena yang tengah menyantap makanannya dengan tenang di tempatnya.


Zoya berbalik ke belakang, melihat ke arah tempat Allena, "Ohh ngeliatin Kak Allena ternyata". Kemudian kembali menghadap depan sembari manggut-manggut paham, "Kenapa Kak EL nggak samperin aja kalau gitu?". Ucap Zoya lagi, lalu mulai menyantap makanannya.


"Mana bisa EL nyamperin, orang lagi berantem". Ucap Setya terkekeh.

__ADS_1


"Hah? Kok bisa?". Sentak Zoya seketika dengan mie yang masih bergelantungan di mulutnya.


Murid-murid yang lainnya bahkan sampai mengalihkan pandangan ke arah tempat mereka saking kencengnya Zoya berteriak.


"Oyy Zo, santai aja dong nggak usah pake teriak-teriak segala. Kesedak baru tau rasa lo". Tegur Setya pada Zoya.


Zoya seketika tersadar dan langsung memasang cengirannya. Kemudian segera menyeruput mie pangsit dari mulutnya.


"Hah, maksudnya gimana? Co-coba Kak Setya jelasin! Kok bisa Kak EL berantem sama Kak Allena? Wahh yang bener lo Kak". Ucap Zoya masih tak percaya.


"Ya gitu deh berantem. Entar gue jelasin deh kenapa mereka bisa berantem. Lo abisin dulu tuh mie pangsit lo". Ucap Setya yang juga mulai kembali menyantap makanannya.


"Beneran ya Kak lo jelasin. Awas loh kalau sampai Kak Setya bohong. Gue pites pala Kak Setya sampai bocor". Ancam Zoya.


"Iya iya entar gue jelasin, nggak sabaran banget lo. Abisin dulu tuh makanan napa". Sahut Setya dengan mulut mengunyah makanan.


Sedang Zoya kembali berbalik ke belakang dan masih melihat Allena menyantap makanannya, kemudian kembali menghadap depan melihat Aziel yang masih terus saja memandangi Allena dari tempatnya saat ini.


"Tenang aja Kak EL, entar Zoya bantuin deh buat Kak EL baikan lagi sama Kak Allena. Tapi Kak EL sabar dulu, karena mungkin prosesnya bakalan sedikit panjang". Ucap Zoya memberi semangat pada Aziel.


Aziel yang mendengar perkataan Zoya langsung mengalihkan pandangannya pada gadis di hadapannya itu.


Aziel berdengus sembari menaikan sudut bibirnya, "IYA!". Ucap Aziel akhirnya.


...******...


CEKLEK!


Allena menutup pintu ruangan yang di atas pintu itu bertuliskan nama Dr. Karina Agasta.


'Kalau kamu terus seperti ini terus semuanya akan percuma Allena. Jadi saya harap kamu harus selalu mematuhi semua prosedur yang sudah saya jelaskan dan berikan kepada kamu'.


Mengingat perkataan Dr. Karina, Allena jadi pusing sendiri. Gadis itu seketika menunduk sambil memijat pelipisnya.


Beberapa hari ini Allena memang sering pulang balik ke rumah sakit. Entah apa yang sedang di lakukan gadis itu disana. Yang mengetahuinya pun hanya dia sendiri dan Dokter itu. Dokter yang menangani dirinya selama ini.


"ALLENA!". Panggil seseorang dari arah lain, membuat Allena yang masih berdiri di depan pintu ruangan Dr. Karina langsung menoleh ke arah sumber suara.


Mata hazelnya menangkap seorang pria yang terlihat berjalan menghampirinya dengan tatapan bertanya-tanya.


"Ngapain lu disini?". Tanya pria itu sembari menatap curiga Allena.


Allena menatap datar pria itu, "Bukan urusan lu!". Ucap Allena kemudian melangkah pergi dari hadapan pria itu yang ternyata adalah Aziel.


Segera Aziel menyusul Allena sebelum gadis itu kembali terlepas lagi darinya.


Aziel memang datang ke rumah sakit malam ini karena sedang menjenguk salah satu anak buahnya yang jatuh dari motor saat balapan.


Dan setelah habis dari toilet, Aziel tak sengaja melihat Allena sedang berdiri di depan ruangan seorang Dokter. Langsung saja Aziel menghampiri ketika dia benar-benar yakin bahwa itu adalah Allena.


"ALLENA TUNGGU!". Teriak Aziel memanggil Allena yang mulai berlari.


Segera Aziel berlari menuju motornya yang terpakir untuk mengejar Allena yang sudah pergi dengan menggunakan mobil sportnya.


Aziel dengan kecepatan tinggi terus mengejar Allena membelah jalanan malam hari itu. Aziel akui bahwa cara Allena berkendara sangat luar biasa. Dengan lihai Allena bisa menyalip setiap kendaraan yang ada di depannya tanpa takut sedikit pun.


Namun Aziel juga tetap tidak menyerah untuk mengejar Allena menggunakan motor sportnya. Aziel juga begitu sangat khawatir dengan Allena yang terus berkendara dengan kecepatan tinggi. Aziel takut nanti bisa terjadi apa-apa pada Allena jika terus berkendara seperti itu.


Hingga akhirnya Aziel memiliki rencana untuk bisa menyusul Allena.


Sementara Allena yang terus melirik ke arah kaca spion mobilnya akhirnya bisa bernafas lega karena Aziel sudah tak mengikutinya lagi. Susah payah Allena berusaha kabur dari Aziel. Untung saja dia jago dalam berkendara.


Allena kemudian mulai melambatkan laju mobilnya dan fokus ke depan mengemudikan mobilnya.


Namun tiba-tiba saja di depan sana Allena langsung dihadang oleh seseorang.


CKIIITTT!!


Sontak Allena mengerem mendadak dan badannya langsung maju ke depan. Untung saja dia memakai sabuk pengaman, jika tidak dia pasti akan menabrak setir mobil di depannya atau nggak terjerembab ke depan.


Allena mengerutkan alisnya fokus ke arah seseorang yang hampir ditabraknya tadi. Allena baru menyadari ternyata itu adalah Aziel saat melihat cowok itu turun dari motornya dan langsung berjalan menghampiri mobilnya.


Allena bingung kenapa Aziel tiba-tiba ada di depan dan langsung menghadang mobilnya.


TUK!


TUK!


TUK!


Aziel mengetuk kaca depan mobil Allena.


"TURUN!!


__ADS_1


__ADS_2