Allena And Friend'S

Allena And Friend'S
PART 17 ~ Allena and Friend's


__ADS_3

...Jalan-jalan...


Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit, saat ini Allena, Airin, Zee, dan juga Brayen sudah berhenti tepat di depan sebuah kawasan restoran elit yang ada di Kota X.


Setelah memarkirkan kendaraan, keempat orang itu kemudian bergegas berjalan masuk ke dalam restoran elit tersebut.


Mereka kemudian mengambil tempat yang masih kosong di dalam restoran itu dekat dengan jendela kaca sehingga mereka bisa melihat keadaan di luar.


Tidak berselang lama seorang pelayan datang menghampiri tempat mereka.


Disaat Allena ingin meraih buku menu yang memang sudah ada di atas meja, Brayen dengan cepat meraih terlebih dahulu buku menu tersebut.


"Eeett bentar bentar, kali ini biar gue yang traktir lo lo pada. Oke!". Ucap Brayen dengan mengedipkan mata kirinya.


"Beneran nih Kak Brayen mau nraktir kita?". Tanya Zee antusias.


"Iya dong". Jawab Brayen, "Yaudah, kalo gitu kalian mau pesan apa? Pilih aja udah". Sambungnya dengan sok sombong.


Mereka pun mulai memesan menu yang tertera di buku menu tersebut sesuai dengan keinginan mereka masing-masing. Dari beberapa pesanan, Zee lah yang paling banyak memesan.


Karena dapat traktiran, harus dong digunain kesempatan emas seperti ini. Kapan lagi coba? Iya nggak. Hehehe!


"Widih, lo laper apa gimana? Banyak bener lo pesannya. Habis juga tuh?". Cetus Brayen yang heran melihat begitu banyaknya pesanan makanan di atas meja.


"Kan ditraktir ama Kak Brayen. Jadi nggak papa dong kalau banyak. Kak Brayen juga pasti nggak keberatan kan". Sahut Zee dengan santainya.


"Iya sih nggak papa, tapi itu banyak bener loh. Bakalan habis tu makanan segitu banyak? Emang muat apa lambung lo?". Ucap Brayen geleng-geleng tak habis pikir.


"Ya bakalan tetep habislah!". Sahut Zee, "Udah Kak Brayen nggak usah pusing! Mikirin aja tu keluarin duitnya. Jangan banyak bacot!


Brayen pun hanya bisa terus menggelengkan kepalanya benar-benar heran melihat itu semua. Adakalanya Brayen berpikir bahwa cewek di hadapannya ini memang sangat banyak makan.


Akhirnya Brayen pun diam tak ingin melanjutkan.


Berbeda dengan Brayen, Allena dan Airin hanya melihat saja apa yang dilakukan cewek cantik dengan rambut sedada itu.


Tanpa mereka sadari, tampak sepasang mata seseorang sedari tadi tengah memperhatikan mereka dari kejauhan.


Dia Alexa. Saat ini Alexa juga memang berada di restoran yang sama dengan kedua kawannya Hera dan Chika.


"Ada apa Lex?". Tanya Chika pada Alexa.


"Lo nggak lihat tu mereka?". Tunjuk Alexa pada ke arah keempat orang itu berada.


Chika menoleh ke arah yang ditunjuk Alexa, "Oohh mereka to! Kenapa emang?". Kemudian kembali berbalik pada Alexa.


Tanpa menjawab pertanyaan dari kawannya itu, Alexa tiba-tiba saja berdiri dari kursinya dan terlihat berjalan menghampiri keempat orang itu.


"Eh Alexa! Lo mau kemana?". Seru Chika berdiri ingin menyusul Alexa.


"Hera ayo! Ngapain malah diem aja lo?". Chika langsung saja menarik lengan Hera, dan mereka berdua segera menyusul Alexa.


"Yaudah sabar entar gue jatoh hee. Kenapa sih?". Ucap Hera mengikuti Chika karena lengannya terus saja ditarik.


"Udah cepetan! Lo nggak lihat tu si Alexa". Ucap Chika yang terlihat khawatir.


Sedang Alexa tetap terus berjalan dengan santainya mendekati tempat keempat orang itu.


Setibanya disana, Alexa langsung saja mengambil tempat berdiri di hadapan Airin.


"Wah wah wah! Hebat juga ya lo Airin. Sekarang lo punya teman-teman yang kek gini ya". Ucap Alexa terdengar sinis. "Ternyata bener dugaan gue, kalau lo itu cari teman kaya mereka ini biar bisa lo manfaatin kan? Iya kan?". Sambungnya dengan mencibir.


Chika dan Hera yang sempat menyusul tadi langsung berdiri di belakang Alexa yang saat ini tengah berbicara pada Airin.


Sementara Airin saat ini tengah menunduk tak berani menatap apa lagi menjawab perkataan Alexa.


"Eh miskin, lo deket dan berteman dengan mereka-mereka ini biar bisa lo porotin kan. Ngaku aja lo nggak usah munafik. Bener kan yang gue omongin?". Cibir Alexa lagi.


Zee yang melihat itu tentu saja tak membiarkannya, "He ngapain lo disini ha? Maksud lo apa ngomong kek gitu ke Airin?". Sentak Zee langsung.


"Lo nggak usah ikut campur. Ini itu urusan gue sama si miskin ini, nggak ada urusannya sama lo. Tau!". Balas Alexa tak kalah menyentak.


"Ini udah jadi urusan gue karena lo udah ganggu temen gue Airin. Lu stres ya? Datang-datang udah main hina aja. Lo kira lo siapa?". Balas Zee kembali.


Chika yang tak ingin ada perdebatan lanjutan langsung mendekati Alexa, "Udah Lex! Ngapain sih lo kek gitu? Buat keributan tau nggak. Lihat tu, orang-orang udah pada ngeliatin. Lo nggak malu apa?". Ucap Chika yang menarik lengan Alexa agar ikut dengannya.


Namun Alexa malah sama sekali tak bergeming dari tempatnya, "He cewe miskin! Lo tu harusnya sadar lo itu nggak pantes ada di lingkungan seperti ini. Lo itu pantesnya dikalangan kelas bawah sana. Sadar diri makanya". Maki Alexa begitu saja.


Cewek itu tak mempedulikan sama sekali dengan para pengunjung restoran yang mulai memperhatikan mereka dan juga Chika yang mencoba mencegahnya.


Sementara Airin yang dihina seperti itu hanya diam saja tak menjawab dengan masih terus menunduk. Matanya kini bahkan sudah mulai berkaca-kaca menahan tangis.


Melihat hal itu Zee ingin maju dan kembali mau membalas Alexa, namun tertahan oleh Brayen yang tiba-tiba maju dan menghampiri Alexa.


"Udah ributnya? Lo bisa pergi sekarang atau gue yang buat lo pergi". Ucap Brayen dengan datar namun terdengar mencekam.


Alexa seketika diam tak berbicara apapun lagi. Menatap sinis Airin yang masih duduk di kursinya dengan terus menunduk dan Brayen secara bergantian.


Sedetik kemudian Alexa langsung beranjak pergi begitu saja dari sana tanpa mempedulikan orang-orang yang kini tengah menatapnya.


Melihat Alexa pergi, Chika dan Hera juga kemudian ikut menyusul cewek itu.

__ADS_1


Sepeninggal Alexa, Zee yang melihat Airin yang masih menunduk di tempatnya segera menghampirinya dan mencoba menenangkannya.


"Udah Rin tenang ya, lo nggak usah peduliin si Mak Lampir itu. Jangan nangis dong!". Ucap Zee menenangkan Airin.


"I-i-iya". Sahut Airin dengan suara yang sesenggukan karena tangis yang dia tahan sedari tadi.


"Iya Rin jangan nangis. Nanti cantiknya hilang loo!". Ucap Brayen yang menghampiri Airin dan ikut menenangkannya.


Sementara Allena, cewek itu sedari tadi hanya diam dan melihat Airin yang sedang ditenangkan oleh Zee dan juga Brayen.


Allena kemudian mengalihkan pandangannya menatap datar Alexa dari kejauhan yang sudah kembali ke tempat dia berada tadi. Dipandanginya terus Alexa dengan datar, namun terkesan serius karena tatapannya seolah menyiratkan sesuatu. Entah apa yang tengah dipikirkan Allena saat ini.


Tiba-tiba saja Allena dikejutkan dengan Brayen yang mencubit pipinya.


"Woy Allena! Kenapa malah bengong lo? Lanjutin makannya ayoo!". Seru Brayen pada Allena.


Allena mengalihkan pandangannya menatap datar Brayen. Cewek itu tidak suka Brayen menyentuhnya seperti itu.


"Lain kali lu nggak usah ikut". Ucap Allena seketika sambil tetap menatap datar Brayen.


"Loh kenapa?". Ucap Brayen dengan alis yang berkerut.


"Gua udah bilang ama lu jangan pernah deket-deket ama gua. Tapi lu dengan beraninya nyentuh-nyentuh gua". Desis Allena mencengkam.


"Yaelahh Len, masa gitu aja lo mar-


"Lu bisa diam nggak? Kalo nggak, lu pergi sekarang". Potong Allena cepat dengan tatapan yang semakin mencekam membuat Brayen hanya bisa meneguk salivanya kasar. Tatapan Allena benar-benar bisa membuat siapa saja merasa terpojok.


Cewek itu memang memasang tampang datarnya. Tapi tatapannya seolah-olah ingin mencekik seseorang.


"Iya iya Allena. Serem amat lo". Brayen akhirnya berhenti berbicara dan melanjutkan makannya.


Allena terlalu berbahaya baginya jika dia membuatnya marah.


"Airin ayo lanjut makan!". Seru Allena seketika.


Airin kemudian mengusap air matanya dan mengangkat kepalanya menatap Allena. Lalu tersenyum.


"Makasih ya Allena". Cetus Airin yang tersenyum walaupun masih sedikit sesenggukan.


"Iya!". Balas Allena sambil menatap Airin. Lalu menunduk dan kembali menyantap makanannya.


Mereka semua pun kembali menyantap makanan yang mereka pesan tadi dengan tenang dan hikmat.


Meskipun Airin masih memikirkan kejadian tadi, tapi Airin berusaha untuk tetap tenang dan melupakannya.


Airin memang cukup malu karena Alexa mengatainya di depan umum tadi. Entah kenapa dia selalu merasa takut bila berhadapan dengan cewek itu.



Kini mereka semua telah selesai makan. Terlihat Zee sangat puas dengan semua makanan yang disantapnya.


"Aduhh kenyangnya!". Desis Zee dengan mengusapi perutnya yang telah berhasil menyantap semua makanan yang dipesannya tadi. "Makasi ya Kak Brayen". Serunya.


"Iya sama-sama. Tu perut udah mau meledak gue lihat". Sahut Brayen mencibir.


"Apaan sih Kak? Mana ada mau meledak". Balas Zee tak terima.


Brayen kemudian hanya berdengus lucu melihat Zee yang kekenyangan itu. Lalu memanggil pelayan dan membayar semua tagihan makanan mereka.


"Setelah ini kita kemana lagi Len? Atau kita udah mau balik?". Tanya Zee kemudian pada Allena.


"Ikut gua aja". Ucap Allena sambil beranjak dari tempatnya dan mulai melangkah menuju pintu keluar restoran.


Melihat Allena pergi, ketiga manusia itu juga mulai beranjak dan segera menyusul Allena. Entah mengapa kini mereka terlihat seperti mengekori cewek cantik blasteran itu.


Setibanya di parkiran mereka langsung menuju kendaraan yang mereka bawa lalu pergi dari restoran elit itu.


Saat ini Zee dan juga Brayen tengah mengikuti Allena dari belakang. Ternyata Allena tengah menuju pusat perbelanjaan yang ada di Kota X tersebut.


Setelah mereka tiba, mereka terlebih dahulu memarkirkan kendaraan mereka lalu keluar dan masuk ke dalam pusat perbelanjaan tersebut.


"Emang kita ngapain disini Len?". Tanya Zee pada Allena.


"Kenapa nanya? Emang apa yang dilakuin orang-orang kalau datang kesini?". Sahut Allena dengan menatap datar Zee.


Mendengar jawaban Allena membuat Zee langsung cengengesan dengan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Pertanyaan yang nggak bermutu. Kok malah nanya yang kaya gitu๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚


"Hehe.. Sorry Len. Cuman basa basi doang kok". Elak Zee sambil terus cengengesan.


"Hmm". Gumam Allena santai.


"Ada-ada aja pernyataan lo". Timpal Brayen seketika. "Gimana nih emang ada yang mau lo beli Len?". Padahal sama aja si Brayen.


"Hmm". Balas Allena dengan gumaman.


"Huu sama aja bambang". Cetus Zee mendorong Brayen.


"Basa basi doang aelahh". Jawab Brayen terkekeh.


Zee mendelik sinis, "Idihh!

__ADS_1


Sedang Brayen terus terkekeh melihat reaksi Zee saat ini, "Yaudah yaudah, kalau gitu kalian beli apa aja yang kalian mau. Tenang entar gue yang bayar kok semuanya". Ucap Brayen. Mulai sombong dia๐Ÿ˜…


"Yang bener nih Kak Brayen yang mau bayarin?". Tanya Zee tak percaya.


"Ck, iya iya beneran. Udah sono cari! Gue juga mau lihat-lihat dulu. Kebetulan kan disini, gue emang lagi mau cari daleman". Ucap Brayen apa adanya. Cowok itu kemudian berlalu dari sana untuk mencari barang yang dicarinya.


Mereka pun segera berpisah dengan Brayen sementara Allena, Zee, dan Airin berjalan menuju pakaian wanita.


Sekitar satu jam mencari dan mendapatkan pakaian yang diinginkan ketiga wanita tersebut segera kembali ketempat mereka tadi.


Airin yang tadinya sempat menolak untuk ikut berbelanja akhirnya memutuskan membeli beberapa pakaian akibat paksaan Zee yang terus mendesaknya untuk tetap ikut membeli.


Hingga saat ini ketiga gadis itu telah selesai dan kembali dengan Brayen yang sudah menunggu mereka.


"Lama banget sih kalian yaelah!! Ampe lumutan gue nunggunya". Celoteh Brayen melihat ketiga cewek yang berjalan ke arahnya.


"Ya namanya juga perempuan. Kak Brayen harus ngerti dong". Sahut Zee membalas.


"Iya iya. Yaudah! Kalo gitu udah selesaikan. Gue mau bayar dulu". Ucap Brayen menuju kasir dan membayar semua belanjaan mereka.


Setelah selesai Brayen kemudian kembali menghampiri ketiga cewe yang sedang menunggu.


"Udah Kak?". Tanya Zee.


"Udah". Jawab Brayen. "Kita kemana lagi nih?". Tanya Brayen beralih pada Allena.


"Kita pergi sekarang". Ucap Allena beranjak melangkahkan kakinya.


"Kebiasaan tu anak emang". Ucap Brayen heran dengan sikap Allena.


"Udalah Kak ayo cepetan! Airin sini!". Seru Zee sambil menarik lengan Brayen dan juga Airin untuk segera menyusul Allena.


Mereka pun segera menyusul Allena dan menuju parkiran. Setelah tiba mereka terlebih dahulu meletakan barang belanjaan mereka ke dalam mobil lalu pergi dari pusat perbelanjaan itu.


Setelah beberapa menit menempuh perjalanan mereka berempat kini sudah berada di suatu pusat permainan besar yang ada di Kota X. Mereka kemudian masuk dan ingin mencoba beberapa permainan yang ada disitu.


"Wahh..! Uda lama banget gue kesini. Sekarang berubah banget ya". Ucap Zee sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru pusat permainan yang besar itu.


Sudah lama dia kesana dan sudah banyak perubahan yang terjadi dengan pusat permainan yang terlihat semakin besar dan luas itu.


"Gue pengen banget cobain ambil boneka yang ada di dalam box itu. Gue pernah coba tapi nggak bisa-bisa. Greget tau nggak gue. Kali ini gue pasti bisa". Ucap Zee kembali. "Temanin gue main itu yuk!". Kemudian menarik lengan Airin untuk mengikutinya.


Sementara Zee dan Airin bermain berdua, Brayen ingin mengajak Allena bermain salah satu permaian yang ada di situ.


"Len kita main itu lo mau nggak?". Ucap Brayen seketika sambil menunjuk permainan yang biasa disebut Street Basketball.


"Nggak". Balas Allena datar.


"Loh kenapa? Seru tau


"Nggak!


"Udahlah ayo!!". Brayen langsung saja menarik tangan Allena menuju permainan itu.


Setibanya disana, Allena dan Brayen langsung berdiri saling berdampingan dan di hadapkan dengan banyak bola yang diletakan di ranjang besi besar dan juga tiang ring bola.


"Kita taruhan! Kalo lo yang paling banyak skornya dengan masukin bola ke ring itu lo boleh minta satu permintaan ke gue. Tapi.. Kalo gue yang paling banyak skornya lo harus mau ngedate sama gue. Gimana? Setuju nggak?". Ucap Brayen menatap Allena dengan tatapan menantang.


Allena kemudian hanya menatap Brayen datar. Selang sedetik kemudian Allena kembali menghadap ke depan.


"Ok! Gua terima tantangan lu". Ucap Allena santai sambil mengambil bola di ranjang besi itu.


Brayen menaikan sedikit sudut bibirnya mendengar perkataan Allena. Cowo itu kemudian juga menghadap ke depan lalu mengambil bola.


"Oke! Kita mulai sekarang ya. Siap-siap aja lo kalah". Ucap Brayen bersiap-siap.


"Cih!". Decih Allena melirik sinis, kemudian mulai bersiap-siap.


"Oke gue hitung, satu, dua, tiga...


Allena dan Brayen kemudian mulai bersaing memasukkan bola ke dalam ring dengan gerakan cepat. Tampak Brayen dengan lihainya memasukkan bola-bola tersebut ke dalam ring. Seharusnya tidak lupa Brayen adalan kakak kelas yang jago bermain basket.


Berapa menit mereka bermain. Nampak di wajah Brayen cowo itu terlihat sumringah. Berbeda dengan Allena yang mulai menunjukkan ekspresi khawatir. Sesekali Brayen melirik Allena dengan ekspresi yang tak dapat dibaca.


"Gimana Len? Gue yang menang. Lo masih ingatkan perjanjian kita tadi". Ucap Brayen sambil menaik turunkan alisnya di hadapan Allena.


Sedang Allena hanya diam sambil memandangi Brayen tanpa ekspresi. Sedetik kemudian Allena pergi dari hadapan Brayen begitu saja.


"Eh, Allena! Lo mau kemana? Tunggu!". Seru Brayen menyusul Allena.


Setelah merasa cukup dekat dengan Allena, langsung saja Brayen menahan Allena dengan menggenggam pergelangan tangannya.


"Lo mau kemana? Kita kesana yoo!". Ucap Brayen sambil menunjuk salah satu permainan.


"Nggak mau". Tolak Allena menarik tangannya hingga genggaman Brayen terlepas.


"Udah kesana ayoo!". Brayen kembali menarik lengan Allena dan langsung menuju ke salah satu permainan yang ditunjuknya tadi.


Keduanya ternyata menuju ke salah satu permainan yang biasa disebut Dance Revolution.


__ADS_1


__ADS_2