
Malam hari Allena dan ketiga sahabat wanitanya sudah berada dalam kamar. Mereka tengah terlihat membantu Allena mengoleskan salep dipunggung gadis itu.
Alvian dan Gamma sudah pulang sore tadi. Mereka awalnya juga berencana ingin ikut menginap di rumah Allena.
Akan tetapi Louis melarang dan mengusir mereka dari sana untuk tidak menginap, dengan mengatai mereka apakah mereka orang miskin yang tidak mempunyai tempat tinggal jika menumpang tidur ditempat orang lain.
Selama tadi, ketiga pria itu selalu adu bacot bertengkar.
2 VS 1 (Gamma dengan Alvian sementara Louis sendiri).
Sepanjang ruang keluarga hanya suara ketiga pria itu yang memenuhi ruangan. Suara bising adu bacot tidak ada yang mau mengalah.
Bahkan yang empunya rumah tidak mampu mencegah perseteruan ketiga pria itu karena kondisinya yang saat ini tidak bisa leluasa bergerak.
Akhirnya Allena tetap berada dalam kamar bersama para sahabat wanitanya membiarkan pertengkaran ketiga pria itu sampai selesai sendiri.
"Tahan ya Len". Ucap Airin sambil mengoleskan salep dipunggung Allena secara perlahan dan merata diarea yang terlihat memerah dan membengkak.
Sementara kedua teman Allena yang lainnya hanya melihat itu.
"Awas aja tuh si Mak Lampir. Belum puas gue ngebalas tu cewek". Celoteh Zee yang mengingat kejadian tadi.
"Gila aja tuh cewek. Bisa-bisanya dia ngebuat lo sampai kaya gini Len. Lo lapor polisi aja lah, biar kapok tuh si Alexa. Kesel gue" Timpal Tessa yang terlihat emosi.
Allena menggeleng pelan, "Shh... nggak usah. Dia juga bilang nggak sengaja kan tadi. Jadi nggak usah, nggak penting". Allena tak peduli.
"Yaampun Allena.. semua aja lo bilang nggak penting. Lo nggak lihat tadi, dengan apa yang diperbuat sama si Mak Lampir itu sampai berakibat kaya gini sama lo. Masih lo bilang nggak penting?
"Ini kayanya lo lagi bertukar sifat sama Airin deh. Kenapa jadi lo yang kaya mau ditindas sama si Mak Lampir itu". Sambung Zee tak habis pikir dengan cara Allena menyikapi masalah yang telah terjadi padanya.
Allena terlihat santai, "Udah nggak usah bahas itu, nggak penting.
"Mending lu pada pesanin gua makanan dah, gua lapar banget sekarang". Allena memerintah.
Tessa yang mendengar itu segera mengambil ponselnya diatas meja, "Gue gofood in aja kalau gitu. Kalian mau pesan apa?". Tessa bertanya sambil terlihat memesan makanan diaplikasi online.
Tanpa mereka sadari pintu kamar yang mereka tidak tutup terlihat Louis sedari tadi berdiri disana dan melihat aktivitas yang mereka lakukan.
"Allena kenapa?". Tegur Louis yang membuat keempat gadis itu terkaget dan langsung menoleh kearahnya.
Terlihat Louis berjalan masuk kedalam kamar sambil melihat punggung Allena yang masih tengah diolesi salep oleh Airin.
Untung saja Allena memakai selimut untuk menutupi bagian depan tubuhnya. Sebab gadis itu tak memakai baju dan juga bra.
"Itu Allena kenapa? Punggung lo kenapa Len?". Louis terlihat khawatir melihat punggung Allena. Pria itu ingin mendekat kearah Allena namun dengan cepat Tessa menahan pria itu agar tak mendekati Allena.
"Eh eh, lo mau ngapain? Disitu aja lihatnya, Allena nggak lagi pakai baju. Gila aja lo". Tessa mencegat Louis.
"Tapi itu Allena kenapa? Punggung dia kenapa? Kok merah bengkak gitu, kalian apain Allena ha?". Louis menatap tajam kearah ketiga wanita itu.
"Enak aja lo nuduh kita. Yakali kita ngebuat Allena sampai kaya gitu. Mikir dong!". Tessa tak terima atas tuduhan Louis sembarangan.
"Ya terus, itu kalian lagi ngapain. Kok Allena bisa kaya gitu?". Ucap Louis yang masih saja terus menudu mereka telah berbuat apa-apa pada Allena.
"Ihh lo tuh ya, mending lo keluar deh sekarang. Jangan cari kesempatan lo dengan keadaan Allena yang lagi kaya gini.
"Ayoo, cepat keluar. Keluar cowo nyebelin". Tessa mendorong tubuh Louis agar keluar dari kamar.
"Tunggu gue mau lihat keadaan Allena dulu". Louis kembali ingin mendekati Allena, namun dengan cepat Tessa menghadang Louis.
"Nggak usah, keluar lo sekarang. Keluar gue bilang". Tessa menarik lengan Louis dengan kuat dan mendorong pria itu membawanya keluar dari kamar.
Tessa kemudian menutup pintu dari luar dan kembali menarik lengan Louis lalu mendorong pria itu untuk melangkah turun kebawah kelantai satu bersama dengan dirinya.
"Lo diem disini, nggak usah naik keatas. Awas aja lo kalau sampai ke kamar Allena". Ancam Tessa dengan menunjukan kepalan tinjunya dihadapan Louis dengan wajah galaknya.
Saat ini Tessa dan Louis sudah berada di ruang keluarga.
"Iya iya. Bawel banget sih ah". Louis berkata dengan malasnya. Dia tidak mau lagi jika harus berurusan dengan Tessa. Kemarin lehernya yang dibuat encok entar apa lagi kalau dia berani melawan Tessa. Bisa-bisa hancur tuh badan.
__ADS_1
"Tapi gue mau nanya, itu punggung Allena kenapa, kok bisa kaya gitu?". Louis sangat penasaran dengan apa yang terjadi pada Allena. Sebetulnya Louis sangat khawatir dengan keadaan gadis itu.
Tapi adanya keempat sahabat Allena, pria itu tidak terlalu mencemaskannya lagi karena mereka terlihat sangat membantu dan menjaga Allena.
Sementara Tessa mulai menceritakan apa penyebab keadaan Allena sekarang. Tetapi Tessa mengatakan kepada Louis bahwa kuah bakso tersebut tak sengaja ditumpahkan dipunggung Allena.
Tessa mengatakan bahwa itu adalah murni kecelakaan. Dia hanya tidak ingin membuat Louis salah paham pada Alexa. Jangan sampai Louis berbuat sesuatu untuk membalas perbuatan Alexa pada Allena.
"Alexa?". Louis terlihat berpikir. Menurutnya nama itu terdengar familiar baginya.
Saat Louis sedang mengingat-ingat, Tessa terlihat berdiri dari duduknya dan melangkahkan kakinya menuju pintu keluar.
Ternyata pesanannya telah sampai dan dia ingin mengambilnya. Tessa kemudian menuju gerbang rumah tersebut.
Selesai membayar Tessa pun berbalik ingin kembali masuk kedalam rumah.
DORR!!
"Waaa... Louis anji*ng. Lo gila ya!!". Teriak Tessa kaget karena Louis yang sudah berada dibelakangnya dan mengagetkannya.
Terlihat Louis tertawa cekikikan karena telah berhasil mengganggui Tessa.
Tessa menatap kesal pada Louis, "Lo apa-apaan sih? Minggir sana!!". Sambung Tessa dengan perasaan kesal lalu menendang masa depan pria itu.
"Rasain". Ejek Tessa sambil berjalan meniggalkan Louis yang terlihat meringis kesakitan.
"Aduhh... sakit!! DASAR CEWEK GILA STRES LOHH!!". Teriak Louis meringis sambil berjongkok memegang masa depannya yang sangat sakit akibat tendangan Tessa tadi.
"Adoohh sakit!! Masa depan gue". Louis terus meringis kesakitan pada bagian masa depannya.
Sementara Tessa terus berjalan masuk kedalam rumah tak peduli dengan keadaan Louis.
Gadis itu terus berjalan sampai menuju kamar Allena.
Pagi hari Allena dan keempat sahabatnya sudah berada di SMAN Nasional. Saat ini mereka sedang berada dalam kelas.
Awalnya keempat wanita itu melarang Allena untuk pergi ke sekolah. Akan tetapi Allena tetap bersikukuh ingin datang ke sekolah karena tidak ingin ketinggalan pelajaran.
Akhirnya Allena tetap datang ke sekolah dengan memakai jaket yang diberikan oleh Aziel padanya.
Tidak lama kemudian, nampak Aziel muncul dari balik pintu bersama Setya dan masuk kedalam kelas 10 IPA 1. Membuat suasana kelas yang awalnya ribut langsung menjadi hening seketika, murid-murid diam ditempat mereka tak ada yang berani berbicara.
"Allena, lu ikut gua ke ruang BK sekarang. Guru mau nyelesaiin masalah lu sama Alexa kemarin". Ucap Aziel yang kini sudah berada dihadapan Allena.
Allena mendongak menatap Aziel, gadis itu kemudian beralih menghembuskan nafasnya perlahan, "Hmm". Allena bergumam lalu berdiri dari kursinya.
"Kalian ikut juga. Biar jadi saksi". Aziel beralih memandang ke-5 sahabat Allena. Mereka kemudian mengangguk dan berdiri. Disana tidak ada Manaf.
Aziel kemudian kembali beralih kearah Allena lalu meraih lengan gadis itu dan menggandengnya, membuat murid-murid yang ada disana fokus memandang kedua sejoli itu.
"Kita ke ruang BK sekarang". Ucap Aziel yang mendapat anggukan dari Allena.
Mereka kemudian keluar dari kelas itu dan bergegas menuju ruang BK.
Setibanya di ruang BK, mereka masuk kedalam ruangan yang ternyata disana sudah ada Alexa dan kedua sahabatnya Chika dan Hera. Juga ada Regina dan beberapa murid lainnya sekitar lima orang.
"Duduk Allena". Ucap Guru BK mempersilahkan Allena untuk duduk.
Allena kemudian melangkahkan kakinya menuju kursi yang terdapat didepan meja Guru BK dan duduk disana dengan ekspresi datarnya.
"Bagaimana keadaan kamu Allena?". Tanya Guru BK itu.
Allena menatap datar Guru BK itu, "Seperti yang Anda tahu sendiri bagaimana keadaan saya". Jawab Allena.
Guru BK itu hanya menghela nafas ketika mendengar jawaban Allena.
"Baiklah, bagaimanapun juga kamu saat ini masih dalam tahap pengobatan. Mengingat kejadiannya baru kemarin terjadi.
__ADS_1
"Tapi saya harap saya sebagai Guru BK kamu di sekolah ini meminta kamu untuk tidak melanjutkan perihal kejadian ini kejalur hukum. Itu juga terjadi murni karena kecelakaan kan? Tidak disengaja?". Ucap Guru BK itu yang terlihat tenang.
"Saya hanya ingin kalian selaku murid-murid disini menyelesaikan masalah ini dengan baik dan damai". Sambung Guru BK itu lagi.
Allena menatap tanpa ekspresi kepada Guru BK itu, "Oh, benarkah itu? Jadi....". Allena menjeda kalimatnya lalu menoleh kearah Alexa yang ada disampingnya dengan perlahan.
"Alexa sudah mengatakan bahwa apa yang terjadi kemarin karena tidak disengaja olehnya. Iya, begitu?". Allena menatap datar Alexa.
Alexa kemudian balik menatap Allena, "Ya emang gitu kejadiannya. Gue nggak sengaja kok numpahin kuah bakso itu kepunggung lo.
"Lagian salah lo sendiri, duduk kok didekat jalan. Ya kesandung gue, tumpah dong akhirnya bakso gue kena lo". Alexa berusaha membela diri. Padahal jelas-jelas dia melakukan itu dengan sengaja.
"Lo nggak usah ngeles Alexa. Jelas-jelas gue lihat lo jalan cepat kearah Allena terus sengaja tumpahin bakso itu. Pake bohong segala lagi lo". Ucap Airin yang sudah kesal pada Alexa.
Alexa berdiri dan menatap tajam kearah Airin, "Eh cewe miskin, lo nggak usah ikut campur. Lo itu nggak tau apa-apa, nggak usah ngefitnah gue terus lo.
"Udah mulai berani lo ya ternyata ama gue". Ucap Alexa kesal.
"Iya, emang kenapa? Lo kira gue bakalan takut terus sama lo? Nggak akan lagi, tau lo". Balas Airin tak kalah menohok, membuat suasana ruang BK menjadi ribut dan tegang.
"Lo...". Ucapan Alexa terhenti.
BRAKK..!!!
"Diam!!". Guru BK berdiri dan menatap marah kearah Alexa dan Airin.
"Kalian berdua kenapa malah pada ribut? Kita semua disini untuk menyelesaikan masalah yang terjadi dengan baik-baik. Jangan membuat keadaan menjadi lebih panas". Bentak Guru BK itu kemudian menoleh kearah Airin.
"Airin, kamu terkenal di sekolah ini sebagai anak yang bersikap baik dan cerdas. Saya jadi ragu dengan itu jika kamu bersikap seperti ini.
"Lebih baik kamu diam dan tenangkan dirimu". Ucap Guru BK itu.
Airin beralih kearah Guru BK tersebut, "Saya minta maaf, tapi saya disini sebagai saksi. Jadi saya harus mengatakan apa yang saya lihat dan ketahui". Airin tidak mau mengalah.
"Iya, saya tau. Tapi kamu tenang saja. Biar saya saja yang menyelesaikan masalah ini. Kamu akan berbicara nanti jika kamu diizinkan. Lebih baik kamu diam dan tenang, kendalikan dirimu. Kamu mau citra kamu di sekolah ini rusak?". Ucap Guru BK memperingati Airin.
"Tap...". Ucapan Airin terhenti karena Allena mencegahnya.
"Sudah Airin! Tidak usah diperpanjang". Ucap Allena tenang.
Allena kemudian kembali beralih menatap Guru BK itu, "Baiklah kalau begitu. Saya mengganggap masalah ini sudah selesai. Saya juga tidak akan membawa masalah ini ke rana hukum, meskipun tadinya saya berpikir akan melakukan hal itu...". Ucap Allena yang membuat Alexa membulatkan matanya kaget.
"Lo...". Alexa terhenti ucapannya karena Allena.
"Tapi...". Allena melanjutkan perkataannya dengan memandang Alexa dengan tatapan menghunusnya, "Saya tidak mungkin menerima kompensasi dari apa yang menimpa saya. Meskipun itu hanya sebuah KE-CE-LA-KA-AN YANG TIDAK DI-SE-NGA-JA. Iya kan?". Ucap Allena dengan menekan kata-katanya.
Tatapan gadis itu sungguh mampu membuat suasana di ruangan itu menjadi mencekam. Allena memang mempunyai aura tersendiri dalam menyelesaikan suatu masalah.
Aziel yang ada disitu bahkan hanya bisa geleng-geleng melihat sikap dan sifat gadisnya itu.
"Kamu tenang saja Allena!! Alexa akan mengganti rugi dengan apa yang telah terjadi pada kamu. Makanya saya minta kalian berkumpul disini untuk menyelesaikan masalah ini dengan baik-baik.
"Selain itu...". Guru BK terlihat memberikan amplop kepada Alexa.
"Ini surat skors untuk kamu Alexa. Saya harap kejadian ini tidak terjadi lagi". Sambung Guru BK tersebut.
Alexa mengambil surat skors tersebut dan memandang amplop itu dengan kesal, "Loh, kok saya diskors? Sayakan tidak bersalah, karena kejadian itu juga tidak disengaja. Lagi pula saya juga mau ganti rugikan". Alexa keberatan dengan surat pemberian skors tersebut.
"Saya tidak butuh uang ganti rugi". Allena menyela.
"Saya rasa sudah cukup bagi saya jika Alexa diberikan surat itu". Allena menatap dingin Alexa kemudian.
"Tapi jika lain kali kejadian seperti ini terulang kembali. Jangan salahkan saya jika yang didapatkannya bukan hanya surat skors seperti ini.
"Saya bahkan bisa membuatnya keluar dari sekolah ini bahkan bisa membuatnya tidak diterima di sekolah manapun". Ancam Allena dengan terus menatap dingin Alexa.
Membuat suasana semakin mencekam.
__ADS_1