Allena And Friend'S

Allena And Friend'S
PART 131 ~ Allena and Friend's


__ADS_3

Akhh...!!


Allena memekik saat Aziel sudah berada di atasnya, menindihnya dengan merentangkan kedua tangannya di samping kiri dan kanan. Sehingga seragam yang dikenakan Allena terkesiap memperlihatkan perut rata cewek itu juga dua bukit kembar yang masih ditutupi bra berwarna hitam.


Aziel terdiam sambil memandangi pemandangan yang begitu menggoda hasratnya.


"LU LIHAT APA HA!?". Sentak Allena seketika menyadarkan Aziel yang tengah memandangi dirinya.


Aziel mengerjab-ngerjabkan matanya, lalu beralih menatap wajah Allena dengan seringainya.


"Sengaja lu godain gua?". Desis Aziel kemudian.


"Hah? Ngegodain lu? Siapa yang godain lu set*an?". Maki Allena dengan kesal. Mata hazelnya menatap bengis cowok itu.


"Lepasin nggak!". Allena bergerak-bergerak berusaha menyingkirkan Aziel yang ada di atasnya.


"Jangan gerak-gerak Baby! Lu bisa bangunin yang di bawah". Desis Aziel dengan tersenyum devil.


"Lu ngomong apaan sih? Mending lu lepasin tangan gua dan menyingkir dari atas gua!". Allena semakin kesal dan berusaha melepaskan cekalan Aziel dikedua lengannya.


"Dari atas mana Baby?". Goda Aziel.


"Dari atas gua sialan! Turun nggak". Sentak Allena.


Aziel tak menggubris. Cowok itu malah kembali beralih memandangi tubuh Allena.


"Sshhh..oh mai, lu seksi banget Allen!". Desis Aziel yang satu tangannya sudah membelai lembut perut Allena yang putih mulus itu sehingga membuat tubuh Allena langsung menegang saat itu juga.


"Stop it! Don't tach me sialan atau gua bakal teriak". Sentak Allena mendorong dada Aziel dengan tangan kirinya yang terlepas dari cekalan Aziel.


"Coba aja lu teriak! Apa yang bakal dipikirin orang-orang sini nanti kalau mereka lihat kita berdua dalam keadaan kaya gini". Ucap Aziel menatap intens Allena. Tubuhnya bahkan tak berpindah sama sekali dari atas tubuh Allena.



Seketika Allena mengepalkan kedua tangannya dengan kuat mendengar perkataan Aziel. Cowok itu selalu saja bisa menekan Allena dengan ucapannya yang mampu membuat Allena tak bisa berkutik.


"Sekarang mending lu diem, dan biarin gua ngelakuin sesuatu hal yang memang seharusnya gua lakuin dari dulu". Lanjut Aziel kembali membelai perlahan perut Allena.


"Nghh..maksud lu apa? Lu jangan macem-macem ama gua". Ucap Allena mendelik tajam sembari menahan belaian Aziel yang kembali membuat tubuhnya menegang. Dirinya memang sangat cepat bereaksi akan sentuhan di area yang menurutnya sensitif.


"Kalau lu mau ngedesah, ngedesah aja Allen. Gua tau lu nggak kuat kan?". Desis Aziel dengan suara yang berat dan tangan yang terus memberikan sentuhan-sentuhan lembut di area perut Allena yang terpampang. Pandangannya bahkan sesekali melirik ke area dada Allena yang masih tertutup rapi dengan bra berwarna hitam itu.


"Berhenti Elghh, gua mohon!". Allena mulai tak bisa menahan diri. Ingin sekali dia memberontak, namun pikiran dan tindakannya malah tak sejalan. Tubuhnya malah menikmati apa yang dilakukan Aziel.


Aziel kembali mencekal kedua tangan Allena menahannya di samping kiri dan kanan cewek itu, lalu beralih menciumi perut Allena yang rata, mengecupnya dengan lembut dan bahkan memainkan lidahnya di area pusar Allena.


"Nghh shh udahh Elghh!". Allena mulai melenguh tak bisa menahan saat Aziel memberikan gigitan kecil di perutnya. "Udahh!!


Aziel kemudian berhenti dan perlahan mulai naik ke atas kembali menatap wajah Allena. Gadis itu terlihat menaik turunkan dadanya menghirup oksigen.


PLAKK!


"Lu gila!". Allena seketika menampar Aziel sembari menatap kesal pria itu karena sudah berani melakukan hal mesum padanya.


Allena berusaha memberontak karena Aziel kembali mencekal kedua lengannya.


"Udah gua bilang jangan gerak-gerak, nanti lu bisa bangunin yang di bawah Allen!". Ucap Aziel dengan seringainya.


"Lu...


"Gua bakal ngelanjutin, karena cuman ini satu-satunya cara biar gua bisa milikin lu seutuhnya Allena". Ucap Aziel sambil memandangi mata hazel cantik itu.


"Gua udah punya tunangan kalau lu lupa. Dan gua juga udah mutusin nggak pernah mau berhubungan lagi ama lu. Kenapa lu masih nggak ngerti juga?". Balas Allena sambil berusaha melepaskan cekalan Aziel dikedua lengannya.


"Dan biarin lu sama si bajingan Louis itu. Nggak akan Allen! Gua nggak akan pernah biarin lu ama dia. Hal itu nggak akan pernah terjadi". Desis Aziel menekan kata-katanya dengan sorot mata tajam, seolah-olah itu adalah sebuah peringatan untuk Allena.


"Terus lu maunya gua ama lu gitu?". Allena melotot tajam.


"Of course. Sampai kita bener-bener nikah.


"Nggak, gua nggak mau. Gua udah bilang gua nggak mau nikah ama lu. Gua juga udah bilang nggak mau berhubungan lagi ama lu". Ucap Allena menatap bengis Aziel.


"Oke kalau gitu, gua bakal ngelanjutin hal yang tadi". Aziel beralih mengarahkan wajah Allena ke arahnya ingin mencium bibir gadis itu, namun dengan cepat satu tangan Allena yang terlepas dari cekalan Aziel tadi langsung mendorong wajah Aziel.


"Gua nggak mau. Jangan maksa!". Cicit Allena berusaha melepaskan diri dari Aziel.


Aziel dengan cepat meraih lengan Allena di wajahnya lalu kembali mencekalnya ke samping.


"Lepasin! Gua nggak ma..mmphh


Allena berhenti berbicara karena Aziel sudah memagut bibirnya.


"Lepmhh...


Allena terus berusaha memberontak, namun tak bisa. Aziel semakin mencengkram keras kedua lengan Allena ke samping dan menindih tubuh cewek itu dengan terus melu*mat bibir Allena penuh nafsu.


Setelah puas dengan bibir Allena, Aziel beralih ke leher jenjang gadis itu, memberikan kecupan-kecupan lembut disana yang mampu membuat Allena kembali melenguh.


Aziel yang awalnya mencekal kedua pergelangan tangan Allena kemudian berganti menautkan jari-jarinya dengan jari-jari Allena, menggenggam erat tangan gadis itu.


"Asal lu tau Allena, gua nggak bakal pernah ngebiarin lu ama Louis. Bisa gila gua nanti!". Desis Aziel yang menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Allena masih dengan menindih gadis itu.


"Lepasin EL!". Ucap Allena kemudian, mengalihkan pembicaraan.


"Nggak mau!". Sahut Aziel.


"Lepasin gua bilang!

__ADS_1


"Nggak!


"Kalau gitu lu turun. Berat tau!


"Kan gua udah bilang bakal ngelanjutin!". Ucap Aziel yang sudah menatap Allena.


"Dan gua ngenolak untuk itu. Gua nggak mau!". Balas Allena yang juga menatap Aziel dengan kesal.


"Tapi gua yang mau Allen!


"Dan gua nggak mau gila!


"Emang gua harus minta persetujuan dari lu?". Ucap Aziel sambil dengan menunjukan senyum smirk khas dirinya.


Allena sontak membulatkan matanya.


"Lu emang...


TOK


TOK


TOK


"Allena lo ada di dalam nggak?". Itu suara Louis. Dia sudah pulang? Padahal masih jam pelajaran sekolah.


Allena dan Aziel sontak menoleh bersamaan ke arah pintu yang diketuk.


"Allena bukain pintunya! Gue mau ngomong sesuatu sama lo". Teriak Louis dari luar kamar dengan terus mengetuk pintu kamar Allena.


Allena beralih menoleh pada Aziel.


"Turun! Lu nggak denger ada Louis?". Ucap Allena sembari berusaha melepaskan genggaman Aziel ditangannya.


"Gua nggak mau!


"Hah? Maksud lu?". Allena langsung melototkan matanya.


"Ya gua nggak mau! Biar nanti Louis tau kalau gua ada disini". Jawab Aziel dengan seringai liciknya.


"Lu sinting ya. Turun cepat! Lu jangan aneh-aneh dong". Cicit Allena berusaha memberontak.


"Siapa yang aneh-aneh? Orang gua cuman mau biar Louis tau gua ada disini". Ucap Aziel, "Hahh gimana ya reaksinya dia nanti kalau tau lu berdua doang ama gua disini?". Lanjutnya dengan menaik turunkan alisnya menatap Allena.


Allena jadi gelagapan sendiri. Sebenarnya Allena tidak peduli jika sampai Louis tau Aziel ada di dalam kamarnya berduaan saja. Tapi rencananya untuk menjauhi Aziel bisa gagal nanti.


Allena harus memikirkan cara supaya dia bisa terlepas dari Aziel yang masih terus saja menindihnya.


Tiba-tiba langsung terbesit suatu ide di dalam pikiran Allena.


Cewek itu seketika berhenti memberontak dan hanya memandangi Aziel intens.


Namun Allena tak menjawab dan tetap memandangi Aziel.


"Allen, lu kenap...


BUKHH!


"Aduhh Allena lu apa-apaan sih? Sakit tau!". Aziel tiba-tiba meringis kesakitan saat Allena sengaja menjedotkan jidatnya dengan jidat Aziel. Benturan yang keras membuat Aziel merasakan kesakitan di keningnya karena ulah Allena barusan. Sehingga tanpa sadar Aziel sudah menjauhi Allena untuk mengurusi keningnya yang sakit.


Allena dengan cepat bangun dan beranjak mendekati Aziel yang berjongkok sambil mengelus-elus keningnya berharap rasa sakitnya hilang.


"Sini cepetan!". Allena menarik lengan Aziel untuk ikut dengannya. Dan Aziel menurut saja namun masih dengan berusaha menghilangkan rasa sakit di keningnya.


Allena kemudian membawa Aziel kesisi tembok dekat pintu.


"Sekarang lu diem disini! Jangan ngeluarin suara sedikit pun! Kalau sampai lu bersuara, awas aja lu. Lu nggak akan pernah lihat gua lagi di dunia ini!". Ucap Allena semi mengancam, lalu berjalan menuju pintu.


Awalnya Allena mengancing seragamnya terlebih dahulu, lalu mengacak-acak rambutnya sedikit agar Louis beranggapan bahwa dirinya baru bangun dari tidur.


Kemudian bergegas memegang handel pintu, lalu membuka pintunya sedikit.


"Apa?". Tanya Allena dengan gaya bangun tidur yang disebuat mungkin.


"Lo baru bangun tidur?". Tanya Louis memperhatikan.


"Menurut lo?


"Sorry gue ganggu waktu tidur lo.


"Bagus kalau lu nyadar". Balas Allena datar.


Louis hanya mampu menghela nafasnya akan sikap Allena padanya. Louis kemudian berkata. "Gue mau ngomong sesuatu sama lo.


"Apaan?". Sahut Allena.


"Gue lihat mobil Aziel di depan. Dia datang kesini?". Tanya Louis kemudian.


Allena seketika terlihat mengerutkan alisnya.


"Iyakah? Gua nggak tau". Jawab Allena yang langsung keluar dari dalam kamarnya, lalu menutup pintu kamarnya, kemudian berjalan melewati Louis.


"Lo mau kemana Len?". Tanya Louis.


"Mau lihat mobil yang lu omongin". Jawab Allena dengan tetap melanjutkan langkahnya.


Louis kemudian bergegas menyusul Allena.

__ADS_1


Setibanya mereka di bawah, Allena langsung berjalan keluar mansion.


"Mana?". Tanya Allena saat melirik ke arah parkiran dari teras mansion, namun tidak ada tanda-tanda mobil Aziel yang terparkir disana.


"Di luar Allena. Depan gerbang maksud gue". Sahut Louis menjelaskan.


"Umm gitu! Yaudah!". Allena kemudian berbalik kembali ingin masuk ke dalam.


"Mau kemana Len?". Tanya Louis melihat Allena yang kembali berjalan masuk mansion.


"Balik ke kamar". Jawab Allena melanjutkan langkahnya.


"Lo nggak ketemu sama Aziel dulu?". Tanyanya lagi. Memang tadi Louis sempat melihat mobil Aziel yang terpakir di depan gerbang. Dia berpikir mungkin Aziel tak berani masuk ke dalam dan hanya berhenti disana.


"Nggak. Ngapain? Nggak penting juga kan". Sahut Allena tanpa menghentikan langkahnya. Dan Louis kemudian berjalan menyusul Allena.


Saat mereka tiba di ruang tamu mereka berdua berpapasan dengan Bi Ratih yang sambil membawa minuman.


"Minuman buat siapa Bi?". Tanya Louis kemudian.


"Buat tamu Aden". Jawab Louis.


"Tamu? Tamu siapa?". Tanyanya lagi.


"Katanya sih teman sekolahnya Neng Lena". Jawab Bi Ratih.


"Teman sekolahnya Allena?". Gumam Louis menautkan alisnya, "Ah iya, kalau gitu teman sekolahnya Allena itu cewek apa cowok Bik?". Tanya Louis memastikan.


"Laki-laki Aden". Jawab Bi Ratih.


Louis seketika melirik ke arah Allena yang terlihat diam saja dengan muka tampang datar seperti biasanya.


"Terus sekarang orang itu dimana Bik?". Tanya Louis lagi.


"Tadi sih katanya mau ke kamar mandi. Tapi dari tadi nggak balik-balik. Mungkin dia sudah pulang". Jawab Bi Ratih.


"Ooh gitu ya Bik. Yaudah Bi Ratih balik lagi aja. Mungkin tamunya emang sudah pulang.


"Terus ini minumannya gimana Den?". Tanya Bi Ratih.


"Buang aja!". Bukan Louis yang menjawab melainkan Allena.


Gadis itu kemudian kembali melangkah menuju tangga dengan sikap seperti biasanya.


Sementara Louis hanya memandangi Allena yang mulai menaiki tangga dengan ekspresi yang tak dapat diartikan. Pria itu kemudian menggeleng.


"Yaudah Bik, saya juga mau ke kamar. Bi Ratih buang aja minumannya". Ucap Louis beralih ke arah Bi Ratih. Kemudian pria itu juga mulai berjalan menuju kamarnya yang ada di lantai bawah itu.


Sementara Bi Ratih mulai berjalan menuju dapur dengan pikiran yang ikut merasa kebingungan.


Sedang Allena yang sudah berada di depan pintu kamarnya segera membuka pintu dan dengan cepat masuk ke dalam. Kemudian langsung mengunci pintu tersebut, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Jangan sampai tiba-tiba ada yang membuka pintu kamarnya. Entah itu Bi Ratih, Louis, ataupun kedua orang tua Allena. Bisa gaswat nanti urusannya.


Allena melirik ke arah tembok yang Aziel berada tadi, namun Aziel sudah tidak ada disana. Alis gadis itu sedikit berkerut.


Allena kemudian berbalik menelusuri setiap sudut kamarnya, dan sama sekali tidak menemukan Aziel disana.


Apa mungkin Aziel sudah pergi? Tapi bagaimana mungkin?


Kamar Allena berada di lantai dua, dan itu cukup tinggi jika Aziel sampai berani nekat melompat dari atas balkon.


Allena kemudian berjalan menuju balkon. Berdiri dipagar besi yang tingginya sebatas pinggangnya. Mengedarkan pandangannya keluar mencari keberadaan Aziel. Allena seketika menghembuskan nafasnya. Mungkin saja Aziel memang sudah pergi dari kamarnya.


Namun tak berselang lama, tiba-tiba saja sebuah lengan kekar terulur di pinggang ramping Allena, membuat Allena sontak berbalik kaget.


"AZIEL!!". Allena memekik kaget mendapati Aziel sudah berada di hadapannya dengan memeluk pinggangnya.


Aziel hanya tersenyum manis ke arah Allena. Ternyata pria itu tadi sempat bersembunyi di balkon di sudut tembok. Sehingga Allena tak melihatnya tadi saat dirinya berjalan keluar menuju balkon.


"Masuk!". Allena langsung mendorong Aziel sampai pria itu termundur ke belakang.


"Kenapa?". Tanya Aziel saat mereka berdua sudah masuk kembali ke dalam kamar.


"Nanti kita berdua dilihat gimana?". Cicit Allena melotot kesal.


"Ya nggak papa dong". Sahut Aziel santai.


"Nggak papa matamu!". Sentak Allena. Kemudian menjauh dari Aziel. "Dan lu bisa nggak sih jangan suka kaya tadi. Gua itu kagetan orangnya. Gimana sih?". Sungut Allena kesal.


"Eh iya iya, sorry gua lupa". Jawab Aziel dengan cengirannya.


"Lupa lupa lupa.. pulang sono!". Usir Allena.


"Pulang gimana? Emang lu mau gua ketahuan disini? Kalau gua sih nggak papa". Ucap Aziel, "Kalau gitu gua keluar aja dari sini, nggak papa kan kalau sampai gua dilihat". Kemudian mulai melangkahkan kakinya.


"Eh eh tunggu tunggu bentar!". Dengan segera Allena menarik lengan Aziel mencegat pria itu yang ingin keluar dari dalam kamarnya.


"Apa lagi Allena? Tadi lu suruh gua keluar, ya gua mau keluar ini". Ucap Aziel.


"Ya tunggu dulu dong bentar. Gua mikir dulu!". Ucap Allena.


"Yaudah mikir dulu, gua kesana mau istirahat sambil nungguin lu mikir". Sahut Aziel, kemudian dengan santainya berjalan menuju sofa yang ada di sisi ruangan kamar itu.


Sedang Allena hanya melihat Aziel yang mulai berjalan menuju sofa disana.


Allena menggit jarinya sambil terus memperhatikan Aziel yang sudah duduk anteng di sofa itu.


"Duhh gimana ya?

__ADS_1



__ADS_2