Allena And Friend'S

Allena And Friend'S
PART 6 ~ Allena and Friend's


__ADS_3

...Kak Brayen...


Disaat Allena sedang memijat betisnya, tiba-tiba dari arah samping kiri ada seseorang yang menyodorkan sebotol mineral dan juga handuk kecil kepada Allena yang diletakkan pada bahunya.


Allena lalu menoleh ke samping dan mendapati seorang laki-laki tengah berdiri sambil tersenyum kepadanya. Ternyata cowok itu adalah Brayen si kakak kelas.


"Hai gue Brayen! Panggil aja Kak Brayen, soalnya gue kan kakak kelas lo. Salam kenal ya. Hehe!!". Ucap Brayen basa-basi dengan sedikit cengengesan.


"Nama lo Allena kan. Keluarga Albern. Widihh keren banget lo". Puji Brayen pada Allena dengan sok akrabnya.


Allena yang disapa seperti itu hanya diam menatap Brayen tanpa ekspresi. Gadis itu tidak suka ada yang sok akrab pada dirinya.


Allena kemudian berdiri dan menghadap Brayen sambil menatapnya datar.


Brayen yang ditatap seperti itu mulai meneguk salivanya. Ada perasaan tak enak dihatinya karena tatapan Allena yang ditujukkan kepadanya. Selang beberapa detik kemudian, Allena pergi begitu saja dari hadapan Brayen tanpa menggubrisnya.


Mendapati reaksi Allena yang seperti itu membuat Brayen heran. Sungguh Allena tak mudah bisa ditebak dengan sikap seperti itu.

__ADS_1


Brayen pun kemudian mengejar Allena yang mulai bergerak jauh. Tanpa disadari oleh keduanya, ada sepasang mata laki-laki yang sedang memperhatikan keduanya dari kejauhan.


Brayen berhasil mengejar Allena dan langsung berjalan berdampingan dengan gadis itu. Mendapati Brayen di sampingnya Allena tetap tidak mempedulikan, menganggap Brayen tidak ada disitu dengan tetap melanjutkan langkahnya dengan santai.


Brayen yang tidak dipedulikan mulai membuka obrolan pada Allena, "Allena, mau gue antar pulang nggak?". Tanya Brayen pada Allena dengan terus mengikuti langkah Allena.


Sedang Allena tidak menjawab dan terus melangkahkan kakinya tanpa mempedulikan tawaran Brayen untuknya.


"Lo nggak bisa bahasa Indonesia ya, makanya nggak ngomong-ngomong dari tadi?". Tanya Brayen basa-basi. "Kayaknya iya sih. Mungkin lo cuman bisa bahasa Inggris kali ya?". Sambungnya ngasal.


Reflek Brayen ikut menghentikan langkahnya dan mensejajarkan dirinya dengan Allena, lalu menghadap dan menatap bingung pada gadis itu.


Terdengar hembusan nafas dari Allena. Gadis itu kemudian berbalik berhadapan dengan Brayen. Allena sudah mulai cukup emosi.


"Lu mending jauh-jauh dari gua. Gua nggak suka lu deket-deket ama gua. Najiss tau nggak!". Cetus Allena pada Brayen dengan nada sedikit emosi.


Itulah bagian terburuk dari seorang Allena, dia termasuk orang yang irit bicara. Namun, sekalinya bicara kata-katanya terkesan pedas pada lawan bicaranya. Kasar dan arogan.

__ADS_1


Setelah berkata seperti itu, Allena kembali melangkahkan kakinya, meninggalkan Brayen yang menatapnya seolah tak percaya. Allena ternyata sangat garang menurutnya.


Brayen mengetahui satu hal, perempuan blasteran yang terkesan pendiam itu ternyata seorang wanita yang garang dan terkesan arogan.


Sedang Allena segera menuju parkiran. Tak sadar ternyata dia membawa kedua barang yang diberikan Brayen tadi kepadanya.


Dia menatap kedua benda tersebut, selang beberapa menit Allena segera membuka pintu mobil dan membuang kedua barang tersebut ke dalam pojok mobilnya.


Allena kemudian masuk ke dalam mobil dan langsung tancap gas meninggalkan sekolah elit tersebut.


Sepeninggal Allena, Brayen juga langsung menuju parkiran mengeluarkan motor sportnya lalu menyalakan motornya dan juga langsung pergi dari sana.


Dari kejauhan ternyata sedari tadi ada sepasang mata pria yang tengah memperhatikan keduanya. Dia adalah Aziel. Aziel beranggapan bahwa kakak kelas sekaligus sahabatnya itu, Brayen menyukai gadis yang bernama Allena itu.


Selang beberapa menit Allena dan Brayen meninggalkan sekolah itu, Aziel juga segera menuju parkiran untuk mengambil mobilnya dan juga ikut pergi meninggalkan sekolah tersebut.


__ADS_1


__ADS_2