Allena And Friend'S

Allena And Friend'S
PART 118 ~ Allena and Friend's


__ADS_3

"Allena, kamu sudah pulang sayang?". Seru Mommy Tiara pada Allena yang terlihat berjalan memasuki rumah.


"Loh, Louis mana Nak? Kamu nggak pulang bareng dia sayang?". Tanya Mommy Tiara yang tidak melihat Louis pulang bersama Allena.


Karena biasanya Allena dan Louis akan berangkat dan pulang ke sekolah itu barengan.


Yaa yang kita tahu itu adalah perintah dari Papah Robert sendiri.


"Allena tinggal". Jawab Allena tanpa menoleh dan tetap melanjutkan langkahnya.


"Kok bisa Nak, kenapa memangnya?


"Males aja". Jawab Allena terus melangkah.


"Tapi kan Nak...


"Ck, bisa diem nggak sih!". Sentak Allena dan mulai berbalik ke arah Mommynya, "Lagian kalau Louis, Allena tinggalin, emang dia bakalan hilang? Nggak kan. Lebay amat perasaan. Nggak usah ngomong, Allena juga nggak peduli". Setelah berbicara seperti itu Allena berbalik dan kembali melanjutkan langkahnya menuju tangga.


Sedang Mommy Tiara hanya bisa menghebuskan nafasnya melihat sikap putri satu-satunya itu.


...******...


Malam harinya...


"Oooh ternyata lo! Jadi lo gila pelakunya". Itu Alexa.


Saat ini Alexa tengah melabrak Regina yang saat ini sedang bersama teman-temannya di sebuah restoran.


"He lo apa-apaan sih, dateng-dateng marah-marah!?". Regina berdiri dari duduknya dengan gaya songkaknya.


"Nggak usah sok pura-pura nggak tau lo, lo kan yang udah sabotase acara pensi sekolah waktu itu?". Alexa kemudian menepuk tangan, geleng-geleng, "Wahh hebat banget lo ya bisa nyembunyiin hal itu sampai selama ini, ckckck terus lo limpahin semuanya ke gue. Mantap banget sih lo". Sambungnya sambil terus tepuk tangan tak percaya.


"Eh, maksud lo apa ha? Lo nuduh gue?". Elak Regina.


"Masih nggak ngaku juga lo.


"Ya terus lo punya bukti sampai lo nuduh gue? Sedangkan jelas-jelas pelakunya itu lo, Alexa". Tantang Regina.


Para pengunjung di restoran itu mulai menyoroti perdebatan kedua gadis itu.


Suara mereka yang keras memenuhi penjuru ruangan sehingga para pengunjung teralihkan ke arah mereka.


"Woy adik kelas, songong lagi lo! Pelakunya kan elo, kenapa lo bisa nuduh Regina!? Punya bukti apa lo kalau Regina yang sabotase acaranya? Lagian itu juga udah lama kan, ngapain masih lo ungkit-ungkit?". Salah satu teman Regina ikut menimpali.


"Gue nggak ada urusan ya ama lo. Gue urusannya ama teman gila lo ini". Alexa kembali beralih ke arah Regina, "Emang lo kan pelakunya? Ngaku aja lo sebelum gue sebarin buktinya. Lo kira gue ngomong kaya gini nggak punya bukti". Ancam Alexa kemudian.


"Lo..


"Apa? Lo mau apa ha?". Tantang Alexa.


"Mana coba kalau lo emang punya buktinya? Gue mau lihat". Regina mulai kelagapan. Bagaimana jika Alexa emang punya bukti. Bisa habis dia nanti.


"Heh, kenapa? Mulai takut lo?". Tantang Alexa.


Regina mulai naik pitam. Gadis itu menatap tajam Alexa dan mulai mendekati Alexa.


"Sialan lo! Lo kira gue takut sama ancaman lo". Cibir Regina dan langsung mendorong keras Alexa sampai jatuh tersungkur.


Alexa yang tak terima diperlakukan seperti itu, segera berdiri dan langsung membalas mendorong Regina, "Lo pikir gue takut sama lo!". Umpat Alexa. Namun Regina segera ditolong oleh ke-3 temannya dengan menangkap gadis itu dari belakang.


"Kurang ajar!". Umpat Regina yang emosi, lalu kembali mendekati Alexa, "Sialan lo anji*ng!". Dan dengan cepat Regina menjambak rambut Alexa.


Alexa yang tentu saja tak mau mengalah membalas menjambak rambut Regina lebih keras lagi.


Ketiga teman Regina segera membantu Regina dengan ikut menyerang Alexa.


Dua orang membantu menjambak Alexa, yang satunya lagi menahan pergerakan Alexa dari belakang.


Hingga pertengkaran diantara kelima gadis itu tak dapat terhelakan. 4 vs 1. Alexa sendiri dan Regina dengan ketiga temannya.


Meskipun begitu, keempat gadis itu terlihat kewalahan menangani Alexa yang notabennya sendiri itu. Tenaga Alexa yang begitu kuat terlihat menyerang lebih brutal dan membabi buta kepada mereka semua.


Alexa menyerang dengan menjambak mereka secara bergantian, mendorong keras hingga salah satunya jatuh tersungkur, mencakar mereka dengan kukunya yang panjang.


Namun mereka juga tak berhenti menyerang Alexa.


Hingga beberapa para pengunjung mulai menghampiri ingin melerai pertengkaran brutal kelima gadis itu. Para keamanan juga mulai berdatangan.


Regina yang mulai kewalahan dengan sekuat tenaga mendorong keras Alexa membuat gadis itu terdorong ke belakang. Namun seperkian detik Alexa tak merasakan sakit apapun, minimal bokongnya yang tercium lantai. Tapi Alexa benar-benar tak merasakan apapun.


Alexa membuka matanya dan mendapati Brayen yang sudah mendekap dirinya.


"Lo nggak papa?". Tanya Brayen seketika.


Alexa bangun dan menjauh, "Iya gue nggak papa. Makasih!". Ucap Alexa, namun ada sedikit nada ketus disana. Kemudian mencoba merapikan dirinya yang terlihat berantakan. Nafasnya masih memburu karena emosi.


Brayen hanya menggeleng, kemudian menoleh ke arah Regina dan teman-temannya. Terlihat keempat gadis itu sangat berantakan dengan rambut yang sudah berantakan sana-sini, pakaian yang krasak-krusuk, muka juga sudah beliweran dengan beberapa cakaran.


"Bawa keempat gadis ini keluar dari sini!". Seru Brayen pada para keamanan yang ada disana.

__ADS_1


Ternyata mereka saat ini itu berada di restoran milik Brayen.


Perintah itu ditujukan untuk Regina dan ketiga temannya.


Segera para keamanan menyeret keempat gadis itu keluar restoran.


Sempat terlihat mereka memberontak tak terima diperlakukan seperti itu. Namun para keamanan tetap harus menjalankan perintah dari Tuan Muda mereka.


"Dan lo...


Ucap Brayen seketika beralih ke arah Alexa.


"Ikut gue sekarang!". Brayen langsung menarik lengan Alexa untuk ikut dengannya.


...******...


Ke esokan harinya di SMAN Nasional...


Saat ini Allena sudah berada di aula sekolah. Gadis itu akan ke ruang kesenian.


"Hai Baby, mau kemana?


Allena sontak menghentikan langkahnya lalu menghembuskan nafasnya sambil menoleh kesumber suara. Dan seorang pria sudah berdiri di hadapannya.


Kalian tentu saja tau siapa itu. Ya itu Aziel. Siapa lagi yang menyebut Allena dengan sebutan 'Baby' selain Aziel.


"Ke ruang kesenian". Jawab Allena datar, "Kenapa? Mau ikut?". Sambungnya.


"Boleh". Balas Aziel dengan tersenyum.


"Hmm". Gumam Allena. Lalu kembali melangkah.


Aziel kemudian mengikuti Allena.


"Kak EL, tunggu!". Seru seorang gadis. Itu Zoya. Terlihat berlari ke arah Aziel dan Allena.


"Ada apa?". Tanya Aziel saat Zoya sudah dekat.


"Ini, Zoya mau minta tolong sama Kak EL, boleh nggak?


"Minta tolong apa?". Tanya Aziel.


"Kak EL bisa bantu Zoya buat projek nggak? Kan Kak EL pinter banget tuh hitung-hitungan gitu, pasti bisa dong bantuin Zoya". Terang Zoya.


"Ummm boleh. Kapan? Sekarang?


"Sekarang aja Kak, biar cepat selesai. Kebetulan Zoya lagi jam kosong. Bisa kan?


"Gua pergi dulu ya Allen, ada urusan soalnya. Lain kali aja gua temenin lu". Setelah berbicara seperti itu Aziel kembali beralih ke Zoya lalu segera keduanya pergi dari sana.


Sementara Allena dengan pandangan datarnya hanya memandang kedua orang yang berjalan berdampingan itu yang mulai menjauh. Namun kedua tangannya terlihat mengepal dengan kuat seperti menahan sesuatu.


"Cih!". Allena berdecih terlebih dahulu lalu kemudian benar-benar berbalik, juga pergi dari sana.


Allena segera berjalan masuk ke ruang kesenian. Disana ada beberapa murid yang sedang latihan disana.


Allena kemudian menuju meja piano yang ada di ruangan kesenian itu. Duduk di kursi yang berhadapan dengan piano besar itu lalu mulai memainkan nada piano disana.


Allena memainkan nada lagu dengan penuh penghayatan. Jari lentiknya dengan cepat dan lihai memainkan nada lagu itu.


Murid-murid yang ada disana seketika terkesima dengan permainan piano Allena. Beberapa murid yang sedang bermain alat musik langsung berhenti untuk menyaksikan permainan piano Allena. Jarang-jarangkan bisa lihat bunga sekolah seperti ini.


Ternyata Allena ini sangat pandai dalam bermain beberapa alat musik. Dulu gitar sekarang piano. Setelah ini apa lagi. Dan Allena tidak pernah gagal memainkan dua alat musik itu.


Murid-murid yang ada disana langsung bertepuk tangan setelah Allena selesai bermain piano.


Allena langsung memandangi murid-murid yang bertepuk tangan untuknya. Setidaknya itu bisa membuatnya melepaskan rasa kekesalannya.


Tiba-tiba saja Alexa datang dan langsung berjalan kearah Allena.


"Gue mau ngomong sama lo!". Ucap Alexa seketika.


Allena memandangi wajah Alexa yang terlihat beberapa lecet disana. Allena seketika menaikan sebelah alisnya.


"Mau ngomong apa?". Tanya Allena datar.


"Gue mau ngomongin soal...


Belum sempat Alexa melanjutkan ucapannya, Regina juga datang, "Berhenti sialan!", Teriak Regina, dan langsung mengahampiri mereka. Saat tiba di dekat Alexa, Regina langsung membekap mulut Alexa dengan tangannya.


Alexa berusaha melepaskan bekapan Regina dengan terus berusaha berbicara, "Gue mau kasih tau sesuatu ke lo kalau...


"Nggak, lo jangan percaya sama omongannya. Dia bohong". Regina terus berusaha mencegat Alexa.


Asal kalian tau saja, Alexa ini mau menunjukan bukti pada Allena tentang kejadian waktu acara pensi yang dulu disabotase.


Alexa ingin menunjukan bahwa pelakunya adalah Regina bukan dirinya yang seperti dituduhkan.


"Lo harus lihat buk...

__ADS_1


"Nggak, dia bohong. Jangan percaya". Regina terus berusaha mencegat Alexa dengan membekap mulut Alexa sekaligus menahan pergerakannya.


Allena jadi bingung. Terlihat gadis itu menautkan alisnya sambil terus memperhatikan kedua gadis yang terus berdebat di hadapannya saat ini.


Murid-murid yang ada disana jadi ikutan bingung, melirik satu sama lain, bertanya-tanya ada apa dengan kedua gadis itu.


Allena berdiri dari kursinya, "Kalian berdua ini kenapa?". Sentak Allena, "Berhenti kalian!


Alexa langsung menarik tangan Regina yang membekap mulutnya lalu mendorong jauh Regina, "Sialan lo!". Umpat Alexa. Kemudian beralih kearah Allena.


"Gue ada yang pengen tunjukin ke lo". Ucap Alexa kemudian.


"Apa?". Tanya Allena tanpa ekspresi.


"Gue mau kasih tau ke lo kalau...


"Nggak, lo jangan percaya! Jangan percaya sama apa yang dia omongin". Cegah Regina.


Allena langsung memberikan tatapan jengkel pada Regina, "Lu bisa diem. Kalau nggak, keluar aja lu dari sini!". Sentak Allena yang langsung membuat Regina terkesiap.


Sebetulnya Regina lumayan takut sama Allena. Melihat Allena pernah bermasalah dengan beberapa murid membuat dirinya takut jika harus bermasalah dengan Allena.


Bagaimana jika Allena berbuat sesuatu kepadanya lebih dari yang dilakukan oleh Allena ke Hera. Bagaimana jika Allena membuat keluarganya bangkrut seketika. Mengetahui keluarga Allena adalah orang yang paling berpengaruh.


Kenapa dulu dia tak berpikir sejauh itu sebelum mencari masalah dengan Allena? Dan sekarang semuanya akan terungkap jika Alexa mengungkap kebenarannya.


"Apa? Lu mau ngomongin apa emang?". Tanya Allena pada Alexa.


"Gua mau kasih tau ke lo kalau sebenarnya yang niat jahatin lo waktu acara pensi sekolah dulu itu bukan gue tapi ini nih orangnya, Si Regina kakak kelas gila ini". Ucap Alexa sambil menunjuk Regina dengan telunjuknya.


Murid-murid yang ada disana seketika terkejut mendengar perkataan Alexa itu. Terlihat mereka saling berbisik-bisik satu sama lain tak menyangka.


Sementara Regina terlihat kelagapan sendiri. Dia bingung sekarang harus melakukan apa.


"Dia bohong, itu nggak bener. Lo jangan percaya sama omongannya Alexa, dia itu bohong". Elak Regina, kemudian menoleh kebelakang ke arah murid-murid yang ada disana, "Kalian semua juga jangan percaya sama omongannya Alexa. Dulu jelas-jelas dia yang diberitain sama Pak Kepala Sekolah langsung, kalau pelakunya itu dia. Iyakan? Kalian juga dengar itu kan". Regina berusaha membela diri.


"Eh, gue nggak bohong ya. Gue punya bukti kalau pelakunya itu emang lo". Ucap Alexa.


"Terus lo mau bilang apa yang diucapin Kepala Sekolah itu nggak bener. Gue gitu pelakunya.


"Karena emang lo pelakunya. Gue punya bukti kok. Lagian dulu Kepala Sekolah juga nggak tunjukin bukti apa-apakan kalau emang gue pelakunya". Bela Alexa, "Kalian semua juga ingatkan dulu Pak Kepala Sekolah nggak nunjukin bukti apapun waktu itu kalau emang gue pelakunya. Kalian semua ingatkan". Alexa beralih murid-murid yang ada disana dan langsung mendapat anggukan dan persetujuan.


Ya memang benar. Kalau diingat-ingat dulu Kepala Sekolah memang tidak menunjukan bukti apapun waktu mengatakan bahwa Alexa adalah pelaku sabotase acara pensi sekolah dulu.


"Kenapa? Diem kan lo. Karena emang lo pelakunya gila". Cibir Alexa ke arah Regina yang terlihat tidak bisa berkata-kata lagi.


Alexa kemudian kembali beralih pada Allena, "Jadi gimana? Apa lo perlu buktinya, biar gue nggak dikatain bohong lagi. Mungkin emang sedikit terlambat, tapi gue cuman nggak mau disalahin dan dikatain kalau pelakunya itu gue. Padahal gue emang nggak ngelakuin hal itu sama sekali.


Allena yang sedari tadi melihat dan menyimak hanya memasang tampang datarnya. Sedetik kemudian gadis itu menghembuskan nafasnya tenang.


"Nggak usah". Ucap Allena kemudian, "Karena gua emang tau hal itu dari dulu. Lagian itu juga udah lama kan. Lebih baik lu simpan aja buktinya kalau-kalau suatu saat emang lu butuh". Setelah berbicara seperti itu Allena langsung melenggang pergi dari sana.


Sementara mereka yang ada disitu hanya bisa menatap tak percaya. Mendengar perkataan Allena membuat mereka tak percaya, tenyata Allena memang mengetahui semuanya dari dulu.


Pantas saja dulu Allena tak mempermasalahkannya juga terlihat tidak menyalahkan Alexa dulu. Malah Tessa dan Zee waktu itu yang marah-marah ke Alexa.


Alexa juga waktu itu sangat ngotot bahwa memang bukan dia pelakunya. Ditambah lagi kedua sahabatnya membela Alexa dan mengatakan bukan Alexa pelakunya.


Dan wolahhh!!


Sekarang semuanya terbukti bahwa pelakunya memang bukan Alexa. Meskipun itu sedikit terlambat, tapi itu sangat penting bagi Alexa.


Alexa tidak mau dihantui bayangan kesalahan yang bahkan memang bukan dia yang melakukannya.


Meskipun memang ada beberapa kali Alexa mencari dan membuat masalah dengan Allena. Tapi untuk yang ini dia tak mau mengalah dan tak mau terus disalahkan dan dicap sebagai pelaku.


"Tunggu! Woyy cewek sok kecantikan tunggu! Maksud lo apa dengan lo udah tau semuanya?". Segera Alexa berlari ingin Menyusul Allena. Dia ingin mendengar penjelasan Allena.


Sementara murid-murid yang ada disana mulai menyoraki Regina di ruangan itu.


"WOO WOO TERNYATA LO PELAKUNYA!!


"DASAR LICIK NGGAK TAU MALU!!


"PERGI AJA LO DARI SINI!!


"IDIHH MULAI JIJIK GUE LIHAT MUKA SOK TAK BERSALAHNYA ITU!!


"WOO WOO...


Murid-murid itu kemudian mulai berjalan meninggalkan Regina dengan terus menyorakinya.


"Awas lo semua!". Balas Regina.


"NGAPAIN KITA TAKUT SAMA CEWEK LICIK KAYA LO WOO...


Teriak salah satu murid. Lalu mereka semua benar-benar meninggalkan Regina sendirian dalam rasa kesalnya saat ini.


Regina menghentakan kakinya kesal dan marah.

__ADS_1


"Awas aja lo Lex, gue bakal bikin perhitungan ke lo bang*sat!!



__ADS_2