Allena And Friend'S

Allena And Friend'S
PART 126 ~ Allena and Friend's


__ADS_3

Jam satu dini hari Allena dan Louis baru sampai di mansion.


Setelah memarkirkan mobil, Allena segera keluar dari dalam mobil dan langsung berjalan masuk mansion.


"Dari mana saja kalian? Kenapa baru pulang?". Seru Papah Robert yang sudah berdiri di tengah-tengah ruang tamu dengan ekspresi ingin marah menatap Allena dan juga Louis bergantian.


Allena mengangkat kepalanya lalu menatap datar Papah Robert sebentar kemudian kembali menunduk dan tetap melanjutkan langkahnya tanpa mempedulikan Papah Robert.


"Allena berhenti disitu! Papah masih mau bicara sama kamu!". Sentak Papah Robert. Namun Allena seolah tuli dan tetap melanjutkan langkahnya menuju tangga.


"Allena!


"Maaf Om!". Sahut Louis seketika membuat Papah Robert langsung berbalik ke arahnya, "Allena sama Louis terlambat pulang tadi karena salah satu sahabatnya Allena kecelakaan. Jadi Allena sama Louis ke rumah sakit dulu tadi". Jelas Louis setenang mungkin.


Mendengar penjelasan Louis seketika membuat ekspresi wajah Papah Robert berubah. Pantas saja tadi Allena terlihat lesuh. Meskipun jarang berinteraksi dengan anaknya, Papah Robert tentu saja mengetahui keadaan anaknya itu.


Papah Robert kemudian hanya menghembuskan nafasnya, "Yasudah kalau begitu kamu juga ke kamar sekarang. Besok kalian masih harus sekolah kan?". Ucap Papah Robert kemudian.


"Iya Om". Sahut Louis, "Kalau gitu Louis ke kamar duluan". Louis kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar meninggalkan Papah Robert sendirian di ruang tamu itu.


Papah Robert seketika memijit pelipisnya, "Hahh.. Allena Allena!". Desis Papah Robert. Kemudian berangsur juga pergi dari sana.


...******...


Keesokan harinya terlihat Aziel berlarian di koridor sekolah.


Dari pagi hingga jam pelajaran kedua dimulai Aziel belum juga melihat Allena, dan sampai jam istirahat pun gadis itu belum juga didapatinya.


Saat tiba di kelas 11 IPA 1, Aziel bergegas masuk kedalam.


"Allena mana?". Tanya Aziel ke arah sahabat-sahabatnya Allena yang saat itu kebetulan ingin keluar kelas.


"Allena tadi ada Kak. Tapi pas pelajaran pertama dia udah izin ke UKS. Nggak enak badan katanya". Jawab Airin.


Tanpa berlama-lama, Aziel langsung berlari keluar kelas untuk menemui Allena di UKS sesuai yang diberi tahukan oleh Airin.


Saat tengah berlari tanpa sengaja Aziel bertubrukan dengan Regina yang kebetulan ingin ke kantin.


"Aziel!". Regina menarik lengan Aziel yang kembali ingin berlari, "Lo mau kemana?


"Lepasin!". Aziel menepis kuat tangan Regina yang menariknya.


Regina kembali menarik lengan Aziel, "Tapi lo mau kemana? Gue ikut!". Ucap Regina dengan nada manja yang dibuat-buat.


"Apaan sih? Najis anjir!". Aziel menarik kuat lengannya, "Pergi lu sana! Dasar cewek sialan!". Maki Aziel mendorong Regina.


Kemudian Aziel kembali berlari meninggalkan Regina yang terlihat menghentakan kakinya karena kesal.


"Iikhh Aziel, nyebelin banget sih dia ih". Umpat Regina dengan terus menghentakan kakinya ke lantai yang bersih itu.


Sementara Aziel terus berlari menuju UKS.


BRAK!!


Pintu UKS terbuka dengan satu tendangan dari Aziel. Membuat beberapa petugas UKS yang ada disana terkejut.


Namun keterkejutan itu tidak berlangsung lama menyadari yang datang adalah Aziel sang idola sekolah.


Para petugas siswi itu seketika histeris dalam diam saling melirik satu sama lain mendapati Aziel. Dengan wajah tampan yang dimiliki pria itu membuat mereka hampir pingsan ditempat.


"Allena mana?". Tanya Aziel tanpa mempedulikan perasaan para petugas siswi itu karena untuk pertama kalinya mereka bisa berbicara dengan seorang most wonted di sekolah bergengsi itu.


"A-Al-Allenanya nggak ada Kak?". Jawab salah satu petugas UKS itu dengan gugupnya.


"Loh, bukannya dia kesini?". Aziel mengkerutkan alisnya. Tadi kata Airin, Allena ke UKS kan?


"Ng-ngg-nggak Kak. Allena nggak kesini". Sahut salah satunya lagi.


Aziel semakin mengkerutkan alisnya. Beberapa detik kemudian Aziel berbalik dan langsung pergi dari sana tanpa mempedulikan para petugas itu yang seketika histeris bersama setelah Aziel menghilang dari ambang pintu UKS.


Aziel berhenti sebentar sambil memikirkan keberadaan Allena ada dimana sekarang. "Allena kemana ya? Udah ke UKS tapi dianya nggak ada". Gumam Aziel sambil terus berpikir.


Aziel tiba-tiba memikirkan satu tempat, "Ah mungkin disana?". Segera Aziel kembali berlari.


Hanya satu tempat : Ruang OSIS!!


Aziel terus berlari sampai tiba di ambang pintu ruang OSIS yang terbuka lebar itu. Disana sepi. Hanya ada seorang gadis yang terlihat berdiri membelakanginya karena sibuk dengan buku-buku yang ada di dalam lemari di hadapannya.


Dengan cepat Aziel menghampiri gadis itu, "Baby!". Seru Aziel yang sontak membuat gadis yang ternyata itu adalah Allena berbalik.


"Gua cariin lu dari tadi Allen! Kirain gua, lu nggak datang ke sekolah". Desis Aziel yang sudah merengkuh tubuh Allena ke dekapannya.


"Lu nggak papa kan?". Tanya Aziel saat sudah melepaskan pelukannya. Menatap intens Allena.


Allena menggeleng, "Nggak, gua nggak kenapa-napa". Jawab Allena, "Ada apa?". Tanya Allena sambil membalas tatapan Aziel.


"Tadi katanya lu ke UKS. Tapi pas gua ke UKS lu nya nggak ada". Kemudian kembali memeluk Allena.

__ADS_1


"Gua emang izin ke UKS, tapi nggak jadi. Makanya gua langsung kesini". Jawab Allena membiarkan Aziel memeluknya.


"Lu kenapa? Lu sakit?". Tanya Aziel dengan tangan yang mengelus lembut kepala Allena.


"Kan gua udah bilang tadi gua nggak kenapa-napa". Ucap Allena yang masih didekapan Aziel.


"Jadi lu bolos?". Aziel melepaskan pelukannya lalu memegang kedua bahu Allena sembari memandangi Allena.


"Kenapa? Masalah?


"Dih pake nanya lagi. Ya nggak boleh lah. Lu kan Ketua OSIS harusnya lu tuh memberikan contoh yang baik bukan malah memberikan contoh yang buruk. Pake acara bolos lagi". Ucap Aziel mendelik.


"Bawel lu. Suka-suka gua dong". Sahut Allena tak peduli.


"Dih Allena, dibilangin juga.


"Bawel lu! Bawel bawel bawel! Nggak peduli gua juga". Allena menyingkirkan kedua tangan Aziel di bahunya lalu berjalan menjauh dari Aziel menuju meja dan duduk disana. "Lagian lu ngapain disini? Mau bolos juga emang?


Aziel memandangi Allena sebentar lalu berjalan mendekati gadis itu, "Sebenarnya ada yang pengen gua omongin ama lu". Ucap Aziel kemudian.


"Apa?


"Tapi janji dulu lu jangan marah ama gua.


"Ya apa makanya? Cepetan nggak ada waktu.


"Sebenarnya-". Aziel menggantung ucapannya sambil memandangi Allena.


"Apa Aziel....


Aziel terus memandangi Allena, dan seketika pria itu menghembuskan nafasnya pasrah.


"Sebenarnya semalam yang nyuruh Setya pergi bareng Zee itu gua". Ucap Aziel takut-takut.


"Hah? Maksud lu?


"Iya Allen, yang nyuruh Setya buat pergi bareng Zee itu gua. Gua nyuruh Setya ama Zee buat ngambil kue ulang tahun buat ngerayain ulang tahun lu semalem. Tapi ternyata malah berakhir Zee kecelakaan". Aziel dengan perasaan yang gugup setengah mati berusaha memberi tahu Allena.


Sementara Allena terlihat diam sambil menatap Aziel tanpa ekspresi.


"Allen, lu-


"Sialan lu!". Allena seketika mendorong Aziel kasar, lalu beranjak turun dari atas meja meninggalkan Aziel di ruangan OSIS sendirian.


Sedang Aziel hanya bisa meraup wajahnya kasar, "Nah kan gua bilang juga apa. Pasti Allena marah lagi ama gua. Aakhhh bodoh bodoh! Bodoh lu Aziel!". Mengacak rambutnya frustasi sambil merutuki dirinya sendiri.


Kalau sudah begini pasti susah lagi buat ngebujuk Allena. Tau sendirikan Allena itu kalau udah marah kaya apa. Bisa berminggu-minggu nanti baru dia bisa berbicara dan akur lagi dengan Allena.


Allena baru mengerti sekarang kenapa Aziel dan sahabat-sahabatnya itu datang berkunjung ke mansionnya semalam. Ternyata untuk merayakan bersama-sama perayaan ulang tahunnya yang telah disiapkan oleh mereka semua.


Tapi satu hal yang membuat Allena menyesali semuanya. Di hari dimana perayaan ulang tahunnya diadakan, salah satu sahabatnya harus mengalami musibah. Dan Allena merasa semua terjadi karena dirinya, karena dirinyalah Zee sampai mengalami kecelakaan dan harus berbaring tak sadarkan diri dari semalam. Allena merasa dirinya adalah pembawa sial. Karena perayaan ulang tahunnya, semua orang harus repot-repot untuk dirinya.


Saat tiba di kantin, Allena langsung mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru kantin. Matanya menangkap satu tempat dimana keempat sahabatnya ada disana.


Allena segera menghampiri keempat sahabatnya itu.


BRAK!


PRANG!


Terdengar suara pecahan piring yang terjatuh di lantai. Dan itu tentu saja berasal dari Allena.


Semua murid yang ada di kantin seketika mengalihkan pandangan mereka kearah kelima orang itu.


Dengan kilatan kemarahan dimatanya, Allena memandangi sahabat-sahabatnya itu satu persatu.


"LU SEMUA BODOH!". Bentak Allena seketika sambil menunjuk keempat sahabatnya.


"Allena lo kenapa?". Desis Airin yang ikut terkejut melihat aksi Allena tadi.


"Bisa-bisanya kalian ngizinin Ziva jalan sama Setya semalem. DIMANA OTAK KALIAN HA?". Bentak Allena lagi.


"Lo kenapa sih Len? Jangan marah-marah dulu. Coba lo ngomong pelan-pelan". Gamma mendekati Allena berusaha untuk menenangkan gadis itu.


"AAKHH LEPASIN GUA!". Sentak Allena mendorong Gamma menjauh.


Kemudian beralih menatap tajam Alvian, "Lu!". Desis Allena menunjuk Alvian, "Udah gua pernah bilangkan ama lu jagain Ziva! Jangan pernah biarin dia deket ama Setya! Dan sekarang lu lihatkan, Ziva kecelakaan dan masuk rumah sakit, sampai sekarang Ziva belum sadarkan diri. Gimana lu mikirnya ha?". Bentaknya kearah Alvian.


"Len gue...


"AAKKHH BACOT! BERISIK!". Maki Allena cepat.


Kemudian memandang tajam mereka bergantian, "LU SEMUA TOLOL! GOBLOK TAU NGGAK! KALIAN SEMUA TAUKAN SETYA ITU NGGAK SUKA SAMA ZIVA? KENAPA KALIAN MALAH BIARIN ZIVA PERGI SAMA TUH COWO BRENGSEK SATU HA?!". Bentaknya dengan penuh emosi. Urat-urat di lehernya bahkan mulai terlihat.


"SIALAN LU PADA!". Allena mulai melangkahkan kakinya ingin pergi dari sana.


"Lo egois Allena!

__ADS_1


Satu kalimat yang keluar dari mulut Tessa berhasil membuat Allena menghentikan langkahnya. Segera Allena membalikan badannya kembali menghadap keempat sahabatnya itu.


"MAKSUD LU APA HA?". Sentak Allena menatap tajam Tessa.


"Iya lo emang egois. Lo seharusnya nggak nyalahin kita ampe segitunya. Kecelakaan itu terjadi karena musibah Len. Kita ngelakuin itu juga buat lo. Kita semua sama Zee juga cuman mau ngerayain ulang tahun lo. Kita semua juga nggak tahu kalau bisa jadi kaya gini. Kita nggak tau kalau Zee sampai bisa kecelakaan kaya gini". Jelas Tessa dengan suara yang masih terdengar tenang.


Allena mengepalkan kedua tangannya, lalu menghampiri Tessa, memberikan tatapan tajam di hadapan Tessa. "Asal lu tau ya, gua juga nggak pernah minta buat lu semua lakuin itu". Kemudian menatap tajam mereka ber-4 secara bergantian.


"Gua nggak pernah minta kalian semua ngelakuin perayaan apapun buat gua. Seharusnya kalian semua nggak ngelakuin itu, dan nggak biarin Ziva pergi sama cowok sialan itu. Seandainya kalian nggak ngelakuin sesuatu buat gua, semuanya nggak bakal pernah terjadi. Ziva nggak akan sampai masuk rumah sakit saat ini". Sentak Allena kemudian menatap bengis Tessa di hadapannya.


"Nggak usah ngelakuin apapun buat gua, biar kaya gini nggak pernah terjadi lagi". Peringat Allena sembari mendorong Tessa lalu berlalu pergi dari kantin.


Sementara murid-murid yang ada disana hanya bisa melihat kejadian itu dengan saling berbisik-bisik bertanya ada apa.


Melihat Allena yang terlihat begitu marah dengan keempat orang itu yang mereka ketahui adalah sahabatnya membuat mereka penasaran ada masalah apa yang terjadi diantara mereka.


Namun mereka tentu saja tak berani bertanya langsung. Mengetahui mereka semua adalah anak-anak yang berasal dari keluarga berada dan terpandang.


Takutnya mereka bisa diapa-apain nanti kalau terlalu ikut campur. Kan bahaya bisa gawat nanti urusannya.


Sementara itu ditempat lain di sudut kantin, terlihat seorang gadis dengan ketiga temannya yang sedari tadi menyaksikan kejadian pertengkaran antara Allena dengan keempat sahabatnya.


"Cih, berantem ternyata mereka?". Ternyata orang itu adalah Regina. Gadis itu tengah bersama teman-temannya dan menyaksikan semua kejadian tadi. "Bagus deh kalau gitu". Ucapnya lagi.


"Lo nggak ada rencana apapun lagi Re?". Tanya salah satu teman Regina.


Regina menatap temannya dengan senyum sinisnya. "Lihat aja nanti!". Ucap Regina.


"Lo nggak takut ketahuan lagi Re, kaya waktu itu. Kalau sampai rencana lo kali ini ketahuan lagi gimana? Allena pasti nggak bakal maafin lo kali ini". Ucap salah satunya lagi.


"Lo kira gue takut sama cewek sok itu? Gue bakalan buat dia nggak berhubungan lagi sama Aziel". Ucap Regina dengan senyum jahatnya.


...******...


Sedang Allena saat ini sudah berada di rumah sakit. Gadis itu ingin menjenguk Zee.


Tadi sewaktu selesai dari kantin Allena langsung menuju kelas untuk mengambil tasnya terlebih dahulu kemudian segera keluar sekolah dengan mobil yang dibawanya, dan berakhirlah dia sekarang di rumah sakit.


Jangan tanya kenapa Allena bisa lolos dari Satpam penjaga gerbang sekolah. Gadis itu ternyata bisa lolos karena mengancam Pak Satpam akan kehilangan pekerjaannya jika tidak membukakan gerbang sekolah. Maka dari itu mau tidak mau Pak Satpam membukakan gerbangnya untuk Allena. Dari pada kehilangan pekerjaan kan. Bisa nggak makan nanti anak dan istrinya.


Saat tiba di rumah sakit Allena langsung menuju ke ruangan yang ditempati oleh Zee.


Tenyata pagi tadi Zee sudah bisa langsung di jenguk. Tapi dengan jumlah kapasitas orang yang terbatas jika ingin menjenguknya.


Saat tiba disana ternyata ada dua orang bodigoard yang menjaga di depan ruangan Zee yang dirawat.


"Tunggu Nona! Nona mau kemana!?". Cegat salah satu bodigoard saat Allena ingin menerobos masuk ruangan.


"Saya mau masuk ke dalam!". Jawab Allena datar.


"Nona siapa? Dan ada urusan apa Nona kesini?". Tanya bodigoard itu lagi.


"Saya sahabatnya Nona kalian. Dan saya datang kesini untuk menjenguknya". Jawab Allena.


Kedua bodigoard itu saling melirik satu sama lain. Kemudian saling mengangguk.


"Baiklah kalau begitu silahkan masuk!". Ucap salah satu bodigoard, kemudian menuntun Allena untuk masuk ke dalam ruangan.


Saat masuk ke dalam Allena melihat Tante Yuna duduk di kursi samping brankar yang ditempati oleh Zee.


"Maaf Nyonya, ada yang ingin menjenguk Nona Muda. Dia bilang dia teman sekolahnya Nona Muda". Seru salah satu bodigoard.


Tante Yuna yang memang melihat kedatangan Allena tadi memandangi Allena, "Ah benarkah? Kalau begitu terima kasih kamu sudah datang menjenguk anak Tante". Ucap Tante Yuna dengan tersenyum.


"Iya Tante sama-sama!". Sahut Allena dengan sopan.


Sementara kedua bodigoard tadi sudah keluar setelah menghantar Allena.


"Nama kamu siapa Nak?". Tanya Tante Yuna.


"Nama saya Allena, Tante!". Jawab Allena.


"Allena. Nama yang bagus". Puji Tante Yuna, "Kamu cantik sekali Nak.


Allena hanya tersenyum mendengar pujian dari Tante Yuna.


"Gimana keadaan Ziva sekarang Tan? Apa ada perkembangan?". Ucap Allena mengalihkan pembicaraan.


Tante Yuna seketika menoleh ke arah Zee yang masih terlihat berbaring dengan menutup mata seolah enggan untuk bangun.


"Tadi kata Dokter untuk sementara waktu anak Tante masih dalam keadaan koma Nak. Kemungkinan untuk sadar masih lama, tapi kata Dokternya juga bisa kritis kapan saja". Ucap Tante Yuna dengan sendu. Beliau tak menyangka anaknya harus mengalami hal seperti itu.


"Koma?". Gumam Allena dengan suara yang mengecil.


Kemudian menatap Zee dengan tangan kanan yang mengepal.


"Tante yang sabar ya". Ucap Allena yang sudah mengelus-elus punggung Tante Yuna, "Allena juga bakal bantuin jaga Ziva disini". Sambungnya lagi.

__ADS_1


"Makasih ya Nak". Sahut Tante Yuna dengan memegang tangan Allena yang mengelus dirinya.



__ADS_2