Allena And Friend'S

Allena And Friend'S
PART 58~ Allena and Friend's


__ADS_3

Bel pulang sekolah telah berbunyi. Semua murid-murid SMAN Nasional mulai berhamburan keluar kelas.


"Allena, gue temanin lo ke kantor ya". Tawar Zee pada Allena.


Saat ini mereka ber-7 masih berada dalam kelas. Allena rencananya akan bertemu dengan guru yang mengajar dijam pelajaran pertama tadi.


"Nggak usah. Biar gua sendiri aja". Jawab Allena.


"Umm.. Yaudah deh kalau gitu. Kita duluan ya Allena". Ucap Zee diangguki oleh Allena.


"Gue juga duluan ya Len. Bye bestiku tercinta. Ummahh". Ucap Tessa seraya mencium Allena jarak jauh menggunakan tangannya dan melenggang pergi.


"Kalau gitu kita-kita juga duluan Len". Seru Gamma diikuti yang lainnya dan diangguki oleh Allena.


Mereka semua kemudian meninggalkan Allena sendiri yang masih berada dalam kelas. Allena lalu melanjutkan memasukan barang-barangnya kedalam tasnya.


Hari ini Allena begitu banyak melewati banyak drama akibat kejadian dirinya dan Brayen kemarin.


Saat dirinya di kantin begitu heboh dengan para murid-murid yang menanyakan hubungannya antara dirinya dan kakak kelasnya itu.


Banyak yang mendukung tapi banyak pula yang tak menyukai jika Allena berhubungan dengan Brayen. Pasalnya kakak kelasnya itu merupakan salah satu idola di SMAN Nasional itu.


Banyak pula para murid laki-laki yang mengidolakan seorang Allena. Meskipun terkesan datar dan cuek, namun tak mengurangi kecantikan dari Allena. Kakak-kakak kelasnya juga sangat banyak yang menggodanya dan meminta nomornya.


Akan tetapi Allena tak pernah menggubrisnya. Allena malah merasa sangat risih dengan apa yang dialaminya.


"Huff...". Allena menghembuskan nafas panjang.


Gadis itu kemudian berjalan keluar dalam kelasnya dan menuju ke kantor para guru-guru. Allena kemudian menemui guru yang mengajar dikelasnya dijam pelajaran pertama tadi.


Setelah urusannya selesai, Allena segera berjalan kearah parkiran sekolah. Saat tiba di parkiran Allena melihat Brayen yang seperti tengah menunggui seseorang.


"Hai Allena". Sapa Brayen pada Allena.


Allena tak menjawab, gadis itu hanya memandang Brayen tanpa ekspresi.


"Gue mau ngomong sama lo. Boleh kan?". Ucap Brayen.


"Itu lu ngomong". Balas Allena datar.


"Hehe iya sih, tapi maksud gue tuh gue mau ngomongin tentang...". Ucap Brayen terhenti.


"Nggak usah. Nggak penting juga kan. Gua juga nggak permasalahin". Ucap Allena tak peduli dengan berita yang beredar hari ini yang membuat heboh satu sekolah.


Brayen yang mendengar itu merasa lega. Setidaknya Allena tak marah dan mempedulikan berita yang membuat gempar hari ini. Tetapi ada rasa sedikit kecewa dihati Brayen setelah mendengar pernyataan Allena.


"Sorry ya Len, gue kira nggak bakal jadi seperti ini". Ucap Brayen tak enak hati.


"Nggak usah bahas". Jawab Allena datar.


"Umm.. kalau gitu lo mau nggak ikut gue ke restoran? Sebagai permintaan maaf gue ke lo gue bakal nraktir lo makan. Ya walaupun lo bisa beli sama restoran-restorannya sih". Canda Brayen.


Allena yang mendengar itu hanya menatap datar Brayen. Sedetik kemudian Allena mengangguk.


"Tapi gua mau ke atas juga. Bisa kan?". Tanya Allena.


Brayen yang mendengar itu seketika tersenyum senang.


"Boleh boleh. Yaudah kalau gitu kita pergi sekarang aja". Ucap Brayen seraya melangkahkan kakinya untuk mengambil motornya.


Sementara Allena segera masuk kedalam mobilnya dan mengikuti Brayen yang sudah terlebih dahulu keluar dari sekolah.


Aziel yang sedari tadi disana dan melihat interaksi antara Allena dan Brayen langsung mengepalkan kedua tangannya dengan kuat. Ada perasaan tak menentu yang dia rasakan ketika melihat Allena sedekat itu dengan Brayen.


...*****...


Jam menunjukan waktu pukul 20.00 WIB, dan Allena baru sampai di rumahnya. Setelah memarkirkan mobilnya Allena berjalan masuk kedalam rumahnya.


Saat tiba di ruang tamu, Allena dikagetkan dengan kedatangan seseorang. Seorang pria yang sudah berumur namun masih terlihat tampan dengan rambut-rambut halus yang tumbuh diwajahnya.


"Dari mana saja kamu Allena? Kenapa baru pulang jam segini? Apa kamu bersekolah pada malam hari?". Tanya pria tua tersebut sambil menatap tajam pada Allena.

__ADS_1


Allena saat ini kaget dengan seorang pria tua yang ternyata adalah Papah Robert, dan sedang berdiri dihadapannya sambil memandangi dirinya dengan tatapan tajam.


"Dari mana saja kamu?". Tanya Papah Robert sekali lagi.


"Kok Papah bisa ada disini?". Allena tidak menjawab, gadis itu malah balik bertanya.


Pasalnya Allena sangat kaget dan tidak mengira Papah Robert akan datang ke Indonesia dengan Papah Robert yang terbilang sangat sibuk dengan urusannya di Amerika.


Allena tidak mengira Papahnya akan menyempatkan waktu berkunjung ke Indonesia sementara Allena begitu tahu bahwa Papahnya pasti sangat banyak yang harus diurus dan tidak akan mempunyai waktu.


"Jangan kamu alihkan pembicaraan Allena. Papah tanya sekali lagi, dari mana saja kamu? Kenapa kamu baru pulang?". Tanya Papah Robert sekali lagi.


"Allena habis dari main sama teman Pah". Jawab Allena seketika.


"Main kemana? Kenapa baru pulang jam segini kamu masih pakai seragam?".


"Mau jadi apa kamu? Kamu harus ingat, kamu bukan hanya masih berstatus pelajar sekarang, tapi kamu sudah berstatus jodoh orang. Jodoh Louis". Ucap Papah Robert dengan kerasnya.


"Harusnya kamu menghargai Louis yang sudah menjadi jodoh kamu sekarang". Sambung Papah Robert.


Allena yang mendengar itu seketika memandang bengis Papah Robert. Allena sangat tidak suka dengan perkataan Papahnya.


Allena kemudian beralih memandangi Louis yang berdiri tak jauh dibelakang Papah Robert. Pria itu menatap Allena yang saat ini sedang dimarahi oleh Papah Robert.


"Allena udah ikutin kemauan Papah, harusnya Papah juga mau dong ikutin kemauan Allena. Allena masih ingin bebas sebelum Allena akan benar-benar terikat dengan orang itu". Balas Allena dengan menatap sinis Louis.


"Tapi kamu harusnya tau batasan. Kamu sudah sudah besar sekarang dan kamu juga pasti tau mana yang baik dan mana yang tidak baik". Kesal Papah Robert akan sikap Allena yang sangat tidak menghargai orang lain.


"Lagi pula Papah mengizinkan kamu kembali kesini hanya untuk kamu menemui teman-teman kamu. Bukan untuk melakukan sesuatu yang bisa merugikan diri kamu sendiri. Kamu ingatkan janji kamu kepada Papah". Sambung Papah Robert.


Allena yang mendengar perkataan Papahnya hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar. Allena tentu saja tak lupa akan dengan perjanjiannya dengan Papah Robert.


"Iya Allena nggak lupa dengan itu. Allena mau ke kamar sekarang. Allena cape sedari tadi berdiri disini terus". Ucap Allena mengalah sambil melangkahkan kakinya ingin pergi dari sana.


"Besok Louis akan menghantarkan kamu ke sekolah". Ucap Papah Robert seketika yang sukses membuat Allena berhenti melangkah.


Allena yang mendengar itu hanya bisa diam sambil memejamkan matanya sebentar. Sedetik kemudian...


"Terserah". Balas Allena seketika sambil melanjutkan langkahnya.


Papah Robert yang melihat sikap dan reaksi Allena hanya bisa mencoba meredamkan emosinya. Beliau kemudian menghembuskan nafas kasar.


"Maaf ya Louis atas sikap Allena. Om benar-benar minta maaf akan Allena". Ucap Papah Robert seraya berbalik dan menghampiri Louis.


"Iya Om nggak apa-apa. Louis nggak permasalahin kok". Ucap Louis sopan.


Sementara Allena, gadis itu segera masuk kedalam kamarnya dan mengunci pintu.


Allena langsung berjalan kearah ranjangnya dan berbaring sambil menatap langit-langit kamarnya. Allena kemudian mengingat seluet kejadian yang dialaminya waktu di Amerika yang membuat dirinya berakhir menyetujui perjodohannya dengan Louis.


Flashback On


"Bagaimana Allena? Apa kamu menyetujui perjodohan ini?". Tanya Papah Robert pada Allena dihadapannya.


Saat ini Allena sudah berada di ruang keluarga bersama kedua orang tuanya dan juga kedua orang tua Louis. Disana juga ada Louis yang duduk disamping Mamahnya.


"Allena akan menyetujui perjodohan ini tapi dengan satu syarat". Ucap Allena seketika menyetujui.


Mereka yang ada disana seketika senang setelah mendengar jawaban Allena. Terlebih lagi dengan Louis yang memang menyukai Allena sedari kecil.


"Apa itu syaratnya Allena?". Tanya Papah Robert.


Allena seketika beralih memandang Papah Robert yang kini ada dihadapannya.


"Izinin Allena untuk ke Indonesia dan nyelesaiin dulu sekolah Allena disana". Jelas Allena.


"Tapi kenapa Allena? Kamu bisahkan bersekolah disini kalau kamu memang ingin masih sekolah". Ucap Papah Robert.


"Allena punya teman-teman Pah, dan Allena sudah nyaman dengan mereka. Allena hanya ingin bersekolah disana dan bertemu mereka lagi". Ucap Allena berharap.


Papah Robert yang mendengar itu segera menoleh kearah kedua orang tua Louis seakan meminta pendapat.

__ADS_1


"Bagaimana Anton? Apa kalian keberatan dengan permintaan anak saya Allena?". Tanya Papah Robert.


"Nggak apa-apa Om. Louis setuju dengan perkataan Allena. Lagi pula kita berdua juga masih sangat muda jika harus dinikahkan diumur sekarang. Tapi setidaknya Allena sudah mau menerima perjodohan ini". Bukan Antonhy Papi Louis yang menjawab, melainkan Louis sendiri.


Papi Antonhy yang mendengar jawaban anaknya seketika tersenyum menatap anaknya. Anaknya sudah bisa bersikap dewasa saat ini.


"Kamu sudah dengar sendiri jawaban dari anak laki-laki sayakan Robert".


"Mereka berdua memang benar. Mereka masih sangat mudah untuk sekarang ini. Jadi biarlah mereka selesaikan terlebih dahulu sekolah mereka". Ucap Papi Antonhy setuju.


"Baiklah jika memang keinginan kalian seperti itu. Tapi Papah ingin setelah kalian kembali ke Indonesia, Louis harus tinggal di rumah kita nantinya".


"Papah ingin Louis menemani Tante Tiara dan juga Allena di rumah nantinya". Sambung Papah Robert.


"Baik Om. Louis ikut saja bagaimana baiknya?". Ucap Louis mengangguk.


Mereka semua kemudian lanjut berbincang-bincang tanpa Allena yang ikut menimbrung.


Flashback Off


Mengingat kejadian itu Allena hanya bisa pasrah. Gadis itu sudah menyetujui perjodohan dirinya dengan Louis. Dia hanya ingin kembali ke Indonesia dan berjumpa dengan teman-temannya yang sudah Allena anggap pembawa kesenangan untuk dirinya.


Selama ini dia selalu sendiri tak ada teman bermain. Setidaknya, meskipun Allena tidak menceritakan masalahnya kepada teman-temannya Allena masih bisa menghibur dirinya disaat bersama dengan mereka. Sehingga Allena merasa tidak kesepian seperti dulu.


Ingin sekali Allena curhat kepada teman-temannya dan menceritakan semua masalahnya. Tetapi Allena tahu, bukan hanya dia yang mempunyai masalah. Semua orang mempunyai masalah masing-masing dalam hidupnya. Termasuk teman-temannya saat ini.


Allena beranggapan bahwa cukup dia menyimpan masalah yang menganjal dipikiran dan juga hatinya. Allena akan menyelesaikan sendiri tanpa bantuan orang lain. Allena akan menyelesaikannya hingga tuntas.


Tok..Tok..Tok..


Allena segera bangun setelah mendengar suara ketukan dari pintu kamarnya. Allena kemudian berjalan kearah pintu dan membukanya.


Allena mendapati Louis yang kini berdiri dihadapannya sambil memandangi dirinya.


"Apa?". Tanya Allena datar.


Louis tidak menjawab. Pria itu tiba-tiba menyodorkan ponselnya yang dia bawa dihadapan Allena.


"Apa ini?". Tanya Louis seketika. Terdengar nada serius saat ini.


Allena yang paham arah pembicaraan Louis hanya menarik nafasnya. Gadis itu kemudian menatap datar Louis setelah melihat ponsel Louis.


"Itu cuman salah paham aja". Ucap Allena seketika.


Louis yang mendengar itu hanya berdecak.


"Cih. Salah paham gimana? Jelas-jelas foto itu menunjukan kalian berdua sedang berpelukan". Desis Louis.


Benar saja, saat ini Louis meminta kejelasan soal unggahan diakun milik SMAN Nasional. Pasalnya unggahan tersebut sudah beredar luas akibat banyak yang membagikannya.


"Oke Allena gue paham, kita disini cuman dijodohin aja sama orang tua lo dan lo nggak ada rasa apapun sama sekali sama gue".


"Tapi tolong, tolong lo ngehargain gue yang posisinya disini jodoh lo. Gue suka sama lo Allena, gue sayang sama lo, dan lo tau itukan. Gue mohon lo ngehargain gue disini sedikit aja".


"Lo nggak tau betapa sakit hatinya gue lihat lo pelukan sama cowo lain. Gue mohon lo ngerti perasaan gue kaya gimana". Cicit Louis. Saat ini pria itu benar-benar merasakan sakit dihatinya ketika melihat unggahan milik akun SMAN Nasional pagi tadi.


"Tapi kita saling sepupuan Louis, dan lu tau kalau gua nggak ada rasa sama lu. Lu nggak bisa maksa". Jawab Allena datar.


"Dan kita udah dijodohin Allena. Lo nggak bisa lepas dari itu". Ucap Louis sedikit memaksa.


Katakanlah Louis saat ini begitu egois. Pria itu tak ingin melepaskan Allena karena sudah sangat menyayangi Allena. Meskipun mereka sepupu, tapi Louis tak mempedulikan hal itu. Pria itu menginginkan Allena menjadi miliknya.


"Terus mau lu apa?". Tanya Allena seketika dengan tatapan datarnya.


Louis yang mendengar pertanyaan Allena langsung saja menatap Allena serius.


"Gue mau lo jauhin cowok yang ada difoto ini dan jangan dekat-dekat sama cowo itu lagi. Kalau nggak, gue bakal kasih lihat unggahan ini ke Om Robert". Ancam Louis.


"Lo ngancam gua?". Tanya Allena.


"Biarin gue egois untuk sekarang ini". Ucap Louis dingin.

__ADS_1


"Dan juga jauhin Aziel". Sambung Louis lagi seraya pergi dari hadapan Allena yang seketika berubah raut wajahnya.



__ADS_2