
Saat ini Allena sudah berada di ruang OSIS.
Tidak lama datang Alvian, "Eh Len, disini lo ternyata". Seru Alvian seraya berjalan masuk, "Lo lagi ada masalah apa sih sama Aziel? Tadi di kelas sampai kaya kalian lagi ribut gitu". Sambungnya sembari menghampiri Allena.
"Nggak ada". Jawab Allena tanpa menoleh kearah Alvian. Gadis itu terlihat sangat sibuk dengan laptopnya.
"Tapi tadi gue lihat lo sama Aziel lagi nggak enak gitu kondisinya. Kalau lo ada masalah cerita aja". Alvian sebenarnya tau antara masalah Aziel dan Allena. Gamma dan Tessa sudah menceritakan kejadian semalam saat Allena tak sengaja bertemu dengan Aziel dan juga Regina.
Sebenarnya Alvian dan yang lainnya bingung hubungan antara Allena, Aziel dan juga Louis. Disatu sisi Louis dan Allena sudah dijodohkan, tapi disatu sisi lainnya Allena sangat begitu dekat dengan Aziel. Bahkan keduanya itu kaya orang yang lagi pacaran gitu loh, kaya punya hubungan yang spesial.
Melihat kedekatan Allena dengan Aziel membuat mereka sahabat Allena jadi bingung sendiri dengan masalah percintaan sahabat mereka itu.
Meskipun Allena secara terang-terangan mengatakan bahwa dia tidak menyukai Louis, tidak memiliki perasaan apapun pada Louis. Tapi bagaimanapun Allena dengan Louis itu sudah mempunyai ikatan perjodohan dari keluarga kedua belah pihak, dan mereka tidak bisa menutup mata dari hal itu.
"Nggak usah, nggak penting juga kan". Ucap Allena kemudian.
Mendengar jawaban gadis itu, Alvian hanya bisa geleng-geleng kepala, "Allena Allena, gue itu heran sama lo, selalu kaya gitu. Nggak penting nggak penting, nggak usah dibahas. Ayolah Len, come on! Lo jangan selalu nganggap sesuatu hal itu nggak penting. Setiap sesuatunya itu pasti ada yang penting buat kita, berdampak buat kita. Heran gue sama lo. Makanya hidup lo itu terlalu kaku". Ucap Alvian panjang lebar.
Allena seketika mendongakan kepalanya memandang Alvian, "Ya gua ngomong kaya gitu karna emang nggak penting buat gua. Jadi ngapain harus dibahas". Balas Allena.
"Gini ya Allena gue kasih tau ke lo, dengerin. Gue itu udah merhatiin lo dari lama dari awal masuk sampai sekarang dan gue udah nganggep lo sahabat gue. Gue nggak ini ya gue merhatiin lo bukan karena gue demen ama lo bukan, bukan karena itu, jadi lo jangan geer dulu.
"Ya emang sih awalnya dulu gue sempet suka ama lo, awal-awalnya ya awalnya, karena pertama kali gue lihat lo itu cantik banget woy. Tapi itu dulu ya sekarang nggak, kalau sekarang itu gue sukanya sama Ayang Zee gue. Ya gue juga karena orangnya pemilih sih dalam hal mencari teman. Intinya itu gue merhatiin lo dan yang gue tangkep ya dari lo itu lo orangnya pendiam ya awal-awalnya pendiam banget malah. Terus kalau kaya sih udah pasti, kayanya pake banget. Juga seperti nggak suka berbaur gitu, nggak suka berteman sama orang lain. Entah apa yang membuat lo kaya gitu Len, gue heran.
"Terus yang paling penting tuh ini, tatapan lo menohok banget kalau lagi berinteraksi sama orang lain. Datar sih iya tapi jangan kaya datarnya tuh yang buat orang lain jadi kaya nggak nyaman gitu. Jadinya orang-orang kan pada nyangkanya lo itu nyeremin nggak suka didekatin gitu. Lagi satu kalau lagi ngehadepin orang itu lo sukanya kasih tatapan menohok lo itu plus perkataan-perkatann yang juga menohok hati. Buat orang yang denger tuh pengen nonjok lo tapi nggak berani. Selain lo cewek lo juga kaya. Apa aja bisa lo lakuin. Intinya lo itu kaya susah gitu diajak berteman atau bercanda-bercanda gitu. Terus sekalinya marah nyeremin banget, kaya singa tau nggak.
"Tapi... ada tapinya nih. Lo itu ternyata baik banget, baik banget malah banget banget dah pokoknya. Gue harap lo bisa ubah sedikit demi sedikit sifat lo itu. Karena emang pasti ada beberapa orang yang nggak suka sama sifat lo itu. Pasti ada itu, gue ingatin lo". Alvian kemudian beranjak berjalan kearah Allena, "Dan gue harap gue tetap bisa sahabatan sama lo. Lo itu sahabat wanita ter the best buat gue". Sambungnya lagi sembari mengacak rambut Allena.
Alvian ini memang anaknya pengertian banget. Tapi masalah percintaannya aja nggak dapat jalan sampai sekarang, nge-stak disitu-situ aja. Sok-sok nasehatin orang segala lo Alvian.
"Ck, yaudah. Tapi nggak usah ngerusakin rambut gue juga kan. Beresin!". Ucap Allena.
"Eh iya iya sorry, nggak usah marah-marah juga kali Len, baru juga dibilangin udah marah lagi aja". Alvian bergegas merapikan rambut Allena kembali sebelum gadis itu berubah jadi singa galak.
Allena kemudian menghembuskan nafasnya sembari Alvian terus merapikan rambutnya.
"Terus lu sama Zee gimana?". Tanya Allena tiba-tiba.
"Ya gitu deh. Nggak usah dibahas". Alvian selesai dan kembali ketempatnya.
"Dih.. sok nasehatin gua lu, rupanya sama aja". Cibir Allena.
"Hehe nggak apa-apa dong. Setidaknya gue nggak berlebihan kaya lo". Balas Alvian.
"Cih...!!
...*****...
Hari ini Allena benar-benar berusaha menghindar dari Aziel. Gadis itu sama sekali tak membiarkan dirinya bertemu dengan Aziel.
Dan malam ini Allena terlihat berjalan menuju garasi rumahnya. Allena membuka pintu garasi lalu mengeluarkan motornya yang dia simpan sejak lama didalam garasi itu.
Motor itu adalah motor kesayangannya. Sudah lama dia tak mengendarainya sejak kelas 9, dan kali ini dia akan menggunakan motornya lagi.
Setelah menghidupkan mesin motornya, Allena kemudian pergi meninggalkan pekarangan rumahnya.
Sementara saat ini di lain tempat terlihat Aziel tengah bersama geng motornya berada di arena balap. Malam ini Aziel akan balapan.
Disana banyak sekali para penonton yang datang. Suara sorakan para penonton terdengar bergemuruh memenuhi arena balapan.
"Yakin lo bakal balapan El? Lo lagi nggak stabil kaya gini Bro". Setya yang juga ada disana sedang mencoba melarang Aziel agar tak ikut balapan. Emosi Aziel sedang tak karuan sekarang.
"Gua tetap mau balapan, dan lu nggak bisa ngelarang gua". Aziel bersikukuh tetap ingin mengikuti balapan ini. Bukan karena uang, tapi Aziel hanya ingin mencari kesenangannya sendiri.
Melihat Allena yang sedari tadi di sekolah selalu menghindarinya, membuat emosinya memuncak, dan satu-satunya yang dia gunakan untuk meredakan emosinya adalah dengan balapan. Karena setiap kali dia menang Aziel merasakan sensasi tersendiri, dan dia harus menang.
"Tapi El lo...
"Lu jangan coba-coba ngelarang gua Ya. Lu taukan konsekuensinya apa setiap ada yang coba ngelarang gua ngelakuin sesuatu hal". Ucap Aziel sambil menatap dingin Setya.
Mendapati Aziel yang seperti itu, Setya tak bisa berbuat apa-apa lagi. Aziel ini terlalu keras kepala.
__ADS_1
"Hedehh terserah Lo El, cape gue ngomong sama lo. Nggak bakal didengerin. Balapan aja sono, nggak peduli gue". Ucap Setya kemudian. Percuma berdebat dengan Aziel.
Sementara Aziel mulai memakai helmnya dan masuk ke garis star.
Disana sudah ada seseorang dengan motornya yang akan menjadi lawan balap Aziel. Wajahnya tak diketahui karena orang itu memakai helm berwarna hitam dan juga kaca helm yang menutupi wajah orang itu.
Aziel dan orang itu mengambil posisi. Tidak lama seorang wanita masuk dengan pakaian yang seksi berdiri di tengah-tengah jalan dihadapan kedua pembalap yang akan bertarung itu.
"Kalian udah siap!?". Ucap wanita yang berpakaian seksi itu.
Aziel menoleh kesamping kearah orang itu begitupun sebaliknya. Keduanya kemudian kembali menoleh kedepan dan mulai menghidupkan mesin motor mereka masing-masing.
1
2
3
Mulai!!
Kedua orang itu melepas copling dan mulai menancap gas dengan kuat. Sehingga sekali sentakan mereka sudah meninggalkan garis star.
Suara teriakan dari para penonton bergemuruh memenuhi arena balapan.
Suara motor yang saling kejar-kejaran begitu keras terdengar dijalanan. Kedua pembalap tak ada yang mau mengalah.
Hingga 15 menit lamanya diantara dua pembalap belum juga ada yang muncul. Ketegangan mulai terasa dengan orang-orang yang menuggu digaris finish.
"Ya, gimana nih? Bos dari tadi belum kelihatan juga". Gabriel selaku anak buah mulai resah.
"Tunggu aja, bentar lagi juga muncul. Aziel nggak mungkin kenapa-napa". Setya masih berpikir positif. Sepupunya itu tidak mungkin terjadi sesuatu, mengingat Aziel sangat jago dalam membawa motor.
Hingga satu titik cahaya dari kejauhan membuat mereka kembali bersorak. Pertandingan akan segera berakhir.
Satu pembalap telah tiba dititik akhir membut para penonton bersorak.
"Waduh Bos mana? Bos kalah, masa iya?". Gabriel mengedarkan pandangannya kearah jalanan begitupula anak buah yang lainnya.
Tidak lama Aziel tiba dan para anak buahnya segera menghampiri Aziel, "Wah wah wah Bos kalah? Mana mungkin woyy.. bilang gue cuman mimpi". Gabriel masih tidak percaya dengan kekalahan yang dialami oleh Bosnya.
Bagaimana tidak? Biasanya Aziel akan selalu menang jika mengikuti balapan. Tapi kali ini dia kalah oleh seseorang yang bahkan wajahnya belum diketahui.
Aziel membuka helmnya dan memandangi lawannya tadi. Pria itu terlihat tak terima atas kekalahan yang didapatkannya.
Terlihat Gabriel menghampiri lawan Aziel tadi.
"Woyy lo siapa ha? Buka helm lo, mau gue hajar lo". Ancam Gabriel. Pria itu ingin tau siapa yang telah berani mengalahkan Bosnya.
Orang itu diam sebentar. Seketika dia langsung membuka helmnya dan nampaklah seorang perempuan dibalik helm itu yang membuat orang-orang yang ada disana langsung terperangah sekaligus terkejut.
"Oh My God". Desis Gabriel, "Bos cewe ini!". Gabriel menoleh kearah Aziel dengan tampang tidak percaya.
Sementara Aziel terlihat membelalakkan matanya ketika melihat siapa lawannya itu.
Dengan segera Aziel beranjak dari motornya dan menghampiri wanita itu.
"Allena!". Desis Aziel saat sudah berada didekat gadis itu.
Benar saja gadis itu adalah Allena. Wanita yang telah mengalahkan Aziel dalam balapan motor.
"Kenapa bisa ada disini?". Aziel masih tak percaya dengan Allena yang ada dihadapannya saat ini.
Allena tak menjawab. Gadis itu hanya menaikan kedua alisnya dengan tampang meremehkan kearah Aziel.
Allena kemudian ingin kembali memakai helmnya, namun dengan cepat Aziel menarik lengan Allena dan membawa gadis itu pergi dari sana.
Aziel membawa Allena ketempat yang jauh dari para penonton.
"Gua tanya ama lu, kenapa lu bisa ada disini dan ngelakuin hal kaya tadi?". Tanya Aziel sembari menatap Allena tajam.
Allena menepis tangan Aziel dengan kasar, "Bukan urusan lu". Jawab Allena tak kalah tajamnya.
"Lu tau itu bahaya banget. Kenapa lu malah ikut balapan kaya tadi". Aziel tak habis pikir dengan jalan pikiran Allena. Jika gadis itu sampai kenapa-napa tadi bagaimana nanti.
__ADS_1
"Dan gua udah bilang itu bukan urusan lu. Paham!". Balas Allena.
"Gua itu khawatir sama lu Len, gua takut kalau sampai terjadi apa-apa ama lu.
"Dan gua juga nggak butuh dikhawatirin ama lu. Mending lu jauh-jauh dari gua". Allena mulai meninggikan suara.
"Lu itu kenapa Len? Kenapa tiba-tiba kaya gini lagi ama gua, gua ada salah apa sama lu?.
"Gua cuman minta ama lu jauh-jauh dari gua, bisakan". Allena semakin meninggikan suaranya. Gadis itu terlihat kesal.
Sementara Aziel mulai mengepalkan kedua tangannya.
"Gua nggak akan pernah ngejauhin lu, karena lu cuman milik gua". Desis Aziel menekan kata-katanya.
Allena tersenyum meremehkan, "Huh.. basi!". Ucap Allena kemudian sambil melangkahkan kakinya.
Namun dengan cepat Aziel menarik lengan Allena mencegat gadis itu.
"Lu mau kemana ha?
"Lepasin tangan gua". Allena mencoba melepas tangan Aziel yang mencengkram lengannya, namun tak bisa. Aziel terlalu kuat mencengkram.
"Basi lu bilang?". Aziel menatap mata hazel Allena. Meskipun disana gelap minim cahaya, namun Allena dapat merasakan Aziel yang begitu tajam menatapnya. "Lu mau gua lakuin apa ke lu biar lu tau kalau gua itu nggak main-main ama lu". Sambungnya lagi dengan menekan kata-katanya.
"Lepasin!". Allena tetap berusaha melepas cengkraman Aziel.
Aziel menggeleng menunduk sambil berdengus. Pria itu tiba-tiba menarik lengan Allena hingga gadis itu terpental kearahnya.
Tangan Aziel yang satunya terangkat lalu mencengkram leher Allena, "Lu mau gua lakuin apa ke lu gua tanya". Desis Aziel pelan sembari memandang lekat wajah Allena dihadapannya.
Allena mengangkat tangannya lalu menggenggam lengan Aziel yang mencengkram lehernya, "Ughh.. lu gila, lu sinting tau nggak". Umpat Allena, "Lepphhaasshinn". Sambungnya lagi sambil berusaha melepaskan cengkraman Aziel dilehernya.
"Gua nggak akan ngelepasin lu sebelum lu kasih tau ke gua kenapa lu berusaha ngehindar dari gua. Gua nggak suka lu kaya gitu ke gua". Aziel semakin menekan ucapannya dan menatap tajam Allena.
"Lepphhaasshhiinn Elhh... saakkhhiitthh..". Allena terus berusaha melepas cengkraman Aziel dilehernya yang semakin keras.
"Elhh.. jjangganhh.. kkayaahh ginihh". Sambungnya lagi.
Tiba-tiba Aziel menarik leher Allena kearahnya dan menunduk langsung meraup bibir Allena tak sabaran. Dilu*matnya Aziel bibir Allena dengan kasar.
Sementara Allena membelalakkan matanya akibat ulah Aziel. Gadis itu sampai terjinjit karena Aziel yang terus mencengkram lehernya tak melepaskan sambil terus melu*mat bibirnya.
Allena berusaha mendorong Aziel sekuat tenaga sehingga ciuman mereka terlepas. Gadis itu terlihat menghirup udara sebanyak-banyaknya.
"Ugghh bisa gila gua lama-lama karena lu Len". Desis Aziel tanpa melepaskan cengkramannya dileher Allena.
Pria itu kembali menarik leher Allena kearahnya dan menahan gadis itu dengan pelukannya lalu kembali memagut bibir Allena.
Pria itu terus menyesap bibir Allena sampai kepalanya miring ke kanan dan ke kiri.
Sementara yang dicium terlihat berusaha melepaskan diri, "Um um um...". Allena terus berusaha mendorong Aziel dan memukul-mukul dada pria itu minta dilepaskan.
"Umm...". Allena sekuat tenaga mendorong Aziel hingga ciuman mereka berhasil terlepas.
Allena melirik Aziel yang terlihat tersenyum smirk dan masih memeluknya. Segera Allena mendorong Aziel dengan keras menjauh darinya sambil terus berusaha menghirup udara sebanyak-banyaknya.
"Hah hah hah.. dasar gila! Lu orang paling sinting yang pernah gua temuin". Umpat Allena sambil terus menghebuskan nafasnya.
"Why Baby?". Aziel berjalan mendekati Allena, "Tapi lu suka kan kalau gua cium". Sambungnya dengan smirk khas dirinya.
"Berhenti disitu, jangan deketin gua!". Allena berusaha menetralkan dirinya. Gadis itu kemudian menatap tajam Aziel, "Suka matamu! Lu hampir buat gua mati kehabisan nafas anji*ng". Umpat Allena kesal.
"Tapi lu suka kan". Goda Aziel.
"Sialan lu, bang*sat!". Makinya lagi. Allena kemudian mulai melangkah ingin pergi dari sana.
"Mau kemana?". Tanya Aziel pada Allena yang terus berjalan.
"Bukan urusan lu gila". Maki Allena tanpa menghentikan langkahnya.
Aziel hanya tersenyum miring mendengar jawaban Allena.
Pria itu kemudian bergegas menyusul Allena.
__ADS_1