
Saat ini Allena sedang berada dalam mobil bersama Aziel. Mereka akan ke bandara untuk menghantar orang tua Aziel yang ternyata hari ini juga akan pergi keluar negeri.
Akan tetapi mereka terlebih dahulu menuju rumah Aziel untuk menjemput kedua orang tuanya.
Sekitar 30 menit mereka sampai dipekarangan rumah Aziel. Pria itu memarkirkan mobilnya dan keluar dari dalam mobil bersama Allena.
Allena mengikuti langkah Aziel dan berjalan masuk kedalam rumah besar berlantai dua tersebut.
Saat tiba diruang tamu mereka disambut oleh Mamah Rani yang sudah ada disana menunggu kedatangan mereka.
"Kalian udah nyampe. Masuk dulu kedalam. Allena ayo masuk". Ucap Mamah Rani ramah.
"Iya Tante". Balas Allena sopan sambil mencium punggung tangan Mamah Rani.
Mereka kemudian menuju sofa yang ada diruangan itu.
"Sebentar ya Allena. Kita tunggu Papahnya Aziel sama Azela dulu". Ucap Mamah Rani sambil tersenyum. Allena mengangguk sopan.
"Makasih ya Allena sudah mau menyetujui permintaan Tante untuk ikut antar ke bandara". Ucap Mamah Rani lagi.
"Iya Tante sama-sama". Jawab Allena tersenyum ramah.
Tiba-tiba dari arah lain..
"Kak Allena..!!". Teriak Azela yang berlari menghampiri Allena dan memeluk Allena.
"Azela kirain Kak Allena nggak bakalan datang". Sambung Azela.
Allena membalas pelukan Azela dan tersenyum, "Ini Kak Allena datang kan". Balas Allena.
"Iya hehe". Azela nyengir memperlihatkan gigi-giginya yang rapi".
"Azela udah lupain Kak El nih, masa yang dipeluk cuman Kak Allena doang". Tegur Aziel tiba-tiba dengan ekspresi pura-pura ngambeknya.
"Kak El nanti aja. Azela masih mau sama Kak Allena". Ucap Azela tanpa beralih kearah Aziel yang membuat pria itu hanya menggeleng heran akan sifat manja Adiknya itu.
Sementara Mamah Rani hanya tersenyum bahagia melihat pemandangan itu. Allena sepertinya sangat membawa suasana baru didalam keluarganya dan juga untuk Aziel putra satu-satunya itu.
Mamah Rani berharap semoga Allena membawa kebahagiaan bagi Aziel. Putranya itu selalu cenderung datar dan dingin terhadap orang yang ditemuinya.
Tapi dengan adanya gadis itu, Mamah Rani merasa bahwa Aziel bisa berubah dan menjadi pribadi yang lebih baik. Mamah Rani dapat merasakan bahwa Aziel sangat menyukai Allena.
"Ayo kita pergi sekarang. Dua jam lagi pesawat kita berangkat, takutnya sebentar dijalan macet". Suara Papah Rian menyadarkan mereka semua.
Mereka semua kemudian bergegas. Aziel membantu membawakan beberapa barang bawaan orang tuanya dan memasukannya kedalam bagasi mobil.
Tidak banyak. Karena kedua orang tua Aziel hanya membawa barang yang penting saja. Jika menyangkut sandang dan pangan ya tinggal beli. Kan orang kaya, nggak usah dipersulit. Iya nggak😅
Setelah selesai mengemas barang mereka pun pergi dengan tiga mobil yang mengawal mobil yang mereka tumpangi sebagai penjagaan.
Papah Rian itu memang sangat mewanti-wanti keamanan keluarganya. Dunia pekerjaan yang keras seperti ini sudah pasti sangat rawan akan berbagai kejahatan.
Selama diperjalanan Aziel hanya diam sambil menyenderkan kepalanya dikursi penumpang dengan memejamkan matanya. Disebelah pria itu duduk Allena yang sedang serius memainkan ponselnya. Didepan mereka duduk Azela dan Mamah Rani, didepannya lagi duduk Papah Rian dan Supir dikursi pengemudi.
Allena yang masih tengah seriusnya memainkan ponselnya, tiba-tiba dikagetkan dengan tangan Aziel yang mengambil ponsel miliknya dari tangannya.
Aziel mengambilnya lalu meletakannya disebelahnya agar Allena tak bisa mencapainya.
"Lu apa-apaan sih? Balikin nggak HP gua". Ucap Allena pelan tapi sambil melototkan matanya pada Aziel.
"Nggak mau. Lu terlalu sibuk sama ponsel". Ucap Aziel lalu tanpa malunya menyenderkan kepalanya dibahu Allena.
Allena berdelik, "Eh lu nggak malu apa ha?". Ucap Allena merasa tak enak akan keluarga Aziel saat ini.
"Udah diem aja lu". Desis Aziel tetap dengan posisinya.
__ADS_1
Sementara Allena kemudian hanya membiarkan Aziel bersandar dipundaknya.
Sekitar 45 menit mereka sampai di bandara. Perjalanan hari ini cukup macet sehingga membutuhkan banyak waktu.
Mereka semua kemudian keluar dari dalam mobil dan masuk kedalam ruang tunggu. Sekitar 1 jam lagi pesawat akan berangkat.
Sementara ditempat lain saat ini Alexa sudah berada di restoran milik Brayen. Gadis itu bersama kedua temannya.
"Gimana gue nggak kesel coba? Kalian kan tau gue suka sama Aziel. Tapi si cewek sok kecantikan itu malah pamer-pamer kedekatannya sama Aziel. Di sekolahan lagi.
"Jadinya kan anak-anak 1 sekolahan pada ngiranya mereka berdua itu pacaran". Ucap Alexa yang terlihat kesal.
"Yaampun Lex, segitu sukanya lo sama Aziel. Dia aja kaya nggak ngangep lo kok". Chika menyela. Gadis itu heran akan Alexa sahabatnya itu. Sebegitu sukanya kah dia terhadap Aziel yang bahkan tidak menganggap Alexa.
"Chik, lo kok gitu sih ngomongnya ke Alexa. Harusnya lo dukung dong Alexa buat dapetin Kak El. Gimana sih lo sebagai sahabat". Timpal Hera.
Alexa menatap kesal pada Chika, "Tau nih si Chika. Bukannya ngehibur kek apa kek, malah bikin tambah gue kesel". Ucap Alexa yang kesal akan ucapan Chika.
Chika geleng-geleng heran. Gimana caranya supaya Alexa, temannya itu sadar. "Nggak gitu Lex, gue cuman kasih tau ke lo biar lo sadar. Kalau Kak El itu nggak akan bisa balas rasa suka lo ke dia.
"Coba lo perhatiin deh, gimana perlakuan Kak El ketika lo deket-deket ama dia. Risih Alexa, risih. Masa lo nggak sadar.
"Gue sebagai sahabat lo cuman kasih tau ke lo, biar lo nggak makan hati sendiri". Ucap Chika panjang lebar, agar bisa memberikan kesadaran untuk Alexa yang terkesan terobsesi pada Aziel.
Alexa yang mendengar itu semakin menatap kesal pada Chika, "Udalah Chik, lo nggak usah ngomong. Bikin tambah gue emosi aja". Ucap Alexa ketus.
Chika tak membalas. Gadis itu hanya tersenyum dengan menggelengkan kepalanya melihat heran sikap Alexa itu. Memang sangat susah jika dia menasihati sahabatnya itu. Alexa pasti tak pernah mau mendengarkan.
Tapi bagaimanapun Alexa adalah sahabatnya, dan dia harus menjaga sahabatnya itu agar tak sampai melakukan sesuatu yang merugikan dirinya sendiri. Mengingat Alexa itu adalah orang yang nekat.
"Hei, kalian disini!". Tiba-tiba muncul seorang pria dan menyapa mereka.
Alexa sontak menoleh, "Elo? Ngapain lo disini? Ngikutin gue lo". Ucap Alexa ketus ketika mengetahui pria tersebut yang ternyata adalah Brayen.
"Brayen berdengus lucu, "Ngapain gue ngikutin lo? Lo lupa kalau restoran ini itu punya gue? Jadi gue berhak dong ada disini kapan aja". Ucap Brayen yang sontak berhasil membuat Chika dan Hera kaget menatap Brayen tak percaya.
"Cih, sok banget sih lo. Mentang-mentang restoran ini punya lo, gayanya udah mau selangit. Baru juga punya restoran, sombong amat". Alexa berdecih, dia tidak ingin menampakan rasa malunya dihadapan Brayen. Gengsi dong kalau sampai kaya gitu. Apa lagi saat ini pria dihadapannya itu memandangnya seakan meremehkan.
Brayen menaikan sebelah alisnya memandangi Alexa. Pria itu tiba-tiba mendekat dan langsung menarik lengan Alexa untuk mengikutinya.
"Lo ikut gue sekarang". Ucap Brayen memaksa Alexa untuk berdiri.
Sementara kedua teman Alexa hanya memandang bingung kedua orang itu.
"Gue nggak mau, lepasin Brayen". Alexa ingin memberontak namun dengan cepat Brayen mencengkram kuat lengan Alexa.
Brayen beralih menoleh kearah kedua sahabat Alexa, "Gue pinjem sahabat kalian dulu. Kalian pesan apa aja, nggak usah bayar". Ucap Brayen.
"Hah, yang bener Kak. Yaudah kalau gitu bawa aja Alexa. Mau Kak Brayen apain juga nggak apa-apa". Ucap Hera antusias yang berhasil mendapatkan pelototan dari Alexa.
Brayen kemudian dengan segera membawa Alexa pergi dari sana.
"Selamat bersenang-senang Alexa". Teriak Hera.
"Emang sahabat lucknut lo berdua. Awas aja kalian". Teriak Alexa kepada kedua sahabatnya itu.
Alexa terus berusaha memberontak minta dilepaskan, "Lepasin Brayen, sakit tangan gue". Desis Alexa.
Brayen tak melepaskan, pria itu semakin keras mencengkram lengan Alexa dan terus menariknya, "Ingat Alexa, sekarang lo itu ada diwilayah gue, gue bisa aja ngelakuin sesuatu semau gue.
"Kalau lo ngeberontak terus, gue bisa aja cium lo disini sekarang juga didepan banyak orang". Ancam Brayen. Hanya sekedar ancaman, tapi bisa saja Brayen benar-benar melakukan hal itu terhadap Alexa.
Alexa mendengar itu sontak menatap tajam Brayen. Mereka masih berjalan, "Lo tuh cowo gila emang. Emang lo pantasnya disebut cowok mesum. Cowo gila". Umpat Alexa tak habis pikir dengan Brayen.
Sementara Brayen hanya tersenyum miring sambil terus membawa Alexa sampai didepan ruangannya. Ruangan itu memang sebagai tempat dia bekerja.
__ADS_1
Brayen membuka pintu menggunakan password. Setelah selesai dia menarik Alexa masuk kedalam.
"Masuk sekarang!!".
...*****...
Waktu menunjukan pukul 19.20 malam, dan Allena baru pulang dengan diantar oleh Aziel. Saat ini gadis itu sedang berjalan masuk kedalam rumahnya.
Saat melewati ruang keluarga, tiba-tiba dia dikejutkan dengan suara Louis.
"Baru pulang? Dari mana aja lo?". Louis berbaring disofa yang membelakangi Allena, sehingga gadis itu tidak mengetahui bahwa ada Louis disana.
Allena memandangi Louis yang juga memandanginya dengan tatapan mencekam, "Urusannya ama lu apa?". Allena tidak menjawab pertanyaan Louis.
Louis berjalan mendekati Allena, "Ini apa?". Ucap Louis sambil menunjukan layar ponselnya dihadapan Allena.
Allena melihat dengan seksama, "Kenapa?". Tanya Allena menatap Louis tanpa ekspresi.
Louis mulai kesal. Bagaimana tidak? Hari ini dia melihat postingan terbaru dari akun instagram dan twitter SMA Negeri Nasional. Postingan tersebut berupa foto Allena yang sedang memasangkan dasi untuk Aziel.
Tapi yang membuat dirinya lebih kesal lagi adalah foto Aziel yang sedang mencium kening Allena, dan langsung menjadi terending topik dikalangan anak remaja sekaligus berbagai sekolah. Banyak sekali yang membagikan foto tersebut, berbagai komentar memenuhi postingan tersebut. Ada yang mengatakan Aziel dan Allena adalah pasangan yang sangat cocok, tapi tidak sedikit juga yang mencibir dan mengatai postingan dari akun tersebut.
"Lo masih nanya kenapa?
"Gue kan udah bilang ke lo jauhin Aziel, tapi ini apa? Lo dengan terang-terangan mesra-mesraan sama Aziel. Lo nggak ngehargain gue Allena". Desis Louis tak habis pikir.
Allena semakin datar menatap Louis, "Emang gua peduli?". Ucap Allena yang sukses membuat Louis semakin kesal.
"Disini gue yang dijodohin sama lo, bukan Aziel. Harusnya lo ngehargain gue sebagai orang yang udah dijodohin sama lo Allena". Louis mulai frustasi dengan keadaan saat ini.
"Udah berapa kali gua bilang, gua nerima perjodohan ini karena terpaksa bukan karena kemauan gua sendiri.
"Dan lu jangan pernah sangkut pautkan setiap permasalahan kita dengan perjodohan sialan itu. Karna asal lu tau aja, gua nggak pernah ingin dijodohin sama lu apa lagi sampai menikah". Allena mulai kesal pada Louis yang selalu menggunakan perjodohan mereka untuk setiap permasalahan yang terjadi pada mereka.
Louis yang mendengar itu mulai emosi. Tidak tahukah Allena bahwa Louis sangat menyukai dirinya dan ingin memilikinya. Louis bisa saja melakukan sesuatu pada Allena agar gadis itu bisa berada disisinya.
"Karena lo sukanya sama Aziel kan Len? Lo inginnya Aziel yang ada disisi lo, bukan gue. Iya kan? Lo emang dari dulu ada rasakan sama cowo sialan itu". Louis sangat kesal ketika menyebut nama Aziel. Karena cowo itu dia tidak bisa memiliki Allena.
"Itu lu tau. Kenapa masih nanya". Allena menjawab dengan santainya tanpa menyadari Louis yang sudah mulai emosi sekarang.
Louis mendekat kearah Allena. Aura pria itu mulai menyeramkan sekarang. Pria itu berniat akan melakukan sesuatu kepada Allena agar gadis itu bisa menjadi wanitanya. Louis sudah dipenuhi dengan kemarahan.
Allena yang melihat itu mulai menatap was-was pada Louis. Dia tentu saja tau Louis saat ini sedang marah.
"Lu mau apa? Lu jangan macam-macam ama gua. Kalau nggak gua bakal teriak". Allena berjalan mundur kebelakang sambil tetap waspada akan Louis, takut-takut pria itu bisa melakukan sesuatu diluar batas.
"Kenapa? Teriak aja! Karena lo teriaknya bukan disini tapi diatas ranjang bersama gue.
"Dan lo bakalan shh.. neriakin nama gue dengan ******* lo yang akhh.. nikmat itu". Ancam Louis dengan desisan membuat Allena sontak membulat kaget.
Sepupunya itu benar-benar seperti seorang pria mesum sekarang, "Gila lu". Allena sudah mentok disofa saat ini. Gadis itu mulai merasa takut kepada Louis yang semakin dekat kearahnya.
"Gue emang gila, gila karena lo Allena". Louis semakin mendekati Allena. Tangannya mulai terangkat ingin meraih pinggang ramping Allena.
Tapi tiba-tiba dari arah lain.
"Woyy cowo nyebelin! Ngapain lo ha?". Teriak seorang wanita yang berlari menghampiri Louis dan Allena.
Dengan cepat wanita itu mendorong Louis menjauh pada Allena dan langsung memberikan gerakan kuncian dileher Louis membuat pria itu hampir kehabisan nafas.
"Lo mau apain Allena ha? Nyari mati lo". Ternyata wanita itu adalah Tessa. Gadis itu datang bersama Zee dan juga Airin.
Ketiga wanita itu datang berkunjung ke rumah Allena karena berniat akan menginap disana menemani Allena.
Tessa yang sedari awal berniat menginap di rumah Allena karena dia tahu Louis pasti akan melakukan sesuatu pada Allena, mengetahui bahwa perjodohan itu hanyalah paksaan dan Allena tidak punya perasaan apapun sama sekali pada Louis.
__ADS_1
Dan untuk berjaga-jaga Tessa akhirnya memutuskan memanggil Zee dan juga Airin untuk ikut menginap di rumah Allena.