Allena And Friend'S

Allena And Friend'S
PART 15 ~ Allena and Friend's


__ADS_3

...Bertengkar 1...


Pagi hari pukul 06.05, Allena saat ini sedang bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Allena memandangi pantulan bayangan dirinya di depan cermin besar dalam kamarnya.


Cewe itu kemudian menghela nafas panjang dan beralih ke meja belajar mengambil tas sekolahnya, lalu keluar dari kamar menuju bawah ke ruang makan.


Gadis itu kemudian berhenti dan memandang datar Mommy Tiara yang sedang menyiapkan sarapan tak jauh dari tempat dia berdiri saat ini.


Beberapa saat kemudian Allena kembali melangkahkan kakinya menuju meja makan. Gadis itu kemudian duduk di kursi yang ada disitu.


"Eh, putri kesayangan Mommy udah siap ternyata. Mau sarapan apa sayang? Biar Mommy siapin". Ucap Mommy Tiara menyadari kehadiran Allena anaknya.


Allena hanya diam tak menjawab perkataan Mommy Tiara dan hanya memandangi Mommy nya sesaat, lalu gadis itu beralih menyiapkan makanannya sendiri. Melihat hal itu Mommy Tiara berinisiatif ingin membantu Allena.


"Sini sayang biar Mommy aja yang ambilin". Ucap Mommy Tiara ingin mengambil alih sendok yang dipegang Allena.


"Nggak usah!! Allena bisa ambil sendiri". Ucap Allena sambil menepis tangan Mommy nya dan kembali menyendok makanan lalu memulai sarapannya tanpa mempedulikan Mommy Tiara yang menatapnya dengan sendu.


Mommy Tiara kemudian beranjak dan duduk di kursi berhadapan dengan anaknya. Mommy Tiara kemudian menarik nafas dan mencoba tersenyum ingin berbicara dengan Allena.


"Sayang gimana sekolahnya? Lancar? Baik-baik aja kan?". Tanya Mommy Tiara membuka obrolan pada Allena.


Namun Allena tidak menjawab. Dia hanya diam sambil tetap melanjutkan makannya tanpa mempedulikan Mommy nya.


Mendapati reaksi Allena yang seperti itu, Mommy Tiara diam sesaat lalu kembali ingin mengajak Allena berbicara.


"Allena Mommy cum-


"Mama bisa diem nggak sih? Ini Allena masih makan". Sentak Allena dengan membanting sendoknya di atas meja makan.


Mommy Tiara sampai kaget dengan reaksi Allena seperti itu. Apa Allena sudah sangat marah kepadanya?


"Sayang! Mommy sangat-


"Aahh.. Udahlah! Mama bikin mood Allena rusak tau nggak". Celoteh Allena sambil berdiri dan beranjak meninggalkan Mommy Tiara sendirian di meja makan itu.


Gadis itu keluar tanpa mempedulikan Mommy nya menuju garasi rumah dan mengeluarkan mobilnya lalu pergi dari sana menggunakan mobil sportnya itu.


Sementara Mommy Tiara hanya bisa melihat anaknya yang pergi dari sana dengan sudah kembali menangis. Akankah hubungannya dengan anaknya akan seperti ini terus?


Sedang di perjalan menuju sekolah Allena mencoba merapikan dirinya kembali dan memasang musik dengan suara yang cukup keras.


Hingga sekitar 20 menit Allena sampai di sekolahnya. Gadis itu kemudian memarkirkan mobilnya di parkiran sekolah itu.


Allena keluar dari dalam mobilnya dan tak sengaja berpapasan dengan Brayen yang kebetulan cowo itu habis dari memarkirkan motornya.


"Hai Allena! Apa kabar?". Sapa Brayen pada Allena.


Namun Allena tidak menjawab dan langsung pergi meninggalkan Brayen yang memanggil-manggil dirinya.


"Allena tunggu! Woyy Allena! Tungguin ngapa!". Seru Brayen mengejar Allena yang mulai menjauh.


Brayen pun berhasil mengejar Allena dan langsung berjalan berdampingan dengan gadis itu.


"Allena! Lo kenapa sih? Disapain juga, malah ninggalin". Cetus Brayen dengan terus mengikuti langkah Allena.


Namun Allena tetap tidak menjawab dan tetap melanjutkan jalannya tanpa mempedulikan Brayen. Seolah Brayen tidak ada disana.


"Allen.. Allena! Allenaaaa.. Halloo!". Seru Brayen dengan menggerak-gerakan tangannya di udara memanggil Allena.


Allena sontak menghentikan langkahnya, "Lu bisa diem nggak sih? Ngomong mulu dari tadi, gedeg gua lama-lama. Pergi sana! Ngapain sih lu dekat-dekat gua!". Bentak Allena dan sudah menghadap Brayen.


"Yaampun Allena, galak banget sih jadi cewe. Serem tau! Jangan galak-galak atuh Neng!". Seru Brayen dengan cengengesan.

__ADS_1


"Gua bilang lu jangan deket-deket ama gua. Risih tau nggak!". Bentak Allena kembali sambil mendorong Brayen menjauh darinya, lalu dengan cepat meniggalkan cowo itu.


Namun tak disadari keduanya, dari kejauhan Aziel sedari tadi memperhatikan mereka. Aziel merasa heran. Kenapa bisa Brayen begitu dekat dengan Allena pikirnya.


Setelah itu Aziel juga mulai melangkahkan kakinya pergi dari tempatnya.



...******...


Saat ini anak-anak SMA Nasional sedang dalam jam pelajaran dan beberapa menit lagi akan istirahat.


"Baik anak-anak! Pelajaran hari ini sampai disini dulu. Nanti kita lanjut. Dan jangan lupa tugasnya dikumpulkan minggu depan. Mengerti anak-anak!". Tukas Pak Hamzah guru mate-matika.


"Mengerti Pak!!". Teriak murid kelas 10 IPA 1. Pak Hamzah pun keluar dari kelas tersebut.


"Haduhh.. otak gue buntu tau nggak belajar pelajarannya Pak Hamzah. Cape gimana cara kerjainnya. Mana tu guru nyuruh gue maju mulu. Dikata robot kali ya gue!". Celoteh Manaf lelah.


"Itu mah lo nya aja yang bego". Ejek Gamma.


"Apaan sih Gam? Gue tu nggak bego ya, gue tu cuma kurang di asah aja otaknya. Belum encer iniii". Bela Manaf tak terima dikatai Gamma.


"Alahh! Alesan. Bego mah bego aja. Nggak usah banyak alesan". Ejek Zee ikut menimpali.


KRING!!


KRING!!


KRING!!


Bel istirahat pun berbunyi. Semua murid SMA Negeri Nasional mulai berhamburan keluar kelas.


"Airin kita ke kantin". Ajak Allena pada Airin lengkap dengan ekspresi datar seperti biasanya.


"Kita ke kantin". Ucap Allena lagi namun masih tetap dengan wajah datarnya.


"Kita?". Tanya Airin masih belum yakin.


"Iya. Lu ama gua. Kita ke kantin. Sekarang!". Jelas Allena kembali lalu berjalan terlebih dahulu.


"O-oh i-iya iya". Ucap Airin dengan gugup karena kaget akan sikap Allena padanya. Gadis itu kemudian berdiri untuk menyusul Allena.


"Wiishh.. Tunggu dong! Kita sekelompok nggak diajak nih? Masa Airin doang yang diajak". Cetus Gamma tiba-tiba dengan menghadang Allena.


Allena seketika berhenti dan hanya memandangi Gamma datar.


"Kalian kalau mau ikut, ikut aja. Nanti gua yang traktir". Ucap Allena kemudian berlalu melanjutkan langkahnya melewati Gamma.


"Ha? Beneran nih? Weheee traktir traktir! Traktir traktir! Manaf di traktir Allena nih ayo buruan!". Seru Gamma dengan girangnya mengajak Manaf dan kemudian berlalu menyusul Allena.


"Waah ayo! Lumayaaan! Biar hemat-hemat dikit uang gue. Hehehe! Airin sini kita ke kantin cepat!". Seru Manaf menggandeng Airin keluar dari kelas itu.


Zee yang melihat itu tersenyum. Gadis itu kemudian menuju pada Alvian dan mengajak lelaki itu untuk menuju kantin.


"Alvian ayo ke kantin sekarang. Kita susul mereka. Keburu ditinggal entar". Ucap Zee.


"Iya iya bentar. Gue simpan dulu nih barang-barang gue". Ucap Alvian sambil membereskan barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam tas sekolahnya.


"Udah! Ayo pergi!". Alvian kemudian meraih tangan Zee dan menggandengnya keluar kelas itu juga untuk bergegas menyusul.


"Pelan-pelan Alvian! Nanti gue jatoh gimana?". Omel Zee yang terus saja ditarik lengannya sama Alvian.


"Nanti nggak keburu entar. Biar cepat nyusul mereka". Sahut Alvian sambil terus berjalan cepat dengan tetap menggandeng Zee.

__ADS_1


Mereka ber-6 pun kini sudah tiba di kantin sekolah dan masuk secara beriringan. Mereka mencoba mencari tempat duduk yang masih kosong untuk mereka tempati.


Alexa yang melihat kedatangan mereka segera memperhatikan mereka. Ada tatapan tak suka dari raut wajahnya yang ditujukkannya pada Allena dari kejauhan.


"Kenapa Lex? Gitu amat muka lo". Tanya Chika pada Alexa yang saat ini bersamanya.


"Lo lihat tu yang namanya Allena. Gue nggak tau kenapa gue nggak suka banget sama tu cewe. Sok banget gayanya". Sahut Alexa dengan nada tak suka yang dia lontarkan untuk Allena.


"Emang dia buat salah apa sama lo sampe segitunya lo nggak suka sama dia?". Tanya Hera yang saat ini juga bersama Alexa.


"Nggak ada. Gue cuman nggak suka aja. Merasa paling 'WAHH' banget tu cewe. Pokoknya gua nggak suka banget". Jawab Alexa sambil terus menatap Allena dari kejauhan dengan ekspresi yang sangat sinis.


"Hedehh terserah lo deh Lex. Nggak ngerti gue sama jalan fikiran lo. Masa orang nggak punya masalah ama lo, lo nya nggak sukain". Ujar Chika heran dengan sahabatnya itu. Ada-ada saja pikirnya.


Sedang itu...


"Kita duduk aja disana. Bisa tuh kayanya". Ucap Zee sambil menunjuk ke arah salah satu tempat yang masi kosong.


"Yaudah kesana sekarang. Laper nih gue". Ucap Manaf dengan masih menggandeng Airin, kemudian keduanya menuju meja yang ditunjuk oleh Zee tadi.


Mereka semua pun segera menuju ke tempat tersebut dan duduk disana bersama-sama.


"Gue aja yang pesan makan, oke! Kalian sebutin apa aja yang kalian pesan, biar gue catat di ponsel gue". Ucap Gamma menawarkan diri.


"Wuuu.. soal traktiran aja cepat". Cibir Zee.


"Biarin". Jawab Gamma tak peduli dengan ejekan Zee. Yang penting itu traktir.


Mereka semua pun menyebutkan pesanan makanan apa yang mereka inginkan, lalu Gamma mencatatnya di ponsel miliknya.


Setelah selesai Gamma segera menuju ke arah penjual di kantin itu lalu memesan semua makanan yang dipesan dan mengambilnya kemudian membawakan mereka semua secara satu-persatu saking banyaknya pesanan makanan mereka.


Setelah itu mereka semua mulai menyantap makanan mereka masing-masing dengan lahap.


Beberapa menit berlalu Allena terlihat berdiri dari kursinya, kemudian berjalan menuju kasir untuk membayar.


Setelah selesai membayar, Allena berbalik ingin kembali ke tempatnya. Akan tetapi, baru mau melangkah tanpa sengaja Allena menabrak seorang cowo, yang ternyata cowo itu adalah Aziel.


"WOYY! LU BODOH YA AMPE NABRAK GUA KEK GINI HAH? JADI KOTORKAN SERAGAM GUA GARA-GARA LU AKHH!". Bentak Aziel langsung sembari membersihkan bajunya akibat tumpahan kuah bakso pedas yang dipegangnya.


"Lu buta apa gimana? Lu bego ya?". Maki Aziel kembali sambil berteriak di hadapan Allena.


Semua yang ada di kantin itu sampai menoleh ke arah kedua orang itu, karena mendengar bentakan Aziel yang begitu keras. Apa lagi yang mereka ketahui bahwa Aziel itu adalah si Ketua OSIS yang paling tegas dan juga galak.


Namun Allena tak berkutik. Dia hanya diam sambil memandangi Aziel yang berteriak padanya dengan tampang biasa seolah bentakan Aziel itu tak mempan untuknya.


Allena kemudian berbicara. "Udah marahnya? Hm! Nggak penting". Ucap Allena tiba-tiba kelewat santai kemudian berlalu pergi begitu saja dari hadapan Aziel.


Sedeng Aziel mulai emosi. Terlihat dari kedua tangannya yang mengepal kuat.


Allena terus berjalan sampai tempat dimana yang dia tempati tadi. Setelah itu duduk, lalu dia kembali menyantap makanannya seperti tidak terjadi apa-apa. Sementara semua orang kini tertuju padanya.


Tiba-tiba saja dari arah belakang ada yang menarik lengan Allena dengan kuat hingga sendok di tangan Allena terlepas dan terpelanting ke lantai.


Siapa lagi kalau bukan Aziel.


Cowok itu dengan kasar menarik Allena sampai cewek itu beranjak dari kursinya. Untung saja Allena bisa menyeimbangkan tubuhnya. Kalau tidak, mungkin sekarang Allena sudah terperosok ke lantai.


Aziel terus menarik lengan Allena hingga mereka berdua keluar dari kantin itu.


Sementara Allena, cewek itu berusaha memberontak, namun Aziel terus menggenggam tangan Allena dengan keras dan menyeret gadis itu dengan paksa menuju ujung koridor kantin.


__ADS_1


__ADS_2