
Pagi harinya Allena terbangun karena bel pintu kamarnya berbunyi.
Dengan malas Allena beranjak menuju pintu lalu membukanya dan dihadapannya kini sudah ada dua pelayan dengan membawakan sarapan pagi untuknya.
"Selamat pagi Nona Muda! Kami diperintahkan untuk membangunkan Nona Muda sekaligus membawakan sarapan pagi ini untuk Nona Muda. Maaf jika kami mengganggu waktu tidur Nona Muda". Ucap salah satu pelayan itu.
"Hmm tak apa. Kalian masuklah dan letakan makanannya diatas meja sana". Segera kedua pelayan tadi mengikuti perintah Allena.
"Apa ada lagi yang bisa kami bantu Nona Muda?
"Tidak, tidak ada. Silahkan kalian keluar saja dari sini". Ucap Allena dengan ekspresi datarnya.
"Baiklah kalau begitu. Kami permisi Nona Muda". Segera kedua pelayan tadi bergegas keluar dari kamar Allena dengan saling berbisik-bisik bergedik ngeri.
Mereka baru mengetahui sikap anak Bos mereka itu. Ternyata tak jauh-jauh beda dari Bos mereka. Terkesan datar dan dingin juga lebih mendominasi.
Hanya saja menurut mereka Allena lebih menyeramkan tetapi tertolong dengan muka cantik blasterannya itu.
Sementara ditempat lain lebih tepatnya di SMAN Nasional. Terlihat Zee mondar-mandir kesana-kemari.
"Ini Allena kemana sih? Udah mau jam 8, tuh bocah belum kelihatan juga batang hidungnya". Celoteh Zee.
"Hedehh Zee, bisa nggak sih lo nggak mondar mandir kaya setrikaan gitu. Ikutan pusing gue liatnya.
Saat ini ke-4 orang bersahabat itu sedang berada dalam kelas minus Alvian. Pria itu sedang mengurusi murid-murid yang telat hari ini.
"Dari pada gue laki sendiri disini mending gue ke gudang dah, bogan". Gamma mulai beranjak dari kursinya. Males banget dia laki sendiri. Kalau ada Alvian kan dia ada teman.
"Eh bocan kali Gam, bogan bogan apaan tuh.
"Ya kalo cewek kan bocan, kalau cowok ya bogan. Bobo ganteng". Gamma kemudian langsung keluar menuju tempat yang sudah dijadikannya markas untuk bobo gantengnya.
"Iyuhh sok ganteng lo Gam!". Cibir Zee dengan setengah berteriak.
Zee kemudian kembali memasang tampang cemberutnya sambil menghentakan kakinya menuju kursinya.
"Ihh nyebelin banget sih si Gamma!Emang dia nggak kepikiran sama Allena gitu yang nggak kelihatan dari tadi". Zee itu memang sedari kemarin memikirkan Allena, apa lagi gadis itu tak kunjung sekedar membalas pesannya atau mengangkat telponnya.
"Udah Zee, tenang aja. Bentar lagi Allena pasti datang kok". Airin mencoba menenangkan sahabatnya yang memang terkesan cerewet itu.
...*****...
"Yasudah, sekarang kamu mandi terus siap-siap. Nanti ada MUA yang datang kesini untuk make up in kamu.
Saat ini Mommy Tiara sudah berada dalam kamar Allena.
"Hmm". Hanya itu yang keluar dari mulut Allena.
"Kalau gitu Mommy keluar dulu ya Sayang, nanti kalau ada apa-apa kamu tinggal bilang aja.
"Kenapa ngomong mulu sih? Yaudah keluar aja sana. Ngomong mulu dari tadi perasaan". Celoteh Allena kesal.
"ALLENA!". Seru Papah Robert yang muncul dari balik pintu, "Kenapa seperti itu kamu berbicara? Mamah ini Mamah kamu. Bisa-bisanya kamu berbicara dengan nada seperti itu sama Mamah. Tidak sopan!". Ucap Papah Robert memarahi Allena. Anaknya itu sudah keterlaluan bericara dengan nada yang kasar pada Mamahnya sendiri.
Allena berdecak, "Ck, ini lagi orang tua satu". Dengan menahan kesal Allena mulai beranjak menuju kamar mandi.
"Allena, Papah belum selesai bicara sama kamu. Kamu memang anak yang tidak tahu diuntung". Sentak Papah Robert kesal akan sikap anaknya itu.
"Udah Pah, biarin aja. Papah jangan ikutan marah. Papah sendirikan tau gimana sifat anak kita yang satu itu". Mommy Tiara mencoba menenangkan suaminya itu.
"Kita tidak bisa membiarkan Allena seperti itu terus. Bisa-bisa dia semakin kurang ajar nantinya.
"Udah ya Pah udah udah, tenang. Mending kita keluar sekarang! Papah nggak maukan acara pertunangannya berantakan". Segera Mommy Tiara menarik suaminya itu keluar dari dalam kamar yang ditempati Allena.
Sementara Allena mulai melakukan ritual mandinya untuk menyegarkan otaknya yang memanas sedari tadi.
Hingga sekitar 20 menit kini Allena sudah selesai mandi.
Saat gadis itu mulai keluar dari dalam kamar mandi bel pintu kamarnya berbunyi.
Segera Allena menuju kearah pintu lalu membukanya, dan tampaklah seorang pelayan wanita ditemani dengan dua orang yang juga merupakan wanita. Sepertinya itu MUA yang akan mendandani Allena.
"Mohon maaf Nona Muda, MUA nya sudah datang". Ucap pelayan wanita tadi.
__ADS_1
Allena memandangi mereka satu-persatu tanpa ekspresi, "Hmm. Masuk!". Ucap Allena kembali masuk kedalam kamar diikuti ketiga orang itu.
Allena kemudian memakai terlebih dahulu gaun yang telah dibeli di butik waktu itu dan sudah dibawakan oleh pelayan wanita tadi, dengan dibantu para MUA.
Setelah itu Allena mulai didandani oleh kedua MUA tadi bersamaan.
Sementara itu di kamar lain, terlihat Louis sangat gagah dengan stelan jas yang dikenakannya.
Kemeja putih tulang yang dipadu padakan dengan jas berwarna silver keabu-abuan itu sangat pas dibadan Louis.
Ditambah lagi dengan sepatu tuxedo berwarna hitam kecoklatan menambah kesan kharismatiknya seorang Louis.
Emang sih Louis ini mau diapain juga tetap tampan.
Tapi sayangnya Allena tetap tak ada perasaan sedikit pun terhadap Louis yang notabennya sepupu itu. Walaupun sepupu jauh tapikan tetap ada hubungan keluarga.
"Duhh anak siapa sih ini ganteng banget". Puji Mamah Miranda dengan menangkup kedua pipi anaknya itu.
"Anak Mamah dong! Siapa lagi kalau bukan anaknya Mamah". Balas Louis diiringi gelak tawa keduanya.
"Yaudah Mamah bantuin kamu pake dasinya ya". Mamah Miranda kemudian memakaikan dasi kupu-kupu berwarna hitam itu dileher baju Louis.
"Nanti kalau kamu udah nikah sama Allena, dia yang bakalan pakein kamu dasi terus setiap harinya". Mamah Miranda sengaja menggoda anaknya itu, membuat pipi Louis terasa memanas salting.
"Mamah apaan sih!?
"Yakan benar yang Mamah omongin. Emang salah?
"Udah ah Mah, biar Louis pake sendiri dasinya kalau gitu". Louis segera berbalik menghindar dihadapan Mamahnya itu.
"Ciee malu-malu anak Mamah". Goda Mamah Miranda membuat Louis semakin salah tingkah sendiri.
Hingga jam 11 siang acara baru akan dimulai.
Semua persiapan telah selesai. Mulai dari hidangan, sampai penataan panggung yang akan digunakan sebagai tempat bertukarnya cincin antara Allena dengan Louis.
Para tamu undangan terlihat mulai berdatangan yang hanya dihadiri oleh kerabat kerja Papah Robert dan juga Daddy Anthony.
Memang acara tersebut terlihat sangat mewah karena hotel Papah Robert merupakan salah satu hotel berbintang dengan fasilitas yang lengkap dan memadai.
Namanya juga banyak duit, masa nggak digunain. Iya nggakðŸ¤ðŸ˜…
Dan kini kita telah tiba diacara yang paling terpenting yaitu acara tukar cincin antara Allena dan Louis.
"Ayo Allena, pasangkan cincinnya di jari Louis". Seru Papah Robert.
Allena memandangi cincin yang ada ditelapak tangannya saat ini. Air mukanya terlihat datar seperti memikirkan sesuatu.
"Ayo Allena, tunggu apa lagi". Sekali lagi Papah Robert menegur anaknya itu yang terlihat diam saja dari tadi.
Seketika Allena menghembuskan nafasnya perlahan. Gadis itu kemudian mulai memasangkan cincin di jari manis Louis.
Semua orang yang ada disana langsung bertepuk tangan setelah acara pertukaran cincin itu selesai.
Sementara Allena langsung menghadap kedepan dan hanya memandangi suasana hotel yang penuh dengan para tamu undangan.
Gadis itu berdiam diri sedari tadi dengan tatapan datarnya tanpa berniat sedikitpun berbicara dengan siapapun orang-orang yang ada disana.
Sedang Louis hanya melirik Allena dengan ujung matanya. Pria itu dapat merasakan bahwa sebenarnya Allena memang sangat tidak menginginkan pertunangan ini.
Tapi tidak dengan Louis. Pria itu akhirnya bisa merasa sangat senang. Karena dengan adanya ikatan pertunangan ini, dia bisa mengikat Allena dan bisa melarang Allena untuk dekat dengan pria manapun apa lagi.... Aziel, ya Aziel. Pria itu adalah salah satu alasan Louis ingin menjauhkan Allena dari pria yang bernama Aziel itu.
Sementara itu di tempat lain lebih tepatnya di apartemen Aziel, terlihat pria itu menatap tajam kearah wanita yang saat ini berada di atas ranjangnya, menutupi tubuhnya yang tanpa sehelai benang pun dengan menggunakan selimut.
Aziel melempar vas bunga ke tembok hingga pecah berkeping-keping.
"Maksud lu apa ha? Maksud lu kita udah tidur bareng, gitu!?". Bentak Aziel dengan keras ke arah wanita itu.
"Beneran El, gue nggak bohong. Lo sendiri yang bawa gue kesini, terus maksa buat kita ngelakuin hal itu". Itu ternyata Regina. Gadis itu terlihat menangis sesenggukan dengan selimut yang menutupi tubuhnya.
"Cih". Aziel berdecih dengan senyum miringnya, "Lu kira gua percaya ama yang lu omongin. Jelas-jelas gua di club semalam sendirian. Gimana bisa gua jadi tidur ama lu?". Aziel tentu saja tak percaya dengan omongan Regina. Bisa saja gadis itu mengada-ada cerita untuk meminta pertanggung jawabannya. Padahal Aziel sama sekali tak merasa tidur dengan Regina apalagi sampai melakukan hubungan se*x. Pasti Regina telah merencanakan sesuatu dibalik ini semua.
Tapi satu hal yang membuat Aziel bingung. Saat dia bangun tadi, dia sudah mendapati Regina yang tidur disampingnya dengan memeluk gadis itu.
__ADS_1
"Maksud lo apa ngomong kaya gitu? Lo kira gue cewek apaan? Jelas-jelas lo emang ngelakuin hal itu ke gue. Dan sekarang lo malah ngatain gue bohong". Regina dengan wajah sendunya menatap Aziel dengan mata yang sembab dan memerah.
"Diem lu!". Sentak Aziel keras, "Gua nggak bodoh ya! Lebih baik lu sekarang keluar dari apartemen gua, sebelum gua buang lu dari jendela kamar ini. Pergi sana!". Jangan kira Aziel adalah pria baik ya. Dia tak akan segan-segan berbuat kasar meskipun itu cewe sekalipun. Apalagi dengan wanita yang ada dihadapannya saat ini.
"Tapi El, gue udah nggak ada baju. Pakaian gue udah lo robek semuanya pas gue coba ngeberontak semalam". Aziel sontak memandangi pakaian yang berserakan dilantai. Semuanya terlihat robek tak bisa dikenakan lagi.
"Gua nggak peduli. Gua cuman mau lu keluar dari sini sekarang juga, atau lu mau gua buang sekarang juga!". Aziel tentu saja tak peduli dengan keadaan Regina. Mau dia nggak ada pakain kek, telanjang kek, apa kek. Sungguh Aziel sangat-sangat tak peduli.
"El, gue..
"Keluar sekarang!!". Bentak Aziel dengan kerasnya.
Regina hanya bisa meremas selimut yang dikenakannya saat ini. Melihat Aziel yang seperti itu, membuat nyalinya menciut.
Dengan segera Regina turun dari ranjang dengan selimut yang dikenakannya untuk menutupi tubuh bugilnya.
Gadis itu kemudian mengambil tas kecilnya dilantai lalu berjalan keluar dari apartemen Aziel dengan masih memakai selimut tebal tadi.
Sementara Aziel hanya memandang kepergian Regina dengan tatapan yang sangat tajam seperti ingin memakan orang saja. Sungguh menyeramkan.
Aziel kemudian menatap ranjang yang ada dihadapannya saat ini.
Sesaat kemudian Aziel meraih ponselnya diatas nakas lalu menelpon seseorang.
Hari ini Aziel akan berencana untuk pindah apartemen.
Sungguh menjijikkan bila mengingat dia benar-benar melakukan hubungan badan dengan wanita seperti Regina.
Tidak dalam mimpinya ataupun kehidupannya.
...*****...
Hingga pukul 5 sore acara pertunangan Allena dengan Louis selesai.
Para tamu undangan berangsur-angsur berkurang meninggalkan hotel dan sudah mulai sepi.
"Selamat ya buat kalian berdua. Sekarang kalian berdua sudah resmi bertunangan". Itu Mamah Miranda, mengucapkan selamat untuk Allena dan Louis.
"Iya Mam. Makasih ya". Balas Louis dengan tersenyum.
"Yasudah, kalau gitu kalian berdua istirahat. Pasti kalian capekan". Timpal Mommy Tiara.
"Tapi kalian belum boleh tidur berduaan ya. Kan belum resmi jadi suami istri, baru tunangan". Mamah Miranda sengaja menggoda.
Allena hanya memasang tampang datarnya, gadis itu kemudian membalas, "Siapa juga yang mau tidur berdua, huh!". Segera Allena berbalik, mengangkat gaunnya dan mulai melangkahkan kakinya dari sana.
Seorang staff hotel dengan sigap membantu Allena.
"Maaf atas sikap Allena yang barusan ya Miranda. Allena memang seperti itu anaknya, langsung menyampaikan unek-uneknya tanpa mengatur cara bicaranya". Mommy Tiara merasa sangat tidak enak akan sikap Allena barusan terhadap kedua orang tua Louis.
"Tidak apa-apa Titi(nama panggilan akrab Mamah Miranda untuk Mommy Tiara). Dari dulu aku sama Anthony memang sudah mengerti akan sikap anak kamu itu. Dia kan ambil sifat Papahnya, makanya kaya gitu". Ucap Miranda dengan sedikit menyinggung Papah Robert.
Sementara yang disinggung hanya diam tak berniat membalas. Takutnya Papah Robert dan Mamah Miranda akan berakhir saling berdebat seperti waktu mereka masih muda dulu yang suka sekali berdebat dengan hal sekecil apapun.
"Kalau gitu Louis juga ke kamar duluan ya Mam, Dad, Om, Tante. Louis juga mau istirahat". Ucap Louis kemudian.
"Iya Sayang". Balas Mamah Miranda.
Segera Louis juga pergi dari sana menuju kamarnya.
Hari ini memang benar-benar hari yang sangat melelahkan bagi mereka semua.
TING!!
Ponsel Allena berbunyi menandakan ada pesan masuk.
Allena yang masih membersihkan make up diwajahnya didepan meja rias segera beranjak mengambil ponselnya diatas ranjang.
Allena kemudian membuka isi pesan tersebut yang ternyata berasal dari nomor yang tak dikenalinya.
Allena sontak menghentikan aktifitasnya membersihkan sisa make up diwajahnya menggunakan tissue basah dengan terus memandangi layar ponselnya.
Alisnya terlihat mengkerut mendapati pesan yang berasal dari nomor tak dikenalinya itu.
__ADS_1