
Harsana telah sampai lebih dahulu dia menunggu kedatangan Alex dan Ameera dengan harap-harap cemas, ada perasaan bahagia namun juga takut akan penolakan Ameera seperti yang dia lakukan dulu.
Hampir lima belas menit menunggu akhirnya Alex memasuki pintu restauran dengan menggandeng tangan sang istri dan si kecil Alea di gendongannya. melihat itu Harsana mendadak menjadi gugup dia bingung apa yang harus di katakan pada ameera.
"maaf membuat anda menunggu." kata Alex begitu sampai di meja yang mereka pesan.
"ti..tidak apa-apa, pa...papa belum lama sampai, ayo silahkan duduk." jawab Harsana dengan gugup.
"anda apa kabar tuan.. maksud saya papa mertua?" tanya Alex setelah dirinya duduk di Sebrang Harsana bersama dengan istrinya.
"papa baik.. ka..kalian apa kabar?" ucap Harsana dengan nada bergetar, dia menatap ke arah Ameera yang masih menunduk tanpa melihat ke arahnya.
"kami juga baik." jawab Alex dengan singkat, kemudian dia menoleh ke arah istrinya yang masih menunduk Alex paham dengan apa yang di rasakan oleh istrinya dia pun menggenggam tangan Ameera seolah mengatakan semua akan baik-baik saja.
"Ameera... pa..papa mint.." ucap Harsana memandang sendu ke arah anaknya.
"aku rasa lebih baik kita makan dulu setelah itu kita lanjutkan lagi ngobrolnya." potong Alex sebelum Harsana selesai berbicara.
__ADS_1
Selama makan malam suasana tampak hening tidak ada obrolan satupun, mereka sibuk dengan pemikiran masing-masing.
"baiklah... sebelumnya terimakasih karena papa mertua mau meluangkan waktunya untuk makan malam bersama kami, tapi sebenarnya ada tujuan lain kenapa aku mengundang papa kesini." ucap Alex setelah mereka menghabiskan makan malamnya.
"Apa ada sesuatu nak?" tanya Harsana penasaran.
"ini semua karena permintaan istriku, dia ingin sekali bertemu dengan orang tua yang selama hidupnya selalu menyakiti putrinya sendiri.." kata Alex yang sepertinya mulai terpancing emosi.
"mas..." ucap Ameera dengan menggeleng, memberikan isyarat pada suaminya untuk tidak berbicara kasar pada papanya.
"papa.." panggil Ameera dengan suara yang kecil namun masih bisa di dengar oleh Alex dan Harsana.
"nak.. maafkan papa, papa menyesal karena selama ini papa buta akan kenyataan papa selalu menyakiti kamu, maaf kan papa nak." tangis Harsana bersimpuh di depan Ameera.
"papa jangan begini pa.., ayo bangun pa." pinta Ameera dengan menuntun papanya untuk berdiri dan kembali duduk di kursinya.
"Ameera.. papa mohon maaf kan papa nak, papa rela melakukan apa saja asal mendapatkan maaf dari putri papa hiks..hiks..hiks.." ucap Harsana bersamaan dengan air matanya yang terus mengalir.
__ADS_1
"pa.. mau seperti apapun papa tetaplah orang tua Ameera, meskipun Ameera membenci papa pun tidak bisa merubah kalau papa akan selamanya menjadi orang tua Ameera pa.. hiks...hiks.." jawab Ameera.
"maaf nak.., papa memang tidak pantas menjadi orang tua yang baik nak. papa ikhlas kalau kamu memang membenci papa tapi papa mohon berikan sedikit saja maaf untuk orang tua bodoh ini." kata Harsana dengan penuh harap.
"Ameera sudah memaafkan papa.. jangan terus menyalahkan diri pa, Meera tahu papa seperti itu karena terlalu mencintai mama." jawab Ameera dengan tulus.
"benarkah kamu memaafkan papa nak, terimakasih terimakasih banyak nak. kamu memang baik seperti mamamu, pasti mamamu bangga di atas sama memiliki putri yang baik dan tulus seperti kamu." ucap Harsana dengan penuh haru.
"Lupakan masa lalu pa, kita buka lembaran baru lagi. semua orang pernah melakukan kesalahan dan berhak mendapatkan kesempatan kedua untuk berubah menjadi lebih baik." kata Ameera dengan tersenyum, Alex yang mendengar perkataan Istrinya tersenyum bangga betapa beruntungnya dia memiliki istri dengan hati yang begitu tulus. Alex tidak mau ikut campur dengan keputusan sang istri untuk memaafkan papanya dengan begitu cepat karena dia juga menyadari dirinya tidak lebih baik dari papa mertuanya.
"apa papa boleh memeluk kamu nak?" Pinta Harsana dengan mata yang sudah kembali berair.
Tanpa pikir pajang ameera langsung berdiri memeluk erat papanya, mereka berdua menangis haru saling berpelukan melepaskan rindunya.
"Ameera bahagia pa.. akhirnya Meera bisa merasakan pelukan papa hiks..hiks.." ucap Ameera di sela pelukan eranya bersama sang papa.
"maafkan papa nak, mulai sekarang apapun yang kamu inginkan papa akan berusaha memberikannya untuk putri papa." jawab Harsana sambil mencium pucuk kepala Ameera.
__ADS_1