
Pagi hari Harsana sudah sibuk di warung miliknya tiba - tiba handphone miliknya berbunyi setelah melihat ternyata bik Jum yang menghubungi nya Harsana segera mengangkat telepon tersebut karena dia sudah menunggu kabar dari bik Jum berbulan-bulan lamanya.
"Halo bik." sapa Harsana setelah menggeser layar handphonenya.
"Halo pak, apa bapak ada waktu hari ini?" tanya bik Jum di sebrang sana.
"tentu saja bik, apa bibik sudah bisa menceritakan semuanya pada saya bik." jawab Harsana dengan bersemangat.
"iya pak saya akan menceritakannya kepada Bapak, saya ingin bapak mengetahui kebenaran ini agar saya juga merasa lega nantinya." ucap bik Jum
"Baiklah bik siang ini kita bertemu di taman depan komplek saja, supaya bibik tidak perlu datang jauh-jauh." kata Harsana masih dengan semangatnya.
"baik pak." kemudian bik Jum menutup sambungan teleponnya.
.
.
__ADS_1
.
***
Disinilah saat ini Harsana bersama mantan Asisten rumah tangga yang sudah bekerja dengan dirinya puluhan tahun, bahkan sudah dianggap seperti orang tuanya sendiri.
"Jadi apa yang ingin bibik sampaikan?" tanya Harsana yang sudah penasaran sedari tadi.
Bik Jum tampak menghela nafas sebentar lalu mulai bercerita.
"Apa bapak ingat saat bapak pulang dari rumah sakit dan tidak mendapati non Ameera tidak ada dirumah? saat itu anda sangat murka padanya tanpa mendengarkan penjelasannya, sampai anda tega memukul dan mengurung non Ameera di dalam gudang semalaman." kata bik jum dengan mata berkaca - kaca.
Harsana hanya diam saja lidah nya terasa kelu, dia baru menyadari bahwa selama ini dirinya benar - benar kejam.
"Saat anda di rawat di rumah sakit, anda membutuhkan donor darah dan kebetulan persediaan dirumah sakit sedang kosong. apa bapak tahu siapa yang mendonorkan darahnya untuk anda?" tanya bik Jum.
dan lagi - lagi Harsana hanya terdiam, tidak mampu menjawab sama sekali, namun dalam hatinya dia menolak dugaanya.
__ADS_1
"non Ameera pak, dialah yang mendonorkan darahnya pada anda, padahal saat itu keadaanya sedang tidak baik - baik saja, Semalaman anda menyuruhnya tidur di teras hingga membuat non Meera demam namun meskipun begitu saat mendengar bapak kecelakaan dia tetap mengkhawatirkan bapak bahkan rela mendonorkan darahnya untuk anda." bik Jum kembali menangis padahal dia sudah menahan agar tidak menangis lagi.
"karena keadaannya yang lemah, dia harus di rawat dua hari di rumah sakit namun saat dia pulang justru apa yang dia dapatkan pak, yang dia dapatkan adalah makian dan pukulan dari anda." ucap bik Jum sambil mengusap air matanya.
Deg ...!!
"Jadi.." ucap Harsana menatap bik Jum tidak percaya.
"benar pak, non Ameera sudah berkorban banyak untuk anda dia sama sekali tidak membenci bapak ataupun ibu meskipun setiap hari kalian menyakitinya." kata Bik Jum memotong ucapan Harsana.
"ada satu lagi pak, saat bapak kehilangan uang dan anda menuduh non Meera hanya karena bapak percaya dengan perkataan bu Nisa hingga bapak tega mengurung non Ameera di kamar mandi. Sebenarnya pelaku nya adalah non Risa pak. saya tidak berbohong sama sekali saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, tapi saat itu saya juga tidak bisa berbuat apa-apa untuk membela non Ameera karena saya di ancam oleh ibu." kata bik Jum menatap ke depan seolah melihat kejadian itu lagi.
"kenapa aku begitu bodoh bik, kenapa tidak dari dulu bibik memberitahu semuanya padaku hiks... hiks .." Harsana kembali merasakan penyesalan yang membuat hatinya sakit.
"Apa kalau saat itu saya berbicara seperti ini anda akan percaya pak? tidak pak, karena saat itu mata hati anda tertutup penuh dengan kebencian yang tidak mendasar." jawab Bik Jum membuat Harsana tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"saya rasa semuanya sudah cukup, saya permisi pak. Tolong jika non Ameera sudah ditemukan tebus semua kesalahan bapak padanya dan semoga saat itu tiba semua belum terlambat." Setelah mengatakan itu bik Jum langsung meninggalkan Harsana seorang diri.
__ADS_1