
Brakk..
"papa kenapa sih, pulang - pulang membanting pintu." omel Nisa pada suaminya.
"Hancur... hancur sudah semua usahaku selama ini. kita sudah tidak punya apa - apa lagi." ucap Harsana tertunduk lemas.
"maksud papa apa?" tanya Nisa tidak mengerti.
"kita sudah tidak punya apa - apa lagi ma. perusahaan sudah jatuh ke tangan pihak lain, sekarang yang kita satu - satunya hanya rumah ini ma." lirih Harsana menjambak rambutnya kasar.
"tidak pa.. ini tidak mungkin, mama tidak mau kita jatuh miskin pa mama tidak mau. Apa kata teman - teman arisan mama nanti pa? mama malu pa." rengek Nisa tidak terima.
"Di saat seperti ini mama masih memikirkan teman - teman arisan mu hah? papa benar - benar tidak menyangka ternyata ini sifat aslimu." bentak Harsana yang kini berdiri tepat di hadapan sang istri.
"lalu kamu apa hah? ingin berpisah dari ku iya? jangan sangkut pautkan aku dengan masalahmu. harusnya yang patut disalahkan itu anak pembawa sial itu, kalau saja dia tidak melarikan diri saat ini pasti kamu bisa meminta bantuan pada suaminya." teriak Nisa membalas ucapan Harsana.
__ADS_1
Plak.. Plak..
Harsana yang merasa tidak terima dengan ucapan Nisa menampar pipi Nisa.
"jaga ucapan mu, putriku sudah berkorban banyak untuk mu dan anak haram mu itu. bahkan aku dengan bodohnya menyia-nyiakan dirinya demi putrimu yang bahkan tidak ada hubungan darah sama sekali denganku." Bentak Harsana mencengkram wajah istrinya.
"tutup mulutmu!! anakku bukan anak haram." Nisa menggelang cepat.
"lalu dimana ayah dari Risa saat ini? hah, bahkan kamu hanya diam saja tidak bisa menjawab." kata Harsana melihat Nisa yang diam mematung, wajahnya sudah memerah menahan amarah.
" tidak aku tidak akan membiarkan kamu menjual rumah ini, kamu tidak bisa seenaknya sendiri pa. apa kamu lupa bahkan keadaan Risa semakin memburuk." teriak Nisa melihat Harsana sudah menaiki tangga.
" Kamu tidak ada hak atas rumah ini, aku tidak membutuhkan persetujuan dari mu." Harsana segera melanjutkan langkahnya ke ruang kerjanya di lantai atas.
Setelah kepergian Suaminya Nisa menangis terduduk di lantai, semua impiannya menjadi orang kaya hancur sudah.
__ADS_1
semua harta kekayaan suaminya sudah habis tidak tersisa bahkan rumah ini juga terancam dijual.
Belum lagi keadaan putrinya yang semakin hari semakin parah, Risa mengalami gangguan jiwa setelah semua kasus yang menimpa dirinya terbongkar oleh publik, bahkan orang - orang juga mengetahui kalau ternyata dirinya adalah simpanan pria beristri.
Tidak kuat menerima gunjingan dari orang - orang sekitar membuat mentalnya terganggu.
"Hiks...Hiks .. tidak aku tidak mau jatuh miskin, aku harus melakukan sesuatu, aku tidak mau pergi dengan tangan kosong." Nisa berucap sambil mengepalkan tangannya dengan erat.
"Setidaknya aku harus mendapatkan bagian dari rumah ini.
aku harus menemukan anak sialan itu dan memberinya pelajaran." Nisa mulai menyusun rencana.
Sedangkan di ruangannya, Harsana membanting semua barang - barang miliknya meluapkan semua emosinya.
"hah.. hancur hancur semua yang aku punya.
__ADS_1
Sekarang aku harus apa. Aaaaaaakh !!! Anak kandung yang selama ini tidak aku anggap keberadaannya sekarang pergi entah kemana, dan kini Hartaku habis tidak bersisa." Maki Harsana pada dirinya sendiri.