
"tu.. tuan anda tidak apa-apa?" tanya Ameera yang tanpa sengaja melihat air mata alex jatuh.
Alex masih terus memperhatikan anaknya yang tengah bermain hingga tidak mendengar ucapan ameera.
"tuan.." panggil ameera kemudian karena Alex hanya diam saja.
"i.. iya ada apa? apa kamu membutuhkan sesuatu?" tanya Alex setelah tersadar dari lamunannya.
"tidak ada tuan, saya hanya bertanya kenapa anda menangis?" ucap ameera.
"A..apa dia itu kamu yang membuatnya sendiri?" tanya Alex sambil menunjuk mainan sang anak.
"itu Amel yang membuatnya tuan, katanya kalau dia sedang sekolah dan saya sedang bekerja Alea tidak menangis." jawab Ameera sambil tersenyum.
Alex yang biasanya arogan dan suka memerintah orang lain seenaknya dibuat tidak bisa berkutik sama sekali melihat bagaimana mereka berjuang hidup dengan segala keterbatasan yang ada namun masih bisa tersenyum bahkan tertawa.
"kalau boleh tahu Amel itu siapa mer? kenapa kamu dia bisa bersama dengan kamu?" tanya Alex lagi meskipun orang suruhannya sudah memberikan informasi namun dia masih ingin mendengar langsung dari Ameera.
"saya bertemu dengannya sejak pertama kali menginjakkan kaki di daerah ini tuan, Dia sudah tidak memiliki keluarga dia hidup seorang diri disini sampai akhirnya dia membatu saya dan menawarkan tempat tinggal ini, saya merasa beruntung sekali bisa bertemu dengan anak hebat seperti dia." jawab Ameera dengan mata berkaca-kaca memandang ke arah Amel.
"Saya juga bisa melihat dia begitu sayang terhadap Alea." kata Alex menimpali ucapan Ameera.
__ADS_1
"Saya pun juga sangat menyayanginya tuan, sama seperti Alea." jawab Ameera dengan bangga.
"Ameera... apakah saya masih boleh mengunjungi kalian maksud saya datang menemui Alea lagi?" tanya Alex mencoba mendekatkan dirinya.
"silahkan tuan, anda juga orangtuanya saya tidak akan melarang anda bertemu dengan Alea. tapi kalau bisa jangan malam hari tuan saya tidak enak dengan tetangga sekitar." jawab Ameera, dia tidak bisa egois memisahkan anak dan ayahnya.
"Terima kasih Ameera, terimakasih banyak." kata alex dengan bahagia.
Ameera hanya membalas dengan senyuman, meskipun dia masih trauma berdekatan dengan Alex namun dia harus mengesampingkan hal tersebut demi anaknya.
Kemudian Alex pamit dari sana dan menghubungi pak Diman untuk menjemputnya di jalan depan tadi.
.
.
.
"sudah tuan kira-kira setengah jam dari sini, tapi tempatnya tidak terlalu mewah." jawab pak Diman sambil mengemudikan mobilnya.
"tidak apa-apa pak, yang penting bisa dipakai istirahat sementara."ucap Alex dengan menyenderkan kepalanya di bangku.
__ADS_1
tidak lama kemudian handphone miliknya berbunyi awalnya Alex mengabaikan panggilan tersebut namun lagi-lagi handphonenya berbunyi lagi.
"halo." jawab Alex dengan malas.
"Berani sekali kamu mengabaikan panggilan dari Istriku." bentak Dirga pada anaknya.
"kenapa sih pa? kalau mau marah-marah Alex tutup telponnya sekarang." jawab Alex dengan kesal.
"mamamu mau bicara dengan kamu." ucap Dirga tidak kalah kesalnya.
"iya.. iya apa? Alex capek sekali ini.
"kamu dimana sekarang lex?" tanya Mila pada anaknya.
"Alex lagi dijalan ma, ada apa?" tanya Alex.
"Bagaimana apa kamu sudah bertemu dengan menantu dan cucu mama?" tanya Mila tidak sabaran.
"dari mana mama tahu kalau Alex menemui Ameera?" tanya Alex.
"tidak perlu tahu yang penting jawab saja pertanyaan mama, apa kamu sudah bertemu dengan mereka." ucap Mila dengan penasaran.
__ADS_1
"iyaa sudah, Alex sudah bertemu mereka."