
Begitu sampai di kantor keduanya kembali melakukan pekerjaannya masing-masing.
Sampai saatnya jam pulang kantor tiba, Kirana segera membereskan berkas-berkas yang ada di meja kerjanya dan bersiap untuk pulang.
Baru saja dia melangkah tiba-tiba namanya di panggil dari arah belakang.
"Kira.. tunggu!!!" panggil Dio.
"eh... ada ada pak? ini sudah jam pulang kantor kan?" tanya Kirana memastikan, siapa tahu Dio masih butuh bantuan darinya.
"aku akan mengantar kamu pulang." jawab Dio tanpa ekspresi.
"tidak usah pak lagian ini masih sore saya bisa pulang sendiri." tolak Kirana.
"Memang aku memberi kan kamu pilihan." ucap Dio.
Dio langsung berjalan dan menggandeng tangan Kirana membawanya ke mobil.
"Dia ini kenapa sih selalu saja seenaknya sendiri, untung bos." gerutu Kirana dalam hatinya.
__ADS_1
"Bapak tidak perlu repot-repot mengantar saya lagian arah kita juga berbeda lebih baik pak Dio langsung pulang saja biar bisa langsung istirahat di rumah." tawar Kirana begitu mereka sudah duduk di dalam mobil.
"kamu mengkhawatirkan keadaanku?" tanya Dio menoleh sekilas ke arah Kirana.
Kirana langsung menoleh ke arah Dio dan sempat terbengong beberapa saat.
"hah.. maksudnya apa? aku mengkhawatirkan dirinya? mana ada.. padahal aku hanya berusaha mencari alasan agar dia tidak perlu mengantar ku." kata kirana dalam hatinya.
"Kenapa diam, jadi benar kamu mengkhawatirkan aku?" tanya Dio lagi.
"tidak pak, yasudah kalau memang bapak mau mengantarkan saya pulang terserah. Kalau begitu ayo jalan." jawab Kirana, lalu mengalihkan pandangannya ke luar jendela.
Sepanjang perjalanan Kirana masih asik melihat pemandangan sore hari di luar, sedangkan Dio sesekali dia menoleh ke arah Kirana yang ada di sampingnya.
"iya pak saya ingat." jawab Kirana tanpa mengalihkan pandangannya.
"kamu tidak terpaksa kan mengiyakan keinginan opa kemarin?" tanya Dio, dia ingin tahu kenapa Kirana selalu memenuhi keinginan opanya.
"tidak kok pak justru saya senang kalau opa mau berkunjung ke rumah itu berarti beliau bukan orang yang melihat seseorang dari status sosialnya. Beliau sangat baik orangnya, saya juga sudah menganggap opa seperti kakek saya sendiri." jawab Kirana tanpa ragu.
__ADS_1
Dio tidak lagi bertanya namun bibirnya tersenyum mendengar ucapan kirana barusan.
Sampailah mereka di gang tempat biasa Dio memarkirkan mobilnya setiap mengantar Kirana.
"terimakasih pak atas tumpangannya." ucap kirana sebelum turun dari mobil.
"sama-sama." jawab Dio, kali ini dia tidak ikut turun karena hari masih sore dan masih banyak warga yang berkumpul dia tidak enak kalau menjadi omongan nantinya.
Setelah memastikan Kirana berjalan menuju ke rumahnya Dio segera menjalankan mobilnya untuk pulang.
Di perjalanan Dio masih terus tersenyum sendiri entah apa yang di pikirkan bahkan kini sepertinya dia juga setuju dengan rencana opa Hardi besok untuk datang ke rumah Kirana.
"fokus Dio.. fokus." ucap Dio, dengan menggeleng kepalanya.
Begitu sampai di rumah Dio langsung masuk ke dalam rumah, tujuannya saat ini adalah kamarnya namun saat akan menaiki tangga tiba-tiba opa memanggil dirinya.
"Dio.. tumben jam segini baru sampai rumah?" tanya Opa Hardi yang membawa cangkir di tangannya.
"Tadi Dio mengantar Kirana dulu opa." jawab Dio jujur.
__ADS_1
"Benarkah.. Opa senang sekali kalau kamu sudah mulai dekat dengan Kirana." ucap Opa hardi yang tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya.
"iya opa, sudah ya Dio ke atas dulu mau bersih-bersih." kata Dio.