Ameera Ku Sayang

Ameera Ku Sayang
Awal Kehancuran Harsana


__ADS_3

"kenapa papa bawa - bawa koper segala?" tanya Nisa yang melihat suaminya berjalan membawa koper.


"Rumah ini sudah papa jual ma, dan besok pemilik barunya akan kemari jadi dari pada mama banyak tanya lebih baik kemasi semua barang - barang mama." jawab Harsana mendudukan dirinya di kursi.


"papa tidak bisa dong main jual begitu saja tanpa berdiskusi dengan mama dulu. pokoknya mama tidak mau." kata Nisa yang masih kekeh padahal pendiriannya.


"apa perlu aku ingatkan lagi kalau rumah ini aku beli saat masih bersama ibunya Ameera dan kamu tidak punya hak apapun atas rumah ini. Lagi pula papa menjual rumah ini untuk menutup hutang - hutang kita ma, tinggal rumah ini yang tersisa untuk menutup gaji para karyawan." kata Harsana yang sudah sangat jengah dengan kelakuan istrinya.


"maksud papa kita sudah jatuh miskin dan tidak punya apa - apa lagi begitu?" kata Nisa dengan suara yang melemah karena terlalu kaget.


"bukankah sudah jauh - jauh hari papa sudah memperingatkan mama untuk lebih berhemat karena perusahaan sedang bermasalah tapi mama tidak peduli dengan itu, sekarang terima saja nasib kita yang sudah tidak memiliki apa - apa lagi." kata Harsana membalas ucapan istrinya.

__ADS_1


"lalu sekarang kita akan kemana pa?" Lirih Nisa dengan pandangan kosong.


"kita pindah ke rumah yang lebih kecil ma, kalau mama mau ikut papa tunggu 30 menit dari sekarang. kalau tidak mau yasudah papa pergi sendiri. Kami pergi saja menemani anakmu di penjara." Tegas Harsana pada istrinya.


Dengan langkah gontai Nisa menuju ke kamarnya, dengan malas Nisa mulai membereskan barang - barang miliknya.


tidak ketinggalan koleksi beberapa tas mewah miliknya dan juga perhiasan yang masih dia punya.


Setelah selesai membereskan semua barang-barang nya, Harsana beserta istrinya meninggalkan rumah penuh kenangan tersebut. Sebelum menaiki taksi Harsana sempat berpamitan terlebih dahulu pada bik Jum.


"Terima kasih banyak bik, atas kesetiaan bibik pada keluarga saya maafkan saya kalau saya ada salah bik. Semoga bibik betah dengan pemilik rumah yang baru ya bik." pamit Harsana pada wanita tua di depannya.

__ADS_1


"iya pak, bibik juga minta maaf kalau selama ini bibik melakukan kesalahan, kalau bapak ada waktu bisa kita bertemu pak, ada sesuatu yang belum bibik beritahu pada bapak." jawab bik Jum dengan mata berkaca-kaca, dia merasa sedih harus berpisah dengan majikan yang sudah bersamanya selama puluhan tahun, bahkan sebelum Ayah dari Ameera menikah bik Jum sudah mengabdi di rumah ini.


"tentu bik, kapanpun bibik siap menceritakan semuanya bibik bisa hubungi saya. Sekali lagi terimakasih dan maaf kalau saya ada salah, saya pamit dulu bik." kata Harsana kemudian dia menuju ke taksi yang sudah di pesan.


bik jum hanya bisa mengangguk sambil mengusap air matanya.


"Hati - hati pak buk, Semoga kalian selalu baik - baik saja dimanapun kalian berada. dan semoga bapak segera bertemu dengan non Ameera untuk meminta maaf dan membuka lembaran baru yang lebih baik kedepannya." Batin bik sumi sambil melambaikan tangannya, melihat taksi majikannya sudah meninggal kan halaman rumah.


"ck.. hanya pamitan sama pembantu saja lama banget sih pa." omel Nisa pada suaminya.


Namun tidak di tanggapi oleh Harsana, karena ayah dari Ameera itu fokus menatap ke jalanan.

__ADS_1


__ADS_2