
"benar nak, dia belum pernah sekalipun berkunjung kesini setelah menikah, syukurlah kalau keadaanya baik - baik saja." kata Harsana sedikit lega berarti ucapan Dio tidak lah benar, rasa bersalah nya pada Ameera sedikit berkurang.
Alex tidak lagi membalas ucapan ayah Ameera namun wajahnya mulai memerah menahan emosi, sungguh pandai sekali ayah mertuanya ini berakting seolah - olah dirinya seorang ayah yang menyayangi anaknya.
.
.
.
Setelah dari rumah orang tua Ameera membuat suasana hati Alex memburuk, sehingga Alex memutuskan untuk tidak berangkat ke kantor. Sepanjang perjalanan alex mengemudikan mobilnya dengan pelan, matanya tidak luput menengok ke kanan kiri berharap menemukan sosok Ameera. Namun semuanya tinggal harapan karena sampai sore hari Alex tidak mendapatkan apapun. bahkan Alex sampai melewatkan jam makan siangnya rasa lapar dan lelahnya tidak dirasakan. yang ada sekarang adalah rasa bersalah begitu besar pada wanita yang berstatus istrinya.
Sampai pukul 9 malam baru Alex memutuskan untuk pulang ke rumah. sesampainya di rumah dia tidak langsung naik ke atas, kakinya melangkah ke kamar belakang tempat Ameera beristirahat selama beberapa bulan tinggal disini.
Begitu pintu kamar terbuka hatinya merasakan sesak, bagaimana mungkin ruangan yang sempit dan panas seperti ini bisa di pakai untuk istirahat.
Alex melanjutkan langkahnya ke samping kasur tipis yang sudah usang, tangannya meraba kasur tersebut tanpa sengaja kakinya menginjak bungkus plastik, karena penasaran dia membuka bungkusan tersebut.
__ADS_1
Deg!!!
hatinya terasa tercubit melihat isi di dalam plastik itu ternyata makanan yang tempo hari di banting dan di injak olehnya bukan itu saja dengan kasar alex juga mendorong tubuh ringkih istrinya.
"apa yang sudah aku lakukan, bahkan dia masih mengambil makanan yang sudah rusak itu, aku benar - benar brengsek benar kata Dio aku tidak pantas mendapatkan maaf darinya." lirih Alex dengan mata berkaca - kaca.
Setelah puas merenung, Alex menuju ke kamarnya di lantai atas. yang di lakukan hanya melamun di balkon kamar tanpa berniat melakukan apapun.
.
.
.
.
Ameera saat ini berada di dalam bus tanpa tujuan yang pasti, setelah memastikan keadaan aman Ameera memutuskan pergi dari rumah mbok Sumi tanpa sepengetahuan siapapun termasuk bu Rini. Ameera benar - benar ingin memulai hidup barunya berdua dengan anaknya.
__ADS_1
Beruntung dia masih memiliki uang dari kera kerasnya menjadi buruh setrika selama beberapa hari ini.
Setelah 5 jam perjalanan Ameera turun di terminal yang bahkan dia tidak tahu sama sekali nama daerahnya. tekatnya sudah bulat untuk meninggalkan semua masa lalu nya yang menyakitkan. setelah pagi tiba Ameera melanjutkan mencari tempat tinggal untuk dirinya.
Entah sudah berapa jauh Ameera berjalan namun dia belum menemukan tempat tinggal untuk dirinya karena kebanyakan mematok harga yang tinggi perbulannya, ada yang terjangkau namun sang pemilik enggan menyewakannya pada Ameera karena keadaanya yang sedang hamil.
.
.
.
Hari ini Dio memutuskan untuk mempercepat menjemput Ameera, karena Dio khawatir kalau Alex menemukan keberadaan Ameera lebih dulu.
"halo sen, persiapkan semuanya kita jemput Ameera sekarang juga." ucap Dio setelah panggilan teleponnya tersambung.
"kenapa mendadak, aku bahkan belum lama sampai di rumah." jawab Arsen di seberang sana.
__ADS_1
"aku beri tahu nanti, sekarang kita bertemu jalan y jangan sampai ada orang yang melihat kita bertemu." kata Dio.
"oke tunggu, setengah jam dari sekarang." ucap Arsen mengalah saja dari pada berdebat tidak ada ujungnya