Ameera Ku Sayang

Ameera Ku Sayang
Kelahiran


__ADS_3

3 bulan berlalu setelah pertemuan Harsana dan Kris, sampai sekarang masih belum ada tanda - tanda keberadaan Ameera. Harsana sempat merasa putus asa namun Kris selalu menyemangati dirinya untuk terus berusaha. Bahkan kini kehidupannya benar - benar berubah total saat ini dia membuka toko kecil - kecilan di depan kontrakan miliknya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.


Sedangkan dengan terpaksa mulai menerima kehidupan barunya meski sering kali kerap marah - marah terhadap Harsana, semua barang - barang mewahnya juga sudah habis tidak tersisa awalnya dia tergiur dengan investasi yang menggiurkan bukan keuntungan yang di dapatkan justru dirinya tertipu habis - habisan oleh temannya sendiri.


.


.


.


"pa kapan kira - kira kita kembali seperti dulu lagi?" tanya Nisa pada suaminya dengan lesu.


"sudahlah ma, terima saja apa yang ada sekarang harusnya mama bersyukur kita masih bisa makan dan memiliki tempat tinggal." ucap Harsana memberikan pengertian pada istrinya.


"apa papa tidak memikirkan bagaimana kalau teman-teman Alvaro tahu orang tuanya jatuh miskin, dia pasti malu pa." kata Nisa lagi.


"Alvaro itu anak yang baik dan pengertian ma, dia tidak akan mempermasalahkan keadaan kita yang sekarang." jawab Harsana dengan yakin.


"dari mana papa tahu, kalau papa saja jarang belum bertemu langsung dengan Al." kata Nisa memutar bola matanya malas.


"Papa sangat tahu, bahkan aku sangat bersyukur dia mengikuti sifat kakaknya Ameera yang memiliki hati lembut tidak seperti." kata Harsana, dengan rasa kecewa pada dirinya sendiri.

__ADS_1


"terserah papa saja mama pusing mau tidur hari ini papa saja yang jaga warung." kata Nisa hendak meninggalkan suaminya.


"tidak bisa ma papa harus mencari keberadaan ameera." ucap Harsana, menolak perintah Nisa.


"Ameera... Ameera terus, mama bosan mendengarnya." gerutu Nisa kemudian.


.


.


.


***


"Mel... Amel tolong kakak mel !!" panggil Ameera dari dalam rumah.


"kakak... kak Meera kenapa kak?" tanya Amel yang terkejut melihat keadaan Ameera yang sudah pucat.


"Mel.. kamu ke rumah bude tarti minta tolong bawa kakak ke puskesmas mel, sekalian tolong siapkan tas yang ada di samping kasur mel.." kata Ameera yang meminta Amel untuk meminta bantuan pada tetangga terdekatnya.


"i..iya kak, tunggu sebentar kakak harus kuat kak." kata Amel kemudian berlari menuju rumah bude tarti yang jarak rumahnya hanya terpisah oleh kebun singkong milik bude tarti.

__ADS_1


Tidak lama kemudian Amel dan bude tarti datang dengan berlarian.


"nak Ameera.. ayo ibu bantu nak, kita harus segera pergi ke puskesmas. Amel tolong bantu bude bawa tas ini ya jangan kupa kunci pintunya.


"i..iya bude." gadis kecil itu segera meraih tas yang di maksud tadi, dan segera mengunci pintu menyusul Ameera dan bude tarti.


.


.


.


***


"aw.. bude sakit bude .. isst.." lirih Ameera menahan sakit pada perut.


"kamu tenang ya nak, tarik nafas lalu hembuskan perlahan ingat nak sebentar lagi kamu akan bertemu dengan anakmu." kata bude tarti menyemangati Ameera.


tidak lama kemudian seorang Dokter datang memeriksa keadaan Ameera. setelah satu jam kemudian terdengar tangis bayi dari dalam. Bude tarti dan Amel akhirnya bisa bernapas lega mereka.


Pintu ruangan di buka, Dokter yang tadi menangani Ameera keluar mempersilahkan mereka masuk ke dalam.

__ADS_1


"Terima kasih dokter, kami masuk dulu." ucap bude tarti pada dokter.


"sudah tugas saya buk, silahkan ibu bayinya sudah bisa di temui sedangkan bayinya sedang di bersihkan." kata Dokter sambil tersenyum, kemudian pamit pada mereka.


__ADS_2