
tok.. tok..
"permisi pak, maaf sebelumnya apa saya melakukan kesalahan?" tanya bik jum dengan menunduk takut, karena tidak biasanya majikannya memanggil dirinya seperti ini.
"tidak ada bik sebenarnya ada yang ingin saya tanyakan, apa bibik mengenal teman - teman Ameera selama ini?" tanya Harsana setelah mempersilahkan bik jum duduk.
"saya tidak tahu pak, karena setahu saya selama ini non Meera tidak pernah pergi kemana - mana setelah pulang sekolah pak dia selalu pulang di jam yang sama. non Meera juga tidak pernah bercerita kepada saya kalau dia memiliki sahabat atau teman dekat." jawab bik jum seolah mengingat sesuatu.
" apa bibik yakin itu?" Harsana kembali meyakinkanm
__ADS_1
"benar pak, setahu saya non Ameera dulu selalu dikucilkan di lingkungan sekolahnya, non Ameera juga tidak pernah pergi bermain seperti anak seumurannya pak, dia hanya keluar saat pergi sekolah selebihnya sama sekali tidak keluar rumah pak." jawab bik jum dengan yakin sebab hanya dirinya lah satu - satunya orang di rumah yang mendengarkan luapan hati Ameera.
"Apa bibik bisa menceritakan bagaimana Ameera tumbuh bik?" kata Harsana dengan suara parau, matanya sudah memanas.
"non Ameera memiliki hati yang lembut pak, dia juga anak yang kuat sedari kecil non Meera selalu dikucilkan dan diejek tidak memiliki orang tua sampai tidak ada yang mau berteman dengannya pak, tapi non Ameera tidak pernah marah ataupun menangis pak dia selalu tersenyum di depan para teman - temannya. Semua berlangsung hingga non Ameera lulus SMA dia belum pernah memiliki teman tuan karena non Ameera menjadi anak yang tertutup dia merasa tidak pantas bergaul dengan siapapun." kata bik jumi mengingat anak majikannya yang sangat dia sayangi seperti anak kandungnya sendiri.
"lanjutkan bik." ucap Harsana yang sudah menangis.
"Bik, aku benar - benar ayah yang jahat bik.. aku menelantarkan putri kandungku sendiri hiks... hiks... sekarang aku tidak tahu dimana keberadaanya bik. tolong beritahu aku bik aku harus apa hiks.. hiks." Harsana menangis meraung memukul meja di depannya.
__ADS_1
"ma..maksud bapak apa?" tanya bik jum tidak mengerti.
"Ameera pergi bik.. Ameera pergi dari rumah suaminya. selama ini Ameera juga sama menderitanya di sana bik hiks...hiks.." kata Harsana menundukkan kepalanya.
Sedangkan bik jum sampai menutup mulutnya tidak percaya, Anak manis nya pergi entah kemana tanpa seorangpun yang tahu. padahal dia pikir setelah Ameera menikah dia akan hidup bahagia dengan suaminya, dia pikir Ameera sudah terbebas dari kesakitan yang dia rasakan dirumah ini.
ternyata dugaannya salah besar Ameera justru sama menderitanya.
"Kenapa kalian semua tega memperlakukan non Ameera seburuk itu, jika kalian memang tidak menginginkannya saya dengan tangan terbuka menerimanya pak, saya dengan senang hati menjaganya, menyayanginya, menjadikannya anak saya pak. Saya sanggup." Wanita tua itu meluapkan rasa kecewanya, bahkan dia melupakan kalau orang yang di depannya adalah majikannya.
__ADS_1
Harsana tidak mampu menjawab ucapan wanita tua di depannya, bik jum adalah asisten rumah tangga yang sangat berjasa dalam hidupnya sebab beliau sudah bekerja sejak Harsana duduk di bangku kuliah.