
Sedangkan alex sangat kesal dengan kelakuan Dio sesuka hatinya mematikan telepon apa dia lupa siapa yang atasan disini.
"ck.. sialan si Dio sebenarnya yang jadi bosnya itu aku atau dia kenapa dia yang mengatur ku." ucap alex tidak terima sambil melihat handphone nya.
.
.
.
.
***
Sudah 3 hari kepergian Ameera, kini dirinya di sibukkan dengan tumpukan pakaian milik Bu Rini dan warga sekitar.
atas rekomendasi dari bu Rini banyak warga yang memakai jasa ameera untuk menyetrika pakaian, sebenarnya ameera sudah menawarkan untuk mencuci pakaian sekaligus menyetrika namun di larang oleh bu Rini karena tahu ameera tengah mengandung, takut Ameera kelelahan atau terjadi sesuatu dengan kandungannya. Ameera sudah menceritakan semua yang terjadi pada dirinya termasuk kehamilannya, menurutnya lebih baik jujur di awal dari pada nanti menjadi salah faham.
tok .. tok ..tok .
"Ameera... meera!!" panggil bu Rini dari luar rumah.
__ADS_1
selang beberapa menit barulah pintu terbuka dari dalam.
"kamu tidak apa - apa kan ameera? ibu panggil dari tadi tidak menyahut ibu pikir kamu kenapa - napa." tanya bu Rini melihat wajah Ameera yang sedikit pucat.
"Ameera baik - baik saja kok buk. maaf ameera tadi ketiduran jadi tidak dengar kalau ibu memanggil ameera." jawab Ameera dengan tersenyum.
"syukurlah .. oh iya ini ibu bawakan sop ayam untuk kamu, jangan lupa dimakan ya mumpung masih hangat." ucap bu Rini sambil menyerahkan rantang untuk Ameera.
"ibu kenapa repot - repot segala sih, tapi terima kasih banyak buk kebetulan ameera belum masak untuk makan malam." jawab Ameera dengan wajah berbinar.
"tidak repot ibu tadi masak banyak jadi ingat kamu deh, makanya ibu bawakan sekalian mengambil pakaian ibu, sudah selesaikan?" kata bu Rini menepuk lengan Ameera dengan lembut.
"sudah kok buk sebentar Ameera ambilkan dulu ya." jawab Ameera kemudian masuk ke dalam mengambil pakaian bu Rini yang sudah selesai di setrika.
"ini buk sudah semua. apa Ameera boleh minta tolong titip pakaian milik mba Retno sekalian buk? tapi kalau tidak bisa tidak apa - apa nanti biar saya antar sendiri buk." kata Ameera sambil menyerahkan pakaian bu Rini.
"ya tidak apa - apa lah meera, wong rumahnya ibu sama si Retno dekat sekali kok. yasudah sini sekalian mana punya Retno." ucap Bu Rini dengan senang hati.
"wah.. terima kasih banyak bu." kata Ameera, mengambil pakaian milik retno tetangga bu Rini.
.
__ADS_1
.
.
.
***
"pa, papa.." seorang wanita memanggil suaminya yang sedang duduk menonton tv dengan pandangan kosong.
"hmm" jawab sang suami tanpa menoleh.
"papa mikirin apa sih, sampai bengong begini." tanya perempuan tersebut.
"papa sedang memikirkan Ameera ma." jawab lelaki tersebut dengan lirih, ya laki - laki tersebut adalah Harsana ayah dari Ameera dan wanita tersebut istri keduanya yang bernama Mirna.
"papa apa - apaan sih, masih memikirkan anak itu." kata Mirna tidak terima.
"mau bagaimanapun dia tetap darah daging ku ma."jawab Harsana menoleh ke arah istrinya.
" kamu lupa karena dia penyebab mbak Sinta meninggal?" kata Mirna dengan kesal.
__ADS_1
Harsana tidak lagi menjawab perkataan istrinya, lagi - lagi pikirannya menjadi kacau di satu sisi ucapan Mirna memang benar karena Ameera dia kehilangan wanita yang sampai sekarang masih begitu di cintai tapi di sisi lain ucapan Dio tempo hari juga tidaklah salah, dalam hal kini Ameera sama sekali tidak tahu apa - apa