
Kirana berjalan tergesa-gesa karena jika terlambat 5 menit saja dia akan tertinggal angkutan umum yang mengantarkannya pulang.
"semoga saja masih keburu." kata Kirana dengan nafas memburu.
seolah keberuntungan belum berpihak padanya, saat berlari dia tidak menyadari di depannya ada jalan yang berlubang, tanpa sengaja dia terjatuh karena tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya.
Bruk..
"aduhh.. ." kata Kirana karena terjatuh, kemudian dia melihat lututnya yang terluka dan mengeluarkan darah.
"ada saja musibah, sudah pasti aku ketinggalan bus kalau begini." ucap Kirana, kemudian berdiri dan mendudukan tubuhnya di pinggir jalan sesekali dia meniup kakinya yang terluka.
"kalau aku naik ojek pasti uangnya habis besok aku tidak punya ongkos lagi, tapi kalau aku harus berjalan lagi sama saja pasti sudah tertinggal juga." kata Kirana serba salah.
.
.
Dari arah berlawanan Dio melihat seseorang yang tidak asing menurutnya, dia pun menghentikan mobilnya dan menghampiri orang tersebut.
"kira." panggil Dio ragu-ragu.
Merasa ada yang memanggil kirana pun mendongakan kepalanya ke arah suara tersebut.
"pak Dio." ucap Kira masih di posisi yang sama.
"kamu kenapa duduk disini? bukankah seharusnya kamu sudah pulang?" tanya Dio.
"sa..saya tidak sengaja terjatuh pak." jawab Kirana.
__ADS_1
"kamu kenapa ceroboh sekali, ayo sini saya bantu." ucap Dio membantu kirana berdiri.
Akhirnya Dio membantu kirana dan membawanya ke mobilnya untuk di obati.
"tahan sebentar ya, kalau dibiarkan bisa infeksi." kata Dio mulai membersihkan luka di kaki Kirana.
"pelan-pelan pak sakit." kata Kirana memejamkan matanya menahan sakit.
"iya kamu tahan sebentar, lebih baik sakit sedikit dari pada nanti jadi infeksi kamu sendiri yang repot." kata Dio kembali fokus mengobati luka Kirana.
"Sudah." kata Dio, setelah merapikan kotak p3k miliknya.
"terimakasih banyak pak, lagi-lagi pak Dio sudah membantu saya." ucap Kirana dengan tulus.
"sama-sama, rumah kamu dimana sekalian saja aku antar." kata Dio.
"jangan pak, nanti malah merepotkan." tolak Kirana, menggelengkan kepalanya.
Kirana pun menganggukkan kepalanya dan menyebut alamat rumahnya. sepanjang perjalanan keduanya sama-sama diam. Kirana memperhatikan pemandangan diluar tanpa berani menoleh ke arah Dio.
"kira.." panggil Dio setelah keheningan cukup lama.
"i.. iya pak." jawab Kirana, menoleh ke arah Dio.
"kemarin kamu memanggil aku mas, kenapa Sekarang menjadi pak?" tanya Dio, namun pandangannya masih fokus ke depan.
"ka..karena sekarang bapak kan atasan saya, rasanya tidak sopan." jawab Kirana jujur.
" terserah kamu saja. setelah dari sini kita kemana kir?" kata Dio.
__ADS_1
"saya turun di depan warung itu saja pak." jawab Kirana menunjuk ke arah depan.
"memangnya kenapa?" tanya Dio penasaran.
"rumah saya masuk gang di sebelah warung itu pak, mobil pak Dio tidak akan muat masuk ke sana." jawab kirana.
Setelah menghentikan mobilnya Dio membantu kirana turun dari mobil.
"terimakasih pak." ucap kirana setelah turun dari mobil.
"ayo saya antar ke rumah kamu." kata Dio membantu kirana berjalan.
"tidak perlu pak, sampai sini saja saya sudah berterimakasih sekali." tolak Kirana karena merasa tidak enak.
namun Dio sama sekali tidak mendengarkan ucapan kirana dia tetap berjalan memapah Kirana membawanya masuk ke dalam gang yang tadi di sebutkan.
"jadi dimana rumah kamu?" tanya Dio sambil terus berjalan.
"i..itu pak yang paling ujung." jawab kirana.
keduanya pun terus berjalan Sampai di depan rumah kecil yang berada di ujung. di depan rumah ada ibu dari kirana yang tengah mengangkat jemuran memperhatikan anaknya yang di papah oleh seorang pria.
"Kirana.. kamu kenapa nak?" tanya bu Ayu khawatir.
"tidak apa-apa bu, tadi aku tidak sengaja jatuh." jawab Kirana.
"lalu dia siapa?" tanya Bu ayu menunjuk Dio.
"ini atasan kirana bu yang memberi kirana pekerjaan namanya pak Dio, dia juga yang menolong Kirana tadi." jawab kirana.
__ADS_1
" terimakasih banyak ya pak." ucap Bu ayu, kemudian membantu kirana duduk di kursi kecil yang ada di depan rumah.