Ameera Ku Sayang

Ameera Ku Sayang
Ribut


__ADS_3

"pa.. mama benar - benar malu hari ini." ibu tiri Ameera menggerutu pada Harsana setelah mendudukan dirinya di samping suaminya.


"apalagi sih ma? papa ini sedang." Harsana jengah dengan sikap istrinya yang kekanakan.


"Papa tahu, kartu mama tidak bisa di pakai pa padahal tadi mama sudah janji akan mentraktir teman. - teman arisan mama." Nisa mengeluarkan kekesalannya kepada suaminya.


"sudah berapa kali papa bilang jangan boros ma, jangan boros!! bisa tidak kamu mengerti sedikit saja keadaanku saat ini." Harsana di buat semakin pusing. Perusahaannya hampir hancur sampai sekarang dia belum menemukan jalan keluar dari semua masalah, kini istrinya mengeluh kan hal - hal yang tidak penting. Disaat seperti ini yang dia butuhkan adalah dukungan.


"kenapa papa menyalahkan mama? ya itu urusan papa dong, kamu kan kepala keluarga disini, Berpikir dong pa." kata Nisa yang tidak terima di salahkan.


"Harusnya di saat seperti ini mama itu membantu papa mencari jalan keluar dari masalah ini, bukan terus berfoya - foya. kamu mau kita keluar dari rumah ini dan jadi gelandangan?" Harsana mengusap wajahnya kasar, isterinya benar- benar tidak bisa mengerti dirinya.


"Mama gak mau tahu ya pa, bagaimanapun caranya mama gak mau kehilangan semua ini." kata Nisa membuang muka.


"makanya bantu papa berpikir. Jangan hanya tahu menghabiskan uang saja. ck anak dan ibu sama saja." ucap Harsana tidak habis pikir.

__ADS_1


"papa lupa kalau papa punya menantu kaya raya, kenapa tidak minta bantuan saja padanya bagaimanapun papa itu mertuanya dia pasti mau membantu kita." ucap Nisa yang teringat pada Alex.


"apa kamu yakin dia mau membatu kita? Ameera saja kabur dari Alex bahkan papa tidak tahu dia sudah kembali apa belum." jawab Harsana tidak yakin.


"Dasar anak tidak tahu diri, membuat malu keluarga segala kabur - kaburan." kata Nisa memutar bola matanya malas.


"Jangan terus menyalahkan Ameera, kalau bukan karena dia mungkin saat ini Risa sudah di penjara." Harsana tidak terima mendengar Nisa menjelekkan Ameera, padahal dirinya juga ikut andil dalam penderitaan Ameera.


"kenapa papa sekarang membela anak pembawa sial itu, Apa papa lupa dia yang menyebabkan..." sinis Nisa tidak terima.


Melihat kepergian suaminya Nisa menghentak - hentakan kakinya.


"Sial ini tidak bisa di biarkan, jangan sampai dia berubah menyayangi Ameera. itu tidak boleh terjadi Risa akan tetap menjadi satu-satunya kesayangan di rumah ini." Nisa mencoba berpikir langkah kedepannya, jangan sampai dia tidak mendapatkan apa - apa dari suaminya. Dia tidak rela kalau harta kekayaan suaminya jatuh ke tangan Ameera.


Sungguh pikiran yang sempit untuk apa memikirkan harta yang bahkan perusahaan pun sudah di ambang kehancuran.

__ADS_1


.


.


.


"Apa yang harus aku lakukan? Semua yang aku miliki sebentar lagi akan hilang." lirih Harsana setelah berada di ruang kerjanya.


"Ameera... apa kamu baik - baik saja nak?" Harsana memejamkan matanya, membayangkan kenangannya bersama Ameera selama ini, Ameera kecil yang mendambakan pelukan darinya, Ameera kecil yang selalu di ejek teman-temannya tidak memiliki ayah dan ibu.


Harsana ingat saat Ameera duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, saat itu Ameera mendapatkan juara umum di sekolahnya dan mengharuskan kedatangan orangtuanya, Ameera sudah meminta Harsana untuk datang tapi yang di dapatkan justru pukulan di tubuh kecilnya.


Akhirnya Asisten rumah tangganya yang datang sebagai wali dari Ameera dan di hari yang sama Harsana berserta istri dan anak sambungnya menikmati liburan mereka ke luar kota atas permintaan Risa.


tes..

__ADS_1


Tanpa terasa air matanya menetes mengingat perlakuannya pada Ameera.


__ADS_2